Mohon bijak memilih bacaan.
........
Korban Broken Home dan pelecehan secara bersamaan. Mampukah kalian membayangkan bagaimana hidupnya ditengah nasib yang begitu buruk?
Stella adalah seorang gadis berusia 18 tahunan. Memiliki paras yang begitu cantik dan tubuh yang dewasa yang pas bukanlah keberuntungan bagi Stella.
karena faktor ekonomi menjatuhkan Stella dalam dunia malam yang penuh dengan bajingan-bajingan rakus yang menjijikan.
Ia lelah. Bahkan sangat lelah, seharusnya ia duduk di bangku sekolah. Tapi, nyatanya ia harus berduel dengan pria-pria dewasa jauh di atas usianya.
Saat pelayanan terakhirnya. Stella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Tapi, sayangnya ia malah terjebak dengan sosok dari Ras lain yang menginginkan tubuhnya.
Monster yang begitu misterius dan sangat mengerikan membuatnya selalu ingin meminta kematian berulang kali.
Bagaimana kisahnya? mampukah ia bertahan lebih lama atau memang sudah tak ada kebahagiaan untuknya?
.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana baru!
Melihat Stella yang tak nyaman ada di dapur tadi. Dokter Ryker akhirnya membawa Stella keluar Villa seraya berjalan-jalan di tepi Pantai yang tak begitu jauh dari Bangunan mewah tadi.
Deru angin yang begitu halus menerbangkan rambut pendek kecoklatan Stella yang memainkan pasir basah pantai ini dengan kakinya.
Ia mendengarkan penjelasan Dokter Ryker yang berjalan tepat di sampingnya.
"Keluarga Elbrano adalah Keluarga yang disegani sekaligus di takuti di Negara ini. Tak ada yang berani untuk masuk ke Kediaman besarnya karna anggota Keluarga Elbrano selalu menutup diri dari Publik. Mereka jarang berinteraksi dengan masyarakat dan terkesan fokus pada dunianya sendiri."
"Bagaimana dengan Xavier?" tanya Stella menunggu jawaban dari Dokter Ryker yang menghela nafas dalam dengan langkah terhenti.
Begitu juga Stella yang diam tak mengalihkan pandangan dari wajah tampan Dokter Ryker yang memiliki postur dagu yang bagus.
"Xavier itu berbeda."
"Maksudmu?"
Stella tak mengerti. Ntah kenapa ia merasa kehidupan Xavier begitu misterius dan menarik untuk di ungkap.
"Dia sudah di latih keras sejak kecil. Hidupnya di tuntut untuk menjadi perisai Keluarga Elbrano."
"Apa Xavier punya ayah atau ibu? Atau mungkin.."
"Xavier tak dekat dengan siapapun." jawab Dokter Ryker memandangi mentari di atas sana. Ada raut lelah di wajahnya tetapi ini terlihat beban lama.
"Jadi, dia itu di latih keras agar bisa menjalankan kekuasaan Keluarga Elbrano. secara tak langsung Xavier mengemban tugas yang berat bahkan bisa mengorbankan hidupnya untuk mengabdi para Keluarga besar Elbrano atas tuntutan Yang Mulia Lucius Malfoy." imbuhnya kembali.
"Lucius itu.."
"Kakek Xavier!" sela Dokter Ryker membuat Stella merinding mendengar namanya. Ia yakin pria itu bahkan lebih menyeramkan dari Xavier.
"Dia adalah puncak tertinggi pimpinan Elbrano. Sangat tegas dan selalu mementingkan Keluarga Elbrano. Yang Mulia Lucius sangat mempersiapkan Xavier menjadi penguasa di semua tempat dan dimana-pun dunia dan itulah kenapa Xavier telah mencapai tingkat Highest prince pangeran tertinggi." jelas Dokter Ryker membuat Stella terperongoh merasa tak percaya jika ada hal semacam ini.
Dalam hidupnya ia kira hanya berjalan secara rasional tetapi nyatanya Ras seperti itu memang ada. Bahkan, tak bisa di sadari oleh banyak orang.
"Pantas saja Xavier berpenampilan seperti seorang Pengusaha ternama. dia juga mampu bertahan di dunia yang seperti manusia."
"Yah. Xavier bisa membawa diri dan menyamarkan Rasnya. Tak akan ada yang tahu dia adalah seorang Monster penghisap darah."
"Dari mana Keluarga Elbrano memasok darah?"
Dokter Ryker terdiam. Ia rasa Stella tak perlu tahu terlalu banyak karna ini akan membuat posisi Xavier cukup terancam.
"Kau tanya saja pada Xavier! Dia tahu lebih banyak dari aku."
"Sudah berapa kali aku bertanya. Dia selalu saja menunjukan wajah aspal menyebalkan itu." umpat Stella menghentakkan satu kakinya hingga masuk ke dalam pasir laut yang mengelitiki kakinya.
Ia membiarkan angin segar itu menerbangkan rambut yang beraroma Bunga Gardenia yang begitu harum. Kulit yang putih dan mata nan indah itu membuat Dokter Ryker terpaku untuk sesaat memandangi wajah cantik Stella yang sibuk menimbun kakinya dengan pasir.
"Apa kau juga sama seperti Xavier?"
Dokter Ryker tak langsung menjawab. Ia agak cemas jika Stella menganggapnya bersikap arogan seperti Masternya.
Wajah bersih agak pucat dengan mata yang selalu hangat. Tampak awet muda dan segar apalagi dagunya agak terbelah dan terlihat manis. Walau Ketampanan Xavier belum tersaingi setidaknya ini sudah sangat baik.
