Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Panggung
Di dalam gedung teater, suasana terasa tenang dan damai. Lampu-lampu panggung dimatikan sebagian, menyisakan cahaya redup yang menerangi ruangan. Di sudut ruangan, Grey dan Ressa duduk berdampingan di kursi kayu, menikmati waktu istirahat setelah berjam-jam berlatih.
Ressa menghela napas lega, memijat lehernya yang pegal. "Latihan hari ini cukup melelahkan, Tuan. Tapi saya senang karena semakin lancar."
Grey hanya tersenyum tipis, tetapi matanya bergerak ke kanan dan kiri, mengamati setiap sudut ruangan. Ia memastikan tidak ada yang melihat mereka.
Ressa yang menyadari kegelisahan Grey menatapnya dengan bingung. "Tuan Grey? Anda terlihat mencari sesuatu."
Grey tersentak, lalu tersenyum untuk menutupi kegugupannya. "Tidak ada. Aku hanya mencari Vega dan Barteil yang tak kembali. Mereka seharusnya sudah di sini sejak tadi."
Ressa mengangguk, meskipun di matanya masih ada keraguan. "Mungkin mereka sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri."
Grey berdiri dari kursinya dengan gerakan tiba-tiba. "Ah ya, aku baru ingat aku harus ke halaman belakang mengambil beberapa alat teater tambahan."
Ressa segera berdiri. "Saya ingin ikut, Tuan. Saya bisa membantu Anda."
Grey panik. Ia tidak bisa membiarkan Ressa mengikutinya—pertemuannya dengan Garius harus dirahasiakan.
"Tidak, tidak perlu," ucapnya cepat, menggenggam tangan Ressa dengan lembut. "Aku hanya sebentar. Kau tunggu di sini saja. Aku janji tidak akan membuat masalah."
Ressa menatapnya dengan tatapan hati-hati, tetapi akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, hati-hati, ya. Katanya banyak mata-mata yang berkeliaran di wilayah Ragonves akhir-akhir ini."
Grey tersenyum hangat. "Aku akan berhati-hati."
Ia berbalik dan berjalan meninggalkan ruang teater, langkahnya cepat dan pasti.
---
Di Halaman Belakang Gedung Teater
Halaman belakang gedung teater terasa sepi dan sunyi. Rumput-rumput liar tumbuh di antara bebatuan, dan pepohonan tua berdiri dengan angkuh di sekelilingnya. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan kering.
Grey berjalan menuju sebuah pohon besar di sudut halaman. Di sana, sesosok bayangan sudah menunggunya.
Garius melangkah keluar dari balik pohon, membungkuk hormat dengan gerakan anggun. "Tuan Muda."
Grey mengangguk singkat. "Apa yang kau dapatkan?"
Garius langsung berbicara, suaranya tenang namun penuh informasi. "Saya mendapatkan informasi berharga tentang Vega Arcsein."
Grey mengangkat alisnya. "Jadi... apa yang kau dapatkan? Apa kau sudah menyebarkan hubungan Vega dan Belinda hingga terdengar kepada Ratu Elerana?"
Garius menggeleng. "Belum, Tuan Muda. Namun, saya menyampaikan sesuatu yang lebih penting." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Vega berencana melarikan diri dari negeri ini setelah semua rencananya berhasil."
Grey terdiam. Matanya membelalak.
"Dia takut menjadi tawanan Belinda," lanjut Garius. "Terutama ketika rencananya berhasil. Sama persis seperti yang terjadi pada Ratu Elerana."
Grey mengerutkan kening. "Maksudmu Vega hanya memanfaatkan mereka saja demi kepentingan pribadinya?"
"Bukan itu, Tuan Muda." Garius menggeleng. "Vega tidak punya kepentingan pribadi. Dia murni melakukan ini demi membantu Anda membalaskan dendam kepada keluarga Sienta."
Grey terdiam. Pikirannya berputar cepat.
"Vega..." gumamnya dalam hati. "Dia rela mengorbankan dirinya sendiri demi aku?"
"Saya rasa Vega berniat membantu Anda," lanjut Garius, "meskipun cara yang dilakukannya salah. Dan justru membuat dirinya sendiri berada dalam bahaya—terutama dikejar-kejar oleh wanita yang dimanfaatkannya."
Grey mengangguk perlahan, memahami situasinya.
"Baiklah. Aku paham mengapa Vega punya rencana merebut Belinda dari Kenta. Tapi aku minta kau awasi kembali Vega. Dan abadikan momen mereka ketika bersama Belinda."
Garius mengangguk. "Dimengerti, Tuan Muda."
"Setelah itu," lanjut Grey, suaranya tegas, "sebarkan berita itu hingga sampai di telinga Ratu Elerana. Dengan begitu... Ratu Elerana tidak akan memikirkan Vega lagi."
Garius membungkuk hormat. "Baik, Tuan Muda. Kalau begitu, saya permisi."
Tanpa suara, Garius melangkah mundur ke balik pohon dan menghilang seperti bayangan yang ditelan kegelapan.
Grey berdiri sendirian di halaman, menatap langit sore yang mulai jingga.
"Vega," pikirnya, senyum kecut di bibirnya. "Kau punya nyali begitu besar. Wanita sedingin Belinda menjadi bonekamu."
Ia menghela napas panjang.
"Tapi kuakui... kau terlalu nekat. Seharusnya kau perlu bersabar."
Grey mengangkat tangannya dengan santai, merasakan angin sore yang berhembus.