Ada batasan, ada aturan, namun juga ada cinta yang menggoda Dalilah sewaktu SMA. Bisakah ia menjalaninya mengingat dia bukan remaja biasa yang sanggup bertindak semaunya.
“Berikan aku sedikit kebebasan, Ayahanda!”
“Tidak, putriku. Aturan sudah mendarah daging dalam aliran darahmu sebelum kamu lahir.”
Mujurkah Dalilah menjalani kisah cinta pertamanya dengan Revi, ketua OSIS yang mengajaknya menikmati gejolak masa remaja? Beranikah dia menentang aturan yang mengakar di darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
Revi.
Kebahagiaanku berawal dari pertemuanku dengannya. Di suatu pagi, di hari pertama masuk sekolah.
Aku bertemu dengan seorang perempuan. Perempuan yang sudah menggemparkan sekolah di hari sebelumnya saat aku menghadiri rapat koordinasi masa orientasi siswa-siswi baru kelas sepuluh.
Sebagai ketua OSIS, aku cukup penasaran bagaimana paras asli seorang anak Sultan. 'THE REAL SULTAN' menjadi adik kelasku. Wow, sejak malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak.
Dengan dalih mengganggu kewarasanku. Aku mulai membuka website resmi milik kerajaan Hadiningrat. Aku mencari segala sesuatu yang berkaitan dengan gadis yang memiliki nama dan gelar panjang sekali.
Tapi aku mengingatnya, sangat mengingatnya. Nama putri mahkota itu adalah Raden Ayu Dalilah Sekar Kinasih Putri Adiguna Pangarep. Lahir di akhir musim dingin di benua Australia.
"Cantik alami." gumamku sembari mengamati dengan seksama layar laptopku.
"Kayak pengantin, pakai kebaya, sanggulan, mana senyumnya itu, apa besok waktu sekolah dia juga pakai sanggul?" Aku tersenyum senang, "Gak sabar." Ku tutup layar laptopku dan menghempaskan tubuhku diatas kasur besar dengan seprai bermotif captain Amerika.
***
Pagi menjelang, aku sudah bangun sejak awal, tidak seperti biasanya karena aku pasti harus dibangunkan oleh mommy. Aku sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah sampai melupakan sarapan pagi ku.
"Boy! Sarapan dulu kenapa? Mommy sudah buatkan susu coklat untukmu!" seru mommy sedikit berteriak.
"Ah! Mommy! Aku buru-buru!" balasku sambil mengikat tali sepatu.
"Boy! Minumlah dulu!"
Cih, Daddy pakai ikut-ikutan segala. Aku ini sudah pengen banget nongol di sekolahan. Mengumpulkan anggota OSIS dan mencari keberadaan si cantik.
"Kenapa, boy? Sudah penasaran sama adik kelasmu?"
Hahaha... Daddy! Aku suka sekali tebakannya itu. Aku mengangguk dan menghampiri orangtuaku dimeja makan.
"Siapa boy? Anak mana yang membuatmu bangun pagi, apa jangan-jangan kamu gak tidur?" tebak mommy lagi.
"Anaknya Ngarso dalem Sultan Agung Kaysan Adiguna Pangarep, mom. Putrinya menjadi adik kelasku!" jawabku semangat 45.
Mommy dan Daddy saling melempar pandang, entah apa yang dibicarakan dari sorot mata mereka aku gak peduli. Aku menghabiskan susu coklat buatan mommy. Rasanya seperti biasanya, enak.
"Aku pergi dulu mom, dad. Doain Rev bisa kenalan dengan princess."
Aku sedikit berlari kecil menuju motor sport yang dibelikan Daddy sebagai hadiah keberhasilanku menjadi ketua OSIS.
Segelintir pikiran menggelitik benakku. Paling tidak lima belas menit kemudian, aku tiba diparkiran sekolah.
Aku tersenyum kecut ketika melihat 'princess' berada di depan tiang bendera, bercengkrama akrab dengan siswa baru yang memakai almamater yang sama dengan princess. Aku simpulkan mereka berdua berasal dari SMP yang sama.
Kecurigaan terhadap princess jika ia sudah memiliki pacar semakin tinggi ketika seorang laki-laki berbeda dengan almamater yang sama merangkul bahunya dengan mesra.
Fix... Jadi aku punya dua saingan utama untuk merebut hatinya? Itu bukan masalah besar bagiku.
Aku berjalan menuju ruang OSIS, melempar tasku lalu mengambil berkas di ruangan guru. Beberapa anggota OSIS lain juga datang membantuku.
"Udah lihat putri keraton, Rev?" tanya Vino penasaran.
"Udah, Vin. Menurutmu gimana? Sesuai dengan gambaran seorang princess?"
"Apa kerjaanmu lihat kartun princess negeri dongeng, Rev!"
"Ya kali aku liat Barbie, Cinderella, Rapunzel, Vin! Kek gak ada tontonan lain!"
Kami berdua tertawa dan melanjutkan kegiatan ke-OSIS-an. Hingga bel masuk berbunyi, aku sudah menyelesaikan rapat dadakan dengan anggota OSIS lainnya.
