NovelToon NovelToon
Penguasa Danau Keabadian

Penguasa Danau Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.

Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!

Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.

Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Iblis yang Kehilangan Segalanya

​“Tidak mungkin! Berhenti menyerap kekuatanku!”

​Raungan mengerikan mengguncang dasar Danau Pengabul Keinginan.

​Di atas altar, tubuh Wang Dahu terbaring tanpa kesadaran. Kedua matanya tertutup rapat, sementara energi hitam mengalir deras memasuki tubuhnya melalui setiap pori-pori kulit.

​Di hadapannya, bayangan raksasa yang terkurung di balik rantai kuno meronta liar.

​Makhluk itu telah hidup selama ribuan tahun. Ia pernah menghadapi kultivator yang mampu menghancurkan gunung dengan satu serangan, membuat kota-kota bertekuk lutut, hingga bertarung melawan keberadaan yang namanya telah dihapus dari sejarah.

​Namun saat ini, ia justru dibuat ketakutan setengah mati oleh seorang pemuda gemuk yang bahkan tidak mampu merasakan energi spiritual.

​“Bagaimana mungkin tubuh manusia biasa bisa menyerap kekuatanku?!”

​Iblis kuno itu mengangkat kedua tangannya dan merapal mantra. Simbol-simbol merah menyala di sekeliling altar, berusaha menahan aliran energi yang terkuras dari tubuhnya.

​Namun, usahanya sia-sia.

​Semakin keras ia melawan, semakin cepat kekuatannya tersedot ke dalam raga Wang Dahu.

​Api hitam yang selama ribuan tahun menyelimuti tubuhnya mulai menciut. Bayangan raksasanya perlahan memudar, memperlihatkan wujud yang kian samar di balik ikatan rantai.

​Iblis itu akhirnya menyadari satu kebenaran yang mengerikan.

​Bukan Dahu yang sedang merampas kekuatannya secara sengaja.

​Melainkan tubuh pemuda itu sendiri yang bertindak sebagai penyedot otomatis!

​Seolah-olah raga Dahu adalah sebuah jurang tanpa dasar, yang telah menanti selama ribuan tahun untuk menelan segala daya di alam semesta.

​“Berhenti! Aku memerintahkanmu berhenti!”

​Tak ada jawaban.

​Wang Dahu tetap tertidur lelap tanpa sadar.

​Pada detik berikutnya, rantai-rantai kuno yang mengurung sang iblis mulai bergerak. Awalnya hanya bergetar, lalu perlahan terlepas dari tubuhnya.

​Iblis itu sempat mengira segelnya telah melemah.

​Namun, saat ia bersiap merayap keluar, rantai-rantai itu justru melesat menjauhinya.

​Semuanya meluncur ke arah Wang Dahu!

​“Apa yang kalian lakukan?!”

​Rantai pertama melilit pergelangan tangan pemuda itu.

​Rantai kedua membelit kakinya.

​Rantai ketiga melingkari lehernya, tapi tak sampai mencekik.

​Dalam sekejap mata, puluhan rantai kuno telah membungkus tubuh Wang Dahu. Simbol-simbol misterius berpendar di permukaannya, memancarkan cahaya keemasan yang belum pernah disaksikan sang iblis seumur hidupnya.

​Iblis kuno itu terpaku.

​Detik berikutnya, ekspresinya berubah pucat pasi.

​“Jangan bilang segel itu memilihnya sebagai wadah pengganti?!”

​Sebelum ia sempat berbuat apa-apa, sisa aliran energi terakhir menyembur keluar dari tubuhnya.

​Cahaya hitam melesat menembus udara dan menghantam dada Wang Dahu telak.

​BOOM!

​Seluruh altar bergetar hebat.

​Permukaan danau di atas mereka berputar membentuk pusaran raksasa. Air yang tadinya tenang melonjak naik, memperlihatkan dasar danau yang dipenuhi retakan bercahaya.

​Lalu... semuanya terhenti.

​Hening.

​Tiada lagi energi hitam. Tiada lagi api iblis. Bahkan tekanan mencekam yang tadi menyesakkan dada telah lenyap tak bersisa.

​Iblis kuno itu berdiri membeku di tempatnya.

​Ia mencoba menggerakkan tangannya, tetapi bayangannya hanya bergetar lemah.

​Ia mencoba memanggil api hitam kebanggaannya.

​Nihil.

​Ia mencoba menarik secuil energi spiritual.

​Tetap tidak ada reaksi apa pun.

​Seluruh kekuatannya telah musnah.

​Bukan sekadar melemah, melainkan benar-benar tercabut dari kendalinya.

​“Tidak...” suara iblis itu terdengar gemetar, nyaris seperti bisikan putus asa. “Tidak mungkin...”

​Ia menatap Wang Dahu yang masih tak sadarkan diri di atas altar.

​Pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kebangkitan agung. Wajahnya pucat, bajunya basah kuyup, dan napasnya begitu lemah hingga nyaris tak terdengar.

​Namun di dalam lubuk raganya, seluruh kekuatan yang tadinya milik sang iblis kini tersimpan dalam kondisi terkunci rapat.

