Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.
Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].
Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!
Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Api, Ramuan, dan Mata di Kegelapan
Angin sore menerpa wajahku saat aku melangkah keluar dari mulut dungeon.
Cahaya keemasan matahari menyinari tanah. Rasanya seperti keluar dari neraka.
Di belakangku, Grom menghela napas lega. "Akhirnya... udara segar. Tadi di dalam baunya kayak kaos kaki goblin seminggu."
Aku tidak menjawab. Pandanganku tertuju pada gadis yang berjalan 5 meter di depanku.
Luna.
Dia pincang sedikit. Jubah healer putihnya kotor dan robek di bagian lengan. Rambut peraknya yang biasanya rapi sekarang berantakan.
Tapi dia tetap jalan dengan kepala tegak. Seolah tidak terjadi apa-apa.
"Luna," panggilku.
Dia berhenti. Tapi tidak menoleh.
"Apa?"
"Terima kasih. Untuk ramuannya. Untuk... nolong aku."
Hening selama 3 detik.
"HAH?!" Dia langsung berbalik. Wajahnya merah padam. "SIAPA YANG NOLONG KAU?! AKU CUMA... AKU CUMA TIDAK MAU ADA ORANG MATI DI WILAYAH KELUARGAKU! ITU SAJA!"
Suara tsundere level dewa.
Aku mengangkat kedua tangan. "Iya iya. Aku tau. Kau baik hati."
"DIAM! JANGAN BILANG AKU BAIK HATI!" Dia membuang muka. Telinganya merah. "Dan jangan GR. Kita bukan tim. Paham?"
"Paham," kataku sambil senyum. "Tim satu kali."
Luna mendengus. Dia mengeluarkan ramuan biru dari tasnya, menuangnya ke luka di lengannya. Cahaya penyembuh menyala.
[DING!]
[CEK STATUS PARTY]
[KAEL: E RANK LV.3 - CEDERA RINGAN]
[LUNA VON ASTREA: E RANK LV.4 - KELELAHAN MANA]
[GROM: F RANK LV.2 - SEHAT]
Sistem bahkan menganggap kami "party" sekarang. Lucu.
Aku duduk di atas batu. Mengeluarkan Core Goblin Lv.3 dari tasku. Bola hitam sebesar kepalan tangan, berdenyut pelan seperti jantung.
"Ini milikmu," kataku, melemparnya ke Luna.
Dia menangkapnya kaget. "Apa-apaan ini?!"
"Bagi dua. Kau yang nahan bosnya. Aku yang finishing. Adil."
Luna menatap Core itu. Lalu menatapku. Ekspresinya rumit. Marah, bingung, dan... sedikit kagum?
"Brengsek," gumamnya. "Biasanya cowok kalau dapat barang bagus pelit."
"Aku bukan cowok biasanya."
"AKU TAU!" bentaknya. Tapi dia tetap menyimpan Core itu. "Aku... aku akan jual ini. Lumayan untuk beli ramuan."
"Bagus."
Aku menutup mata. Merasakan perubahan di tubuhku.
[DING!]
[STATUS: KAEL]
[RANK: E]
[LEVEL: 3]
[MPA: 50/100]
[STRENGTH: 8]
[AGILITY: 7]
[INTELLIGENCE: 12]
[SKILL: FIREBOLT LV.1, MANA CONTROL DASAR LV.1]
Naik 2 level. Mana naik 25x lipat.
Ini baru permulaan.
Tiba-tiba Grom menegang. Bulu di punggungnya berdiri.
"Tuan..." bisiknya pelan. "Ada yang ngawasin."
Aku langsung membuka mata. Instingku juga merasakan.
Hawa dingin. Dari arah dungeon.
Dari kegelapan di dalam mulut dungeon yang sekarang sudah gelap gulita, aku melihatnya.
Sepasang mata. Merah. Menyala di kegelapan.
Tidak bergerak. Cuma menatap.
Luna juga merasakannya. Dia langsung siaga. Tongkatnya sudah di tangan meski mananya belum pulih.
"Apa itu?" tanyanya pelan.
"Aku tidak tau," jawabku. "Tapi dia melihat kita sejak tadi."
Mata itu berkedip sekali. Lalu... menghilang.
Seperti tidak pernah ada.
Angin bertiup. Hening.
Grom bergidik. "Tuan... aku takut."
Aku mengepalkan tangan. Api kecil menyala di telapak tanganku. [FIREBOLT] siap kapan saja.
"Tidak apa-apa," kataku. "Apapun itu... kita akan lebih kuat."
Aku menoleh ke Luna. "Kau mau ke mana sekarang?"
