Berkisah tentang seorang gadis belia bernama Ulfi yang terpaksa di jebak oleh keluarganya agar ia bisa masuk pesantren karena pergaulan bebasnya.
Merasa tersiksa karena aturan pesantren yang begitu ketat dan bertolak belakang dengan kehidupan sebelumnya, membuat Ulfi terus berusaha melarikan diri.
Hingga akhirnya sang kakek muak dan memutuskan untuk menikahkannya dengan seorang pria di pesantren itu agar ada yang bisa menjaganya tidak kabur lagi.
Lalu bagaimana kisah Ulfi selanjutnya selama di pesantren? apakah ia sanggup menjalani pernikahan tanpa cinta itu atau bahkan ia tetap nekat kabur demi kehidupan lamanya yang bebas?
Yuk ikuti kisahnya :)
Sebelum baca jangan lupa subscribe/favorite, dan tinggalkan jejak like dan koment yah agar Authornya semangat 🥰
Terima kasih juga kepada Asketch dari pixabay atas gambarnya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UQies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
"Maaf kak kalau saya mengganggu, saya hanya ingin mengembalikan buku ini, saya sudah mencatat yang perlu di catat tadi," ujar Maryam.
"Oh iya," jawab Ammar sambil menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Maryam yang saat ini berada di kursi yang tidak jauh dari tempat Ammar.
"Kenapa tadi bukunya di bawa sama santriwati kak? Kakak sibuk?" tanya Maryam lagi.
"Tidak juga, hanya saja saya merasa sedikit lelah tadi, dan kebetulan ada santriwati yang datang jadi saya titip saja ke mereka," jawab pria itu lagi.
Prank
Terdengar suara barang jatuh dari dalam rumah Ammar, membuat keduanya terkejut.
"Kakak tinggal dengan seseorang yah?"
"Hmm," jawab Ammar, "maaf yah sepertinya saya ingin istirahat dulu, saya sangat lelah," ucap Ammar kemudian, membuat wanita di sampingnya paham akan maksud pria itu.
Maryam pun akhirnya pamit lalu pulang ke rumah guru tempatnya tinggal.
💮💮💮
Sementara di dalam rumah, Ulfi menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Saking terkejutnya, Ulfi langsung berlari hendak masuk ke dalam kamar, namun kakinya justru menginjak pecahan kaca dari vas bunga itu.
"Auw," pekiknya dengan suara tertahan karena satu tangannya segera menutupi mulutnya.
"Ulfi, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ammar yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan raut wajah khawatir.
Alih-alih menjawab, gadis itu justru memalingkan wajahnya. Sejujurnya saat ini ia sangat malu karena sudah tertangkap basah menguping pembicaraan suaminya.
"Ulfi?" panggil Ammar karena tak mendapat jawaban dari gadis itu.
"Astaghfirullah, kaki kamu tertusuk kaca Ulfi," ujar Ammar lalu menggendong tubuh Ulfi ala bridal style, membuat gadis itu refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Ammar.
Ammar membawa Ulfi masuk ke dalam kamar dan mendudukkannya di kasur. Lalu ia memposisikan dirinya duduk di hadapan Ulfi dan meletakkan kaki Ulfi di pangkuannya.
Ulfi yang diperlakukan dengan begitu manis oleh Ammar merasa ada gejolak aneh di dalam hatinya, jantungnya yang tadinya berdetak normal kini berdebar tidak keruan.
"Kamu menguping yah?" tanya Ammar sembari berusaha mencabut pecahan kaca yang menusuk kaki Ulfi dengan pinset.
"Nggak," jawabnya singkat.
"Sayang sekali, padahal saya berharap kamu menguping saya," tukas Ammar membuat Ulfi mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" kini Ulfi yang bertanya kepada pria yang sedang sibuk mengobati kakinya itu.
"Karena jika kamu menguping, artinya kamu penasaran dengan pembicaraan kami, jika kamu penasaran artinya ada rasa tidak rela di hati kamu saat saya berbicara dengan ustadzah Maryam," terang Ammar sembari mengulum senyum.
"Hah, ustadz ini terlalu percaya diri, mana ada saya cemburu ustadz. Jangankan bicara dengan ustadzah Maryam, ustadz guling-guling di hadapan ustadzah Maryam pun saya tidak peduli," elak Ulfi segera menangkis dugaan pria itu.
"Masa sih?" tanya Ammar mencoba menggoda Ulfi yang kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Tentu saja," jawab Ulfi begitu yakin.
Ammar hanya tersenyum lalu kembali menyelesaikan pertolongan pertama pada kaki Ulfi.
"Nah, sudah selesai." Ammar menurunkan kaki Ulfi dari pangkuannya.
"Kamu tunggu disini, saya akan mengambil makanan untukmu," ujar Ammar dan hanya di balas anggukan oleh Ulfi.
