Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Matahari pagi baru saja menyembul di balik ufuk timur, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah-celah jendela kamar di markas **Muslimah Till Jannah**. Suasana yang seharusnya tenang mendadak pecah oleh suara batuk dan rintihan tertahan dari arah kamar mandi sudut ruangan.
Wulan bertumpu pada pinggiran wastafel dengan kedua tangan yang gemetar. Wajahnya yang tirus tampak begitu pucat, keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya. Pagi ini, ia diserang rasa mual yang teramat hebat. Perutnya bergejolak, menolak segala rasa, hingga ia hanya bisa memuntahkan cairan bening yang terasa pahit di pangkal tenggorokannya. Morning sickness—gejala fisik yang menjadi penanda nyata bahwa ada kehidupan baru yang sedang berdenyut di dalam rahimnya.
Hasna dan Ratih yang mendengar suara gaduh tersebut dengan sigap langsung berlari masuk. Ratih dengan lembut memijat tengkuk Wulan, sementara Hasna mengusap punggung wanita itu, memberikan rasa hangat yang menenangkan. Setelah rasa mualnya sedikit mereda, mereka berdua menuntun Wulan kembali ke atas ranjang.
Ratih menyodorkan segelas air hangat bercampur sedikit madu untuk membasahi tenggorokan Wulan yang kering. "Kamu sedang ngidam, Ukhti," kata Ratih dengan senyum simpul yang teduh, mencoba menghibur. "Jangan banyak aktivitas yang melelahkan dulu ya untuk beberapa minggu ke depan. Tubuhmu butuh banyak energi untuk menjaga janin itu."
Wulan menerima gelas itu dengan tangan yang masih sedikit bergetar, meminumnya perlahan sebelum mengangguk lemas. "Iya... terima kasih banyak, Kak Ratih, Kak Hasna..."
Hasna menatap lekat wajah Wulan yang layu. Ada kabut kesedihan yang begitu tebal di matang bening wanita bercadar itu, sebuah luka yang tidak bisa disembunyikan hanya dengan selembar kain putih. Hasna kemudian menoleh ke arah Ratih, memberikan sebuah isyarat mata yang halus agar Ratih meninggalkan ruangan mereka sebentar. Sepertinya, ada sebuah kebenaran yang harus segera digali, sebuah rahasia yang sudah saatnya dibuka demi kebaikan Wulan sendiri.
Ratih yang mengerti langsung mengangguk, berpamitan dengan lembut lalu melangkah keluar dan menutup pintu kayu kamar tersebut rapat-rapat. Kini, di dalam kamar yang sunyi itu, hanya tersisa Hasna dan Wulan.
### **Pertanyaan di Balik Dinding Batin**
Hasna menggeser kursi kayu, duduk lebih dekat di samping ranjang Wulan. Ia meraih tangan Wulan yang terasa dingin, menggenggamnya dengan kehangatan seorang kakak kandung.
"Ukhti... apakah Ukhti sebenarnya sudah menikah?" tanya Hasna, suaranya terdengar sangat hati-hati, memecah keheningan dengan nada yang begitu lembut agar tidak menyinggung perasaan lawan bicaranya.
Wulan tertegun. Ia menatap mata Hasna, mencari-cari apakah ada kilat penghakiman di sana. Namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang murni. Setelah terdiam beberapa detik, Wulan akhirnya mengangguk perih. "Iya... sudah, Kak."
Hasna menarik napas panjang, merasa sedikit lega karena dugaannya benar, namun di sisi lain hatinya ikut berdenyut nyeri. "Maaf kalau aku sedikit lancang, Wulan. Sebenarnya, selama mengelola komunitas ini, aku tidak pernah berani membongkar atau mendesak masa lalu para anggota. Biasanya, mereka sendiri yang datang dan langsung curhat sama aku kalau sudah merasa siap."
Hasna jeda sejenak, mengusap punggung tangan Wulan. "Tapi, Ukhti Wulan sudah hampir mau sebulan ada di sini, dan kamu belum cerita apa-apa tentang dirimu. Ditambah lagi, sekarang kamu sedang mengandung. Sebagai orang yang bertanggung jawab di sini, aku tidak bisa tinggal diam melihatmu menanggung beban ini sendirian."
Wulan menundukkan kepalanya dalam-belam, buliran air mata mulai menggenang di pelupis matanya. "Iya... maafkan aku, Kak..."