Luna terkejut ditanya. Dia menunjuk ke arah kota di kejauhan. "Rumah. Pulang. Keluarga pasti nyariin."
Dia berhenti. Lalu dengan suara paling kecil yang pernah kudengar:
"...kau... hati-hati. Sampah."
Lalu dia berbalik dan pergi. Cepat. Seperti takut aku melihat wajahnya yang merah.
Aku tertawa kecil.
"Grom. Kita juga pulang."
"Ke mana Tuan?"
"Ke Akademi Eldoria."
Grom terbelalak. "HAH?! TAPI KAN KITA DIUSIR!"
"Betul. Makanya kita daftar ulang. Sebagai Rank E."
Aku menatap tanganku yang masih ada bekas luka bakar.
"Dan kali ini... kita tidak akan jadi sampah lagi."
Matahari mulai terbenam. Bayangan kami memanjang di tanah.
Di belakang kami, di dalam dungeon yang gelap... sesuatu bergerak.
Langit berubah jingga. Jalan setapak dari dungeon menuju Kota Eldoria sepi.
Cuma ada suara langkahku, Grom, dan angin yang menggerakkan rumput.
"Tuann..." Grom menempel di kakiku. "Tadi mata merah itu... serem."
"Aku tau," kataku. "Tapi kalau kita takut sekarang, kita gak akan pernah kuat."
Aku mengepalkan tangan. Api biru kecil menyala di telapakku, lalu kupadamkan. [MANA CONTROL DASAR] bekerja.
Dulu aku bahkan gak bisa nyalain lilin. Sekarang bisa ngendaliin api.
Rasanya... nagih.
Setengah jam berjalan, gerbang kota mulai kelihatan. Tembok batu tinggi 10 meter. Penjaga dengan tombak dan armor perak.
Tapi sebelum sampai, kami melewati sebuah warung kecil di pinggir jalan.
Warungnya rame. Para petualang Rank F dan E duduk minum, ngobrolin dungeon.
Dan topiknya...
"Gila denger gak? Di Dungeon Goblin Lv.2 tadi sore ada ledakan api gede!"
"Bohong lu. Mana ada yang bisa masuk situ. Itu kan buat Rank E ke atas."
"Nih liat!" Seorang petualang nunjukin lengannya yang melepuh. "Aku liat dari jauh! Ada cahaya biru! Katanya sihir api!"
Aku dan Grom saling pandang.
"Sial," gumamku. "Kecepatan rumor."
Kami duduk di pojokan. Pesan teh panas dan roti.
"Teh satu. Roti dua," kataku ke pelayan.
Pelayannya ngelirik aku. Bajuku compang-camping. "Uang dulu."
Aku meletakkan 3 koin perak. Hasil jual material goblin kemarin.
Dia langsung berubah ramah. "Silakan Tuan."
Begitu dia pergi, bisik-bisik mulai lagi.
"Itu dia kan? Anak yang diusir dari akademi?"
"Iya. Kael. Sampah tanpa mana."
"Ngapain dia di sini?"
Dada panas. Tapi aku tahan.
Grom menggeram. "Tuan, mau aku gigit?"
"Tahan," kataku. "Biarin."
Aku menyeruput teh. Panas. Tapi menenangkan.
Tiba-tiba pintu warung kebuka.
_DERRR_
Semua orang langsung diem.
Yang masuk: 3 orang dengan jubah biru dongker. Lambang Akademi Eldoria di dada.
Murid akademi. Rank D.
Yang di tengah... Aldric.
Rambut pirang. Senyum sombong. Tongkat kristal mahal di tangan.
Matanya langsung ketemu mataku.
"Oh?" Dia tertawa. "Lihat siapa ini. Sampah yang katanya mati di dungeon."
Seluruh warung hening. Nungguin drama.
Aldric jalan ke meja kami. Dua temannya ikut.
"Ngapain di sini, Kael?" katanya. "Nyari sisa makanan? Kasihan."
Dia menendang kursi di depanku. _BRAK_
Grom langsung berdiri. Bulu berdiri. "Jangan sentuh Tuan!"
Aldric melirik Grom jijik. "Goblin peliharaan? Makin rendah aja hidupmu."
Tanganku di bawah meja mengepal. Api hampir keluar.
Tapi aku ingat. Aku di sini bukan buat berantem. Aku di sini buat daftar ulang.
Aku berdiri pelan.
"Aldric," kataku tenang. "Kau benar. Dulu aku sampah."
Warung pada heboh. "Wah ngaku dia."
"Tapi," lanjutku. Api kecil menyala di ujung jariku. Tidak kelihatan dari luar. "Sampah itu... sekarang bisa bakar orang."
Ekspresi Aldric berubah. Dari sombong jadi waspada.
