Jika ada yang harus disalahkan, maka permainan Truth Or Dare-lah yang harus disalahkan.
Karena semua berawal dari sana.
Permainan yang telah dicap sialan oleh cowok gondrong anggota inti The Lion. Sebuah permainan tidak masuk akal dari teman-temannya yang mau tidak mau harus ia selesaikan dikarenakan kebodohannya memilih 'Dare'.
Alhasil, cewek ketua ekskul modern dance yang mendapat julukan Queen Shadow SMA Garuda itu pun menjadi sasaran empuk permainannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Zakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN # 21
"Dari mana aja lo?"
Bagus yang baru mendudukkan dirinya pada sofa panjang apartemen Alka menoleh pada Adnan yang menatapnya seraya bersidekap.
"Tumben nanya gue dari mana."
Adnan mengangkat bahu. "Heran aja sama apa yang ngebuat lo sampe nelantarin anak orang sendirian di halte. Mana hujan lagi." Adnan beranjak bergabung bermain game online bersama Tian, Ezra dan Dimas.
Bagus mengerutkan alis melihat sikap Adnan yang tidak biasa. Sesaat kemudian, ia mengangkat bahu acuh lalu menidurkan tubuhnya di sofa panjang tersebut.
Malam ini, ia memang memilih ke apartemen Alka karena mendapat telfon dari Devan bahwa semua inti The Lion akan menginap di apartemen Alka. Bukan acara besar-besaran, hanya berkumpul bersama sebelum mereka berpisah untuk kepentingan masa depan masing-masing.
Di depan televisi khusus play station ada Arnold dan Malik yang bertanding game balap mobil, sedangkan di samping sofa ada Adnan, Tian, Ezra dan Dimas yang bermain game online.
Devan dan Alka terlihat tengah membicarakan sesuatu tak jauh dari pintu masuk dapur.
Bagus memilih memejamkan matanya, menetralisir rasa lelahnya yang entah berasal dari mana.
"Waktu lo tinggal lima hari, Gus. Lo udah liat ada tanda-tanda Krystal suka sama lo, gak?"
Helaan napas Bagus terdengar menyusul kalimat Malik. Ia muak. Ia muak terus-terusan ditodong kalimat peringatan akan hari dimana ia harus menyatakan yang sebenarnya pada Krystal.
Ia juga muak bersikap palsu di depan Krystal. Bersikap seolah-olah ia menyukai cewek itu, seolah-olah ia senang bersama Krystal dan seolah-olah ia adalah cowok paling baik karena selalu ada untuk Krystal.
Bagus bangun dari rebahannya kemudian meletakkan ponselnya ke atas meja secara kasar hingga mengundang tatapan aneh teman-temannya, kecuali Adnan yang tetap fokus pada ponsel miringnya.
"Kalian kenapa, sih, pengen banget gue ngelakuin ini?" tanya Bagus, setiap jengkal wajahnya menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak menyukai permainan ini.
"Lo udah jauh melangkah, Gus. Lambat kalau mau berhenti sekarang," ucap Ezra.
"Ya terus kenapa dari awal lo semua nyuruh gue buat ngelakuin hal brengsek kayak gini?!" suara Bagus yang sedikit meninggi membuat mereka lebih terkejut lagi.
Alka duduk di samping Bagus lalu menepuk pundak Bagus. "Lo tenang dulu. Kita bicarain baik-baik."
Bagus menghela napas kasar. "Gimana gue bisa tenang, Al? Ini masalah hati, Man. Gue gak suka sama Krystal, tapi gue dipaksa bersikap seolah-olah gue suka sama tuh cewek!"
Bagus lalu menatap temannya satu-persatu. "Kalian bisa bayangin gak gimana kalau nanti Krystal tau yang sebenarnya? Lo semua laki. Dan cara ini bener-bener banci!"
"Gue udah nolak keras dari awal. Gue gak mau! Gue udah berkali-kali ngomong, gue mau berhenti! Tapi lo, lo, semua emang gak punya perasaan sama skali!"
"Gus, lo-"
Kalimat Devan yang akan keluar terpaksa harus tertelan saat mendegar suara peraduan. Adnan menyentak ponselnya ke lantai, untung tidak kenapa-napa.
"Gak punya perasaan?" ulang cowok berkaos hitam itu. Sudut bibirnya terangkat sinis. "Kita ngelakuin ini karna gak suka ngeliat lo terus-terusan mikirin Dita, Gus! Hidup itu harus ke depan, lo gak bisa berdiri di tempat itu-itu aja cuma karna satu orang cewek!"
"Ya, tapi gak gini caranya! Masih banyak cara lain!" balas Bagus tidak mau kalah. "Pokoknya gue mau berhenti sebelum lima hari lagi."
"Lo mau berhenti karna kasian sama Krystal apa karna kehadiran Dita numbuhin harapan lagi di hati lo?"
Bagus menengokkan kepalanya pada Adnan yang duduk bersila dengan tangan terlipat di dada.
"Maksud lo apa?" tanya Bagus.
"Lo pasti tau maksud gue." Adnan mengangkat bahu. "Buktinya aja lo tega ngebiarin Krystal di halte pas hujan dan malah milih pulang bareng Dita. Wow!"