"Tidak apa-apa, Dek. Aku tidak marah," potong Hasna cepat, menenangkan. "Tapi, maafkan pertanyaanku sekali lagi... apakah suami Ukhti tahu kalau Ukhti sekarang sedang hamil?"
Wulan menggelengkan kepalanya perlahan. Air matanya luruh, membasahi kain cadar putih yang ia kenakan. Bagaimana mungkin Fatih bisa tahu, jika pertemuan terakhir mereka diakhiri dengan kalimat pengusiran yang kejam di bawah guyuran hujan malam itu?
"Ukhti belum cerai... kan?" tanya Hasna lagi, memastikan status hukum Wulan.
"Belum... kami belum bercerai secara resmi, tapi sepertinya..." Kalimat Wulan tertahan di tenggorokan. Ia tidak sanggup melanjutkan bahwa suaminya saat ini justru sedang sekarat meratapi penyesalannya di rumah sakit yang sama kemarin.
Hasna menatap Wulan dengan pandangan penuh harapan. "Ukhti, kalau memang suami Ukhti masih ada di luar sana, dan dia adalah pria yang mau bertanggung jawab... kita semua di sini bisa menemani dan mengantarmu kesana. Kita bicarakan baik-baik dengannya, demi masa depan anak yang ada di dalam kandunganmu ini, Wulan."
Mendengar tawaran Hasna, Wulan langsung menggelengkan kepalanya dengan bingung dan panik. Pikiran Wulan menjadi kacau. “Bagaimana mungkin aku kembali pada Kang Abbas, Kak? Sementara pria yang Kakak idolakan itu, pria yang hampir menikahi Kakak dulu, adalah suamiku sendiri yang telah menghancurkan hatiku karena termakan fitnah?” Namun, gelengan kepala Wulan yang penuh kebingungan itu justru diartikan lain oleh Hasna. Hasna mengira bahwa suami Wulan adalah sosok pria kejam, egois, dan tidak berperasaan yang menolak keberadaan darah dagingnya sendiri.
Hasna menghela napas berat, matanya memancarkan rasa empati yang mendalam. "Baiklah, kalau Ukhti memang tidak mau, aku tidak akan memaksa. Aku sangat mengerti... aku juga pernah merasakan bagaimana rasanya berada di posisimu, Wulan. Merasakan bagaimana mantan suamiku dulu menghina aku, menginjak harga diriku, bahkan menendang perutku saat aku hamil. Pasti sangat pedih apa yang kamu lalui bersama suamimu itu, Ukhti... Kamu yang sabar ya..."
Wulan hanya bisa mengangguk pelan dengan hati yang terasa semakin teriris-iris. Ia merasa sangat dilematis. Di satu sisi, ia ingin membersihkan nama Fatih di depan Hasna bahwa suaminya bukan pria sekadar kejam seperti mantan suami Hasna, melainkan hanya pria yang sedang terbutakan oleh fitnah. Namun di sisi lain, menceritakan kebenaran itu berarti akan menguak semua identitas aslinya sebagai Bella.
### **Ketukan Pintu dan Hadiah dari Sang Perwira**
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan tiba-tiba diketuk dari luar, memutus pembicaraan emosional mereka. Seorang ukhti pengurus komunitas menyembulkan kepalanya di balik pintu. "Assalamu'alaikum, Kak Hasna. Ada yang mau bertemu di depan."
Hasna menghapus sudut matanya yang sedikit basah, lalu menoleh. "Wa'alaikumussalam. Oh iya, siapa yang datang?"
"Bapak AKBP Ridwan, Kak," jawab pengurus itu.
"Oh, oke, saya akan segera kesana," ujar Hasna. Ia kemudian berdiri, membetulkan letak pakaiannya dan menatap Wulan dengan senyum keibuan yang hangat. "Ukhti, kamu istirahat yang cukup ya. Jangan dipikirkan dulu pembicaraan kita tadi. Ingat kandunganmu."
"Iya, Kak. Terima kasih banyak," jawab Wulan tulus. Di dalam hatinya, rasa bersalah karena menyembunyikan identitas aslinya dari Hasna yang begitu perhatian layaknya seorang kakak kandung kini terasa menjadi beban moral yang teramat berat untuk dipikul.
Hasna melangkah meninggalkan kamar, menyusuri koridor markas menuju ruang tamu gedung utama. Di sana, ia melihat AKBP Ridwan berdiri tegap dengan seragam dinasnya yang rapi, memberikan kesan wibawa yang menenangkan.
