Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PASRAH
Alvaro mengusap keringatnya sambil menatap wajah Alexa yang dipenuhi air mata. Pria itu mengambil tissue basah dan membersihkan wajah gadis itu. Alexa menahan tangan dan kakinya yang sakit dan ngilu.
"Aku tidak mau minta maaf padamu, tadi kau memilih mati, antara di setrum, di buang ke rimba, atau ditembak. Aku pilih menembakmu, kau malah menangis."
"Ciihhh...lepaskan aku, dasar buaya darat, kau menembakku dengan cara begini. Kau kira dirimu hebat. Kau cemen dan takut padaku, kalau kau berani lepaskan borgolku."
"Aku belum berselera melepaskanmu, aku butuh pemandangan indah untuk merefresh otakku. Aku adalah gembong mafia, tidak akan puas satu ronde, kau bersiaplah untuk meladeni calon suami kau."
"Aku tidak mau dengan bajingan sepertimu....humm...."
Bibir Alexa sudah dilumat oleh Alvaro, dia kembali menindih tubuh Alexa yang tidak berdaya. Suara borgol yang di hubungkan dengan railing ranjang bergesek merdu mengeluarkan irama kemaksiatan.
Alexa mulai merasakan kenikmatan yang tiada tara, tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Tanpa sadar dia ikut berdesah di antara amukan Alvaro.
"Aku mencintaimu sayank...." bisik Alvaro di antara deru nafasnya yang tidak teratur.
"Kita akan menikah di catatan sipil secara diam-diam." ujarnya lagi. Alexa tidak menanggapi, dia terlena dan terguncang hebat sahat Alvaro menyemprotkan lahar panasnya.
"Trimakasih selirku, kau sudah memberi yang terbaik. Love you." Alvaro membuka borgol Alexa dan menjatuhkan diri di samping gadis itu. Tangan kekar Alvaro memeluk tubuh Alexa dengan lembut.
"Tanganmu memar, kau pasti kesakitan. Jika tidak di borgol aku tidak menemukan jiwaku." bisik Alvaro mengecup bibir Alexa.
"Bebaskan aku."
"Lagi sekali minta bebas, aku tusuk kau dari belakang."
Alexa terpaksa mingkem, ngeri juga ditusuk dari belakang. Dari depan saja sangat mengerikan, apalagi dari belakang. Ampun deh!.
Apa yang terjadi sekarang ini di luar kemauannya. Dia sudah memprediksi, cepat atau lambat Alvaro akan memperkosanya. Ibaratnya masuk kesarang macan, dia dihadapkan dua pilihan yang harus dipertimbangkan, antara mati dan diperkosa.
Pukul. 17.30, Alexa dan Alvaro terbangun. Suasananya gelap gulita. Alvaro lebih dulu bangun dan menyalakan lampu.
"Kita mandi, dan memesan makanan." kata Alvaro membantu Alexa bangun dari tempat tidur.
"Aku bisa sendiri." Alexa menolak saat tangan Alvaro melingkar di pinggangnya.
"Aku sudah terbiasa menghadapi wanita yang habis aku pakai langsung linglung. Mereka seolah tidak bertulang."
"Aku tidak seperti wanita yang kau katakan. Aku jijik mendengar tingkah lakumu dengan wanita lain."
"Kau cemburu?"
"Amit-amit jabang bayi. tampang seperti kau, aku tidak selera. Aku sudah punya pacar orang baik-baik yang dua kali lebih ganteng dari kau dan lebih kaya."
"Katakan siapa namanya, aku akan membunuhnya dalam hitungan detik."
"Rahasia..."
Hati Alvaro seolah mau meledak, tanpa banyak cincong dia mengangkat tubuh Alexa dan membawanya ke kamar mandi. Wanita itu dia turunkan dibawah guyuran air shower dan memaksanya untuk menerima hukuman maksiat.
"Kau telah membuat aku cemburu, hukumanmu sangat berat mslam ini. Aku tidak akan melepasmu barang sejenak" kata Alvaro memeluk tubuh Alexa.
"Kau tidak akan bisa menindasku." tangan Alexa menepis kasar tangan Alvaro.
"Mandilah sayank, terus makan dan tidur. Bila perlu kau minum obat tidur supaya aku bebas menggoyangmu."
"Kau kira aku anak kecil yang gampang di bodohi. Kau mandilah, makan, dan minum obat tidur, supaya aku bisa memotong asetmu dan menggorengnya."
"Seremm...kau becanda?"