​Iblis itu menggertakkan giginya hingga berderak.

​“Manusia bodoh! Makhluk apa sebenarnya yang bersemayam di dalam tubuhmu?!”

​Tiba-tiba, ruang di sekelilingnya mulai runtuh.

​Air danau melenyap. Altar batu menghilang. Rantai-rantai pelindung turut sirna dari pandangan.

​Kegelapan pekat menelan segalanya.

​Iblis itu meronta hendak kabur, tapi raganya lumpuh. Sebuah gaya gravitasi tak kasat mata menyeret kesadarannya menjauh dari dasar danau.

​“Lepaskan aku! Sialan!”

​Raungannya menggema hampa di ruang hampa.

​Sesaat kemudian, ia terhempas ke dalam sebuah dimensi asing.

​Di hadapannya berdiri sebuah gerbang raksasa berwarna hitam pekat. Permukaannya dihiasi simbol-simbol kuno, sementara rantai emas melilit erat di setiap sudutnya.

​Iblis itu langsung mengenali aura segel tersebut.

​Dan justru karena itulah, bulu kuduknya merinding ngeri.

​“Segel macam apa ini...?”

​Ia mencobanya mengangkat tangan untuk menyalurkan sedikit tenaga.

​Tetap kosong.

​Ia bahkan tak sanggup mengumpulkan cukup energi untuk sekadar meninju gerbang itu.

​Kesadarannya kini terkurung di balik penjara absolut yang sama sekali di luar nalarnya.

​Ia memang masih hidup. Masih bisa berpikir. Masih bisa mengumpat.

​Namun seluruh kekuatan yang diagungkannya selama ribuan tahun telah dirampas habis.

​Iblis kuno itu mengepalkan tinjunya erat-erat, matanya menyala penuh dendam.

​“Wang Dahu...”

​Nama itu mendesis kejam dari balik giginya yang bergemeletuk.

​“Aku bersumpah akan membuatmu menyesal dilahirkan ke dunia ini!”

​Di atas altar batu, jemari Wang Dahu bergerak pelan.

​Beberapa detik kemudian, ia mengerjap membuka mata.

​“Ugh...”

​Kepalanya terasa pening luar biasa. Sekujur tulangnya ngilu, seolah ia baru saja digilas kereta kuda.

​Ia mengucek matanya, lalu mendapati dirinya masih terbaring di dasar danau.

​Tapi, ada yang aneh.

​Rantai-rantai yang tadi mengikatnya lenyap. Batu hitam di hadapannya pun sudah padam tanpa sisa.

​Dahu bangkit perlahan, meraba-raba badannya sendiri.

​Tangan utuh. Kaki utuh. Tidak ada luka mengerikan seperti bayangannya.

​“Aku... masih hidup?”

​Ia menepuk pipinya sendiri dengan pelan.

​Plak!

​“Aduh! Sakit!” Dahu buru-buru mengelus pipinya. “Baguslah, berarti aku belum jadi hantu. Kalau mati, bagaimana nasib Ayah di rumah?”

​Begitu wajah sang ayah terlintas di kepalanya, ia tersentak.

​Entah berapa lama ia pingsan di tempat terlarang ini. Jika ayahnya tahu ia nekat kemari, orang tua itu pasti akan sangat cemas.

​Dahu menghela napas panjang. “Aku harus segera pulang.”

​Baru saja ia hendak melangkah, sebuah suara menggelegar meledak langsung di dalam tempurung kepalanya!

​“PULANG KEPALAMU!”

​Dahu terkejut setengah mati sampai nyaris terpeleset dari altar.

​“Siapa itu?!”

​“Siapa lagi kalau bukan aku, dasar manusia gemuk bodoh!”

​Dahu menoleh ke kiri dan kanan dengan panik. Kosong.

​Ia bahkan sempat melongok ke kolong altar. “Keluar! Jangan main-main!”

​“Aku di dalam kepalamu, bodoh!”

​Dahu membeku. Wajahnya seketika sepucat kertas.

​“Jangan bilang... kau hantu penunggu danau?”

​“AKU ADALAH IBLIS KUNO YANG PERNAH MENGGUNCANG SEMBILAN WILAYAH! BERANI-BERANINYA KAU MENYAMAKANKU DENGAN HANTU LOKAL?!”

​Dahu menelan ludah susah payah.

​Suara itu memang mirip dengan pemilik suara di awal tadi. Tapi kalau iblis itu ada di kepalanya, bukankah artinya ia sekarang sedang kerasukan?

​Dahu panik, buru-buru memukul kepalanya sendiri beberapa kali.

​“Pergi! Keluar dari kepalaku!”

​“BERHENTI MEMUKUL KEPALAMU! KAU MAU BIKIN KITA BERDUA MIMISAN, HAH?!”

​Dahu sontak menghentikan tangannya. Ia terdiam cengo.

​Setelah menarik napas untuk menenangkan diri, ia bertanya hati-hati, “Jadi... kau benar-benar bersarang di tubuhku?”

​“Sayangnya, ya.”

​Iblis itu mendesiskan dua kata terakhir dengan kebencian yang begitu pekat hingga Dahu bisa merinding mendengarnya.

