NovelToon NovelToon
Warisan Kulivator Abadi

Warisan Kulivator Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.

Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Pertempuran Sengit

Bocah berusia enam tahun itu tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Dalam waktu singkat, ia telah mengumpulkan cukup banyak inti roh dan mengasah kemampuannya hingga melampaui batas yang ia duga sebelumnya. Setiap kali bertarung, Teknik Gerakan Bayangan yang ia kuasai semakin terasah dan semakin sempurna. Kini, binatang roh tingkat dua bahkan tingkat tiga sudah tidak lagi menjadi ancaman berarti bagi Riu Han. Bagi dirinya, menghadapi mereka terasa seperti menggembalakan domba yang siap disembelih—mudah dan terkontrol.

Riu Han melangkah ringan sambil tersenyum puas. “Hee… dengan kecepatan dan kelincahan ini, akan sangat sulit bagi siapa pun untuk bisa menyentuh apalagi memukulku. Benar-benar layak disebut teknik kelas atas, bahkan mungkin jauh melampaui apa yang bisa didapatkan orang biasa di dunia luar,” gumamnya dalam hati dengan penuh rasa percaya diri.

Namun, kebahagiaan dan rasa tenangnya itu hanya berlangsung sesaat. Tiba-tiba, dari balik semak belukar yang lebat, sebuah bayangan abu-abu gelap melesat keluar dengan kecepatan yang luar biasa, menyasar langsung ke arah tempat ia berdiri.

“Siuuuut… DUUUAR!”

Suara gesekan udara dan ledakan tanah terdengar bersamaan. Riu Han bereaksi secepat kilat, melompat mundur dengan sekuat tenaga mengandalkan gerakan bayangannya. Begitu ia mendarat, matanya terbelalak melihat lubang berdiameter setengah meter yang terbentuk persis di tempat ia berdiri beberapa detik yang lalu. Tanah di sekitarnya hancur dan terlempar ke mana-mana.

“Huh… nyaris saja!” Riu Han menghela napas panjang, lalu menatap tajam ke arah asal serangan itu.

Di hadapannya berdiri seekor makhluk yang bentuknya seperti tikus, namun ukurannya sebesar anak sapi dewasa. Tubuhnya tertutup bulu-bulu yang berdiri tegak dan terlihat sekeras besi serta setajam jarum besi yang runcing. Matanya berkilat merah menyala, memancarkan rasa lapar dan kebuasan yang mendalam.

Saat Riu Han mengerahkan indranya untuk mengukur kekuatan makhluk itu, detak jantungnya seolah terhenti sejenak.

“Apa… ini kekuatannya setara dengan tingkat empat? Setara dengan seorang kultivator Jenderal! Apakah aku sanggup menghadapinya?” pikirnya dengan hati-hati.

Belum sempat ia menyusun strategi, tikus raksasa itu mengeluarkan geraman rendah yang menggetarkan tanah, lalu melesat kembali menyerang dengan kecepatan yang bahkan lebih cepat dari sebelumnya.

“AGRRRR!”

Riu Han hanya bisa mengandalkan kelincahannya untuk menghindar. Tubuhnya terus bergerak bagaikan bayangan yang tidak memiliki wujud tetap, melompat ke kiri, ke kanan, melayang ke atas, hingga sesekali berguling di tanah. Setiap kali ia menghindar, tempat yang ditinggalkannya langsung hancur diterjang cakar dan gigi makhluk itu.

“UP… YEH… HEY!” serunya berulang kali sambil terus menghindar.

Riu Han mulai merasa bingung. Ia sadar bahwa selama ini ia hanya bisa menghindar, belum memiliki kesempatan sedikit pun untuk melancarkan serangan balik. Bahkan jika ia mencoba memukul, seluruh tubuh tikus itu tertutup bulu tajam yang berfungsi seperti baju zirah alami. Memukulnya dengan tangan kosong sama saja dengan menusukkan telapak tangan ke tumpukan jarum besi—ia justru akan melukai dirinya sendiri.

Namun, tikus itu tidak memberi jeda sedikit pun. Ia terus menerkam dan menyerang tanpa henti, seolah memiliki tenaga yang tidak akan pernah habis.

“HIAAT… HAP!”

Sekali lagi, Riu Han nyaris terkena serangan. Jika ia terlambat sepersekian detik saja, tubuhnya pasti sudah tertusuk dan hancur.

“Untung saja aku sudah menguasai Gerakan Bayangan ini dengan baik. Jika masih menggunakan kecepatan biasa, mungkin aku sudah menjadi santapannya sejak tadi,” pikirnya sambil terus mengatur napas yang mulai terasa memburu.

Namun, semakin lama ia hanya menghindar, tenaganya semakin menipis. Sementara itu, tikus raksasa itu masih terlihat bertenaga dan penuh semangat menyerang.

“Sialan! Jika terus begini, aku bisa mati kelelahan sebelum sempat melukainya sedikit pun. Harus ada cara lain!” keluhnya dalam hati.

Dalam keadaan terdesak, Riu Han segera berteriak memanggil dari dalam hatinya, mengirimkan pesan ke dalam dimensi Cincin Ruang Abadi.

