NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Sinar matahari pagi menembus dinding kaca apartemen lantai tertinggi, namun tidak mampu menghangatkan suasana di ruang kerja yang penuh tumpukan berkas dan layar komputer yang menyala terus-menerus. Sudah tiga hari berturut-turut Kirana menghabiskan waktu berjam-jam memverifikasi data arsip perusahaan, catatan notaris, laporan keuangan daerah, dan berkas pengalihan hak milik yang tersimpan di kantor administrasi—satu per satu disusun, dicocokkan, dan disusun ulang untuk mengungkapkan pola yang selama ini sengaja dikaburkan.

Lukas duduk di hadapannya, diam menyimak setiap penjelasan, jantungnya berdegup kencang setiap kali nama keluarganya disebut. Ia baru saja menyadari betapa besarnya jejak yang pernah ditinggalkan oleh Grup Wijaya—jejak yang kini seolah dihapus dari peta ekonomi Sulawesi Tengah, seolah tidak pernah ada sama sekali.

“Mari kita mulai dari awal,” ucap Kirana pelan, menunjuk grafik batang yang ditampilkan di layar lebar. “Sepuluh tahun lalu, sebelum kejadian yang mengubah segalanya, Grup Wijaya adalah kelompok usaha terbesar dan paling berakar di wilayah ini. Bukan sekadar perusahaan kaya raya yang beroperasi dari kota besar jauh—mereka tumbuh dari tanah ini, dibangun oleh kakekmu, lalu dikembangkan oleh ayahmu bersama warga lokal.”

Ia menunjuk rincian angka yang tertera di samping grafik:

Memiliki 12 perusahaan cabang yang bergerak di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, pengolahan hasil bumi, perdagangan pelabuhan, hingga pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di daerah terpencil.

Menguasai lebih dari 40 persen lahan perkebunan kopi dan kakao yang dikelola secara adil bersama ribuan petani mitra.

Menjadi pengelola tunggal pelabuhan kargo kecil di Teluk Palu yang menghubungkan perdagangan antar pulau di wilayah tengah Sulawesi.

Memiliki aset tanah dan bangunan yang tersebar di hampir seluruh kabupaten di Sulawesi Tengah, serta cadangan dana operasional yang cukup untuk membiayai pembangunan daerah selama lima tahun tanpa bantuan pemerintah pusat.

Tercatat sebagai mitra utama pemerintah daerah dalam program pemberdayaan ekonomi masyarakat, yang membuat nama Wijaya sangat dihormati di kalangan warga biasa.

“Saat itu,” lanjut Kirana, matanya menatap Lukas lekat-lekat, “tidak ada satu pun pengusaha lain yang bisa menandingi skala dan pengaruh Grup Wijaya. Mereka bukan sekadar pemilik modal—mereka adalah tulang punggung ekonomi bagi ribuan keluarga yang bekerja bersama mereka. Namun lihatlah apa yang terjadi tepat sepuluh tahun lalu.”

Ia menekan satu tombol, dan grafik itu berubah drastis. Garis yang tadinya melambung tinggi tiba-tiba jatuh tajam ke titik terendah dalam waktu kurang dari tiga bulan.

“Pada tanggal 17 Maret—tepat dua minggu setelah kamu ditemukan sendirian di pinggir hutan dan dibawa ke panti asuhan—Grup Wijaya tiba-tiba dinyatakan mengalami kerugian besar dan tidak mampu membayar utang. Padahal laporan keuangan bulan sebelumnya menunjukkan keuntungan bersih yang sangat sehat, tidak ada tanda-tanda krisis, dan tidak ada proyek yang gagal secara mendadak.”

Lukas menelan ludah susah payah. “Lalu bagaimana caranya perusahaan sebesar itu bisa bangkrut secepat itu?”

“Dengan cara yang sangat terencana,” jawab Kirana dingin, lalu menampilkan berkas-berkas pengalihan hak milik satu per satu. “Pertama, seseorang memalsukan dokumen pinjaman besar atas nama perusahaan, dengan jaminan seluruh aset tanah dan gedung. Kedua, mereka mengajukan laporan palsu tentang kerusakan berat pada pabrik dan aset produksi yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Ketiga, saat ayahmu sedang dalam perjalanan pulang untuk menangani masalah ini, ia mengalami kecelakaan tunggal yang membuatnya tewas seketika—sehingga tidak ada lagi pemilik sah yang bisa membantah atau mempertahankan hak perusahaan.”

Ia menunjuk deretan nama di kolom pembeli aset yang disita: nama-nama perusahaan cangkang yang tidak memiliki kantor fisik, tidak memiliki catatan pekerja, dan semuanya terdaftar atas nama perwakilan yang bekerja untuk satu orang—Bima Surya Atmaja.

“Dan tepat dua bulan kemudian,” lanjut Kirana dengan nada yang semakin berat, “saat proses pengalihan aset berlangsung lancar tanpa hambatan, kamu resmi diadopsi oleh keluarga Chandra. Tidak ada kerabat lain yang berani maju untuk mengurus warisan atau mempertahankan nama keluarga Wijaya—seolah semua orang yang tahu kebenaran tiba-tiba hilang atau diam seribu bahasa.”

Lukas menutup matanya rapat, mencoba menahan rasa sesak yang melonjak di dadanya. Selama ini ia mengira bangkrutnya keluarganya adalah nasib buruk, atau kesalahan manajemen yang tidak disadari. Namun kenyataannya adalah sebuah perampokan besar-besaran yang dilakukan dengan sangat sistematis, dimulai dari menghilangkan pemilik, menghapus bukti, menyembunyikan pewaris, hingga mengambil alih setiap jengkal tanah dan usaha yang telah dibangun dengan keringat dan pengorbanan selama puluhan tahun.

