Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.
Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pintu kamar rawat terdorong terbuka. Rian melangkah masuk. Wajahnya pucat, lingkaran hitam membayang di bawah matanya.
Nadia mengulurkan tangannya yang bergetar ke arah Rian, berharap menemukan tempat bersandar di tengah badai emosi yang menghancurkannya. "Mas... Mas Rian..."
Namun, Rian tidak menyambut uluran tangan itu. Ia menghentikan langkahnya beberapa meter dari ranjang, menatap Nadia dengan tatapan redup yang membingungkan—campuran antara duka, kekecewaan, dan jarak yang tak terjangkau.
"Aku sudah urus semua biaya administrasinya, Nad," ujar Rian dengan suara datar, hampanya teramat sangat. "Dokter bilang kamu harus istirahat total beberapa hari ke depan."
"Mas..." tangis Nadia makin menjadi. "Maafkan aku, Mas... aku tidak jaga anak kita dengan baik..."
Rian tidak mendekat untuk memeluknya. Ia hanya memandangi lantai kamar rumah sakit sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke jendela. "Sudahlah. Yang sudah terjadi, ya terjadi. Aku harus kembali ke kantor. Ada presentasi proyek penting jam dua siang ini."
"Kamu mau pergi sekarang, Mas?" tanya Nadia tak percaya. Di saat ia paling membutuhkan bahu suaminya, Rian justru memilih melangkah mundur.
"Proyek ini tidak bisa ditunda, Nadia. Tim sudah menunggu," jawab Rian dingin. Ia menepuk pundak ibunya pelan. "Ibu, tolong jaga Nadia sebentar. Nanti sore saya minta sopir jemput."
Tanpa pernah mencium kening Nadia, tanpa pernah mendekapnya dan membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, Rian berbalik dan melangkah keluar dari kamar rawat.
Masa Kini...
Nadia mengusip setitik air mata yang menggenang di sudut matanya saat ingatan kelam itu memudar.
Sejak hari itu, Rian tidak pernah lagi membahas tentang calon bayi mereka. Rian mengubur dirinya dalam pekerjaan, menghabiskan waktu hingga larut malam di kantor, dan secara perlahan menarik diri dari kehidupan emosional Nadia. Setiap kali Nadia mencoba mengajak Rian bicara untuk menyembuhkan luka bersama, Rian selalu mengalihkan pembicaraan atau berpura-pura lelah.
Rian melarikan diri, meninggalkan Nadia sendirian menanggung rasa bersalah dan duka yang teramat berat, sembari harus menghadapi cercaan berantai dari Bu Ratna yang tak pernah berhenti menyalahkannya.
Nadia membalikkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Aku melepaskan karir seniku yang baru merintis demi menjadi istri yang berbakti padamu, Mas, batin Nadia pedih. Tapi di saat aku berada di titik terendahku, kamu justru menjadi orang pertama yang meninggalkan aku sendirian dalam kegelapan.
Di sampingnya, ponsel Rian yang tergeletak di atas nakas mendadak menyala tipis. Sebuah notifikasi pesan masuk menerangi sebagian kecil ruangan.
Nadia melirik sekilas ke layar ponsel suaminya. Pesan singkat dari nomor yang tidak tersimpan, namun Nadia sangat mengenali nada bicaranya:
[03:12 AM]
'Rian, terima kasih ya untuk makan malamnya tadi. Maaf kalau aku bikin kamu pulang kemalaman. Kamu jangan terlalu capek kerja ya, ingat kesehatanmu. Sampai ketemu besok di kantor.'
Nadia memejamkan mata rapat-rapat. Rasa nyeri di dadanya kini menjalar begitu dingin.
Nama pengirimnya tidak ada, tapi Nadia tahu betul siapa wanita itu. Maya. Mantan kekasih Rian yang baru seminggu ini kembali muncul sebagai klien utama di perusahaan arsitektur milik Rian.
Cahaya matahari belum terbit, namun Nadia sudah bangun. Ia berjalan ke dapur, menyalakan kompor, dan menyiapkan sarapan. Suara spatula dan penggorengan mulai beradu, aroma nasi goreng sudah menguar mengisi seluruh isi rumah. Setelah selesai masak, ia mulai menata nasi goreng dan telur dadar juga ayam goreng di atas meja. Semua terlihat rapi dan sempurna seperti biasa, meski rasa sakit di hatinya masih terasa hingga pagi ini.