“Saudara Long! Bantu aku, ada binatang tingkat empat yang menyerangku!”

Dari dalam benaknya, terdengar suara santai namun sedikit mengejek milik Long Siu. “Enak saja! Kau sendiri yang masuk ke hutan ini dan mencari masalah, jadi selesaikanlah sendiri.”

Riu Han tidak tinggal diam, ia segera membalas dengan nada tegas. “Hei! Jika aku sampai celaka dan mati, maka kau juga akan ikut menjadi santapan binatang roh ini atau lenyap bersama dengan nyawaku! Kau pikir aku takut mengancammu?”

Suara Long Siu terdengar mendengus kesal, namun akhirnya memberi petunjuk. “Huh… bocah tengik yang pandai mengancam. Apa kau bodoh? Gunakanlah apa yang kau miliki! Bukankah kau sudah mempelajari teknik tingkat tinggi? Cari cara untuk menembus pertahanannya!”

“Aku ingin menyerang tapi tidak punya senjata yang cukup kuat untuk menembus bulunya yang sekeras besi ini!” jawab Riu Han sambil terus menghindar.

“Benar-benar bodoh! Di dalam Cincin Ruang Abadi ini tersimpan segala jenis harta dan senjata, mulai dari yang biasa hingga yang paling langka. Tinggal pilih saja yang cocok untukmu!” balas Long Siu dengan nada kesal.

“Kau pikir aku punya waktu untuk memilih dengan tenang? Makhluk sialan ini tidak memberiku kesempatan untuk berhenti sejenak!” seru Riu Han sambil melompat menghindari serangan yang nyaris menyentuh punggungnya.

“HIYAAAT… EITS… UH!”

Ia terhuyung sedikit, napasnya semakin memburu. “Cepatlah! Pilihkan satu yang cocok untukku sekarang juga!”

Mendengar desakan itu, Long Siu tidak lagi berdebat. Ia segera memindai seluruh ruang penyimpanan, mencari senjata yang ukurannya pas untuk tangan anak kecil dan memiliki ketajaman yang cukup untuk menembus pertahanan binatang roh tingkat empat.

Beberapa detik kemudian, sebuah cahaya keemasan menyembul dari dada Riu Han. Saat cahayanya memudar, terlihatlah sebuah pedang pendek berukuran sekitar enam puluh sentimeter. Gagangnya dibalut kulit halus, dan bilahnya berwarna hitam pekat, terlihat polos dan tidak memiliki ukiran atau kilauan yang mencolok—seolah hanya sepotong besi biasa yang tidak berharga.

Namun, hanya Long Siu dan Kake Qin yang tahu kebenarannya. Pedang pendek itu adalah Pedang Langit Hitam, sebuah senjata yang telah mencapai Tingkat Surga. Di seluruh benua tempat mereka tinggal, senjata tingkat tertinggi yang pernah dimiliki oleh manusia hanyalah Tingkat Langit—satu tingkat lebih rendah. Jika ada kultivator mana pun yang melihat senjata ini berada di tangan seorang anak berusia enam tahun, mereka pasti akan menjadi gila karena rasa iri dan keinginan untuk merebutnya.

Riu Han segera menyambar gagang pedang itu dengan tangan kanannya. Begitu menyentuhnya, ia merasakan aliran energi yang hangat dan stabil mengalir masuk ke dalam tubuhnya, seolah senjata itu sudah mengenal pemiliknya. Ia menyilangkan pedang itu di depan dadanya, memusatkan seluruh perhatiannya.

Sambil terus bergerak menghindari serangan demi serangan, ia mulai mencari celah. Saat tikus raksasa itu melompat lagi menyerang dengan mulut terbuka lebar, Riu Han memutar tubuhnya dengan indah mengandalkan Gerakan Bayangan, lalu mengarahkan ujung pedang hitam itu tepat ke arah leher makhluk itu.

“SIUUUT… JLEB… DUUUAR!”

Pedang itu menembus udara tanpa menimbulkan hambatan sedikit pun, dan ujungnya berhasil menancap sedikit ke dalam kulit leher tikus itu. Namun, karena kecepatan serangan yang terlalu cepat dan posisi yang kurang pas, luka yang dihasilkan hanya dangkal dan tidak melukai bagian vitalnya.

Tubuh tikus itu terlempar mundur beberapa meter, namun ia segera bangkit kembali. Darah berwarna hitam pekat menetes dari lehernya, dan matanya yang merah menyala kini memancarkan amarah yang meluap-luap.

“GRRRRR!”

Ia merasa sangat terhina. Sebagai binatang roh tingkat empat yang setara dengan Jenderal, ia diserang dan bahkan terluka oleh seorang anak manusia yang kekuatannya baru setingkat sembilan pemula. Rasa malu dan marah itu membuatnya melupakan segalanya, hanya ingin mencabik-cabik tubuh bocah itu menjadi serpihan.