Batinku berkata, inilah saatnya untuk melihat dengan dekat princess Javanese.
Tapi lagi-lagi yang aku dapati dia duduk disamping laki-laki yang merangkulnya tadi. Mendominasi laki-laki tersebut seperti mengatakan pada dunia jika ia memilikinya.
Apa begitu gesture yang dimiliki seorang putri Raja? Aku berpikir cukup lama. Menarik.
Satu persatu nama aku sebutkan saja tanpa selera, tapi untuk nama Dalilah ini aku menyebutnya dengan kesal. Khayalanku lenyaplah sudah, dia sudah punya pacar!
"Aku sekolah disini, sebagai pelajar, jadi jangan sungkan berteman denganku!" ujar princess dengan riang gembira.
Apa-apaan ini, jadi dia membuka lowongan pertemanan dengan mudah. Segera saja ide cemerlang menjalari pikiranku.
Lihat saja princess, secepat kilat kita akan berkenalan dan menjadi teman seperti yang kamu tawarkan.
***
Kantin sekolah adalah tempat terbaik untuk santai. Dari pojokan kantin, aku dapat melihat semua wajah-wajah baru yang mengisi sekolah lawas ini.
Wajah yang tidak asing lagi bagiku, wajah yang mengacaukan Minggu malamku, terlihat berada di depan warung bakso milik pak Narji. Ia terlihat sendiri? Miris sekali? Seorang putri Raja sendiri, tanpa laki-laki yang menjaganya sejak tadi masuk sekolah ini? Kemana dia?
Segera saja aku bangkit dan menghampirinya penuh minat.
Ia terlihat terintimidasi, tapi cuek saja sambil berdiri membawa semangkok bakso. Tanpa minuman! Astaga, apa dia tidak haus? Apa princess bawa air putih dari rumah.
Segera saja aku menghampirinya bermaksud untuk menawarinya air mineral. Tapi! Kesan awal yang aku anggap slalu menjadi citra seorang perempuan bangsawan Jawa yang kalem dan lemah lembut lenyap begitu saja saat ia menodongku dengan kalimat nyolot dan mata galaknya.
Aku mengerutkan kening, apa princess ini sedang dalam tahap membentengi diri dari kaum lelaki! Apa princess ini sedang menjaga perasaan pacarnya.
Tapi kenapa pacarnya gak peka? Aku menyaut bakso yang dibawanya, mungkin itu panas dan tangannya tidak boleh kepanasan. Tapi aku lapar, segera saja satu bakso aku makan. Ia mungkin tidak keberatan.
Tapi ternyata aku salah, dia marah-marah! Dia menyaut mangkok bakso yang sengaja aku bawakan agar tangannya tidak kepanasan.
"Kalau laper beli sendiri! Gak punya uang!"
Fakta apalagi ini, dia mengejekku? Jelas uangku cukup untuk mengajaknya makan bakso sampe keblinger-blinger. Aku mengeluarkan dompetku, menunjukkan isinya kalau aku ini punya uang. Dengan nyolotnya princess berkata, "Pamer!"
Ia berputar, mengibaskan rambutnya. Rambut yang slalu disanggul itu terlihat halus. Tanpa sadar tanganku terulur untuk menyentuhnya, tapi gerakannya yang cepat, membuatku seolah-olah menariknya.
Dia kembali berbalik, wajahnya jengkel. Aku menahan senyum saat sebagai siswa lain tertawa saat princess menarik tanganku dan menyerahkan mangkok baksonya. Dia ngomel-ngomel dan pergi dari hadapanku dengan kesal.
Aku tertegun, tapi bakso ini mubazir jika dibuang. Ala hasil aku memilih untuk menghabiskannya, setelahnya aku akan mencarinya. Dia pasti lapar dan salah sangka, kasian sekali. Awal perkenalan yang tidak baik justru terkesan ironis.
***
Aku mencari namanya dari daftar kelas siswa baru yang di tempel di dinding pengumuman sekolah. Ia berada di kelas unggulan meski bukan di kelas utama, jadi ia cukup pintar? Menarik.
Aku melongok sebentar ke dalam ruang kelasnya, terlihat laki-laki yang tadi pagi menyapa di depan tiang bendera. Jadi princess satu kelas dengannya. Agak menyebalkan.
Saat aku berbalik, dia datang bersama laki-laki yang menemaninya sejak tadi.
Aku mengembalikan uangnya lalu pergi. Terdengar samar-samar, laki-laki muda itu menenangkan princess. Begitukah persahabatan antara perempuan dan laki-laki? Jelas salah satu diantara mereka ada yang berperan sebagai seorang yang mencintai, dan aku berharap bukan princess yang menyukainya.
...Happy reading. ...
Masih gak nyangka ya Revi...
Kalau sdh berjodoh, semesta merestui, berpisah 7 tahun pun akhirnya dipertemukan dan menjalani hari2 yg takpasti, akhirnya ijab kabul terlaksana. Selamat bercanggung-canggung ria mas Jati dan dik Lilah dlm menjalani MP.