Bisa menjalani sebuah pernikahan yang bahagia, mungkin adalah dambaan bagi setiap wanita yang ada di dunia ini. Namun apalah jadinya nasib dari sebuah pernikahan itu apabila sang suami sudah tak mempercayai istrinya?...
Maura Vinaya, seorang gadis yatim piatu yang berparas cantik. Sungguh memilukan nasib yang harus diterimanya. Di malam pertamanya, sang suami malah menuduhnya dengan tuduhan yang begitu sangat melukai hati dan juga harga dirinya.
Entah apa yang terjadi, laki - laki yang masih belum genap satu hari resmi menikahinya itu, malah dengan begitu teganya menuduh jika dirinya sudah tak suci lagi.
Sungguh memang nasib, akibat dari kesalahpahaman itu, membuat dirinya dan juga sang suami menjadi harus berpisah.
Namun sungguh sayang seribu kali sayang, disaat dirinya dan sang suami telah berpisah, dirinya malah dinodai oleh mantan suaminya sendiri.
Hingga dari kejadian yang begitu memilukan itu, telah mampu menghadirkan adanya malaikat kecil di dalam rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Di Foto Itu
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
" Kenapa kamu tega selingkuh dengan wanita itu Boy?, kemana janji mu yang akan setia denganku?, jadi itu semua adalah bohong, kamu sengaja membuat tipu muslihat yang menunjukkan jika kamu benar mencintaiku padahal itu semua adalah bohong ".
" Tidak Reva, ini tidak seperti yang kamu kira, aku dan dia tidak punya hubungan apapun, aku juga tidak tahu kalau tiba - tiba dia memelukku ".
" Sudahlah Boy kamu tidak perlu mengelak lagi, semuanya sudah jelas, aku melihat sendiri bagaimana wanita itu memelukmu dengan mesra, dan kamu diam saja ".
" Reva, percayalah padaku, dia memang memelukku tapi bukan berarti aku punya hubungan dengannya, di awal aku memang membiarkan dia memelukku karena jika aku secara spontan langsung melepaskan pelukannya dia bisa jatuh Reva ".
" Sudahlah Boy terserah kamu, aku sudah tidak peduli lagi, terserah kamu mau berbuat apa aku sudah tidak peduli, aku sudah tidak peduli lagi Boy ".
" Reva - Reva ini tidak seperti yang kamu kira Reva percayalah padaku dengarkan aku Reva ".
Percakapan yang penuh dengan drama yang begitu menguras emosi itulah yang saling berlomba-lomba bersuara dari sepasang pengeras suara dari tayangan televisi yang ditonton oleh Audi bersama adiknya Tania.
Mereka menonton tayangan itu sampai tak menyadari jika di belakang mereka telah berdiri Maura yang sudah mematung.
" Kalian serius sekali menontonnya sampai tidak menyadari jika aku sudah berdiri di sini? ". Seru Maura yang tiba - tiba saja mencairkan suasana.
" Kak Maura, kakak sudah di sini?, sorry kita tidak menyadarinya ". Sahut Tania.
Maura memilih duduk di samping Audi. Dengan mengelus perut buncit nya, calon ibu muda itu duduk dengan bersandar, maklum jika Maura tak bisa duduk dengan begitu tegak karena perutnya yang besar.
" Tumben di jam tayang sinetron ini kamu ikut bergabung juga Maura, apa kamu sudah mulai menyukai sinetron ini? ". Tanya Audi.
" Bukan karena sinetron aku kemari, tapi karena aku ingin membahas soal yang di mall tadi, kenapa kamu buru - buru mengajakku pulang, katanya kamu ingin cerita alasannya, apa itu alasannya? ".
Seketika Audi menjadi terdiam. Ternyata Maura masih mengingat janjinya.
" Kenapa Maura harus ingat sih, tidak mungkin kan kalau aku mengatakan jika di mall tadi aku melihat sahabat mantan suaminya, kalau sampai begitu pasti dia ketakutan lagi ". Batin Audi.
" Audi, kenapa diam?, katanya ingin cerita soal yang di mall, kenapa tadi kamu buru - buru mengajakku pulang, ya aneh saja begitu ingin pulang tapi sangat buru - buru ". Seru Maura lagi karena sahabatnya tak kunjung menyahut.
" Aneh apa sih Maura, itu perasaan kamu saja, aku ingin segera mengajakmu pulang agar kamu bisa cepat istirahat, sudah itu saja ". Sahut Audi.
" Huumm jadi hanya itu, kalau begitu seharusnya wajahmu tidak perlu cemas seperti orang yang di kejar - kejar anjing, mau pulang saja sampai seperti itu, ya sudahlah kalau begitu lebih baik aku ke kamar saja untuk beristirahat ". Putus Maura pada akhirnya.
Jadi ini alasan sahabatnya yang ingin segera pulang namun seperti orang yang dikejar - kejar, kalau tahu hanya jawaban ini yang akan dirinya dengar, seharusnya dirinya tidak perlu bertanya.