Rahang Bagus sudah mengeras, walau Adnan sahabatnya, ia tetap tidak suka jika urusan pribadinya dicampuri.
Alka mulai menghela napas melihat akan terjadi pertengkaran lagi. Devan memilih acuh dengan memainkan ponselnya saja, ia tidak ingin ikut campur dan berakhir ia yang kena batunya.
Yang lain menyibukkan diri kembali setelah sempat membujuk Bagus dan Adnan untuk diam namun dua cowok itu tidak merespons mereka.
"Gue mau pulang bareng siapa aja bukan urusan lo!" kata Bagus, "lagian dia sendiri yang gak mau gue anterin, jadi yaudah, gue juga gak rugi."
Adnan terkekeh hambar. Tidak habis pikir dengan Bagus yang dengan entengnya berkata seperti itu. "Lo udah keluar aturan, Gus. Aturannya dari awal lo cuma sama Krystal, gak ada Dita atau siapapun!"
Bagus berdiri dari sofa, ia tidak bisa berada di sini lagi. Bisa-bisa, ia kembali dikeluarkan dari The Lion jika harus bertengkar hanya karena memperdebatkan perempuan lagi.
"Terserah lo mau bilang apa. Gue udah muak pura-pura di depan Krystal. Tuh cewek juga dibaikin malah ngelunjak lama-lama."
Bagus meninggalkan apartemen Alka, menyisakan keheningan yang cukup terasa di sana.
####
Cowok berjaket kulit hitam itu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Ibu Kota di malam hari. Matanya lurus menatap tajam ke depan dengan pupil yang berkilat menahan amarah.
Ia sudah benar-benar tidak tahan akan semuanya. Ia juga manusia, dan ia berhak menentukan pilihannya sendiri tanpa disetir oleh siapapun.
Kehadiran Dita akhir-akhir ini memang menjadi salah satu penyebab ia ingin berhenti bermain dengan Krystal. Keadaan Dita yang selalu dikasari oleh Rio membuat otak dan hatinya tidak tenang. Belum lagi alasan mengapa Dita begitu keras ingin mempertahankan Rio setelah apa yang cowok itu lakukan padanya.
Banyak teka-teki yang harus Bagus pecahkan, dan itu membuat ia tidak bisa fokus pada satu hal. Krystal bukan siapa-siapa, ia tidak ada artinya di hidup Bagus walau mereka sudah lama bersama.
Perasaannya pada Krystal hanya sebatas rasa kasihan. Kasihan melihat kondisi keluarga cewek itu dan kasihan karena harus terlibat permainan dengan teman-temannya.
Bagus memicingkan matanya ketika melihat siluet tubuh yang ia kenali tengah berdiri di trotoar sembari sesekali mengecek ponsel seperti menunggu seseorang.
Bagus menghampiri dan menghentikan motornya di depan cewek berkaos lengan panjang rajut dan celana jeans itu.
"Kak Bagus?"
Ia membuka helm lalu tersenyum pada sosok di depannya. "Hai, lo ngapain di sini sendiri? Malam-malam lagi."
"Emm ... Ini, Kak, lagi nungguin Rio. Dia katanya mau jemput tapi sampai sekarang gak dateng-dateng."
Bagus mengangguk. "Emang lo dari mana mau kemana?"
"Dari rumah Bella, ini udah mau pulang."
"Gue anterin mau?"
Dita sedikit terkejut, ingin menolak dengan alasan menunggu Rio namun ia juga tidak yakin pacar kasarnya itu akan datang mengingat Rio selalu mengingkari janjinya.
"Gak ngerepotin, kan?" tanya Dita ragu.
Bagus terkekeh lalu tangannya singgah menepuk kepala Dita sejenak. "Direpotin sama lo, mah, gue suka kali."
Dita mengulum senyum tertahan, Bagus masih bisa membuat suasana hatinya membaik seperti dulu. Cewek itu segera naik ke jok belakang motor Bagus
"Gue cuma bawa satu helm gakpa-pa, kan?"
"Gakpa-pa, kok."
Bagus membuka jaketnya lalu diserahkan ke Dita. "Pake, Ta. Dingin, entar lo masuk angin."
"Buat Kak Bagus aja, deh. Kan-"
"Pake, Ta."
Dita akhirnya mengambil jaket yang tersodor padanya kemudian memakai jaket tersebut ke tubuhnya. Aroma Bagus yang menguar dari jaket itu membuat kedua sudut bibir Dita terangkat.
"Biar gak jatuh diterbangin angin."
Mata Dita terpaku melihat tangannya yang sudah melingkari perut Bagus akibat cowok itu sendiri yang menariknya. Saat Dita ingin menariknya kembali, Bagus dengan cepat menahannya.
"Biar gini dulu, Ta. Plis ...."
.
.
.
Krystal gak masuk dulu, biar gak syedih-syedih terus😂
(Agak sedikit kaget lebih banyak Team Adnan-Krystal dari pada Bagus-Krystal)😂
Emot yang cocok untuk Bagus di part ini?
Me : 😌
bukan kah di seniornya
alka sm meira dah nikah
Nyesek sumpah😭😭
aq banjir thorrrr... ikutan nyeri kaya bagus..
😭😭😭😭😭
sekarang tinggal kisahnya aluna ama devan ya... ya.. ya.. ya..