"Api? Kau?" Dia tertawa gugup. "Gak mungkin. Mana kau cuma 2."
"Yang dulu," kataku. "Sekarang 50."
Aku jalan melewatinya. Bahu kami bersenggolan.
Di telinganya aku bisik pelan: "Sampai ketemu di Akademi. Sebagai murid baru."
Wajah Aldric langsung pucat.
Aku keluar warung tanpa noleh. Grom ngikutin bangga.
Dari dalam masih kedengeran bisik-bisik: "Dia... dia bisa api?!"
"Tuann keren!" Grom loncat2. "Tadi mukanya Aldric lucu!"
Aku senyum. Tapi dalam hati waspada.
Rumor sudah menyebar. Nama "Penyihir Api Misterius" akan cepat sampai ke telinga guru.
Dan juga... ke telinga orang di bayangan itu.
Kami sampai di Gerbang Eldoria saat matahari hampir tenggelam.
Penjaga menatap kami. "Identitas?"
"Kael. Mau daftar ulang Akademi Sihir Eldoria. Rank E."
Penjaga itu melongo. "Daftar... ulang? Bukannya kau yang dikeluarkan?"
"Yang dulu Rank F. Sekarang Rank E."
Aku menunjukkan [CORE GOBLIN LV.3] sebagai bukti.
Penjaga itu menelan ludah. "Tunggu sebentar."
Dia masuk ke pos. Beberapa menit kemudian keluar lagi.
"Boleh masuk. Tapi lapor ke Kantor Pendaftaran dulu. Besok pagi."
Aku mengangguk.
Begitu masuk kota, lampu-lampu sihir langsung menyala. Kota Eldoria malam hari... indah. Dan dingin.
"Grom. Cari penginapan murah."
"Siap Tuan!"
Kami jalan menyusuri jalan.
Tapi aku merasakan lagi.
Tatapan.
Dari atap gedung. Dari gang gelap.
Seseorang... atau sesuatu... mengikuti kami.
Aku menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa.
"Grom, cepat. Kita harus istirahat. Besok hari penting."
"Siap!"
Kami masuk ke penginapan kecil. Kamar 2 koin perak semalam.
Begitu pintu ketutup, aku langsung duduk bersila.
[DING!]
[LATIHAN: MANA CONTROL]
[MPA: 50/100 → 48/100 → 50/100]
Aku harus siap.
Besok. Akademi.
Tempat yang dulu mengusirku.
Dan di luar jendela... di kegelapan... sepasang mata merah mengawasi.
Pagi.
Gerbang Akademi Sihir Eldoria menjulang di depanku.
Besar. Megah. Dengan patung 7 Archmage pendiri.
Tempat yang 2 minggu lalu mengusirku sambil tertawa.
"Tuann... gugup?" tanya Grom sambil gigitin ujung jubahku.
"Enggak," bohongku. "Cuma... nostalgia."
Aku menarik napas. Melangkah maju.
Penjaga gerbang, dua ksatria Rank D, langsung menghadang.
"Berhenti. Kartu murid?"
"Tidak ada," kataku. "Aku mau daftar ulang. Nama Kael. Rank E."
Mereka saling pandang. Lalu tertawa.
"Kael? Yang sampah itu?"
"Yang diusir karena mana 2?"
"Pulang aja nak. Ini bukan tempat badut."
Api di dadaku menyala. Tapi aku senyum.
"Boleh dicek dulu?" Aku mengeluarkan [CORE GOBLIN LV.3]. Bola hitam itu berdenyut.
Wajah mereka langsung berubah.
"Core... Core Lv.3?! Dari mana kau dapat?!"
"Dari dungeon yang katanya 'dilarang untuk Rank F'."
Mereka langsung lapor lewat batu komunikasi. 5 menit kemudian, seorang wanita keluar.
Rambut hitam panjang. Jubah guru. Kacamata. Aura tenang tapi menekan.
Profesor Selene. Guru Teori Sihir. Orang pertama yang bilang "Kau tidak berbakat" padaku.
Dia menatapku dari atas sampai bawah. Lama.
"Kael," katanya datar. "Kau hidup."
"Terima kasih sudah nanya, Profesor," jawabku. "Aku mau daftar ulang."
Selene mengambil Core dari tanganku. Merasakannya.
"Mana... 50. Rank E. Benar."
Dia menatap mataku. "Bagaimana?"
"Rahasia," kataku. "Boleh masuk?"
Selene diam 3 detik. Lalu minggir.
"Masuk. Kepala Akademi mau bicara denganmu. Ikut aku."
Di dalam, semua murid menatap. Bisik-bisik.
"Itu Kael kan?"
"Dia balik?"
