Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Perubahan Sang Pemuda
Tujuh hari berlalu sejak Wang Dahu pertama kali melangkahkan kaki di perpustakaan Sekte Awan Surgawi.
Selama rentang waktu itu, hampir seluruh waktunya dihabiskan di antara barisan rak buku dan pelataran latihan.
Setiap pagi, ia selalu datang tepat saat pintu perpustakaan dibuka. Ia mengambil buku demi buku, membolak-balik halamannya dengan kecepatan luar biasa, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula.
Penjaga perpustakaan yang mengamati kebiasaan aneh itu mulai menggelengkan kepala keheranan.
“Anak muda itu lagi...” gerutu sang penjaga pelan.
Seorang murid lain yang sedang mencari referensi ikut menoleh. “Siapa, Senior?”
“Murid luar yang rutin datang tiap pagi. Kerjanya cuma mengambil banyak buku, tapi dibaca sebentar lalu dikembalikan. Entah apa sebenarnya yang sedang ia cari di sana.”
“Jangan-jangan cuma mau cari perhatian supaya kelihatan rajin?”
Sang penjaga mendengus. “Entahlah. Selama dia tidak merusak koleksi buku, biarkan saja.”
Tak seorang pun di tempat itu yang menyadari bahwa setiap lembar halaman yang dilewati pandangan mata Dahu telah terekam sempurna dan tersimpan rapi di dalam ingatannya.
Hanya dalam waktu tujuh hari, ia telah menelan mentah-mentah seluruh literatur yang tersedia di lantai satu dan lantai dua.
Wawasan seputar fondasi kultivasi, metode pernapasan lanjutan, klasifikasi herbal, anatomi monster beast, formasi dasar, sejarah benua, hingga peta kekuatan di sekitar wilayah sekte kini telah tersusun sempurna di dalam kepalanya. Ia tahu persis letak jalur perdagangan, lembah berbahaya, hingga titik rawan sarang monster.
Namun, Dahu tetap memilih untuk bungkam. Baginya, menyembunyikan kapabilitas adalah perisai terbaik di tempat asing.
Selain menghabiskan waktu melahap buku, Dahu juga konsisten berlatih di lapangan terbuka.
Di sana, ia menempa berbagai teknik bela diri yang dipelajarinya dari perpustakaan: teknik tinju, pukulan telapak tangan, ilmu langkah bayangan, teknik pertahanan tubuh, penguasaan pedang, hingga sirkulasi pemurnian Qi.
Di hari-hari pertama, gerakannya masih tampak kaku dan bersudut tajam.
Namun, seiring pengulangan yang konsisten, setiap jurus mulai menyatu dengan insting tubuhnya. Ia tak sekadar menghafal pola gerakan, melainkan memahami prinsip fisika momentum, titik distribusi tenaga, dan cara membalikkan serangan musuh.
Suatu siang, beberapa murid luar sempat melirik ke arahnya yang tengah berlatih menggunakan sebilah pedang kayu.
Ayunannya tampak sederhana, namun setiap sabetannya begitu presisi dan tanpa gerakan terbuang.
“Hei, siapa pemuda itu?”
“Sepertinya murid baru angkatan kita.”
“Tapi teknik pedangnya rapi sekali. Apakah dia sudah berlatih sejak kecil?”
“Entahlah. Aku sering melihatnya di perpustakaan, tapi kerjanya cuma membalik halaman kilat. Mana mungkin sempat belajar.”
Mereka mengabaikannya tak lama kemudian. Dan Dahu sama sekali tidak terusik oleh lirikan-lirikan itu.
Selain ilmu bela diri, ia juga mendalami teori alkimia dasar. Ia mulai mengerti cara menyeleksi kemurnian tanaman obat, mengenali sifat sinergi antar-elemen herbal, hingga tata cara menyalakan serta mengendalikan api spiritual di dalam tungku pemurnian pil.
Meski ia belum memiliki tungku alkimia pribadi, bekal teoretis itu sudah lebih dari cukup sebagai landasan awal.
Malam ketujuh tiba.
Begitu kembali ke kamarnya, Dahu langsung duduk bersila di atas ranjang kayu.
Ia memejamkan mata, memusatkan fokus ke dalam dantiannya. Ia bisa merasakan cadangan energi spiritual di dalam tubuhnya telah memadat secara drastis dibanding seminggu lalu. Selama proses pengumpulan Qi terus-menerus, batas kapasitas raganya kini telah mencapai titik jenuh.
Dahu menarik napas panjang. Sepertinya waktunya sudah tiba.
Ia mulai memandu sirkulasi Qi.
Pusaran energi spiritual dari alam sekitar tersedot masuk secara masif melalui pori-pori kulitnya, mengalir deras menghantam pusat energi di dalam tubuh.
Di dalam alam kesadarannya, si iblis yang tadinya bersantai di balik terali besi mendadak membuka mata lebar-lebar.
“Hm? Anak ini... mau menerobos ranah lagi?!”
Pusaran angin spiritual berputar kencang di dalam kamar. Dahu mengendalikan alirannya dengan presisi tinggi, mengarahkannya untuk mendobrak penghalang jalur meridian yang selama ini tertutup rapat.
BOOM!
Tubuhnya bergetar hebat. Gelombang kejut energi memancar keluar dari pori-porinya, sementara sirkulasi Qi di dalam tubuhnya mengalami evolusi mendasar.
Titik meridian baru yang terkunci sukses terbuka lebar!
Rasa nyeri sempat menusuk sekujur tulangnya, namun Dahu menahannya dengan rahang terkatup rapat hingga gelombang itu mereda.
Beberapa saat kemudian, keheningan kembali tercipta.