​“Lalu... bagaimana dengan kekuatan hebat yang kau janjikan tadi?”

​Hening.

​Dahu mengerutkan kening. “Katamu mau memberiku kekuatan luar biasa?”

​“Aku tidak tahu!”

​Jawaban itu kontan membuat Dahu tertegun. “Kau tidak tahu?”

​“JANGAN MEMBUATKU MENGULANGI KATA-KATAKU!” Iblis itu menggeram frustrasi di alam bawah sadar.

​Dirinya sendiri bahkan masih syok mengapa kekuatannya lenyap dan kesadarannya malah terperangkap di dalam raga pemuda sipil ini. Satu-satunya hal yang pasti, ia kehilangan total akses ke daya tempurnya, bahkan tak bisa mengambil alih tubuh Dahu.

​Dahu menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. “Kalau begitu, apakah sekarang aku sudah bisa berkultivasi?”

​Iblis itu terdiam cukup lama. Ia mencoba memindai jalur meridian Dahu lewat ikatan jiwa mereka, tapi hasilnya justru membuat kepalanya mau pecah.

​Energi yang terserap memang ada di dalam tubuh Dahu, tetapi mengendap di tempat tersembunyi yang sama sekali tidak bisa disentuhnya.

​“Untuk saat ini... tidak bisa,” jawab iblis itu ketus.

​Dahu mendesah kecewa. Ia sudah bertaruh nyawa turun ke danau seram ini, tapi hasilnya ia tetap saja manusia biasa?

​Meski begitu, ia tidak patah arang. “Kalau begitu, ajari aku cara berkultivasi.”

​“Apa kau bilang?”

​“Ajari aku.”

​Iblis itu nyaris meledak karena darah tingginya naik. “KAU PIKIR AKU INI GURUMU, HAH?!”

​Dahu mengangkat kedua bahunya santai. “Bukankah kau sudah numpang di tubuhku? Kau pasti tahu banyak hal tentang dunia kultivasi.”

​“Aku tidak mau mengajarimu!”

​“Baiklah kalau begitu.”

​Dahu mengangguk acuh tak acuh, lalu berbalik melangkah menaiki undakan tangga batu menuju permukaan danau.

​Iblis di dalam kepalanya seketika terperanjat.

​Ia tadinya mengira Dahu akan memohon, menangis, atau mengancamnya agar mau berbagi ilmu. Tapi pemuda itu justru menerima penolakannya semudah membalikkan telapak tangan.

​Beberapa langkah berjalan, Dahu berhenti dan berucap pelan, “Oh ya... karena kau tidak mau membantuku keluar, sepertinya kita bakal jadi rekan satu tubuh untuk waktu yang sangat lama.”

​Iblis itu merasakan firasat buruk yang teramat kuat. “Apa maksudmu?”

​Dahu tersenyum kecil. “Aku tidak tahu cara mengusirmu. Kau juga tidak bisa keluar sendiri, kan?”

​Tiada jawaban dari dalam kepalanya.

​Senyum Dahu makin lebar. “Kalau begitu, anggap saja kita sekarang teman sekamar.”

​“SIAPA YANG SUDI JADI TEMAN SEKAMARMU, KEParat?!”

​Tawa kecil Dahu bergema memecah sunyi lorong bawah danau.

​Untuk pertama kalinya dalam hidup, setelah bertahun-tahun menelan ludah kepahitan dan hinaan, ia merasa bebannya sedikit terangkat.

​Ia memang belum tahu apa arti kekuatan yang bersemayam di dalam raganya. Ia juga belum tahu apakah nasibnya akan langsung berubah besok pagi.

​Namun satu hal yang pasti: ia tidak lagi merasa sendirian menghadapi dunia yang kejam ini.

​Tentu saja, Dahu tidak tahu bahwa makhluk yang mendiami kepalanya itu sedang sibuk merencanakan ribuan cara paling sadis untuk melarikan diri. Dan ia juga belum menyadari bahwa kekuatan yang ia telan jauh lebih mengerikan daripada yang dibayangkan si iblis kuno sekalipun.

​Ketika Dahu akhirnya berhasil memanjat naik ke bibir tebing danau, ufuk timur mulai memamerkan semburat jingga keemasan.

​Fajar telah tiba.

​Ia menoleh sekali lagi ke arah danau yang kini kembali tenang berkaca-kaca.

​Aku akan segera kembali, Ayah.

​Dahu mengepalkan tangannya kuat-kuat.

​Kali ini, aku pasti akan mengubah nasib kita berdua.

​Jauh di dalam kesadarannya, si iblis kuno tertawa sinis penuh nista.

​“Bermimpilah sesukamu, manusia bodoh... Kau bahkan belum tahu bencana apa yang sedang kau bawa di dalam raga itu.”

​Dahu tak menggubrisnya. Ia melangkahkan kaki mantap kembali ke Desa Cangmu, tanpa menyadari bahwa malam itu telah menorehkan awal dari badai besar yang akan mengguncang seluruh daratan.

1
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjuttt
Muhamad U Fadillah Udwm: jangan sampe tengah jalan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!