"Aku heran. Kenapa wajahmu agak pucat? Atau kau.."
"Yah. Aku termasuk."
Stella terperanjat segera mundur satu langkah ke belakang. Matanya melebar tak percaya jika Dokter Ryker juga sama.
Melihat respon Stella yang terlihat syok Dokter Ryker segera menaikan Kacamata di hidungnya.
"Tenang saja. Aku tak akan mengigit mu."
"K..kau.. "
"Aku ini baik dan hangat. Jangan menatapku dengan pandangan seperti itu, aku tak nyaman." sela Dokter Ryker mengusap tengkuknya kikuk.
Stella menormalkan raut wajahnya. Bisa-bisanya ia tak menyadari siapa saja yang manusia atau bukan.
"K..kau manusia atau.."
"Bisa di katakan kami bisa menjadi keduanya." jawab Dokter Ryker membusungkan dada bangga. Ia tersenyum dengan mata juga ikut melengkung hangat membuat Stella menghembuskan nafas lega.
Suasana bersama Dokter Ryker dan Xavier benar-benar sangat berbeda. Ia lebih santai dengan pria ini.
"Hm. Aku harap kau tak seperti Nyamuk jantan itu. Dia selalu saja membuatku naik darah."
"Aku dan Master berbeda! Master memang sangat arogan dan angkuh tapi dia pria yang bisa di andalkan."
Stella hanya membelo jengah saja mendengar pujian tentang Xavier. Tiba-tiba saja ia terbayang dengan kejadian siang tadi dimana ia telah meminum darah kental seseorang. rasanya masih membekas membuat Stella bergidik mual.
"Sudahlah. Aku harus pergi."
"Kau bekerja?" tanya Stella yang diangguki Dokter Ryker.
"Sudah ku katakan bukan. Kami berdampingan dengan kalian. Aku juga bisa memimpin Rumah sakitku sendiri."
"Oh. Semangat bekerja!" ucap Stella menoyor bahu Dokter Ryker yang hanya tersenyum melangkah pergi kembali ke arah Villa.
Stella hanya memandangi sebentar lalu kembali melihat ke arah mentari yang sudah mau terbenam. Ntah sampai kapan ia disini sedangkan Mommynya tak tahu bagaimana kabar sekarang.
"Apa aku bisa lepas dari sini?" gumam Stella membuang nafas kasar. Ia ingin bebas tapi melihat Xavier begitu sulit di hadapi ia jadi merasa tak punya harapan.
"Dasar Nyamuuuuk Jantaaaan menyebalkaaaaan!!!!" teriak Stella menendang-nendang pasir di bawahnya. Suara gelombang air terasa begitu mengisi kekosongan yang Sandra rasakan. Udara segar ini setidaknya bisa mengobati rasa sunyi dan kesepian Stella.
"Aku sudah mencoba segala cara. Kenapa dia itu sulit sekali di kendalikan." gumam Stella mengacak rambutnya frustasi.
Stella tak menyadari jika sedari tadi Efika melihatnya dari jauh. Ia segera mendekat karna disuruh menjaga Stella agar tak berbuat macam-macam.
"Aku punya cara!"
Stella menoleh. Nyatanya Efika yang datang membuatnya kembali melihat ke depan.
"Tak ada harapan lagi."
"Aku lihat kau punya sesuatu yang membuat Master mempertahankan mu."
Sudut bibir Stella terangkat culas. Sudah jelas Master hanya menginginkan tubuh dan darahnya. Bahkan, hampir setiap malam Stella digerayai oleh bayangan kekar itu dan Stella yakin itu Xavier.
"Cih. Dia hanya ingin memperbudakku."
"Stella! Kau adalah satu-satunya wanita yang di bawa kesini dan kau wanita pertama yang tak tiada sampai detik ini setelah dijadikan Korban. Master!"
"Lalu? Apa aku harus bahagia, berpesta?" tanya Stella jengah. Ia sudah tak tahu bagaimana cara membuat Xavier membebaskannya.
"Kau sangat cantik, tubuhmu bagus dan kau juga berani. kau hanya perlu tunduk pada Master dan kau akan bisa meminta untuk.."
Ucapan Efika terhenti kala tatapan tajam Stella menusuk jantungnya. Sampai kapanpun ia tak akan pernah tunduk.
"Tidak.. Bukan itu maksudku."
"Lalu? Aku tak mau di perbudak." tekan Stella tetapi Efika menggeleng. Ia juga tahu Stella tak akan mau karna ego wanita ini menyamai harga diri Masternya.
"Aku punya cara lain dan ini mungkin akan berhasil."
"Apa?" tanya Stella penasaran. Efika melihat kiri kanan membisikan sesuatu ke telinga Stella yang seketika menggeleng.
"Tidak..aku tak mau!!"
"Ini hanya sementara. Aku yakin kau bisa bebas jika melakukan ini." lirih Efika memang kasihan melihat Stella selalu ditindas. Ia harap Stella bisa bebas tak seperti mereka disini.
Vote and Like Sayang..
novel sebagus ini kanapa gak bisa jadi peringkat nomer satu, jujur kecewa banget sama NT. semanagt terus ya kak semoga cerita kak bisa trending, kecewa banget sama NT kalau di trendingin, cerita sebagus ini belum ada yg bisa menandingin
sukses selalu buat author keaayangan 😍
miss u thorr...nulis disni lg y thorr