Kisah seorang cucu yang relah mengorbankan mahkotanya demi menyelamatkan nyawa sang nenek.
Rindu nama gadis itu, dia harus bertemu dengan seorang pria yang sangat kejam dan juga di takuti di kota itu.
Apa yang akan terjadi berikutnya yuk mari ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. TIKUS BESAR.
"Daddylah, masa kami, Ayo Mom kita pulang Akos sudah tak sabal ingin mencicipi masakan Mommy," Akos menarik tangan Rindu.
"Apa?, Aku yang harus memikul berasnya," Fathur menunjukki dirinya sendiri dengan mimik wajah tidak bersahabat.
Fathur ingin sekali protes tapi sayang, kedua orang yang ada di hadapanya sudah jauh pergi meninggalkan tempat itu.
Mau tidak mau terpaksa Fathur mengangkat beras yang beratnya 25 kilo gram. Sesekali dia terlihat menyembunyikan wajahnya di karung beras tersebut.
Setibanya di kos, Rindu segera menuju kedapur di temani oleh Akos.
Bunyi peralatan dapur dan suara candaan antara Akos dan Rindu membuat ruang dapur terdengar begitu ramai.
"Mom, semua yang Mom masak ini tellihat begitu enak, Akos sudah tidak sabal lagi untuk melahapnya," Akos yang sedang mengaduk sayuran di dalam mangkok.
"Tentu dong sayang, semua ini spesial buat Akos, Apa kamu menyukainya?,"
"Tentu saja Akos suka, tapi apa Daddy juga suka?. soalnya Daddy kan sukanya makanan lual sepelti yang seling di masak paman dan bibi di Mansion," kembali bocah kecil itu bertanya pada Rindu.
"Terserah dia, mau makan apa tidak yang penting kita sudah memasak untuknya. Kalaupun dia gak mau kan ada kita berdua yang bisa menghabiskanya," Rindu sengaja mengeraskan suaranya agar Fathur mendengarnya.
Kembali tawa mereka berdua pecah seketika. Sementara Fathur yang sejak tadi duduk di meja makan sembari memainkan hanponenya seketika mendongak setelah mendengar perkataan Rindu.
"Dasar tamak, lagian Aku bisa saja menyuruh David memesan makanan yang lebih enak dari buatan mereka itu," Fathur kembali menatap layar handphonenya.
Tidak lama kemudian, beberapa piring dan mangkok pun sudah tersusun rapi diatas meja makan.
Aroma yang menggugah selera keluar dari masakan yang baru saja di buat oleh Rindu dan Akos.
Fathur sesekali mengendus-enduskan nafasnya untuk menghirup aroma masakan tersebut.
"Daddy kenapa?," tanya Akos yang memperhatikan hidung Fathur yang terlihat kembang-kempis.
Seketika itu juga Fathur menahan nafas sejenak.
"Daddy lagi influeza, gara-gara memikul beras yang tadi," Fathur memijit-mijiti pundaknya dan menggerakkan punggungnya seperti orang lagi kecapean.
"Apa hubunganya, yang mikul punggung kok yang sakit hidung," Rindu dan Akos saling menatap heran.
"Iya nich, atau jangan-jangan Daddy sudah tidak sabar lagi untuk mencicipi masakan kami beldua?,"
"Mana ada, Lagian Daddy tu gak doyan makan makanan seperti itu, kampungan" Fathur sedikit membelakangi meja makan.
"Hiii... Dasar, sudah capek-capek masak malah dapat hinaan. Ayo sayang kita habisi makananya, biar ada orang yang kelaparan dan tidak bisa untuk tidur malam ini karena perutnya keroncongan," Rindu mengisi nasi dan lauk kedalam piring dan menyerahkanya kepada Akos.
"Makasih Mom," Akos meraih piring tersebut dan meletakkan tepat di hadapanya.
Kini keduanya mulai menyantap makanan yang ada diatas meja makan.
"Enak sekali Mom, Mommy memang the best dalam memasak," Akos kembali memasukan sesuap makanan kedalam mulutnya.
"Apa kamu masih mau tambah?," tanya Rindu yang juga menikmati masakanya yang memang terasa enak.
"Iya Mom, Akos masih mau," Akos menyodorkan piring kosongnya ke pada Rindu.
Sementara itu, Fathur yang sedari tadi membelakangi mereka berdua sembari berpura-pura memainkan handphonenya.
Sedikit demi sedikit mulai berbalik menghadap meja makan.
Tanganya pelan-pelan mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk.
Akos dan Rindu pura-pura tidak melihatnya supaya manusia gensian itu tidak merasa malu.
Fathur melahap makananya dengan sangat lahap hingga isi dalam mangkok yang ada diatas meja berkurang setengahnya.
"Daddy tadi malu, kenapa sekalan malu-maluin," Akos menatap lekat pada Fathur yang saat itu sedang mengunya makanan dengan sangat lahap.