"Assalamu'alaikum, Bu Hasna," sapa Ridwan ramah sambil menundukkan kepala sedikit.
"Wa'alaikumussalam, Pak Ridwan. Silakan duduk, Pak. Ada angin apa bapak berkunjung sepagi ini?" tanya Hasna mempersilakan.
"Ah, tidak perlu repot-bu, saya tidak akan lama," jawab Ridwan dengan senyum sopan. Ia kemudian meletakkan sebuah parsel besar berisi buah-buahan segar di atas meja kaca, disusul dengan sebuah kotak kecil berwarna beludru merah yang ia keluarkan dari saku seragamnya.
"Oh ini, saya mendengar kabar dari anggota kemarin kalau Dek Wulan sempat dilarikan ke Rumah Sakit Pusat setelah baksos. Sayangnya, karena tugas dinas yang padat, saya tidak sempat menjenguknya secara langsung di sana," cerita Ridwan dengan nada suara yang terdengar sedikit menyesal. "Ini saya bawakan buah-buahan segar buat dia untuk menambah energinya. Dan... tolong berikan kotak kecil ini juga untuknya."
Hasna menatap kotak beludru merah itu, lalu beralih menatap wajah Ridwan. Sebagai wanita dewasa, Hasna langsung bisa membaca riak-riak aneh di balik ketegasan mata sang perwira. Ada ketertarikan, ada rasa peduli, dan ada getaran hati yang mendalam dari Ridwan terhadap sosok Wulan.
Seketika, sebuah rencana melintas di dalam benak Hasna. Mengingat cerita Wulan tadi yang mengisyaratkan keengganan untuk kembali kepada suaminya yang dianggap kejam, Hasna berniat untuk membujuk Wulan agar mau membuka hatinya kepada Ridwan. Bagi Hasna, Ridwan adalah pria mapan, bertanggung jawab, dan memiliki posisi yang kuat untuk melindungi wanita rapuh seperti Wulan dari ancaman luar.
Namun, sebuah pertanyaan besar mendadak menghantam dinding pikiran Hasna. “Tapi... apakah Pak Ridwan akan tetap mau menerima Wulan dengan tulus, jika dia tahu bahwa saat ini Wulan sedang mengandung anak dari pria lain? Apakah seorang perwira tinggi kepolisian mau berbesar hati membesarkan anak yang bukan darah dagingnya?” batin Hasna penuh dengan keraguan yang dilematis.
Sebelum Hasna sempat mengutarakan niatnya atau bertanya lebih jauh, Ridwan sudah melirik jam tangannya dan berdiri dari tempat duduknya.
"Oh ya, Bu Hasna, saya harus segera kembali ke mapolres karena ada rapat internal bersama tim intelijen terkait pengejaran Iptu Deni," ujar Ridwan berpamitan. "Salam buat Wulan, dan salam buat semuanya di komunitas ini."
Ridwan melangkah menuju pintu keluar, namun tepat sebelum ia melintasi ambang pintu, ia menghentikan langkahnya dan menoleh kembali pada Hasna dengan tatapan yang sangat serius namun lembut.
"Tolong sampaikan pesan saya ke Dek Wulan ya, Bu... Jaga kandungannya baik-baik, jangan sampai kelelahan, agar bayinya nanti bisa lahir dengan sehat dan selamat."
Deg.
Hasna terpaku di tempatnya berdiri, matanya membulat sempurna menatap punggung Ridwan yang mulai berjalan menjauh meninggalkan halaman markas. Kata-kata terakhir Ridwan bagai petir yang menyambar kesadarannya di pagi yang cerah ini.
"Apa...? Pak Ridwan... sudah tahu kalau Wulan hamil?" gumam Hasna dengan suara bergetar, separuh tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Dilema baru kini lahir di atas meja ruang tamu itu. Jika Ridwan sudah tahu tentang kehamilan Wulan namun tetap datang membawa buah-buahan dan hadiah dengan penuh perhatian, itu berarti ketulusan pria itu jauh lebih besar dari apa yang dibayangkan oleh Hasna. Di dalam kamarnya, Wulan masih mengusap perutnya yang rata dengan air mata yang terus mengalir, sementara takdir di luar sana perlahan-lahan mulai membuka lembaran rahasia yang akan menyeret mereka semua ke dalam pusaran pilihan hidup yang teramat pelik.