"Tidaklah, aku sudah sering melakukan itu dan ketagihan."
"Lakukanlah sekarang, mana tanganmu." kata Alvaro menarik tangan Alexa dan memeluknya. Alvaro mengangkat Alexa dan mendudukannya di pinggir bathtub. Laki-laki itu tidak memberi peluang Alexa untuk melawan.
"Aku akan mengajakmu ke dunia antah berantah lewat sensasi kenikmatan yang bergelombang."
"Pikiranmu banyak halu, berhentilah membuat sensasi. Badanku terasa remuk."
"Kau cukup diam, aku yang berpacu."
"Stop Alvaro, kakiku gemetar seolah dengkulku tidak berpelumas..." rintih Alexa ketika Alvaro menusuknya dari belakang.
"Aku tidak bisa berhenti sayank, nikmati sajalah." bisik Alvaro keenakan.
Selesai mandi Alvaro iseng membuka ponselnya. Puluhan panggilan dari Farida, Alfredo dan Margareta. Tidak ada chat dari Marchel.
"Ada hubungan apa kau dengan Marchel, jujurlah. Sampai kau ada hubungan dengan manusia itu aku bunuh dia."
"Aku tidak punya hubungan spesial dengannya. Tanyakan calon istri kau, siapa yang membuat badan Marchel seperti digigit drakula."
Alvaro terdiam, hubungannya dengan Margareta hanya sebatas formalitas, mereka bebas melakukan hubungan dengan siapapun yang mereka sukai. Margareta sendiri punya pacar yang dia cintai. Alvaro baru sekarang memiliki pasangan yang dia cintai.
"Marchel adalah teman sejatiku dari kuliah, baru kali ini aku marah membabi butha dengannya. Rasanya tidak tega mengingat saat aku memukulnya."
"Ada Margareta disamping Marchel, kau tidak usah ambil pusing. Semua akan baik-baik saja."
"Aku tidak tahu kau pernah sekolah atau tidak, aku tidak bisa mendeteksi alamatmu atau biodata kau yang valid. Ntah kau siapa, aku bertanya sekali lagi untuk apa kau mengincar bisnisku."
"Karena aku ingin membunuhmu."
"Hahaha...kau pikir segampang itu?" Alvaro tertawa ngakak. Dia belum pernah melihat orang segalak dan seberani Alexa mungkin sifat Alexa itu yang membuat Alvaro tergila-gila.
"Sangat gampang untuk menyusup dan membunuhmu. Apalagi sekarang pelayan wanita dan pengawal inti banyak yang meninggal. Posisi kau tambah sulit. Kau masih punya taring karena ada Alfredo yang senantiasa melindungi kau dari gangster lain, kalau tidak mampuslah kau." kata Alexa sambil menyesap minumannya.
"Darimana kau tahu tentang Alfredo?" tanya Alvaro heran.
"Aku jurnalis, tidak perlu kau tanyakan lebih dalam. Kau ditakuti tapi tidak punya Strategi perang. Harusnya kau jangan tergiur dengan nikmatnya dunia mesum,
bagaimana kalau Alfredo musuh dalam selimut. pikirkan itu. Pengawal Alfredo masih eksis dan banyak. Senjata mereka sudah canggih, kau kalah tenaga walaupun kekayaan kau melimpah."
"Terlintas di otakku kalau Alfredo ada main dengan Farida. Bagaimana jalan keluarnya?"
"Cari aparat yang desersi, dijadiin algojo atau pengawal inti. Rekrut salah satu ormas garis keras yang terbesar dan tawarkan mereka gaji yang besar, jika tidak ada yang mau kau cari gangster COD yang sekarang lagi perlu bantuan. Kau suruh Marchel menebus mere'ka di polisi. Mereka banyak tukar kepala. Baru ini ada gembongnya tertangkap 0,5 sabu-sabu beserta bong, serta satu paket ganja kering."
"Kau banyak tahu, aku sendiri tidak pernah kepo dengan urusan orang lain."
"Dimana kaki berpijak disitu langit dijunjung. Aku akan beradaptasi dimana aku berada."
"Kini kau berada di lingkungan ku, apa kau akan beradaptasi juga. Banyak masalah yang akan kau hadapi, salah satunya adalah pemerintah yang memerangi Judi, black market." jelas Alvaro.
"Aku tidak akan lama disini, setelah kau mati aku akan pulang."
"Hahaha...pulang kemana sayank, ke pelukanku?" sahut Alvaro memeluk Alexa.
"Lihat saja nanti."
*****