"Dari pada di sisa!, kan mumazir," jawab Fathur santai tanpa memandang orang di sekelilingnya.
"Sudalah sayang, Ayo lanjutin makanya nanti kamu tidak ke bagian sama orang yang sudah tiga hari tiga malam belum buka puasa," ajak Rindu.
"Bodoh amat," Fathur masih terus melahap makanan yang ada di hadapanya.
Tidak lama kemudian, Rindu dan Akos kembali ke dapur untuk mencuci piring dan membereskan alat dapur yang sempat mereka gunakan tadi.
Fathur yang bosan menungguin mereka segera masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuhnya diatas pembaringan.
Ada sekitar dua puluh menit Fathur berbaring disana hingga tidak terasa kedua kelopak matanya tertutup dan masuk kedalam alam mimpi.
Rindu yang baru saja datang bersama Akos mendapati Fathur terlentang dengan handphone tergeletak begitu saja diatas pembaringan.
"Mom, Apa Daddy sudah tidur?,"
"Mommy rasa iya," balas Rindu.
"Telus kita tidur dimana?, tidak mungkin bukan, kita tidul beltiga diatas pembalingan yang sempit itu,"
"Kamu dan Daddy tidul diatas, biar Mommy tidur di bawah saja beralaskan tikar," Rindu melangkah menuju kearah lemari dan mengeluarkan tikar, bantal dan guling dari dalam sana.
"Akos tidur belsama Mommy saja, soalnya Akos takut ketindis tubuh besal Daddy,"
"Baiklah kalau begitu, sebentar Mommy bentangkan tikarnya dulu ya,"
Akos tidak menjawab dia cuman mengangguk.
"Ayo tidur," Rindu menepuki bantal.
"Baik Mom," Akos menjatuhkan tubuhnya diatas karpet dan memposisikan kepalanya diatas bantal.
Rindu menyelimuti tubuh mungil Akos dan tak lupa mencium keningnya.
"Tidurlah yang nyenyak," ujar Rindu sembari tersenyum.
Akos membalas tersenyum dan kemudian menutup kedua buah kelopak matanya.
Rindu pun membaringkan tubuhnya di sebelah Akos dan menutup kedua matanya.
Hanya butuh dua pulu menit saja kini deru nafas mereka mulai kedengaran menandakan kalau sekarang ini mereka berdua sudah masuk kealam mimpinya masing-masing.
Waktu terus bergulir hingga tidak terasa sang surya pun menampakkan wajahnya di ufuk timur.
Kicauan burung-burung dan kokok ayam jantan menandakan pagi sudah mulai tiba.
Rindu mulai menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit tapi kali ini badanya terasa berat.
Rindu pelan-pelan membuka kedua kelopak matanya. Tapi, alangkah terkejutnya perempuan cantik itu tak kala mendapati seseorang sedang memeluknya dari arah belakang.
"Ahh........," teriak Rindu memecah suasana pagi.
"Mom ada apa?," Akos yang baru saja bangun dari tidur indahnya.
"Ada Raksasa," balas Rindu menutup kedua matanya menggunakan telapak tangan.
"Apa Raksasa?," Akos bangun dari atas karpet dan mendapati Fathur sedang melingkarkan tanganya ke tubuh mungil Rindu.
"Itu bukan Laksasa Mom tapi, Daddy," Akos menggeleng-gelengkan kepalanya.
Seketika mata Rindu terbelalak dan segera melepaskan diri dari pelukan Fathur.
"Huummmm...." guman Fathur yang juga baru tersadar dari tidur lelapnya sembari merenggangkan otot-ototnya.
"Kenapa kalian ribut sekali!," ujar Fathur yang saat merasa tidak bersalah sedikit pun.
Akos dan Rindu seketika saling menatap.
"Halusnya kami yang beltanya, kenapa Daddy bisa ada di tempat kami," Akos berdiri sambil berkacak pinggang.
Fathur tidak langsung menjawab. Pertama-tama pria tampan itu merotasikan kedua bola matanya dan mencoba mengingat kembali kejadian semalam hingga membawanya tertidur bersama mereka.
"Ummm, Semalam ada tikus besar ingin memangsa Daddy. Daddy ketakutan, mau tidak mau, terpaksa Daddy kemari dan tertidur bersama kalian disini," Fathur mengucak-ucak rambutnya dan sedikit tertunduk tapi kedua bola matanya menatap lekat pada Rindu dan Akos.
"Apa....Tikus besar," Rindu dan Akos segera melompat dan memeluk tubuh Fathur.
Fathur seketika tersenyum kemenangan. akhirnya, akal bulusnya bisa juga di terima oleh Rindu dan juga Akos.
Jangan lupa untuk terus dukung dengan cara like, coment dan vote. Terima kasih.
gak cocoklah jadi pemeran utama wanita