Tahun 9.999 Dunia hancur akibat peperangan yang di sebabkan oleh manusia, dengan berbagai alat tempur canggih, seperti Robot dan sebagainya.
Di dunia yang sudah hancur tersebut terdapat penyintas yang masih bertahan hidup di dunia yang baru.
Arian Smeltz Pria berumur 22 tahun, salah satu penyintas yang bertahan hidup di Dunia baru, dia menemukan sosok Robot saat sedang melakukan penjelajahan demi menemukan tanah yang subur.
Robot tersebut merupakan sebuah Sistem yang akan membantu Arian membuat kehidupan barunya di dunia yang sudah rata dengan tanah tersebut.
Arian membangun sebuah peradaban baru, hingga lama kelamaan tanah yang tadinya di huni oleh dia dan keluarganya saja, mulai di datangi penyintas lainnya.
Sosok dua Wanita cantik kakak beradik yang pandai bela diri dan menggunakan senjata tertarik kepada Arian.
Mereka pun membangun keluarga bersamaan dengan membangun sebuah peradaban baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alveandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Kelompok Belt di bawa ke rumah baru mereka yang sudah di bangun selama satu bulan ini. Rumah besar dengan bentuk memanjang dengan puluhan ruangan yang ada di dalamnya.
Setiap ruangan memiliki dua kamar dan satu kamar mandi sehingga mereka semua tidak takut untuk saling berbagi kamar dengan keluarga lain.
Untuk dapur, sengaja di pisah. Karena Arian pikir mereka semua masih ketergantungan makan-makanan yang sama, menurutnya tidak perlu repot-repot untuk membuatkan dapur di setiap ruangan.
Di rumah besar tersebut juga ada meja panjang dan kursi tempat mereka untuk berkumpul makan bersama.
Tentu semua itu agar mereka tidak perlu terus makan bersama Arian. Karena mereka tidak mungkin mengumpulkan semua orang setiap mau makan.
Warga Belt tentu saja sangat senang ketika melihat rumah tersebut beserta dengan isinya. Namun, di sana juga ada beberapa ruangan yang tidak di gunakan, karena semua warga Belt sudah mendapatkan ruangan masing-masing.
"Bren, jadi selama satu bulan ini, kalian membuat rumah ini?" tanya Roku yang mengajak duduk anaknya di meja panjang tempat berkumpul bersama beberapa orang.
"Benar Ayah, tuan Arian juga sudah memberikan mata air kepada kita semua secara adil, kita sekarang tidak perlu ke sungai Zeuz lagi, yang terpenting sekarang kita harus bekerja sesuai perintah tuan Arian, untuk mengembangkan pemukiman ini," jawab Bren yakin.
Roku menghela napas. "Jadi sekarang tidak ada lagi pemimpin di warga Belt, sekarang kita hanya perlu mengakui tuan Arian saja?"
Bren menggeleng. "Tidak Ayah, tuan Arian tetap memberlakukan aturan pemimpin ke setiap warga masing-masing, tujuannya agar dia tidak perlu mengumpulkan semua orang ketika ada sesuatu."
"Sungguh orang yang sangat baik, pemikirannya semua menggunakan logika," ucap Roku kagum.
Bren mengangguk setuju, karena memang Arian memiliki pemikiran sosok pemimpin sejati, ia juga tidak menuntut lebih pada mereka.
...***...
Sementara itu di kamar Arian, ia yang kecapean mau beristirahat, tapi kedua istrinya menggoda juniornya.
"Sayang, yakin malam ini gak mau?" tanya Maura genit.
Nera menegur adiknya. "Maura, biarkan suami kita istirahat, kasihan dia capek setelah melakukan perjalanan jauh."
"Apa sih kak, bilang saja kakak masih ngilu kan?" goda Maura.
"Ka-Kata siapa, kalau Arian mau aku juga tidak akan menolak," ucap Nera yakin.
"Tuh sayang, Kakak juga mau," goda Maura sambil menaik turunkan alisnya.
Arian tersenyum tidak berdaya, ia tahu kalau Nera pasti masih merasa ngilu, karena kemarin jatahnya full menemani Arian, mengingat Maura sedang terkena halangan.
"Sini kamu saja," Arian menarik Maura mendekat ke dalam pelukannya.
Maura tidak menolak sama sekali, Nera mau pura-pura tidak melihat, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan suaminya, akhirnya mereka berdua menemani suami mereka bergelut dengan mesra hingga sampai menjelang pagi.
...***...
Ke esokan harinya....
Maura dan Nera bangun pagi, sementara Arian masih terlelap, mereka berdua membiarkan Arian yang masih terlelap.
"Kamu sih, lihat dia terlihat begitu capek," tegur Nera lirih.
"Apaan, Kakak juga malu-malu mau," ucap Maura sambil menjulurkan lidahnya.
Nera menghela napas, mereka berdua keluar dari kamar untuk membersihkan diri, baru setelah itu mereka keluar dari rumah.
Suasana hari itu tampak berbeda, karena pemukiman Smeltz tampak terlihat sangat ramai. Kelompok Belt juga sudah bekerja di bawah pimpinan Wiliam.
Sementara para wanita sedang menguliti tiga Red Dogs hasil buruan kemarin, tentunya dengan Molina sebagai leader mereka.
"Pagi semuanya, Ibu," sapa Maura ramah. Nera hanya membungkukkan badan untuk menghormati mereka yang lebih tua.
"Pagi juga sayang, Arian masih tidur?" tanya Molina lembut.
"Iya Bu," jawab Maura yang mau memegang pisau tapi di larang oleh Maria, Istri Sreud.
"Nona Maura dan Nera tidak perlu bekerja lagi, di sini sudah banyak orang, lebih baik Nona layani tuan Arian saja," ucapnya lembut.
"Tapi...."
"Sayang, benar kata Maria. Kalian berdua Istri pemimpin pemukiman Smeltz, lagi pula ini cuma tiga ekor monster, kami saja sudah cukup untuk melakukan pekerjaan ini," ucap Molina lembut.
Para wanita keluarga Belt juga tidak keberatan sama sekali, karena mereka semua sudah di beritahu Bren, mana-mana saja orang yang harus mereka semua hormati.
Maura dan Nera bingung ada peraturan baru seperti itu, tapi mereka juga tidak bisa memaksa untuk membantu. Akhirnya kedua wanita itu lebih memilih menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Kak, bagaimana menurut kamu, apa tidak apa-apa kita seperti ini?" tanya Maura tidak berdaya.
Nera menghela napas. "Entahlah, tapi mau bagaimana lagi, kalau di pikir-pikir perkataan mereka ada benarnya, karena kita Istri seorang pemimpin, tapi kita juga tidak bisa berdiam diri tanpa membantu apa-apa."
"Lebih baik kita nanti tanya Suami kita saja, gimana baiknya," tutur Maura lembut.
Nera mengangguk setuju, karena biasanya suami mereka memiliki ide untuk mengusir kebosanan keduanya.
klo awal2 cerita jgan mnculin heroine dlu klo bsa fokus ke inti cerita dlu nnti pertengahan bru mnculin heroin
awal2 muncul gni ujung2nya beban nnti.
saran aja broo