Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.
Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.
Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?
Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Akhirnya, setelah beberapa menit yang terasa sangat lama dan penuh tekanan, Dokter Ezra pun selesai melakukan pemeriksaan rutin pada Papa Nindy.
Dengan wajah yang masih terlihat pucat, kaku, dan penuh dengan perasaan campur aduk antara cemburu, penyesalan, dan rasa kalah telak, Ezra hanya sempat mengucapkan kalimat singkat dan datar mengenai kondisi pasien.
"Kondisi Bapak sudah membaik, obatnya tetap dilanjutkan," ucapnya singkat tanpa berani menatap wajah Adera atau Nindy sedikit pun.
Tanpa menunggu lama, seolah ingin segera lari dari situasi yang begitu menyakitkan bagi egonya, Ezra segera melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah yang terlihat berat dan lesu.
Begitu pintu tertutup rapat dan sosok Ezra benar-benar hilang dari pandangan...
"YESS!! BERHASIL!!!" seru Nindy melonjak kegirangan seolah baru saja memenangkan pertandingan besar!
Dia langsung memeluk Adera erat-erat sambil tertawa puas.
"Wihhh gokil sih lo Der tadi! Aktingnya dapet banget! Gue sampe hampir percaya kalau lo bener-bener udah siap nikah sama Damar!" seru Nindy heboh. "Lihat muka Ezra tadi gak? Pucat pasi kayak mayat hidup! Kalah telak banget! Rasain tuh, biar kapok nyia-nyiain cewek sebaik lo!"
"Yee... lo nih ya, lebay banget sih," jawab Adera sambil terkekeh, wajahnya terlihat ceria. "Untung aja tadi gue bisa nahan malu, soalnya lo ngomongnya keterlaluan banget tau nggak!"
"Apasih, itu kan strategi!" sahut Nindy bangga.
Namun, kehebohan mereka seketika terhenti saat...
Tring!
Notifikasi pesan masuk.
Ponsel milik Adera yang ada di tangannya bergetar pelan dan menampilkan layar menyala.
Adera mengerutkan keningnya bingung. Ia melihat siapa pengirimnya.
Damar...
Jantung Adera berdegup sedikit lebih kencang. Ia merasa heran dan aneh. Biasanya pria itu sangat jarang sekali mengirim pesan, apalagi di jam-jam sibuk seperti ini. Damar tipe orang yang lebih suka bertemu langsung atau menelepon jika memang penting.
"Tumben banget nih... dia kirim pesan," gumam Adera pelan dengan nada bingung. "Biasanya juga jarang banget, apa ya isinya?"
Dengan rasa penasaran yang memuncak, Adera perlahan membuka layar ponselnya dan membuka pesan tersebut.
Namun... apa yang dilihat matanya selanjutnya membuat seluruh darah di tubuhnya seakan berhenti mengalir!
Di layar ponsel itu, bukan berisi tulisan atau kata-kata, melainkan sebuah ikon file audio dan sebuah pesan singkat yang tertulis:
~Dengerin ya Sayang... bukti nyata kalau kamu sudah siap menerima aku. Jangan dibantah lagi ya, aku punya rekamannya sekarang~
Dengan tangan yang mulai gemetar, Adera segera menekan tombol putar.
Suara Nindy dan suaranya sendiri terdengar jelas keluar dari speaker ponsel!
🎙️ "Siap menerima dokter cintalah..."
🎙️ "Kalau lamaran sih... boleh-boleh aja banget!"
🎙️ "Itu privasi kita berdua..."
BRUK!!!
Wajah Adera seketika berubah merah padam bak kepiting rebus! Matanya membelalak lebar tak percaya!
Ternyata! Ternyata semua percakapan mereka tadi, semua kata-kata manis dan pengakuannya soal siap menerima Damar dan siap dilamar... terekam sempurna! Dan yang merekamnya jelas-jelas adalah pria itu sendiri!
Berarti... Damar ada di sana! Damar berdiri di luar pintu tadi dan mendengarkan semuanya!
"AAAAAA!!!!" Adera menjerit kaget sekaligus malu bukan main, tangannya langsung menutup wajahnya yang panas membara.
"Kenapa Der?! Kenapa lo jerit-jerit?!" tanya Nindy kaget melihat perubahan wajah sahabatnya yang drastis.
"Damar... D-Damar..." kata Adera terbata-bata sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Nindy. "Nin... kita ketahuan... Damar denger semua omongan kita tadi! Dia bahkan merekamnya!"
"Gimana? gimana? merekam! Itu sih menurut gue bagus" ujar Nindy.
Adera hanya bisa mengangguk lemah, wajahnya langsung ia tutup dengan kedua tangan karena rasa malunya sudah memuncak.
"Ya ampun... malu banget gue Nin! Gue kan tadi cuma akting doang! Eh taunya penontonnya bukan cuma Ezra, tapi juga Damar! Gila sih ini orang, ngintip segala!" gerutu Adera sambil memukul pelan bantal di dekatnya, tapi hatinya berdebar kencang bukan main.
Belum sempat Adera bisa menenangkan dirinya sendiri, tiba-tiba layar ponselnya kembali menyala. Ada pesan baru lagi masuk dari nomor yang sama.
Dengan tangan gemetar, Adera segera membukanya.
Pesan itu hanya berisi beberapa kata namun maknanya sangat dalam dan membuat bulu kuduk Adera meremang sekujur tubuh.
~Janji gak boleh diingkari ya Sayang... Karena aku juga lagi ngerjain surat cinta buat kamu. Siap-siap ya~
Membaca pesan itu, lutut Adera terasa lemas seketika.
"Nin... gue rasa ini tuh sudah gak main-main lagi ..." bisik Adera pelan dengan wajah panik tapi bahagia. "Damar beneran serius... Dan gue... gue rasa gue udah terjebak sama omongan gue sendiri!"
"HAHAAHA! BAGUS BAGUS! ITU HADIAH BUAT LO YANG SOK AKTING!" seru Nindy malah tertawa puas. "Gini kan enaknya Der! Lo kan tadi udah bilang 'boleh-boleh aja'! Ya udah sekarang gak bisa mundur lagi! Lo udah keburu janji sama semesta, dan Damar yang jadi saksinya! Hahaha!"
"Kan Lo yang mulai duluan" kata Adera .
"Tapi gue gak nyuruh Lo ngomong begitu, hehehe" ujar Nindy.