Gerry Putera Tanuwijaya seorang pengusaha sukses dan kaya harus menelan pil pahit saat perusahaannya dinyatakan bangkrut akibat ulah Om dan Tantenya yang ingin menguasai kekayaan Gerry. Bahkan Gerry mengalami kecelakaan wajahnya hancur dan harus menjalani operasi plastik.
Rubi Caesa Gilbert wanita cantik nan sexi, dia merupakan seorang pengusaha muda yang sukses. Kehidupannya tidak tenang saat Kakak dan Mama tirinya berusaha untuk membunuh Rubi.
Pertemuan yang tidak disengaja antara Rubi dan Gerry, membuat mereka terikat satu sama lain. Rubi membutuhkan bodyguard untuk melindungi dirinya sementara Gerry membutuhkan uang untuk menjalani hidupnya.
Akankah tumbuh cinta diantara mereka? sedangkan Rubi saat ini menutup rapat hatinya untuk seorang pria dan tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
💰
💰
💰
💰
💰
Tidak terasa waktu pun berjalan dengan cepat, Gerry melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Sudah pukul lima sore, ya ampun gue lupa kalau gue sudah ada janji dengan Rubby mau ke rumah sakit," gumam Gerry.
Gerry segera membereskan meja kerjanya dan mulai meninggalkan kantor untuk pulang ke rumah Rubby.
Sementara itu, saat ini Rubby sedang ngeteh sore bersama Kiting dan Shifu Shen-shen di halaman belakang.
"Bagaimana hari pertama lo kuliah? ada masalah?" tanya Rubby dengan menyeruput tehnya.
"Tidak sih Bos, aman-aman saja."
"Lo harus tetap hati-hati Ting jangan sampai lengah, gue takut Juan sudah menemukan keberadaan lo."
"Bos cantik tenang saja, Kiting pasti akan hati-hati."
"Ting, Juan itu suka memanfaatkan kelemahan lawannya. Saya takut, Juan mengetahui kelemahan kamu, kamu kan orangnya paling lemah kalau berhadapan dengan wanita cantik, saya takut kalau Juan mengirim seseorang untuk memata-matai kamu, jadi saya harap kamu harus hati-hati kepada wanita yang mendekati kamu, karena bisa jadi wanita itu suruhan Juan yang akan menjebak kamu," seru Shifu Shen-shen.
"Nah, benar juga apa yang dikatakan Shifu," sambung Rubby.
"Kalian tenang saja, Kiting tidak akan tertipu dengan wanita cantik," sahut Kiting dengan bangganya.
"Rupanya kalian ada disini," seru Gerry yang tiba-tiba muncul.
"Hallo Ger."
Gerry duduk dilengan kursi yang diduduki Rubby, dan dengan tidak tahu malunya dia mencium kepala Rubby.
"Ckck..yaelah Ger, lo main nyosor aja jadi orang mentang-mentang sekarang Bos cantik jadi pacar lo," ledek Kiting.
"Lo sirik aja jadi orang," sahut Gerry.
"Saya ke ruangan saya dulu ya," seru Shifu Shen-shen yang langsung pergi meninggalkan semuanya.
"Gue juga ke kamar dululah, malas gue lihat kealayan lo."
"Ya sudah sana pergi, hus..hus.."
"Hai, jangan gitu," seru Rubby.
Kiting pun pergi, sekarang tinggal Gerry dan Rubby yang berada disana. Gerry merubah posisinya menjadi jongkok dihadapan Rubby.
"Aku rindu sekali sama kamu, sayang," ucap Gerry dengan menciumi tangan Rubby.
"Lebay banget sih kamu, Ger. Setiap waktu juga ketemu masih saja bilang rindu."
Rubby mengelus kepala Gerry...
"Apa pekerjaannya sangat banyak, wajahmu terlihat sangat lelah seperti ini," seru Rubby dengan mengelus pipi Gerry.
Gerry terlihat memejamkan mata, menikmati sentuhan yang Rubby berikan.
"Pekerjaannya memang melelahkan, tapi sudah sampai rumah lelahku hilang karena melihat kamu."
"Dasar, gombal terus. Sudah sana mandi, kita kan mau ke rumah sakit."
"Apa ga ada obat lelah?"
"Maksudnya?"
"Cium kek, peluk gitu," rengek Gerry.
"Apaan sih kaya anak kecil."
Rubby pun beranjak dari duduknya hendak pergi dari hadapan Gerry tapi Gerry menahan lengan Rubby.
"Tuh kan, kamu memang ga sayang sama aku."
