Verga Marchetti menyetujui pilihan ayahnya untuk menikahi putri salah satu relasi mereka. Belinda Antolini yang cantik, pendiam dan penurut. Namun di malam pernikahan, Verga menyadari istri barunya tidaklah sediam yang ia kira. Gadis itu penuh rasa ingin tahu, punya gairah yang besar, juga menikmati aktifitas pengantin baru sepenuh hati.
Kegembiraan dan kebahagiaan Verga tidak bertahan lama, karena keesokan hari ketika ia membuka mata, istrinya sudah pergi. Meninggalkan dirinya, juga pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Black service
Verga menatap tajam ke arah Juan. Gerahamnya menyatu menahan amarah. Ia merasa hari-harinya terbuang percuma. Tidak ada kabar baik dari Elio yang dibawa oleh Juan.
"Pria itu mengatakan akan ketemu! Kapan!? sudah empat hari! Astaga, orang itu tahu tidak cara melakukan pekerjaannya, Juan!"
Juan menunduk dengan kedua tangan menyatu di depan tubuh. "Sepertinya, Nyonya menyembunyikan dirinya dengan sangat sempurna, Tuan."
Verga mendengus. "Hakh! Atau Elio yang tidak becus!" makinya kencang.
Verga bangkit dari sofa yang didudukinya. Ia berjalan perlahan menuju dinding kaca, memandang pemandangan langit gelap tidak berbintang yang terlihat.
Keheningan sejenak mewarnai kamar hotel tempat Verga menginap selama hampir empat hari. Mencari tanpa hasil dan menunggu kabar dari penyelidikan Elio.
Suara ponsel kemudian terdengar. Verga berjalan mendekat ke atas sebuah meja di sudut ruangan. Ia melirik nama yang tertera di layar ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu embusan napas panjang terdengar.
"Sudah waktunya memang. Walau aku tetap berharap, Ayah tidak akan meneleponku. Berharap ia berpikir ia akan mengganggu bulan maduku bila menelepon."
Juan diam mendengarkan, tahu dari kalimat Verga bahwa Tuan Veronelah yang menelepon.
" Halo, Ayah?"
Verga mendengar seruan gembira di seberang sana. Ia sampai harus menjauhkan sedikit ponsel itu dari telinga karena teriakan-teriakan gembira dari beberapa orang di telepon.
"Ah, Verga. Maaf, Nak. Kami terlalu gembira mendengar suaramu. Mmm ... apakah kami mengganggu?"
"Kami? Kau dimana Ayah? Sedang bersama siapa?"
Terdengar bisikan-bisikan yang diduga Verga adalah suara wanita.
"Ayah baru pulang dari mengatur segala sesuatu untuk pesta perayaan pernikahanmu. Sekarang kami sedang bersantai di sebuah restoran."
"Oh, Ayah bersama Bibi Oliv?"
"Benar. Juga Nyonya Laria dan Arabella."
"Pantas saja ramai sekali, Ayah." Verga mengakhiri dengan tertawa riang. "Arabella ada di Broken Bridge?" tanya Verga, sengaja mencari bahan pembicaraan yang aman. Sebelum ayahnya bertanya tentang menantunya. Verga bersyukur ia tidak harus hadir di perayaan tersebut.
"Ya. Bahkan Enrico, Vivianne dan juga si montok bayi mereka juga ada di kota ini."
"Bagus sekali. Maaf tidak pernah meneleponmu, Ayah. Aku ... sedikit sibuk."
Verga mendengar tawa, juga godaan dan celotehan. Pastilah tiga wanita teman-teman ayahnya itu yang berkomentar.
"Ayah sangat mengerti dan maklum, Verga. Kau harus mengejar ketertinggalanmu dari Enrico. Seorang cucu kuharap akan hadir sembilan bulan ke depan," goda Verone.
Verga terkekeh. "Jangan sampai menantumu mendengarnya, Ayah. Kau akan membuatnya merasa terbebani. Bel ... sangat sensitif ...."
"Ah ... maafkan aku. Aku hanya menggodamu. Dimana Bel? Biarkan aku bicara."
"Dia sedang ke kamar mandi. Kurasa mandi air hangat untuk merilekskan tubuhnya. Bellll!" teriak Verga dengan sengaja, seolah tengah memanggil istrinya itu.
"Tidak, tidak, Nak! jangan menghentikan kegiatannya hanya karena aku. Biarkan saja. Sampaikan saja salam Ayah."
"Baik, Ayah."
"Aku akan mengabarimu tentang acara besok malam."
"Tentu. Sampaikan salamku pada semua."
"Ya. Ya. Selamat berbulan madu, Anakku."
"Terima kasih, Ayah."
Hubungan pun terputus. Verga melempar ponsel ke atas sofa lalu mengempaskan dirinya sendiri ke atas kursi empuk tersebut.
"Belinda ... kau sudah menantangku dengan pergi tanpa alasan maupun pesan. Aku suka tantangan. Mari kita berkompetisi Istriku sayang! Aku atau kau yang akan menang!"
Juan masih berdiri di tempatnya. Menunggu perintah berikutnya dari sang atasan.
"Black ... Black ... Black ...." desis Verga dalam bisikan pelan.
Juan mengernyit mendengar tuannya menyebut nama itu dengan nada berbisik. Lalu atasannya tersebut menegakkan tubuh, menyipit menatap Juan dengan mata berkilat.
"Kau bilang orang ini hebat mencari orang hilang?"
"Sudah dipastikan, Tuan. Frederic mengkonfirmasi hal itu. Ia mengatakan Tuan Enrico sangat sering memakai jasa orang ini."
Verga mengangguk. "Black ... kalau begitu kita juga akan memakai jasa orang ini."
Juan berdeham. "Mmm ... itu ... Anda ... akan menghubungi Tuan Enrico?"
Hening. Juan tidak mendapatkan jawaban. Atasannya itu malah berdiri, lalu mengibaskan tangan menyuruh Juan untuk kembali ke kamarnya sendiri.
"Istirahatlah malam ini. Kembalilah ke kamarmu."
"Bagaimana de-"
"Shhhh, biar aku yang pikirkan."
Juan tidak dapat berbuat apa-apa selain menurut, meski ia sangat penasaran, benarkah tuannya itu akan menurunkan egonya dan menelepon Tuan Enrico Costra untuk minta bantuan orang bernama Black. Bukankah tuannya itu berteriak sangat kencang dan mengatakan tidak akan pernah ketika ia mengemukakan ide tersebut.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Dukung dengan tekan like, love, bintang lima, komentar dan vote ya. Sebelumnya Author mengucapkan terima kasih banyak.
Salam. DIANAZ.
suka sekali gaya tulisan kak Di, enak dibaca, detail seolah kita melihat bukan membayangkan ❤️❤️❤️❤️❤️
terima kasih ya kak , ditunggu karya2 selanjutnya 😍😍😍😍