" Kak Maura mau kemana?, sinetronnya seru loh kak ". Seru Tania.
" Tidak Tan, kakak mau istirahat saja, kakak mau tidur, bumil harus banyak - banyak beristirahat agar bayinya sehat ". Sahut Maura.
Lantas calon ibu muda itupun melanjutkan langkahnya untuk menuju ke kamarnya.
Audi sudah cukup merasa lega, setidaknya Maura tak memiliki kecurigaan apapun setelah dari mall.
" Maafkan aku Maura yang sudah berbohong, aku melakukan ini demi kebaikanmu, kamu sekarang hamil besar, dan aku tidak ingin kamu sampai stres ". Batin Audi.
Ini adalah hal yang cukup berat bagi Audi, setelah mengetahui jika Zain sahabat dari Rendra berada di negara yang sama tentu membuat Audi harus lebih mawas diri.
Audi harus lebih bisa menjaga Maura agar keberadaannya tak diketahui oleh siapapun. Zain bisa ada di negara ini pasti karena urusan pekerjaan, dan dia juga membantu Rendra untuk menemukan keberadaan Maura.
" Ternyata Rendra mencari keberadaan Maura, bahkan hingga sudah tujuh bulan lamanya. Maura, mantan suamimu Rendra sedang mencari mu ". Batin Audi yang berbicara pada dirinya sendiri.
*****
Pagi yang begitu terasa menyejukkan ini menjadi masih terasa begitu hampa, setelah beberapa hari yang lalu semenjak insiden yang terjadi karena pengakuannya, membuat kedua orang tuanya lebih memilih untuk tinggal di rumah pribadi mereka sendiri.
Sudah semenjak beberapa hari yang lalu mama Rendra, Rina telah diperbolehkan untuk kembali pulang setelah menjalani masa perawatan di rumah sakitnya.
Rendra mengerti dengan sikap kedua orang tuanya, setelah apa yang dilakukannya pada istrinya Maura, tentulah masih butuh waktu bagi mereka untuk bisa menerima keadaan ini.
Tak pernah sedikitpun Rendra ada niat untuk berhenti mencari istrinya, meski dirinya tahu akan sangat sulit untuk menemukan istrinya namun itu bukanlah alasan untuk dirinya bisa berhenti dalam mencari.
Ini masih sangat pagi, masih belum pukul enam pagi, namun di pagi ini Rendra sudah bersiap ingin segera pergi ke kantornya.
Dengan langkahnya yang penuh dengan wibawa, Rendra menuruni anak tangganya. Tak ada tas berisi laptop yang dirinya bawa, Rendra hanya melangkah turun dengan seorang diri.
Nampak dari arah di mana dirinya memandang sudah terdapat cukup banyak menu makanan yang tertata dengan rapi di atas sebuah meja panjang. Rupanya kedua asisten rumah tangganya sudah menyiapkan menu sarapan untuk dirinya. Memang kedua asisten rumah tangganya itu sangat bisa diandalkan.
" Selamat pagi tuan Rendra ". Sapa bi Tuti dan bi Yuni dengan begitu ramah pada tuannya.
" Selamat pagi ". Sahut Rendra dengan singkat.
" Tuan Rendra sudah ingin berangkat kerja, pagi sekali tuan? ". Tanya bi Tuti.
Rendra sendiri juga tak tahu mengapa dirinya ingin berangkat se pagi ini. Namun sepertinya keinginannya untuk berangkat bekerja di pagi seperti ini akan sedikit bergeser setelah melihat menu sarapan untuk dirinya.
" Tuan ingin sarapan, mari tuan jika tuan sudah ingin sarapan ". Seru bi Yuni.
Rendra langsung saja duduk di salah satu kursi yang memang biasa dirinya duduki. Awalnya dirinya memang tak ada niat untuk sarapan, namun berhubung ada masakan yang sudah disajikan tidak ada salahnya jika dirinya sarapan terlebih dahulu.
Sudah menjadi kebiasaan Rendra untuk minum segelas air minum terlebih dahulu sebelum memulai sarapannya.
" Maaf, permisi tuan ". Seru suara seorang pria yang datang menghampiri yang tak lain adalah sang security.
Rendra pun menjadi menghentikan aksinya karena suara dari security nya.
" Ada apa?, apa kamu tidak lihat jika aku ingin sarapan? ". Sahut Rendra dengan sedikit ketus.
" Maafkan saya tuan, di depan sudah ada seorang pria yang ingin menemui tuan, katanya ini sangat penting, pria itu sudah duduk di ruang tamu tuan ". Sahut sang security dengan segala penjelasannya.
" Se pagi ini ada tamu?, apa dia karyawan ku dari kantor? ". Tanya Rendra.
" Saya kurang tahu tuan, tapi saya belum pernah melihat pria itu selain hari ini tuan ". Sahut sang security.
" Baiklah, sekarang kamu kembali bertugas, aku akan menemui tamu yang tak diundang itu ". Putus Rendra pada akhirnya.
