Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
MAAF YAH, TELAT UPDATE.. AKU LAGI SIBUK-SIBUKNYA KEMARIN..
APALAGI BIKIN NOVEL ITU PIKIRAN HARUS TENANG, KARENA NGURAS OTAK JUGA..
AKU KASIH BONUS 2 EPISODE .. JANGAN LUPA SUBCRIBE , LIJE , KOMEN DAN IKUTI YAH..🙏🙏
______________________________________________
Pagi itu, taman kota tampak seperti lukisan yang tenang, namun di bawah permukaannya, arus kegelapan sedang mengalir deras. Hasna sengaja memilih bangku taman yang sedikit terpisah dari keramaian pasar. Ia merasa aman meninggalkan Wulan sendirian karena ia tahu, di balik pepohonan dan di antara kerumunan pengunjung, ada mata-mata terlatih anak buah AKBP Ridwan yang mengawasi.
Hasna memiliki misi terselubung. Ia ingin menciptakan ruang bagi Ridwan untuk "kebetulan" lewat dan memberikan perlindungan nyata bagi Wulan. Hasna percaya, dengan memperlihatkan betapa berkuasanya Ridwan menjaga Wulan, hati wanita itu akan luluh dan perlahan melupakan masa lalunya yang kelam bersama suaminya yang dianggap kejam.
Ridwan sendiri, dari balik kaca film mobil dinasnya yang terparkir tak jauh dari sana, menatap sosok bercadar hitam itu dengan perasaan yang sulit didefinisikan. Ada obsesi yang tumbuh di dadanya—sebuah obsesi yang lahir dari rasa ingin melindungi yang luar biasa. Baginya, Wulan adalah simbol dari segala sesuatu yang gagal ia selamatkan di masa lalu.
### **Mendekatnya Sang Predator**
Di sudut lain, Deni—dengan topi lusuh yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian wajahnya—memperbaiki letak tali kotak asongannya. Matanya yang merah karena kurang tidur menyipit tajam. Ia telah mengintai sejak Wulan turun dari mobil Hasna.
"Kalau Bella bisa aku dapatkan kembali, dan aku serahkan pada Barja dalam keadaan hidup, Barja pasti akan mengampuniku. Dia tidak akan lagi mengerahkan preman-premannya untuk mengulitiku," batin Deni penuh rencana busuk. Baginya, Wulan bukan lagi manusia, melainkan "tiket emas" untuk menebus nyawanya yang kini berada di ujung tanduk.
Deni melangkah perlahan, menyaru di antara pedagang asongan lainnya. Ia mendekati bangku tempat Wulan duduk. Wulan yang sedang mengusap perutnya sambil melamun, tidak menyadari maut sedang berjalan ke arahnya.
"Permen, air mineral, Mbak... Tisu, Mbak...?" suara Deni dibuat parau, ia menyodorkan kotak dagangannya tepat di depan wajah Wulan.
Wulan mendongak sedikit, namun karena topi Deni yang sangat rendah, ia tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. "Nggak, Pak. Makasih," jawab Wulan lembut tanpa menaruh curiga.
Deni tidak beranjak. Ia justru membungkuk sedikit lebih rendah, hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa puluh sentimeter. Sebuah seringai menjengkelkan muncul di balik kumis tipisnya yang tak terurus.
"Yakin tidak mau... **Bella**?" bisik Deni dengan nada yang sangat dingin dan penuh penekanan.
DEG.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Wulan. Jantungnya terasa berhenti berdetak sesaat. Suara itu... suara serak yang menghantuinya di setiap mimpi buruknya selama berminggu-minggu. Wulan tersentak, ia berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Matanya membulat menatap sosok pedagang asongan itu.
Deni mengangkat sedikit topinya, memperlihatkan mata liciknya yang penuh kemenangan. Wulan tidak membuang waktu, ia segera membalikkan badan dan berlari sekuat tenaga ke arah keramaian taman. "Jangan! Tolong!" teriaknya dalam batin, namun suaranya tercekat di tenggorokan karena trauma yang mendalam.
### **Naluri Sang Ayah**
Beberapa puluh meter di jalan raya, mobil Lukman yang menjemput kepulangan Fatih, terjebak lampu merah. Fatih yang duduk di sampingnya tiba-tiba menegakkan punggung. Kepalanya yang masih dibalut perban berdenyut, namun nalurinya sebagai suami dan calon ayah berteriak keras. Ada getaran aneh di udara yang hanya bisa dirasakan oleh hatinya.
"Man, buka pintunya! Aku harus turun!" seru Fatih kalap.
"Tih, kamu gila? Luka kamu belum sembuh!" Lukman mencoba menahan, namun Fatih sudah lebih dulu membuka pintu dan meloncat keluar dengan langkah tertatih-tatih namun penuh tekad.
Fatih berlari menuju taman, mengabaikan rasa pening yang menghujam kepalanya. Matanya menyapu lapangan rumput hingga ia melihat seorang wanita bercadar hitam sedang berlari ketakutan, dikejar oleh seorang pria bertopi lusuh.
"BERHENTI! JANGAN LAKUKAN PELECEHAN DI SINI!" teriak Fatih menggelegar, suaranya memecah keriuhan taman.
Wulan terus berlari, namun rasa mual dan pusing akibat kehamilannya mulai menyerang. Pandangannya mulai kabur, dunianya berputar. Ia sempoyongan. Deni yang lebih lincah berhasil menjangkau jaraknya. Tangan kasar Deni mencengkeram ujung gamis hitam Wulan, menariknya hingga wanita itu hampir terjungkal.
