Dia datang untuk menemui saudara kembarnya tapi kenyataan pahit harus dia terima, saudara kembarnya sudah meninggal dua hari sebelum bertemu dengannya.
Lila meninggal karena kecelakaan, mobil yang dia kendarai masuk ke dalam jurang.
Luna hadir ke dalam keluarga tersebut, dan menyamar menjadi seorang pembantu, dan dia menemukan fakta bahwa saudara kembarnya meninggal tidak wajar. Ada sekelompok orang yang sengaja ingin melenyapkan nya.
Luna marah dan bersiap untuk balas dendam, satu persatu informasi dia dapat dan perlahan dia memberikan hukuman kepada para penjahat tersebut.
Bagaimana Luna membalas mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecurigaan Luna
Seorang pria berpakaian serba hitam dan memakai kacamata hitam masuk ke dalam kamar Surya. Pria itu adalah orang suruhan Alvian.
"ini Tuan obatnya," ucapnya menunduk hormat.
Pria itu menyerahkan kantong plastik berisi obat kepada Alfian.
"Letakkan di situ," ucap Alfian dengan suara datar.
Pria itu meletakkan obat tersebut diatas nakas disamping ranjang Surya, dia diam tak bersuara.
"Saya permisi Tuan," ucapnya menunduk lalu beranjak
Alvian menarik napas panjang, dia sedikit lega karena mendapatkan obat untuk kakaknya, dan ini juga harus di rahasiakan.
"Bik, Bik Anne," panggil Alfian dengan suara yang lantang.
Bik Anne mendengar pria itu memanggil namanya, wajahnya pucat, dia selalu takut pada Alvian.
Dengan tergopoh, Bik Anne pun datang menghampiri Alfian, "Ya tuan." sahutnya takut-takut.
"Kau berikan obat ini, sekarang." tegas Alfian.
Bika Anne meraih kantong plastik itu dan membukanya, lalu mengeluarkan obat yang terdapat dalam botol dan memasukkannya ke dalam mulut Surya, lalu dia memberikan minum dengan sendok.
"Simpan obat ini baik-baik, berikan sesuai dosis dan tepat waktu kepada tuan Surya."
"Iya tuan," sahutnya patuh.
"Ingat jangan sampai ketahuan oleh si wanita iblis itu," ancam Alfian lagi.
"Baik Tuan , saya akan jaga baik-baik."
"Bagus, sekarang kau boleh pergi dan simpan sekalian obat itu."
"Saya permisi Tuan," ucap bik Anne lagi. kemudian wanita paruh baya itu berlalu dari sana.
"Istirahat lah kak, aku akan kembali nanti. Saat ini aku akan mengambil alih perusahaan, aku takut Miranda akan mengambil alih semuanya." setelah bicara Alfian juga pergi dari sana, dan tanpa dia sadari jari Surya bergerak merespon ucapannya.
Bik Anne tiba di dapur, dia mengusap dadanya, wanita itu sungguh takut kepada Alvian.
"Bik,"
"Eh copot, copot, " ucap bik Anne terkejut dan latah.
"Hahahaha...bibik bisa aja melucu, bibik latah ya." tanya Luna sambil tertawa.
"Eneng sih ngagetin" ucap bik Anne lagi.
Wanita tua itu kaget melihat senyum Luna yang sangat mirip dengan Lila, Luna melirik dan merasa heran karena Bik Anne bukannya tertawa tapi malah terus memandanginya.
"Bik, bibik nggak apa-apa kan? maaf jika aku keterlaluan."
"Eh enggak non, bibik nggak marah, bibik cuma teringat non Lila, senyum dan tawa non sangat mirip dengannya."
Deg
Luna terkejut, benarkah senyumnya mirip dengan saudara kembarnya?
Perasaan itu kembali membuncah perasaan bahagia sekaligus sedih.
"Maaf bik boleh aku tanya," ucap Luna lembut.
"Tanya apa neng?"
"Apa selama ini nyonya Miranda itu bersikap tidak baik kepada non Lila?"
"kenapa Non Luna bisa menyimpulkan seperti itu?"
"Maaf kemarin saya membersihkan kamar non Lila. Dan kamarnya serta barang-barangnya berbanding terbalik dengan barang-barang dan juga isi kamar non Rena. Bukankah mereka kakak adik? tapi kenapa sepertinya ada ketimpangan Bik?" tanya Luna kembali mengorek informasi tentang ibu tirinya.
"Ya seperti itulah non, nyonya Miranda tidak bersikap baik kepadanya tapi non Lila itu hatinya baik, dia tetap bersikap baik pada mereka berdua. Tapi jangan salah tuan Surya sangat menyayangi non Lila,"
"Oh ya, sejak kapan bibik tinggal disini?"
"Kenapa non?"
"saya salut bibik betah dengan majikan seperti itu, saya aja rasanya dah nggak kerasan Bik, tapi belum tau mau kemana?" ucapnya sedih.
"Hehehe..non Luna ini lucu. Saya betah hanya demi non Lila, kasihan kalau nggak ada bibik, semua tugas dia yang kerjakan." ucap bibik sedih.
"Oh ya Bik, emangnya Lila nggak pernah ngadu sama Papanya?"
"Nyonya Miranda sangat licik, dia selalu bersikap baik layaknya ibu yang paling pengertian dan sayang saat ada tuan dirumah."
"Waduh non, kita harus masak, kok malah ngobrol, udah ayok buruan."
"Iya Bik, masak apa hari ini?' tanya Luna
***
Sore hari Miranda pulang, setelah tadi dia pergi bertemu dengan Hendro.
Miranda membanting tubuhnya di sofa, lelah dan kesal masih menyelimuti jiwanya.
Miranda sangat kesal pada Hendro, pria itu belum juga berhasil memindahkan semua harta kekayaan suaminya ke tangannya, dan saat dia minta uang di bagian keuangan tadi, mereka tidak memberikannya, ternyata Alfian dibalik semua itu.
"Aku harus bergerak cepat, Alfian harus segera disingkirkan sebelum menambah ricuh dan membuat rencana ku gagal." ucapnya pelan.
"lun...Luna..." panggil Miranda.
Luna yang berada di dalam kamarnya terpaksa keluar mendengar teriakan Miranda yang memanggil namanya
"Ya nyonya,"
"Ambilkan aku minum, yang dingin."
"Baik nyonya," sahut gadis itu berlalu pergi.
"Bodoh, harusnya dulu aku katakan saja dia Lila, dasar bodoh! kalau sudah begini berabe urusannya, ditambah si kunyuk Alvian itu datang menganggu " batin Miranda.
"Ini nyonya minumannya," Luna meletakan segelas jus mangga di hadapan Miranda.
"Rena sudah pulang?"
"Belum nyonya,"
"Alvian?"
"Belum juga nyonya,"
"kau boleh pergi "
othor fokus 1 novel aja spy g salah, yg baca jd bingung & byk typo lho SMP part ini
hpmu jgn lupa diambil, lumayan merekam smua obrolan bs jd bukti
skip" obrolan pas nenek lampir & anak'a
siapa hayo yg kepoin Luna...