NovelToon NovelToon
PEREMPUAN PEREMPUAN MILIK CEO

PEREMPUAN PEREMPUAN MILIK CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: EmeLBy

Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
‎
‎Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
‎
‎Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
‎
‎Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
‎
‎Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
‎
‎Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
‎Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
‎Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
‎
‎Karena menjadi CEO itu mudah.
‎Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
‎
‎Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
‎
‎

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 : DIA LEBIH PENTING

Seketika Angkasa dilema.

Di depannya, Bintang yang baru saja dibelanya habis-habisan dari Ibu Ratna, kini memeluk selimut dengan mata berkaca-kaca. Di tangannya, HP masih menyala. Chat dari kontak bernama UMI itu belum dibalas.

Umi. Begitu Angkasa memanggilnya. Nama aslinya Bumi. Janda muda yang dititipkan Surya, kakaknya, sebelum pindah ke luar negeri dua tahun lalu. Suami Bumi meninggal karena kanker otak, meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Damar. Surya berpesan, "Titip Bumi dan Damar, Sa. Jangan sampai mereka kesepian."

"Balas aja," izin Bintang pelan, lalu berjalan menuju kamar mandi. Suaranya datar, tapi Angkasa tahu itu suara menahan sesak. Ia sengaja membersihkan diri dan mengganti daster longgar, agar tidurnya nyaman. Atau agar tidak melihat kepergian suaminya nanti.

Angkasa hanya membalas satu kata: "Gimana?"

Balasan Bumi masuk cepat: "Maaf ganggu Langit.  Damar demam tinggi."

Angkasa tidak membalas lagi. Ia membiarkan layar HP menyala, tidak dikunci, sebagai bentuk kejujuran pada Bintang. Kemudian ia ikut membersihkan diri.

Belum sempat Angkasa menjelaskan apa pun, Bintang sudah bersuara dari balik selimut.

‎"Pergi saja. Dia lebih penting, kan?" katanya tanpa menoleh. Punggungnya membelakangi pintu.

"Bukan karena dia lebih penting, Tang. Hanya keadaannya genting. Damar demam," bela Angkasa.

"Apapun itu. Selamat malam," jawab Bintang, menarik selimut hingga ke bahu. Ia tidak mau melihat Angkasa meninggalkannya lagi malam itu. Lagi-lagi ia harus berbagi.

Pagi datang, matahari bersinar cerah, tapi tidak dengan suasana hati Bintang.

Rasa kesalnya pada mertua belum reda, ditambah semalam Angkasa benar-benar pergi setelah mendapat chat itu. Bintang memang memberi izin, tapi tidak seikhlas itu. Ia hanya pandai menahan diri, seperti tiga tahun terakhir.

‎‎Di kantor, jam delapan pagi.

"Pagi, Bu Bintang. Izin pagi ini mau minum apa?" Suara itu. Mentari. Gadis kecil yang kemarin hampir ditabrak Bintang di depan ruang CEO

‎"Gak usah. Saya bawa tumbler," jawab Bintang singkat.

"Baik," senyum Mentari tersemat manis dan lama. Senyum tulus yang membuat Bintang sedikit bersalah karena sudah judes.

Mentari lalu mengetuk pintu ruangan CEO.

‎"Permisi," sapanya sopan, lalu buru-buru mendekati meja Angkasa dengan nampan kecil. "Kak Ang... eh, Pak. Mau Mentari bawakan cemilan? Kopi pahit kesukaan Bapak sudah aku siapkan."

"Tidak usah, saya sudah sarapan," jawab Angkasa tanpa menatap Mentari. Matanya masih terpaku pada laptop, memikirkan Damar yang semalam demam.

‎Interaksi itu dapat Bintang lihat jelas karena pintu sengaja tidak ditutup Mentari.

"Baik. Permisi," pamit Mentari sopan, sedikit kecewa.

Bintang yang sejak kemarin baru memperhatikan, akhirnya bertanya, "Mentari, kamu magang di sini sebagai apa sih?"

"Ya... apa aja, Bu," jawabnya spontan polos.

‎"Maksud saya, bidang kamu di mana?" ulang Bintang lebih jelas.

"Saya di bidang Sekretariat, Bu. Hanya, Ibu sosok sekretaris yang sangat sempurna, jadi saya tidak tahu harus mengerjakan apa selain meng-copy berkas kalau Ibu suruh," jawabnya jujur, menunduk.