"Astaga Gerry, badanmu gede, jago beladiri, tapi kok sifatmu manja sih kaya anak kecil, sudah ah sana mandi."
Rubby melangkahkan kakinya menuju kamarnya, tapi Rubby menghentikan langkahnya menoleh ke arah Gerry yang saat ini sedang menyandarkan badannya dikursi dengan mata yang tertutup.
Rubby tersenyum dan perlahan menghampiri Gerry...
Cup...
Rubby mencium pipi Gerry, sehingga Gerry membuka matanya.
"Sudah sana mandi dan ganti baju, kita harus segera ke rumah sakit," ucap Rubby yang langsung berlari meninggalkan Gerry.
Gerry kemudian tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya. Tidak lama kemudian, mereka sudah berkumpul di meja makan. Mereka makan malam dulu sebelum pergi ke rumah sakit.
Sedangkan itu di rumah sakit, tempat dimana orang itu di rawat sangat dijaga ketat oleh anak buah Rubby. Tiba-tiba seorang Dokter dan perawat datang.
"Maaf kami harus memeriksa keadaan pasien," seru Dokter itu.
Anak buah Rubby merasa curiga dengan tingkah laku Dokter dan perawat itu tapi dengan cepat mereka menepisnya dan berusaha mempercayai dua orang itu.
"Silakan masuk."
Salah satu anak buah Rubby membukakan pintu ruangan, tapi hal yang tak diduga terjadi Dokter dan perawat itu dengan cepat menyuntikan jarum suntik yang berisi obat bius ke punggung kedua anak buah Rubby.
Tidak membutuhkan waktu lama, kedua anak buah itu langsung jatuh tak sadarkan diri. Kedua orang yang menyamar menjadi Dokter dan perawat itu menemui pasien yang bernama Ragil itu.
"Cepat bangun dan naik ke kursi roda ini," seru sang Dokter gadungan.
"Ka--kalian siapa?" tanya Ragil gemetar.
"Kita dikirim Bos untuk menyelamatkan kamu, ayo cepat naik waktu kita tidak banyak."
Ragil pun segera naik ke atas kursi roda, Dokter dan perawat gadungan itu dengan cepat membawa Ragil pergi. Disisi lain, salah satu anak buah Rubby yang baru saja kembali dari toilet sangat kaget melihat kedua rekannya sudah tidak sadarkan diri.
"Woi bangun."
Dia langsung masuk ke dalam, dan ternyata pasiennya sudah tidak ada.
"Ah sial, Nona Rubby bisa marah besar ini."
Dengan tangan yang gemetar, dia pun menghubungi Rubby. Rubby yang saat ini sedang makan malam langsung menjatuhkan sendoknya sehingga membuat semua orang terkejut.
"Ada apa?" tanya Gerry.
"Orang itu berhasil kabur, Ger. Sekarang kita cepat-cepat ke rumah sakit," sahut Rubby yang langsung menyambar tas selempangnya.
Selama dalam perjalanan, Rubby tampak tidak tenang. Dia sangat kesal dan marah kepada anak buahnya yang tidak becus menjaga satu orang saja.
Sesampainya di rumah sakit, Rubby segera berlari menuju ruangan dimana orang itu di rawat. Terlihat kedua orang yang dibius itu sudah sadar dan sekarang sedang duduk sembari menundukkan kepalanya, mereka takut kalau Rubby memarahinya.
"Kenapa orang itu bisa sampai kabur," bentak Rubby yang tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Ketiganya berdiri dan menundukkan kepalanya..
"Maaf Nona, kami sudah lalai."
Buuggh...
Buuggh..
Buuggh..
Tanpa aba-aba, Rubby langsung memukul wajah ketiga anak buahnya itu, disaat Rubby ingin memukulnya kembali, Gerry langsung menarik Rubby dan memelukknya dengan sangat erat.
"Dasar tidak berguna, menjaga satu orang saja kalian tidak becus," bentak Rubby.
"Sabar, kamu jangan emosi dulu."
"Kenapa orang itu bisa sampai kabur?" tanya Kiting.
"Maaf Mas Kiting, tadi ada Dokter dan Perawat yang datang kesini katanya mau memeriksa si Ragil tapi tanpa diduga mereka menyuntikkan sesuatu ke punggung kami berdua dan tidak lama kemudian kami langsung tidak sadarkan diri," sahut salah satu anak buah Rubby.
"Sial, berarti dia sudah tahu kalau saksi kunci sedang di rawat disini," seru Kiting.
