Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.
Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Restoran Tepi Pantai
...بسم الله الر حمن الر حيم...
...***...
Mata Mahika memandang wajah orang yang sedang mengajaknya mengobrol saat ini, namun satu sisi Mahika juga melirik seorang pria yang duduk tepat di depan pintu restoran dengan tangan yang berpangku pada dadanya.
"Em.. K-Kak.. Perkenalkan saya.. Fian.. " Mengulurkan tangannya pada Mahika yang tengah duduk di sampingnya.
"Ya.. " Tanpa menjabat tangannya Mahika hanya diam dan berpaling kembali.
Fian tampak sedikit kesal, namun ketika melihat wajah temannya yang memberikan isyarat untuk tidak mengganggu Mahika. Fian langsung diam dan kembali tenang, menyeruput teh hangat yang ada di depannya.
"Dan itu.. Bang... "
"FIAN! " panggil pria tersebut yang langsung di tanggapi oleh Fian yang segera menghampiri nya.
Kedua pria tersebut mengobrol dengan sangat serius, tidak diketahui mereka sedang membahas tentang apa tapi mereka sangat serius.
Fian berjalan ke arah meja pemesanan dan berbicara kepada pemilik restoran, lalu pria tersebut menelpon seseorang. Tampaknya mereka ingin menyerahkan Mahika kepada pelayanan sosial.
Mahika berpikir keras bagaimana ia kan keluar dari dalam restoran ini, sedangkan pria tersebut duduk di depan pintu mengawasi dirinya yang kedinginan.
"Bang lu kenapa nyelamatin dia, seharusnya biarin aja di tengah laut sana, biar jadi putri duyung kayak di film-film itu Bang" Cetus Fian mengikuti langkah pria tersebut.
"Bego nya becanda sampe realistis ya Fian" Jawab pria tersebut dengan sinisnya.
"Hehehe, habisnya cantik tapi galak" Sindir Fian sedikit keras pada Mahika.
"Gue dengar " Sahut Mahika dengan tatapan tajam pada Fian yang mengejeknya.
"Kamu gak mau ganti baju?? " Tanya pria tersebut berdiri di depan meja Mahika.
"GAK"
"Kamu udah kedinginan gitu, ini pakek hoodie saya saja " Tawar pria tersebut melihat Mahika yang gemetaran menggigil kedinginan.
Fian hanya diam menatap keduanya, hujan tidak kunjung redah. Sudah hampir 40 menit mereka bertiga bertahan di restoran.
"Bang gimana? Masih nunggu? "
"Sabar Fi"
"Gua ambil mobil aja ya, udah mau malam bang. Perjalanan jauh "
"Tenang aja Fi"
Meletakkan hoodie di atas meja dan mendorongnya ke arah Mahika yang sudah kedinginan "Ini ambil, ganti di belakang sana " Pintanya, lalu di turuti oleh Mahika yang langsung berjalan menuju belakang restauran.
Fian dan pria itu hanya diam melihat Mahika yang berjalan ke arah belakang restauran.
"Bang lu ngasih jaket lu, itu wangi apa bau iler Bang? " Tanya Fian yang sontak membuat sang mpunya hoodie langsung menoyor kepala Fian.
"ADDUH BANGG! " teriak Fian yang kesakitan.
"Makanya kalau ngomong tu dipikir dulu, ya wangilah baru gua ambil dari laundry tadi pagi. Belom gua pakek juga, cuma gua bawa-bawa doang"
"Ya aku kan gak tau Bang. "
Drrrrt drrrt
Sebuah notifikasi pesan muncul di layar ponsel Mahika yang terletak di atas meja, Menampilkan sebuah pesan untuk Mahika.
Pria itu tidak sengaja melihat isi pesan tersebut, ia terdiam dan kembali berbicara pada rekannya. Mahika keluar dengan menggunakan hoodie pria tersebut lalu duduk kembali ke mejanya, Mahika melihat ponselnya dan membaca pesan yang beberapa menit lalu masuk.
Mahika hanya diam tanpa berkata, raut wajahnya berubah menjadi semakin kusam. Pria tersebut hanya memantau Mahika yang diam menatap ponsel yang sedang berada di tangan Mahika.
"Ini mie seafood nya dan ini teh nya "
Ibu pemilik restauran menaruh 2 mangkuk di atas meja dan 2 gelas teh hangat, pria itu melirik ke arah Mahika yang hanya diam membuang muka dari arah mereka duduk.
"Bang, apalagi makan lah. Lu bilang lu lapar" Fian yang sudah menyantap mie panas di tengah hujan deras.
Pria itu duduk di depan Mahika dan menaruh mangkuk serta gelas teh di depan Mahika, mendorong mangkuk mie seafood yang di depannya sedikit lebih dekat ke arah Mahika.
"Makan"
Lalu kembali ke tempat duduknya.
"Waah teknik nih ya" Sindir Fian yang takjub dengan taktikal halus rekannya itu.
"Gak."