Bintang terdiam. Ada benarnya juga. Selama ini ia memang terbiasa bekerja sendiri. Terlalu mandiri, sampai mertuanya bilang rahimnya stres.

‎"Oh, maaf. Mulai besok, saya gak mau lagi lihat kamu mondar-mandir bawa nampan ke ruangan mana pun. Bahkan ke meja saya. Tugas kamu ngurus berkas, merapikan jadwal, mengingatkan atasan. Kalau nyiapin kopi, teh, atau cemilan itu tugas OB aja," tegas Bintang, tapi dengan nada mendidik. Ia ingin mengurangi beban kerjanya. Siapa tahu mertuanya benar.

"Iya, baik Bu. Saya mengerti," angguk Mentari sopan, matanya berbinar karena akhirnya diberi pekerjaan serius.

Sementara Bintang dan Mentari sibuk dengan laptop masing-masing, Angkasa tiba-tiba lewat tanpa permisi. Buru-buru sekali, jasnya tergantung di lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya terlihat memegang HP yang menempel di telinga.

"Iya, 30 menit lagi aku tiba di Bandara. Tunggu aku datang, keep calm. Ok?"

Hanya kalimat itu yang sempat di dengar oleh Bintang dan Mentari. Keduanya saling pandang. Guratan dahi mereka seolah bertanya. Siapa yang ada di bandara?

Dalam pikiran Bintang, ini jelas bukan si Umi, Umi itu kan. Tetapi siapa?

‎

1
Eka Burjo
terimakasih update nya Nyak, oke lanjut 👍
Eka Burjo
setuju' eh🤭
@alfaton🤴
ini baru mentari Tang .....masih ada lagi rintangan mu......jingga......asistenmu..... kepercayaan mu......tempat curhat mu.......siapa yang akan membuka tabir jingga pada bintang...... Sigit kah......Heru kah ..... mentari kah.....bumi.....atau kamu sendiri angkasa......yang sabar ya Tang punya siau macem angkasa bahagia kah.....
@alfaton🤴
good bik Asih......biar bintang juga tau......jangan kayak angkasa ceritanya sepotong sepotong kayak es potong kan jadi ga jelas akhirnya salah paham kan😅😅😅😅
@alfaton🤴
kasih pelajaran buat tari biar bisa membedakan mana yang baik benar dan tidak.......yang halal dan tidak....biar bisa menghormati dan menghargai kebaikan orang lain tau batasan 😭😭😭
@alfaton🤴
jadi pingin nonjok angkasa AQ😠😠
Eka Burjo
Ok lanjut
bunda n3
panik ga tuh angkasa? 😄
bunda n3
yaudah pergi yg jauh aj lah mentari
Eka Burjo
tiada maaf bagimu Mentari 😂🤭
Eka Burjo
senengnya lihat Angkasa panik gitu😂🤭
Eka Burjo
hayo Nyak tanggung jawab, rider marah tuh, akupun mau marah tapi mau ketawa juga, lihat Angkasa panik😂😂😂😂🤭
bunda n3
Bintang kamu jangan nekat dong, mending tinggalin aja tuh angkasa raya daripada kamu nyakitin diri sendiri
Aryati Ningsih
rasain luh Angkasa ..makanya jgn sok jd pahlawan untuk wanita lain ..kayak masih PERJAKA aja ..semua wanita di tolong 🤭
bunda n3
kebiasaan nih angkasa, ngilang mulu
bunda n3
lagian ya angkasa nih, duh koq gemes banget sih
Eka Burjo
😲 kira kira seperti ini ya ekspresi Mentari 😂🤭
Aryati Ningsih
sudah kayak gitu ..masih gak mau jujur soal Jingga? mau mu apa Angkasa 🤣
Eka Burjo
oke lanjut, no coment sy😁😁🤭
Anis Sholichah
Ah ga asik , ga seru.
seharusnya bukan dengan mentari bintang hancur .
Tp seharusnya dengan jingga bintang hancurnya.
kan dr awal perempuan yg angkasa perhatikan itu lebih ke jingga.
angkasa menyambut jingga pulang dr bandara , ngasih apartemen, sering peduli ke jingga sampe main ke apartemen ,nolong ke Semarang dan nyewain pengacara dll.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!