Sedangkan Rubby masih dengan nafas yang memburu berada dipelukkan Gerry. Dia sangat marah karena satu-satunya saksi kunci kematian Ardi sudah kabur.
"Ya sudah, lebih baik kita minta rekaman sisi tv," seru Gerry.
Gerry, Rubby, Kiting, dan ketiga anak buah Rubby menghampiri petugas yang memantau cctv.
"Selamat malam Tuan, ada yang bisa kami bantu?"
"Tolong kami ingin melihat rekaman cctv setengah jam yang lalu soalnya pasien yang kami jaga berhasil kabur," sahut Kiting.
"Baiklah."
Mereka semua tampak memperhatikan secara seksama, hingga kedua orang yang mengaku Dokter dan Perawat itu masuk.
"Kok gue berasa pernah lihat cewek itu tapi dimana ya," gumam Kiting.
"Apa kamu mengenal mereka?" tanya Gerry.
Rubby tampak menggelengkan kepalanya. Saat ini Rubby, Gerry, dan Kiting sedang duduk di dalam mobil yang berhenti dipinggiran jalan.
"Lagi-lagi, harus kehilangan jejak. Kamu sih kalau waktu itu ga halangin aku, pasti sekarang aku sudah merasa puas karena aku sudah bisa membunuh orang itu," kesal Rubby.
"Jangan kotori tangan kamu dengan membunuh orang By," seru Gerry.
"Ting, lo harus hati-hati kayanya musuh kita sudah tahu keberadaan kita, jangan sampai lo sembarangan berteman kalau perlu lo ga usah punya teman saja, cukup lo belajar dengan baik jangan mikirin yang lain-lain," seru Rubby.
"Siap Bos."
Sementara itu, Ragil dibawa oleh kedua orang itu ke sebuah rumah besar yang nampak kosong.
"Turun," seru pria itu.
"Kalian mau bawa aku kemana?" tanya Ragil.
"Sudah jangan banyak omong, ikut saja kita, Bos sudah menunggu di dalam," sahut wanita itu.
Pria itu menyeret Ragil untuk masuk, sesampainya di dalam, terlihat seseorang yang sedang meminun wine dan membelakangi ketiganya.
"Bos, ini orangnya sudah kita bawa," seru wanita itu.
Perlahan orang itu membalikkan tubuhnya, wajah tampan namun terlihat sangat menakutkan itu saat ini sedang menatap Ragil dengan tajam.
"Dasar tolol, kenapa kamu bisa sampai ketahuan oleh Rubby, Hah," bentak sang Bos.
"Ma--af Tu--an, saya juga tidak tahu kalau Nona Rubby akan mengenali mobil yang saya tumpangi," sahut Ragil dengan gugupnya.
"Jangan remehkan Rubby, walaupun dia seorang wanita tapi dia sangat cerdas dan cerdik jadi Rubby merupakan wanita yang perlu diwaspadai."
"Maaf Tuan Juan, saya memang sudah bersalah," seru Ragil.
"Kalau sampai aku tidak membawamu kabur, kamu saat ini sudah berada dibalik jeruji besi."
"Iya Tuan, terima kasih atas kemurahan hati Tuan yang sudah sudi menolong saya," ucap Ragil dengan menundukkan kepalanya.
Juan tampak tersenyum penuh misteri, Ragil merasa sangat lega karena Juan tidak membunuhnya justru Juan mau menolongnya. Juan perlahan berjalan menjauh dari Ragil, tapi dalam hitungan detik...
Dooorrr...
Dooorrr...
Juan membalikkan tubuhnya dan mengeluarkan senjata dari pinggangnya dan timah panas itu dengan cepat langsung bersarang di kepala Ragil.
Darah langsung mengalir dari kepalanya dan Ragil seketika tewas di tempat. Juan tidak akan membiarkan Rubby menemukan Ragil, jadi lebih baik Ragil mati di tangannya daripada semuanya akan terbongkar.
"Selamat tinggal Ragil, semoga kamu bahagia di alam baka sana," seru Juan dengan senyumannya.
Semua anak buah Juan tampak menundukkan kepalanya, mereka tidak mau sampai bernasib sama dengan Ragil.
"Kalian urus mayat si tolol itu, kalian buang saja di jalanan," seru Juan.
"Baik Tuan."
Anak buah Juan membawa mayat Ragil untuk di buang di jalanan. Sedangkan disisi lain, wanita yang tadi menyamar sebagai perawat merasa ngeri, dia sungguh menyesal sudah ikut dalam dunia yang berlumur dosa ini.
💰
💰
💰
💰
💰
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Mantap