Pernikahan yang terjalin selama lima tahun tiba-tiba saja kandas akibat perselingkuhan yang dilakukan sang suami.
Awalnya Maya berusaha berdamai dengan sang suami yang berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun, rasa sakit yang tak kunjung hilang membuat Maya akhirnya memilih untuk berpisah.
Bukannya reda, rasa sakit itu malah semakin membengkak tatkala mantan suaminya kembali menjalin hubungan dengan wanita selingkuhannya dulu.
Sejak saat itu Maya bertekad membalas dendam dengan cara halus, membuat mantan suaminya terpikat kembali lalu membuangnya begitu saja.
Akankah Maya berhasil melakukan balas dendam? Atau justru Maya terjebak dalam misinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berjalan Ditempat
Sudah dua jam Adhi berkutat dengan laptop miliknya yang tak henti-henti menyala, sepuluh jarinya sibuk mengutak-atik keyboard guna menulis kata-kata di layar benda elektronik tersebut.
Hanya ditemani oleh denting jam dinding yang sudah menunjukan angka delapan, juga angin malam yang menusuk sebagian pori-pori Adhi yang terbuka.
Getaran ponsel di meja kerja membuat bola mata Adhi melirik sekilas sebelum ia menghentikan aktivitas kerjanya.
Di raihnya handphone berlogo buah itu, ada panggilan masuk dari orang yang sudah dua hari ini tak menghubunginya.
Digeser lah tombol hijau tersebut sampai suara seseorang muncul dari balik benda pipih itu.
"Hallo mas, sedang apa?"
"Kau tidak mau menanyakan kabarku terlebih dahulu?" Sergah Adhi membalikkan pertanyaan.
"Aku tau pasti sedang tidak baik-baik saja, aku lihat berita tentang perusahaan mu. Apa benar kamu bangkrut mas?" Ujar perempuan itu beragumen.
Adhi menghela nafas berat, memang benar ia sedang tidak dalam situasi yang bagus. Tapi meski begitu apa salahnya menanyakan kabarnya lebih dulu meski sekedar basa basi. Bukankah itu yang dilakukan oleh sepasang kekasih?
"Belum bisa dikatakan seperti itu juga, tapi jika aku tidak bisa mengelola perusahaan mungkin sebentar lagi aku benar-benar harus gulung tikar" ungkap Adhi seadanya.
Terdengar helaan nafas dari seberang sana.
"Bagaimana bisa jadi seperti ini, mas? Bukankah kamu bekerja setiap waktu? Kenapa hal seperti ini menimpa perusahaan mu, kamu harus cepat-cepat memperbaikinya mas" nada kekhawatiran itu sangat terpampang jelas melalui volume yang Adhi perbesar, namun tak membuat hatinya justru terharu.
"Semua butuh proses, aku tak menjamin akan membuat perusahaan stabil dalam waktu dekat. Aku sudah banyak mempertaruhkan waktu dan kesehatan ku sendiri, bisa-bisa aku mati dalam kondisi sukses" timpalnya sambil membubuhi sedikit candaan.
"Kan memang harusnya seperti itu, perusahaan adalah sebagian dari nyawamu. Hufftt... Padahal sebentar lagi aku mau pulang kesana, tapi malah mendapat kabar buruk ini" keluhnya tak bersemangat.
"Doakan saja yang terbaik sekarang, memangnya kau mau aku jadi gila gara-gara terlalu stress memikirkan perusahaan yang sedang di ambang kebangkrutan ini? Tenang saja, jangan repot-repot mengcemaskan perusahaan, bukahkan lebih baik mengkhawatirkan kekasihmu ini? Atau jangan-jangan kau memang tidak peduli dengan ku" cibir Adhi memancing kejujuran sang kekasih.
"T-tentu aku peduli dengan mu! A-aku hanya syok mendengar berita yang tersebar di internet jadi terdengar berlebihan. Maaf aku baru bisa mengabari mas lagi, mas tau kan pekerjaan ku sebagai pramugari sangat padat harus bulak-balik ke luar negeri. Beberapa hari lagi aku akan pulang, aku merindukanmu mas"
Alasan klasik yang sengaja ditutupi oleh perhatian kecil yang entah berasal dari lubuk hatinya atau tidak, sangat tergambar meski hanya mendengar dari nada bicaranya saja.
"Aku ingin cepat-cepat pulang ke tanah air, mas pasti merindukan aku juga bukan? Sudah dua bulan kita tidak bertemu, aku sudah membayangkan memeluk tubuh mas dari jauh, aku sudah tidak sabar! Jaga diri dan hati mas disana, jangan berani bermain dengan wanita lain selain aku oke"
Duar!