Selepas Ammar pergi, Ulfi meraba dadanya yang masih terasa berdebar. "Aneh, jantungku kenapa yah? kok tiba-tiba berdebar kayak gini?" monolognya.
Beberapa menit telah berlalu, namun Ammar tak kunjung menampakkan batang hidungnya, padahal perutnya sudah sejak tadi berbunyi bagaikan genderang perang.
Ingin rasanya gadis itu mengalihkan rasa bosannya dengan memainkan ponsel, namun apa daya, ponselnya sedang berada di tangan sang kakek. Ingin menonton pun tidak bisa, sebab yang ada di rumah Ammar hanyalah berbagai jenis buku dan kitab kuning yang berjejer rapi di rak buku.
Entah berapa banyak buku yang dimiliki suaminya itu, Ulfi tak mampu menerkanya.
Ulfi membuang napas kasar lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur, matanya menatap lurus ke langit-langit di dalam kamar itu.
"Jika saja aku masih di Jakarta, kira-kira apa yang sedang ku lakukan saat ini?" batinnya lalu tertawa kecil.
Apalagi yang akan ia lakukan selain berkumpul bersama teman gengnya yang mayoritas laki-laki. Meski sering bergaul dengan laki-laki, Ulfi sangat tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Hingga beberapa temannya menyangka bahwa Ulfi adalah seorang l35b**n.
Namun bagai angin yang berlalu, Ulfi tidak pernah menanggapi atau pun mengklarifikasi dugaan tersebut. Gadis itu benar-benar masa b0d0h dengan tanggapan orang lain kepadanya.
Suara pintu yang dibuka seketika membuyarkan lamunan Ulfi dan seketika bangkit dari rebahannya.
Ammar muncul dari balik pintu dengan membawa satu piring makanan dengan porsi yang cukup banyak untuk ukuran gadis bertubuh mungil seperti dia.
"Ulfi, makanlah," ucap Ammar yang kembali duduk di hadapannya sembari memberikan sebuah sendok.
Ulfi yang baru saja akan makan seketika terhenti saat melihat Ammar ikut menyendokkan makanan ke mulutnya dari piring yang sama dengan Ulfi.
Ammar yang melihat ekspresi malas dari Ulfi pun menghentikan makannya.
"Kenapa tidak makan? Kamu jijik yah makan sepiring berdua dengan saya?" tanya Ammar.
"Maaf," jawab Ulfi menunduk.
"Sepertinya selama tinggal di pesantren, teman-temanmu belum mengajarkan cara makan seperti ini yah?"
"Pernah ustadz, satu kali tapi saya tidak nyaman makan seperti itu."
"Cobalah dulu, suatu saat kamu pasti akan ketagihan makan seperti ini bersama saya," ujar Ammar.
"Tapi ustadz." Ulfi masih terlihat keberatan.
"Makanlah, lagipula kamu tidak perlu takut, saya tidak memiliki penyakit menular," tukas Ammar lalu kembali melanjutkan makannya.
Ulfi menatap sang suami yang begitu lahap makan. Jika saja ia tidak sedang lapar saat ini, tentu ia akan menolak, sayangnya saat ini perutnya tidak ingin bekerja sama dengan Ulfi.
Perlahan tangannya bergerak untuk menyendok makanan dari piring yang sama dengan Ammar lalu menyuapnya ke dalam mulut.
Hingga di suapan kelima Ulfi masih merasa risih, namun di suapan selanjutnya Ulfi mulai merasa nyaman seperti biasa, bahkan ia tidak segan-segan mengambil nasi yang hendak di ambil Ammar.
Ammar tersenyum melihat Ulfi yang perlahan mulai bisa menerima kehidupan barunya di penjara suci ini. Lalu bagaimana nasib pernikahannya? Apakah Ulfi akan menerimanya seiring berjalannya waktu? Sampai kapan kira-kira ia harus bersabar menunggu hingga saat itu tiba? Begitu banyak pertanyaan yang memintas di pikiran Ammar saat ini.
Sebagai manusia biasa, Ammar hanya bisa berusaha dan tawakkal pada Allah, sebab manusia pada dasarnya hanya berencana dan sisanya Allah yang menentukan. Dia lebih tahu mana yang terbaik untuk hambaNya.
💮💮💮
Seorang laki-laki muda nan tampan keluar dari bandara sambil menarik kopernya. Senyuman indahnya tampak menghiasi wajahnya yang rupawan yang tampak sangat bersemangat menginjakkan kakinya di tempat itu.
"Aku datang untuk menjemputmu, tunggu aku, Ulfi," ujar laki-laki itu.
-Bersambung-
alangkah bahagia pak ustadz 😊
ceritanya keren
good job💯👍👏