“Lalu apa yang terjadi pada aset-aset itu sekarang?” tanyanya pelan, suaranya bergetar namun penuh tekad.

Kirana membuka peta wilayah Sulawesi Tengah yang telah diberi tanda warna. Semua lokasi yang dulu dimiliki Grup Wijaya kini berwarna merah—menandakan kepemilikan langsung maupun tidak langsung oleh jaringan perusahaan milik Bima.

“Lahan perkebunan yang dulu dikelola bersama petani kini disewakan kembali dengan harga yang sangat mahal, bahkan banyak petani lama yang diusir begitu saja. Pabrik pengolahan yang dulu mempekerjakan ratusan warga lokal kini diubah menjadi gudang penyimpanan barang impor. Pelabuhan yang dulu menghubungkan perdagangan rakyat kini hanya melayani kapal milik perusahaannya sendiri, memonopoli seluruh jalur pengiriman barang di wilayah ini. Dan tanah-tanah strategis yang dulu disiapkan untuk sekolah dan fasilitas umum kini dibangun menjadi pusat perbelanjaan dan apartemen mewah yang hanya bisa diakses oleh kalangan kaya.”

Ia kemudian menampilkan berkas terbaru yang baru didapatkan dari kantor pajak: kekayaan Bima melonjak lebih dari 15 kali lipat dalam waktu sepuluh tahun—lonjakan yang mustahil dicapai dari usaha biasa, namun sangat masuk akal jika didapat dari merampas aset yang sudah bernilai triliunan rupiah.

“Yang paling menyakitkan,” tambah Kirana pelan, “banyak warga tua di desa-desa pinggir yang masih ingat kebaikan keluargamu. Mereka sering bercerita bagaimana kakekmu membantu membangun saluran irigasi tanpa meminta bayaran, bagaimana ayahmu menanggung biaya sekolah anak-anak yang tidak mampu. Namun sekarang mereka takut berbicara secara terbuka—beberapa orang yang pernah berani menanyakan ke mana perginya Grup Wijaya tiba-tiba diancam, atau bahkan kehilangan mata pencahariannya secara tiba-tiba.”

Lukas membuka matanya kembali. Air mata yang sempat ingin jatuh kini tertahan oleh api kemarahan dan kebanggaan yang membara di dadanya. Ia tidak lagi merasa seperti anak yang tidak berharga yang dibuang ke jalanan. Ia menyadari bahwa dirinya adalah pewaris satu-satunya dari warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar uang atau tanah—warisan kepercayaan ribuan orang, warisan perjuangan untuk keadilan ekonomi, warisan nama yang tidak boleh dibiarkan hilang begitu saja karena keserakahan satu orang.

Ia berdiri perlahan, berjalan mendekati layar besar yang menampilkan foto lama ayahnya berdiri di tengah ladang kakao bersama para petani.

“Bima pikir dengan mengambil alih aset fisik, dia bisa mengambil alih segalanya,” ucap Lukas tegas, suaranya kini mantap dan berwibawa. “Dia pikir dengan menyembunyikan aku, dia bisa memutus semua ikatan yang menghubungkan harta ini dengan pemilik aslinya. Tapi dia lupa satu hal: tanah ini tahu siapa yang merawatnya, orang-orang di sini tahu siapa yang pernah berjuang untuk mereka. Dan kebenaran yang sudah tertanam di hati warga tidak bisa dia ambil atau hapus dengan cara apa pun.”

Kirana berdiri di sampingnya, menatapnya dengan bangga. “Kamu benar. Data-data ini, bukti-bukti pengalihan yang palsu, rekaman pembicaraan dengan keluarga Chandra, serta kesaksian warga yang bisa kita kumpulkan—semuanya sudah cukup untuk membuktikan bahwa pengambilalihan itu adalah tindakan kriminal. Dan sekarang, sebagai pewaris sah yang keberadaannya sengaja disembunyikan, kamu memiliki hak penuh untuk menuntut pengembalian seluruh aset itu, serta menuntut pertanggungjawaban hukum atas segala kerugian yang terjadi.”

Mereka menghabiskan sisa hari itu menyusun laporan lengkap berisi semua bukti yang telah dikumpulkan, dari jejak pertama hingga data terperinci tentang aset yang hilang. Setiap angka, setiap nama, setiap tanggal tersusun rapi menjadi satu cerita utuh: sebuah cerita tentang kejahatan terorganisir yang direncanakan sejak lama, tentang pengkhianatan, tentang ketakutan, namun juga tentang harapan yang tidak pernah mati.

Saat malam tiba, Lukas berdiri di depan jendela kaca memandang ke arah cahaya kota yang berkelap-kelip. Di kejauhan terlihat siluet bukit tempat kakeknya dulu mulai menanam pohon kakao, terlihat atap pabrik yang dulu dibangun ayahnya dengan penuh harapan. Semua itu kini terlihat begitu dekat, begitu nyata.

Aset-aset itu mungkin sudah berpindah tangan secara fisik, namun hak kepemilikan yang sebenarnya belum pernah berpindah sedikit pun. Dan kini, saat ia akhirnya menemukan kembali jejak yang hilang, ia berjanji pada dirinya sendiri, pada ayahnya, dan pada semua orang yang percaya pada nama Wijaya: ia akan mengembalikan semuanya ke tempat yang seharusnya. Tidak hanya tanah dan bangunan, tetapi juga nama baik, keadilan, dan harapan yang pernah direnggut dari mereka semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!