Rasanya seperti ada yang menyentak Adhi saat mendengar kalimat terakhir lawan bicaranya tersebut. Seketika bayang-bayang Maya berputar di kepala Adhi, bagaimana akhir-akhir ini ia dan mantan istrinya itu beberapa kali bertemu, bahkan mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu. Apakah itu juga bisa disebut bermain dibelakang?
Tidak! Mereka dekat bukan karena menjalin suatu hubungan yang lebih, hanya saling support sebagai sesama orang tua dari Shakeel buah hati mereka.
Ya! Ia tidak bermain dibelakang siapapun.
Adhi menyangkal keras dugaan itu.
"Hmm... Dan jangan berprasangka buruk terus terhadap ku. Aku sibuk kerja tidak ada waktu bermain dengan wanita" ujar Adhi membuat senyum dibibir wanita tersebut merekah.
"Ya sudah selamat bekerja kembali, aku tutup teleponnya ya. Tunggu aku pulang, aku mencintaimu... Bye"
Tak menunggu jawaban Adhi, telepon sudah terputus dari seberang sana. Adhi hanya menatap datar ponsel yang dipegangnya.
Hubungan dengan kekasihnya saat ini bisa dibilang berjalan ditempat, belum ada kemajuan.
Mungkin karena Laura muncul sebagai orang ketiga pada mulanya, membuat semua hal sulit untuk sekedar dijalani.
Restu dari orang tua Adhi pun tak diberikan hingga detik ini juga, sebagian orang sudah tahu akan permasalahan rumah tangga Adhi, membawa Laura ke publik saja harus berpikir dua kali, bukan tanpa alasan. Memunculkan wanita itu akan menimbulkan opini negatif dari orang-orang yang mana akan membawa nama Adhitama semakin buruk di mata masyarakat.
Dan itu akan berakibat buruk pada bisnisnya, tentu saja seorang pemimpin perusahaan harus memilik citra yang bagus untuk keberlangsungan perusahaan.
Pertemuan yang awalnya sebatas seorang pramugari dan penumpang pesawat business class kian berubah seiring pertemuan mereka yang terbilang cukup sering. Tanpa Adhi sadari jika hal itu membawa kehancuran pada rumah tangganya sendiri.
Hal yang membuat Adhi bertahan hingga sekarang adalah sebuah kenyamanan yang ia rasakan bila bersama perempuan itu, perhatian dan sikap Laura mampu membuat Adhi akhirnya kembali menjalin hubungan disaat ia sudah tak bisa lagi membawa Maya ke dalam kehidupannya.
Satu hal yang Adhi minta ketika Laura memohon padanya untuk kembali menjadi hubungan, yaitu Laura tak boleh memaksa Adhi untuk menikahinya, karena dari awal hubungan ini diluar dari rasa cinta yang Adhi miliki.
Laura pun langsung menyetujuinya, tetapi akhir-akhir ini wanita itu mulai membahas soal pernikahan, mungkin karena mereka sudah berpacaran selama dua tahun dan membuat wanita itu ingin segera ada yang meminang.
Tetapi lagi-lagi Adhi tak ingin membahas hal tersebut, bahkan Adhi pernah mengatakan pada Laura jika ia tak masalah kalau sekiranya hubungan mereka harus usai jika ada pria lain yang berniat menikahi Laura.
Tentu saja Laura menolak, yang ia inginkan adalah pria tampan, mapan dan sesempurna seorang Adhitama. Sudah dua tahun tentu Laura enggan mengakhirinya, Laura berjanji akan menunggu kapanpun hingga Adhi siap, bahkan tak masalah jika harus menikah siri lebih dulu.
Adhi tak mau ambil pusing, bukan maksud mau mempermainkan hati para wanita, tapi Adhi sendiri masih bingung kemana hatinya akan berlabuh, ia tak mau salah untuk membangun pernikahan untuk yang kedua kali.
Lagipun Adhi sedang ingin fokus dan menghabiskan banyak waktu dengan putranya yang selama ini telah ia sia-siakan, apalagi sekarang Maya sudah memberikan izin untuk bertemu Shakeel setiap hari.
Membuat Adhi makin tidak ada niatan untuk menikah cepat-cepat, ia ingin menebus dosanya dulu pada putra semata wayangnya itu, banyak janji yang belum ia penuhi, Adhi ingin membahagiakan buah hatinya sebelum ia membahagiakan orang lain suatu saat nanti.
tp mw gimana lagi... setiap orang mempunyai pemikiran sendiri seperti maya,,, mungkin karena terlalu sakit hatinya,,