Beruntungnya, pertarungan ini berlangsung di bagian hutan yang sangat sepi dan jauh dari jalur perjalanan biasa, sehingga tidak ada orang yang melihat kejadian luar biasa ini. Jika ada yang melihat, mereka pasti tidak akan percaya mata mereka.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, tikus itu melesat kembali dengan kecepatan yang lebih tinggi dan tenaga yang lebih besar. Kali ini, ia mengerahkan seluruh energinya, membuat bulu di sekujur tubuhnya berdiri semakin tegak dan memancarkan cahaya putih samar.

Riu Han tetap tenang, matanya mengamati setiap gerakan lawan dengan cermat. Saat tikus itu meluncur melintasi udara dan membuka mulutnya lebar-lebar untuk menerkam, Riu Han mengerahkan seluruh energi yang tersisa di dalam dantiannya ke dalam pedang hitam itu. Cahaya hitam pekat menyelimuti seluruh bilah pedang, membuatnya terasa tajam hingga ke tulang sumsum.

“TRING… SIUUUT… JLEB… BUK!”

Saat tubuh tikus itu melintas tepat di hadapannya, Riu Han mengayunkan pedangnya dengan satu gerakan tegas dan cepat. Bilah pedang yang mengandung energi tingkat surga itu tidak menemui hambatan sedikit pun. Ia membelah bulu tajam, menembus kulit tebal, dan langsung menancap tepat di bagian dada tempat jantung makhluk itu berada.

Tubuh tikus raksasa itu bergerak terhenti di udara sejenak, lalu terjatuh ke tanah dengan suara benturan keras. Kakinya bergerak-gerak mengejang beberapa kali, sebelum akhirnya benar-benar diam dan tidak bernyawa lagi.

Riu Han berdiri tegak, menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Tangannya yang memegang pedang itu sedikit gemetar, dan seluruh tubuhnya terasa lemas seolah telah mengangkat gunung selama berhari-hari. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, dan napasnya terengah-engah.

“Huh… akhirnya selesai juga,” gumamnya pelan.

Ia baru menyadari perbedaan yang sangat mencolok. Jika ia bertarung melawan kultivator manusia yang dua tingkat lebih tinggi darinya, ia tidak akan merasa selelah ini. Namun, binatang roh memiliki ketahanan fisik, kepadatan energi, dan kemampuan pemulihan yang jauh lebih tinggi dibandingkan manusia di tingkat yang sama. Membunuh satu binatang roh tingkat empat membutuhkan tenaga dua hingga tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan melawan manusia setingkat Jenderal.

Setelah mengatur napas selama beberapa menit, Riu Han mengumpulkan sisa tenaganya. Ia mendekati tubuh tikus raksasa itu, lalu dengan hati-hati mengeluarkan inti roh yang berukuran lebih besar dan memancarkan cahaya yang lebih terang dibandingkan yang sebelumnya ia dapatkan. Inti roh tingkat empat ini mengandung energi yang jauh lebih murni dan melimpah.

Kemudian, ia juga mengeluarkan inti roh tingkat dua dan tiga yang masih tersisa di dalam kantong penyimpanannya. Ia duduk bersila di atas tanah yang cukup aman, lalu memegang butiran inti roh itu dan mulai menyerap energinya secara perlahan namun mantap.

Energi hangat dan murni langsung mengalir masuk ke dalam tubuhnya, menyebar ke seluruh saluran energi dan dantiannya, menggantikan tenaga yang telah habis terkuras selama pertarungan sengit tadi. Proses pemulihannya berlangsung sangat cepat, membuat tubuhnya kembali terasa segar dan kuat hanya dalam waktu singkat.

Riu Han membuka matanya kembali, memegang erat pedang hitam di tangannya, dan menatap ke arah bagian hutan yang semakin gelap dan dalam. Di dalam hatinya, rasa percaya diri kembali tumbuh. Ia baru saja mengalahkan lawan yang jauh lebih kuat, dan kini ia memiliki senjata yang bisa diandalkan.

“Jika binatang tingkat empat saja sudah bisa aku kalahkan, maka perjalanan ini baru saja dimulai. Aku harus terus melangkah maju, menjadi lebih kuat lagi,” ucapnya dalam hati dengan tekad yang semakin membara.

Setelah memastikan kondisinya sudah pulih sempurna, Riu Han menyimpan kembali pedang hitam dan inti rohnya ke dalam Cincin Ruang Abadi, lalu melanjutkan langkah kakinya lebih jauh ke dalam kedalaman Hutan Roh.

1
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
Lanjut Up Thor 💪💪
Deevy Tresiyana
kuatkan💪mu riu han...ceritanya luar biasa thor👍😄
Deevy Tresiyana
👍💪hebat hebat
Blue Manusia Biasa
awal yang bagus
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 1 gift ☕ Lanjut Up Thor..
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift. Semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya menarik untuk dibaca 👍👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift.
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjutkan Thor 💪💪
sutrisno akbar
ayo lanjut thor l
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tingkatan Pemula saja Tingkat 1-9, kok nggak Awal, Tengah dan Puncak 🤔
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Kisah menjadi Kultivator / Pendekar dimulai 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Semoga Novel ini sukses dan sampai Tamat.
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Alur ceritanya mulai menarik untuk dibaca 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Awal cerita sudah bagus 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!