"Mau lari ke mana kamu, hah?!" bentak Deni.
Tepat saat itu, Fatih sampai. Dengan sisa tenaga dan amarah yang membuncah, Fatih menerjang Deni. Ia tidak tahu siapa wanita itu, ia hanya tahu ada seorang wanita lemah yang sedang dizalimi. Bukk! Sebuah hantaman keras dari kepalan tangan Fatih mendarat tepat di rahang Deni.
"DIAM KAMU! JANGAN BERANI SENTUH WANITA INI!" bentak Fatih sambil menyergap kerah baju Deni.
Deni yang tersungkur di tanah terbelalak. Ia menatap wajah pria yang menghantamnya. "Sialan... kenapa ustadz ini ada di sini?! Jangan-jangan mereka sudah kembali bersama? Mati aku!" gerutu Deni dalam hati, wajahnya memucat ketakutan melihat Fatih yang tampak seperti singa terluka.
### **Momen di Mana Waktu Melambat**
Di saat yang sama, Wulan yang ketakutan dan sempoyongan kehilangan keseimbangan. Kakinya tidak sengaja menginjak ujung gamisnya sendiri yang panjang. Tubuhnya limbung, ia terjatuh ke belakang. Wulan memejamkan mata, bersiap merasakan kerasnya aspal taman.
Namun, hantaman itu tidak pernah terjadi.
Sepasang lengan yang kuat dan kokoh menangkap tubuhnya tepat waktu. Ridwan, yang sejak awal sudah berlari dari mobilnya, berhasil memeluk Wulan sebelum menyentuh tanah. Dalam momen itu, seolah-olah waktu berjalan sangat lambat.
Ridwan menatap mata Wulan yang basah oleh air mata dari jarak yang sangat dekat. Wulan terpaku. Untuk pertama kalinya, ia melihat ketulusan yang begitu murni di mata pria yang sering mengiriminya hadiah itu. Ada rasa aman yang menjalar di hatinya, sesuatu yang tidak ia dapatkan dari suaminya saat badai fitnah menerjang.
Pemandangan itu langsung disaksikan oleh Fatih yang masih menindih Deni. Fatih membeku. Ada bara cemburu yang mendadak membakar dadanya melihat istrinya—walau ia belum yakin itu Bella—berada dalam pelukan pria lain yang tampak sangat gagah dan protektif.
"Kenapa hatiku sesakit ini? Kenapa aku merasa ingin menarik wanita itu dari pelukannya?" batin Fatih bingung, tersiksa oleh api cemburu pada orang yang secara sadar belum ia kenali sebagai istrinya.
### **Tembakan yang Memecah Keheningan**
Ridwan membantu Wulan berdiri dengan sangat lembut. "Dek Wulan, kamu tidak apa-apa? Tenang, ada saya di sini," ucap Ridwan, suaranya dalam dan menenangkan.
Wulan menoleh ke arah pria yang tadi menolongnya dari Deni. Ia melihat Fatih yang masih tergeletak di tanah, tampak lemas karena memaksakan fisiknya yang belum pulih. Mata mereka bertemu sekejap—mata Wulan yang penuh luka dan mata Fatih yang penuh kerinduan serta kebingungan.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Deni. Melihat perhatian semua orang teralih, Deni menendang perut Fatih hingga cengkeramannya terlepas. Deni bangkit dan berlari kencang menuju benteng beton di pinggir taman yang berbatasan dengan pemukiman padat.
"BERHENTI! JANGAN BERGERAK ATAU SAYA TEMBAK!" teriak Ridwan sambil melepaskan pelukannya dari Wulan dan mencabut pistol Glock dari pinggangnya.
Deni tidak peduli, ia terus melompat ke arah benteng.
DOR!
Suara tembakan meledak, membuat burung-burung di taman terbang berhamburan. Timah panas itu melesat akurat, menembus betis kanan Deni tepat saat ia akan meloncat ke atas benteng.
"ARRGGHH!" Deni menjerit kesakitan, tubuhnya terjatuh di atas tembok beton sebelum akhirnya merosot jatuh ke sisi luar. Ia tertatih, menyeret kakinya yang bersimbah darah, menghilang di gang-gang sempit pemukiman.
Hasna berlari mendekat dengan wajah pucat pasi. "Wulan! Kamu tidak apa-apa?!"
Ridwan segera memerintahkan anak buahnya melalui handy-talky. "Kejar dia! Ikuti jejak darahnya! Jangan sampai lolos ke arah pelabuhan!"
Di tengah kekacauan itu, Fatih berusaha bangkit, namun kepalanya terasa berputar hebat. Ia menatap ke arah Wulan yang kini dilindungi oleh Ridwan dan Hasna. Ia ingin memanggil nama "Bella", namun tenggorokannya seolah terkunci. Wulan, di sisi lain, menunduk dalam, air matanya jatuh ke bumi. Ia ingin berlari ke arah Fatih, namun bayangan pengusiran malam itu dan sosok Ridwan yang berdiri tegak sebagai pelindungnya di depan matanya menciptakan dinding dilema yang begitu tinggi.
Taman itu kini dipenuhi suara sirine polisi, namun bagi Fatih dan Wulan, hanya ada keheningan yang menyakitkan di antara mereka. Sebuah pertemuan yang seharusnya manis, kini berubah menjadi haru biru yang penuh luka dan kecemburuan.