NovelToon NovelToon
Singgah Yang Tertukar

Singgah Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:818
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
​Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Hampir satu jam berlalu dalam ketenangan. Suasana hangat di dalam ruang VIP itu mendadak pecah saat Elena tiba-tiba meletakkan garpunya, memegang dadanya yang bergolak, dan berlari panik menuju toilet.

Melihat hal itu, Julian langsung menyingkirkan laptopnya. Rasa panik membakar dadanya.

Ia menyusul cepat dan menunggu di luar pintu toilet dengan cemas, mendengarkan suara Elena yang mual dan muntah-muntah di dalam.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Elena melangkah keluar dengan wajah pucat pasi dan bibir yang kehilangan warna. Julian dengan sigap menahan tubuh rapuh sahabatnya itu, merengkuh pinggang Elena agar tidak jatuh.

"El! Kamu kenapa? Apa yang sakit?" tanya Julian, suaranya sarat akan kekhawatiran yang tak mampu disembunyikan.

"Perutku... mual banget, Jules," bisik Elena lirih, suaranya parau. "Asam lambungku naik... kayaknya karena saus asam pedas di makanan tadi."

Rasa bersalah langsung menghantam Julian.

Ia mengutuk dirinya sendiri karena kurang ceroboh dalam memilihkan menu. Melihat kondisi Elena yang sudah teramat lemas dan memegang perutnya yang melilit, Julian tahu Elena tidak akan sanggup diajak jalan-jalan atau sekadar bertahan duduk di kafe lebih lama.

Tanpa berpikir panjang, Julian teringat ada sebuah hotel bintang empat yang jaraknya hanya terpaut beberapa ratus meter dari kafe ini.

"Kita ke hotel depan ya, El. Kamu butuh rebahan sekarang," tegas Julian.

Elena yang sudah tak memiliki tenaga untuk berdebat hanya bisa mengangguk pasrah. Julian memapahnya dengan sangat hati-hati menuju mobil, lalu meluncur cepat menuju hotel tersebut.

Proses administrasi check-in di lobi hotel diselesaikan Julian dengan sigap. Ia memapah Elena masuk ke dalam kamar yang luas dan sejuk, membantu wanita itu berbaring di atas kasur empuk, lalu menyelimutinya hingga sebatas dada.

"Aku meresepkan obat asam lambung kamu lewat Halodoc sekarang ya, langsung dikirim ke sini," ujar Julian sambil jemarinya lincah mengoperasikan ponsel.

"Terus, aku mau pamit sebentar buat lanjutin meeting dan kerjaan di bawah atau di kafe tadi. Nanti begitu obatnya sampai, orang hotel yang antar ke kamar."

Julian menunduk, mengelus dahi Elena yang sedikit dingin dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Istirahat ya, El. Jangan mikir macam-macam dulu."

Setelah mengantar Elena berbaring dan memastikannya nyaman, Julian bergegas keluar untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya. Di dalam kamar hotel yang tenang dan sejuk, Elena memejamkan mata, membiarkan tubuhnya yang lemas beristirahat di balik selimut tebal.

Tak butuh waktu lama, bel pintu kamar berbunyi pelan. Petugas hotel mengantarkan kantong berisi obat-obatan asam lambung beserta segelas air hangat yang dipesankan Julian melalui aplikasi Halodoc.

Dengan sisa tenaganya, Elena meminum obat tersebut, lalu kembali membaringkan diri hingga akhirnya tertidur pulas.

Hampir dua jam berlalu. Pintu kamar berbunyi pelan saat sensor kartu akses menempel. Julian melangkah masuk dengan sangat berhati-hati, tak ingin menimbulkan suara sekecil apa pun. Ia meletakkan tas ransel dan laptopnya di atas meja, lalu berjalan mendekati tempat tidur.

Melihat Elena yang tertidur lelap dengan napas yang mulai teratur, raut cemas di wajah Julian perlahan melunak. Warna di wajah Elena sudah mulai kembali, tak sepucat tadi saat di kafe. Julian berlutut pelan di samping kasur, menatap wajah anggun sahabatnya dari dekat. Tangannya terulur, menyibak beberapa helai rambut yang menutupi kening Elena dengan gerakan paling lembut.

Rasa bersalah dan kasih sayang berkecamuk di dada Julian. Pria itu menyandarkan dagunya di tepi kasur, terus mengawasi Elena yang terlelap sampai perlahan netra cantik milik Elena bergerak pelan dan terbuka.

Elena menyesuaikan pandangannya dengan temaram lampu kamar. Hal pertama yang ia lihat adalah mata cokelat Julian yang menatapnya penuh kehangatan dari jarak begitu dekat.

"Jules..." suara Elena terdengar serak khas orang baru bangun tidur.

"Hey," panggil Julian lembut, senyum tipis terukir di bibirnya. Tangannya kembali mengusap pipi Elena yang hangat.

"Gimana perutnya? Masih mual atau sudah mendingan?"

Elena merasakan obat yang diminumnya tadi sudah bekerja. "Udah jauh mendingan, Jules. Nggak semual tadi lagi."

"Syukurlah..." Julian bernapas lega. Ia mengecup kening Elena singkat, lalu mengusap puncak kepalanya.

"Maaf ya, El. Gara-gara aku salah pilih menu, kamu jadi begini."

Elena menggeleng pelan, meraih tangan Julian yang berada di pipinya dan menggenggamnya erat.

"Bukan salah kamu, Jules. Kamu kan nggak tahu. Makasih ya, udah ngurusin aku sampai segitunya."

Julian tersenyum, lalu berbisik pelan, "Kamu itu prioritas aku, El. Selalu."

1
Aurora odelyn Nakeisha
alurnya agak berat tapi bikin penasaran
Anandaaa
lanjutin torr gas
Langi Wijaya
ceritanya seru agak bikin tensi naik turun.....
ayo tor lanjutin update nya
Langi Wijaya
julian cowo bingung tapi clear agak out of the box pemikirannya😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!