Sebuah langkah kaki terdengar dari arah kamar, Rian muncul dengan rambut sedikit berantakan, matanya masih terlihat lelah. Ia duduk di kursi, menatap hidangan di depannya dan mulai meminum kopi yang sudah di siapkan Nadia.
"Sudah bangun." sapa Nadia dengan dingin.
"Iya, " jawab Rian singkat. "Nadia, soal semalam... "
Belum sempat Rian melanjutkan kalimatnya, terdengar suara Bu Ratna yang baru keluar dari kamar, "Sudah bangun semua? Wah, sarapan juga sudah siap. Rajin sekali kamu, Nadia. Gitu dong, gercep tanpa drama."
Entah itu pujian atau sindiran, Nadia sudah kenyang dengan kalimat-kalimat sentilan seperti itu. Dia hanya tersenyum tipis tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Bu Ratna langsung duduk di kursi utama meja makan, melipat tangannya di atas meja dan menatap menu sarapan pagi ini dengan tatapan yang tidak begitu puas.
"Cuma ini? " tanyanya singkat.
"Iya, bu. Semalam nasi tersisa banyak, karena mas Rian tidak makan. Dan ayam juga masih ada. Jadi aku masak yang ada saja daripada mubadzir. " jawab Nadia tanpa menoleh kearah ibu mertuanya.
Mendengar ucapan Nadia, Rian langsung menoleh ke arahnya dan menatap istrinya itu dengan perasaan bersalah. Mungkin kemarin Nadia sudah memasak banyak makanan untuknya, tapi dia tidak menyentuhnya sama sekali, malah mengatakan padanya agar tidak melakukan hal itu. Jika orang mengatakan dia jahat, memang. Tapi semua itu ia katakan karena emosi sesaat.
"Sudah, bu. Nadia benar. Kita makan apa yang ada saja, daripada mubadzir." ucap Rian membela istrinya.
Mendengar itu, Nadia langsung menatap suaminya tak percaya. Baru kali ini ia mendengar suaminya itu membelanya.
"Cih, Nggak usah membelanya Rian. Nanti dia ngelunjak lagi seperti semalam. " kata Bu Ratna sinis dengan tangan yang mulai menyendok makanan kr mulutnya.
"Bu, apa maksud ibu dengan kata ngelunjak. Aku nggak pernah ngelunjak, Bu. Aku hanya ingin bicara dengan mas Rian dari hati ke hati. Karena selama ini kami tidak pernah bicara." protes Nadia yang sudah menahan kesal sejak semalam.
"Bicara....??" Bu Ratna ingin membalas ucapan Nadia tapi Rian langsung memotong ucapannya.
"Sudahlah, bu. Ini masih pagi, nggak enak kalau tetangga denger, pagi-pagi udah ribut. Nadia mungkin lelah, dan dia ingin berbagi denganku. Tapi semalam posisi aku juga lelah, jadi kami hanya sedikti berdebat." Lagi-lagi Rian berbicara dengan lembut dengan kata-kata seolah membelanya, sesuatu yang jarang ia lakukan.
"Lelah apanya, dia hanya melakukan pekerjaan yang biasa seorang istri dan wanita lain lakukan. Gitu aja sudah ngeluh. Dulu ibu juga pernah muda, pernah menjadi istri, ngurus suami, ngurus rumah. Tidak pernah ngeluh. Gimana kalau kamu punya anak? Harus sepanjang apa kami mendengar keluhanmu itu." ucap Bu Ratna dengan tajam.
Nadia menunduk, bukan karena malu. Tapi karena menahan amarah dan kekesalan yang ia pendam. Semua yang ia lakukan selama ini ternyata tidak pernah di hargai oleh ibu mertuanya dan menganggapnya hal biasa.
Lalu bagaimana dia bisa punya anak, jika tidak ada waktu untuk istirahat atau me time untuk dirinya sendiri dan menjaga kesehatan dirinya!