Tak ingin ada tambahan drama di pagi hari ini, membuat Rendra langsung beranjak dari tempat duduknya. Baru saja dirinya sudah akan memulai sarapan, tapi harus mendapatkan gangguan dari seseorang yang dirinya tak tahu siapa itu.
Rendra melangkah menuju ke ruang tamunya. Dari arah belakang di mana dirinya menatap, nampak bahu lebar pria itu yang hampir sama dengan bahu lebar miliknya sudah terlihat.
Rendra melihat bagian belakang tubuh pria itu, dan jika diperhatikan pria yang dilihatnya bukanlah karyawan kantornya.
" Ehmm... ". Dengan dehaman yang terdengar penuh wibawa, Rendra mulai menyapa secara halus pada tamunya.
Rendra masih tak begitu jelas memperhatikan wajah tamunya, dengan gayanya yang begitu elegan dan terlihat berkarisma, Rendra mulai duduk di salah satu sofa singlenya.
Tamu pria itu memperhatikan wajah Rendra. Ini adalah kali pertama dirinya berhadapan dengan Rendra secara langsung. Ia memperhatikan wajah Rendra tanpa ada sedikitpun niat untuk menurunkannya. Hingga pada akhirnya terjadilah Rendra dengan dirinya yang saling menatap.
Melihat wajah tamunya jujur saja membuat Rendra merasa begitu tak asing. Entah mengapa Rendra merasa seperti pernah melihatnya, akan tetapi di mana dirinya pernah melihatnya.
" Siapa kamu, ada perlu apa se pagi ini datang ke kediaman ku? ". Dengan tanpa basa basi Rendra langsung mengutarakan maksudnya.
" Apa kamu tidak mengenaliku? ". Sahut pria itu.
Sontak saja Rendra cukup tersentak kaget dengan sahutan dari tamunya. Apa maksud dari tamunya yang mengatakan seperti itu.
Rendra menjadi begitu sangat penasaran, dirinya memperhatikan wajah dari tamunya dengan begitu seksama.
Wajah ini terlihat begitu tak asing dalam indera penglihatannya, bahkan semenjak awal dirinya melihatnya.
" Wajah ini, wajah ini seperti tak asing, aku seperti pernah melihat wajah pria ini, tapi di mana?, di mana aku pernah melihat waj... ".
Deg...
Seketika itu dada Rendra menjadi bergemuruh hebat kala sudah menyadarinya. Iya, wajah ini adalah wajah pria di foto itu. Ini adalah wajah pria yang sudah menjebak istrinya Maura dan berusaha merusak hubungannya dengan istrinya itu.
" Kamu, kamu pria brengsekk itu, kamu pria brengsekk itu ".
Bugh... bugh... bugh... bugh...
Dengan amarahnya yang telah membabi buta Rendra langsung menghajar wajah tamu prianya dengan tampa ampun.
Bugh... bugh... bugh... bugh...
" Dasar bajingann gara - gara kamu hubunganku dan istriku Maura menjadi berantakan ".
Bugh... bugh... bugh... bugh...
" Aku, aku bisa menjelaskannya, tolong, beri aku kesempatan ". Pria itu berusaha menahan serangan yang bertubi - tubi dari Rendra, namun Rendra yang sudah diselimuti oleh rasa amarah sama sekali tak mempedulikannya.
Bugh... bugh... bugh... bugh...
" Bajingann bajingann, kamu harus membayar semuanya bajingann, setelah dari sini jangan harap kamu bisa hidup ".
Sungguh tak ada lagi ketenangan dalam diri Rendra, hanya amarah lah yang menguasai dirinya.
Rendra sudah tak mempedulikan bagaimana nasib dari pria yang dipukulinya itu bahkan setelah adanya darah yang keluar dari wajahnya.
Bugh... bugh... bugh... bugh...
" To-long, dengarkan aku, a-ku bisa menjelaskan semuanya ".
" Penjelasan apalagi, penjelasan kalau kamu sudah berhasil membuatku menyia nyiakan wanita yang aku cintai, iya begitu hah?, jangan harap setelah ini aku akan melepaskan mu bajingann ".
Bugh... bugh... bugh... bugh...
" De-dengarkan aku, dengarkan aku Ren-dra ".
Tak ada perlawanan sama sekali darinya selain hanya berusaha untuk menahan serangan dari Rendra. Pria itu membiarkan saja dipukuli oleh Rendra.
Hingga setelah tanpa ampun Rendra memukul pria yang sudah membuat rumah tangganya hancur sampai tak berdaya, barulah Rendra menghentikan pukulannya dan menghempaskan tubuh pria ini di atas lantai.
Sudah tak bisa dibayangkan lagi bagaimana nasib dari pria ini. Wajahnya sudah begitu sangat memar dengan darah segar yang keluar dari wajah dan hidungnya.
Ia tergeletak tak berdaya di atas lantai, tanpa Rendra yang mempedulikannya.
Bersambung..........
🙏🙏🙏🙏🙏
❤❤❤❤❤