"Jadi? "
"Gak ada tujuan apa-apa cuma mau ngasih aja. Sudah makan saja apa yang ada di depanmu. Jangan ribut. Gua bayarin nanti"
"Oke kalau begitu, gak usah nanggung. Mesan lagi aja gua"
"Tolong,kalau di traktir tau diri. Jangan sampai lo gak punya otak ya Fian"
Fian hanya tertawa mendengar ucapan dari temannya itu dan kembali menikmati makanannya.
Mahika tak berkutik dan memilih untuk membaringkan kepalanya di atas meja, menenggelamkan wajahnya dalam pangkuan tangannya.
"Hari ini tetap berat, aku lelah... " ujar benak Mahika yang mulai tenggelam di bawah alam sadar.
Mahika hanyut kedalam alam mimpi, ia memilih untuk tidur mengumpulkan sedikit energi untuk nya agar bisa pulang ke rumah yang belum tentu rumah baginya.
Hujan semakin deras, menenangkan hati dan jiwa Mahika yang saat ini hancur. Cuma satu yang diinginkan Mahika adalah perasaan kebahagiaan yang dimana hanya Ia dapat dari seorang kakek dan neneknya. Namun 4 tahun lalu, semua kebahagiaan Mahika hilang lenyap begitu saja di iringi dengan sindiran keras dari keluarganya sendiri. Mahika tenggelam ke dalam kegelapan yang amat dalam, menjadikannya seorang yang dulu ceria menjadi seorang yang pendiam dan lebih banyak mengurung diri.
Suasana di luar restauran sudah mulai gelap, hujan juga sudah mulai redah. Beberapa orang kembali keluar dari dalam rumah untuk duduk santai di tembok pembatas tepi pantai, suara deru ombak terdengar merdu kali ini.
Jarum jam di tangan pria itu menunjukkan pukul 19.11,lampu-lampu jalanan dan restauran sudah hidup menerangi jalan tepi pantai ini.
"Lo ambil mobil sana" Perintah pria itu pada Fian yang duduk melihat ke luar jendela.
"Siap." Memberi hormat layaknya anggota pada atasannya.
Pria itu duduk di depan Mahika, menarik mangkuk di depan Mahika dan memakannya diam-diam tanpa membuat keributan yang akan membangunkan Mahika.
Ia menyantap mie seafood yang sudah mengembang dan sudah dingin pastinya, dalam sekejap ia menghabiskan mie di dalam mangkuk serta tehnya juga.
Kembali melirik jam tangannya, pria itu mau tidak mau harus membangunkan Mahika. Ia tidak mungkin meninggalkan Mahika sendirian disini, terlebih lagi pesan yang tak sengaja dibacanya di ponsel Mahika tadi.
Drrrrtt drrrrrtt
Kembali sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Mahika, dari orang yang sama.
Melirik ke arah ponsel Mahika, pria tersebut membacanya kembali.
Ibu
Kalau tdk mau ngrim lgi gak ush, dsar anak sok kaya. Durhaka, bru bgitu sja kmu sdah smbong.
Tdk usah kmu injakkan kaki drmh ini lgi, kluar dri rmh ini.......
Pria tersebut memandangi Mahika sejenak tanpa suara, melirik Mahika yang tidur dengan nyaman di tempat seperti ini. Bukan dirumah yang membuat nya nyaman tapi di luar dengan keadaan yang berantakan.
"Bagaimana kehidupannya? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia terluka? " Benak pria tersebut memandangi Mahika yang masih tertidur.
10 menit kemudian Fian kembali dengan membawa mobil, tepat di depan restauran mobil telah terparkir rapih.
"Bang-" Panggil Fian yang membuka pintu restauran, mengisyaratkan bahwa mobil sudah siap.
"Permisi-" Panggil pria itu pada Mahika dengan suara lembut tanpa membuat Mahika terganggu.
Avisaa sayang..
Avisa sayang..
Avisa sayang..
"Kakek!! " Mahika yang terbangun tiba-tiba terkejut di depannya ada pria tersebut, begitu pula pria tersebut memandangi Mahika yang sangat penuh dengan keringat dingin.
"Kamu gak papa?? Minum dulu" Pria tersebut langsung membuka kan tutup botol air minum yang ada di tangannya.
Membiarkan Mahika tenang terlebih dahulu, mata pria tersebut sangat lekat melihat Mahika yang diam menyadarkan dirinya.
"Sudah tenang? "
Mahika hanya menganggukkan kepalanya, melihat ke arah keluar jendela. Ternyata hari sudah gelap, namun ia tak ingin pulang.
"Rumah kamu dimana? Biar saya antar"
Mahika hanya menggelengkan kepalanya, ia tersenyum pada pria itu.
"Aku bisa sendiri, aku butuh waktu sendiri" Lalu Mahika pergi meninggalkan restauran tanpa berkata apapun lagi.
Pria itu melihat Mahika dengan tatapan berbeda dari sebelumnya, dengan tatapan sendu melihat Mahika pergi berjalan kaki sendirian.
"Ya Allah jaga dia, jangan biarkan Ia terluka sampai saya menemukannya kembali. Buat dia terlihat semakin membaik dari hari ini, pertemukan kami kembali nanti di waktu yang tepat " ucap pria itu menatap Mahika yang terus berjalan menjauh.