Dahu perlahan membuka matanya. Secercah pendar cahaya tajam melintas di bola matanya sebelum memudar.
“Berhasil...” gumamnya.
Ia mengepalkan telapak tangannya. Aliran tenaga yang mengalir di pembuluh darahnya kini terasa jauh lebih pekat, bertenaga, dan solid dibanding sebelumnya.
Ranah Pembukaan Meridian tingkat pertama!
Dari puncak Pengumpulan Qi, ia resmi melompat menembus dinding batas menuju ranah kultivasi berikutnya.
Di ruang batinnya, si iblis berdiri terpaku dengan raut wajah tak percaya.
“APA-APAAN INI?!” teriaknya histeris. “Baru beberapa hari lalu dia masih membusuk di puncak Pengumpulan Qi, dan sekarang mendadak sudah menembus Pembukaan Meridian?! Sialan, apa dasar logika tubuh anak ini?!”
Dahu hanya tersenyum tipis dalam hati. Aku cuma disiplin berlatih.
“Latihan pantatmu! Jangan pakai alasan klise untuk menutupi keanehan biologismu!” geram si iblis frustrasi. Ia mencoba mendeteksi ulang kondisi raga Dahu, namun lapisan pelindung misterius kembali menghalangi indranya.
Usai menstabilkan sirkulasi energi barunya, Dahu beranjak berdiri dan melangkah menghampiri cermin perunggu kecil di sudut kamar.
Seketika, ia tertegun sejenak.
Sosok pemuda yang terpantau di dalam cermin itu benar-benar berbeda drastis dari bayangan dirinya beberapa bulan yang lalu.
Dahulu, ia adalah seorang pemuda bertubuh gemuk berantakan dengan lemak menumpuk di mana-mana. Namun kini, transformasinya luar biasa.
Posturnya tumbuh menjadi tegap dan tinggi. Garis bahunya bidang, lengannya dipenuhi otot padat yang terbentuk secara natural, dan struktur tulangnya terlihat kokoh. Rahang wajahnya yang tadinya tertutup tumpukan lemak kini tampak tegas terpahat, berpadu sempurna dengan sepasang mata jernih yang memancarkan aura ketenangan.
Jika diperhatikan saksama, guratan wajah aslinya memang sudah memiliki ketampanan bawaan sejak dulu. Hanya saja, pola hidup yang buruk dan penderitaan hidup di masa lalu membuatnya tertutup beban.
Kini, pesona itu terpancar nyata.
Dahu menyentuh dagunya sendiri sambil tersenyum tipis. “Sepertinya penampilanku memang sudah berubah total.”
Namun senyum di bibirnya perlahan memudar.
Bayangan seorang pria paruh baya yang sabar dan tegar mendadak melintas di dalam benaknya.
Ayah...
Ingatannya kembali menerawang pada sosok Wang Shun, pria yang selalu pasang badan melindunginya dari cemoohan tetangga, yang rela mengurangi jatah makannya demi sang anak, dan yang memberikan restu penuh meski tahu jalan kultivasi adalah jalan terjal penuh duri.
Dahu mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
Ayah...
Rasa rindu yang membuncah perlahan memenuhi rongga dadanya. Ia ingin segera pulang, melihat senyum di wajah sang ayah, menyantap masakan rumahan bersama, dan menceritakan seluruh lembaran baru kehidupannya di sekte.
Namun, ia tahu diri. Belum saatnya ia kembali dalam keadaan sekadar menjadi murid luar biasa.
Dahu menatap pantulan matanya lekat-lekat di cermin. Tunggulah sedikit lebih lama lagi, Ayah. Aku akan pulang setelah namaku benar-benar berdiri tegak, membawa kekuatan yang cukup untuk melindungi keluargaku dari ancaman apa pun.
Di dalam batinnya, si iblis tidak melontarkan ejekan seperti biasanya. Suasana mendadak hening.
Sesaat kemudian, si iblis bergumam kecil, “Ternyata... selain keras kepala, bocah ini punya sisi emosional juga rupanya.”
“Setidaknya aku masih punya alasan untuk hidup dan berjuang,” balas Dahu tenang.
Ia kembali merebahkan diri di atas ranjang. Targetnya kini kian mengerucut: ia tidak hanya ingin sekadar promosi menjadi murid dalam, melainkan menargetkan posisi murid inti Sekte Awan Surgawi sebelum memutuskan pulang ke Desa Cangmu.
Pagi menjelang.
Dahu mengenakan seragam resmi murid luar: jubah putih bersih berhias garis biru muda di tepi lengan dan kerah, serta lambang awan bersulam rapi di dada kirinya. Pakaian itu melekat sempurna di tubuh tegapnya, memancarkan kesan berwibawa sekaligus misterius.
Hari ini adalah jadwal pertemuan perdana seluruh murid baru di aula utama sekte. Di sanalah materi pelatihan dasar serta pembagian jatah sumber daya kultivasi bulan pertama akan diumumkan.
Dahu meraih tanda pengenal spiritualnya, menyematkannya di pinggang, lalu membuka pintu kamar.
“Waktunya berangkat,” gumamnya mantap.
Di dalam benaknya, si iblis tertawa kecil. “Mari kita lihat seberapa jauh sandiwara anak muda ini bisa mengguncang sekte.”
Dahu melangkah keluar menembus kabut pagi.
Tujuh hari telah mengubahnya. Dari seorang pemuda desa yang diremehkan, kini ia telah menjelma menjadi kultivator di Ranah Pembukaan Meridian yang menguasai segudang pengetahuan.
Namun di hadapan dunia luar, ia tetap memilih mengenakan topeng sebagai murid luar biasa yang tenang dan tak mencolok.