"Katanya bisa api?"
Dan di tengah keramaian itu... dia ada.
Elara.
Rambut coklat. Gaun murid biru. Tongkat mewah. Mantan... timku dulu.
Matanya membelalak saat liat aku.
"Kael?!"
Dia lari ke arahku. "Kau... kau baik-baik saja? Aku dengar kau masuk dungeon sendirian!"
"Oh," kataku dingin. "Sekarang peduli?"
Wajah Elara langsung pucat. "Aku... aku minta maaf waktu itu. Aku takut. Aldric maksa..."
"Alasan," potongku. "Minggir."
Aku jalan terus. Dia terpaku di tempat.
Di lapangan tengah, Aldric sudah nunggu. Dengan 5 orang temannya. Semua Rank D.
"Akhirnya datang juga sampahnya," kata Aldric. "Denger-denger kau sok jago di warung kemarin?"
Selene berdiri di samping. "Cukup. Kael mau tes masuk ulang. Lawannya... kau, Aldric."
Aldric senyum lebar. "Dengan senang hati."
[DING!]
[DUEL RESMI: KAEL VS ALDRIC]
[ATURAN: SAMPAI MENYERAH ATAU PINGSAN]
[WASIT: PROFESOR SELENE]
Lapangan dibikin barrier. Ratusan murid nonton dari jauh.
Aldric angkat tongkat. "Aku kasih kau kesempatan nyerah."
"Aku juga," kataku.
"ANGKUHH!"
"[WATER SPEAR!]"
3 tombak air melesat ke arahku. Cepat.
Aku menghindar. Menggelinding.
[DING!]
[MPA: 50/100 → 45/100]
"Terlalu lambat," kataku.
Aldric kaget. "Kau... kau bisa menghindar?"
"Aku banyak belajar 2 minggu ini."
Aku angkat tangan.
"[FIREBOLT!]"
_SHUUUT!_
Bola api biru melesat.
Aldric buru2 bikin [WATER SHIELD]. _DUAR!_
Uap panas memenuhi lapangan.
"APA ITU API?!" teriak penonton. "DIA BISA API?!"
Aldric batuk. Lengannya melepuh. "Mustahil... mana kau..."
"Naik," kataku. "Karena aku berhenti jadi sampah."
Aku maju. Tiap langkah, api kecil muncul di tapak kakiku.
Aldric panik. Dia spam sihir air. Tapi sia-sia.
Api > Air kalau mananya lebih besar.
_BUK! BUAK!_
2 menit. Cuma 2 menit.
Aldric terkapar. Tongkatnya patah. Napasnya ngos2an.
"Menyerah?" tanyaku, berdiri di atasnya.
Aldric menggertakkan gigi. Air mata hampir keluar. "AKU... AKU MENYERAH!!"
[DING!]
[VICTORY! KAEL]
[STATUS BARU: MURID AKADEMI ELDORIA - KELAS E]
Seluruh lapangan HENING.
Lalu... gemuruh.
"GILA!! DIA KALAHIN ALDRIC!!"
"PENYIHIR API!!"
"SAMPAH JADI KUAT!!"
Aku menoleh ke arah kerumunan.
Dan di sana... Luna.
Dia berdiri di balkon kelas atas. Jubah healer. Menatapku.
Begitu mata kami bertemu, dia langsung buang muka. Pipinya merah.
Tapi dia... dia tepuk tangan. Pelan. Sekali.
Lalu pergi.
Selene menghampiriku. Ekspresinya masih datar, tapi ada sedikit... kagum?
"Selamat datang kembali, Kael. Kelas E. Mulai besok."
"Terima kasih, Profesor."
Saat aku jalan keluar lapangan, Elara menghadang.
"Kael tunggu! Aku bisa jelasin!"
Aku berhenti. Menatapnya.
"Dulu kau ninggalin aku saat aku paling butuh," kataku pelan. "Sekarang aku gak butuh kau lagi."
Aku jalan pergi.
Punggung tegak.
Untuk pertama kalinya dalam 2 minggu... aku merasa bebas.
Malamnya, di kamar asrama baru Kelas E yang kecil.
[DING!]
[MISI: BALAS DENDAM ELEGAN - SELESAI 10%]
[REWARD: 100 POIN SISTEM]
Aku tersenyum.
Tapi senyumku hilang saat aku menoleh ke jendela.
Di atap gedung seberang.
Sepasang mata merah. Mengawasi.
Lalu menghilang ke dalam bayangan.
Grom menggigil. "Tuan... dia ngikutin kita sampe sini..."
Aku mengepalkan tangan. Api menyala.
"Biarkan," kataku. "Datang saja. Kita sudah tidak sama lagi."