Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Terpikirkan
Anak-anak sudah tidur. Tiga anak tertua berjejal di kasur kapuk yang sudah usang spreinya, sementara sang bayi berada di atas kasur busa bersama kedua orang tuanya.
Hanya Hanis dan Rino yang masih terjaga di sisi kasur yang lain. Berbagi selembar selimut tipis yang melindungi tubuh mereka dari nyamuk.
Rino, yang sejak tadi berbaring menatap langit-langit dengan tatapan kosong, perlahan memiringkan tubuhnya menghadap sang istri. Tangannya yang kasar, dipenuhi kapalan bekas bekerja sebagai kuli toko bahan bangunan, terulur ragu-ragu menelusuri bahu Hanis.
Sentuhan yang awalnya lembut dan penuh kasih sayang perlahan berubah menjadi semakin intens. Turun ke pinggang. Tubuh Rino maju semakin menempel pada tubuh Hanis.
“Han… Udah bersih kamu?” tanya Rino setengah berbisik.
Hanis terdiam selama beberapa saat. Pertanyaan ini, pertanyaan yang paling ia takutkan. Bukan karena nifasnya belum selesai, Hanis sudah sepenuhnya bersih sejak beberapa hari lalu. Hanya saja ia takut Rino meminta jatah.
“Han…,” tagih Rino.
“Sudah, Mas. Baru berapa hari lalu,” jawab Hanis akhirnya.
Rino tersenyum lebar. “Kok nggak bilang sih? Tapi nggak apa-apa. Yuk, mumpung anak-anak lagi pada tidur.”
Napas Hanis tercekat ketika Rino memeluk tubuhnya, mulai menciumi lehernya dan bahkan menghisapnya. Membuat tanda kepemilikan.
“Mas, jangan dulu,” cegah Hanis ketika tangan Rino sudah bergerak hendak melepaskan daster yang ia kenakan.
“Lho, kenapa?” tanya Rino dengan dahi berkerut.
“Aku belum KB. Besok aja, Sabtu ini jadwalnya ke Puskesmas.”
“Aku janji hati-hati, Han. Aku janji. Aku buang di luar. Bentar aja yuk,” rayu Rino di telinga Hanis. Wajahnya kemudian ia benamkan diri di perpotongan leher Hanis, menciumi kulit istrinya dengan rakus.
“Ah, Mas… Mas selalu bilang mau buang luar, tapi nyatanya… Empat anak, Mas.”
“Ssst… Beneran, Han. Kali ini nggak akan jadi lagi.”
Hanis membuang napas kasar. Janji itu palsu, Hanis tahu. Selalu begitu. Tapi bodohnya, Hanis selalu tertipu.
“Boleh ya, Han?”
“Ya udah. Beneran di luar ya. Awas aja sampai jadi anak kelima!”
Satu demi satu kain pakaian mulai terlepas. Dilempar asal ke pinggiran kasur. Rino mengungkung tubuh Hanis di bawahnya.
Ketika mereka akhirnya bersatu, Hanis memejamkan mata erat. Pikirannya melayang jauh, membayangkan konsekuensi terburuk dari pilihan mereka malam ini.
Hadirnya anak kelima akan membuat hidup yang sudah sulit semakin susah. Anak itu akan lahir dalam kemiskinan, tidak bisa minum susu, tidak bisa sekolah. Sama seperti kakak-kakaknya.
Hanis ingin menghentikan Rino, namun ia tidak tega. Ini satu-satunya hiburan yang mereka miliki.
Televisi mereka sudah dijual setahun lalu untuk biaya sewa rumah ini. Ponsel Rino juga tidak bisa digunakan untuk membuka media sosial dengan lancar. Hanya ini yang bisa mereka lakukan sebagai pelarian dari penatnya hidup.
Tiba-tiba sebuah pikiran muncul di kepala Hanis. Jika memang ia harus hamil lagi, kenapa tidak mengandung benih Sean saja?
Ketimbang mengandung satu lagi benih Rino yang sudah terbukti tidak mampu menghidupi. Menerima tawaran Sean bukan keputusan yang buruk apabila ia memang harus mengandung sekali lagi. Setidaknya dengan melahirkan keturunan bagi pria itu, anak-anak Hanis yang lain terselamatkan hidupnya.
Rino yang tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan istrinya sangat menikmati permainan. Ia bergerak dengan kecepatan konstan, mengejar pelepasannya sendiri.
“Mas…,” panggil Hanis.
“Hm?”
“Jangan lupa, cabut,” Hanis mengingatkan.
Rino hanya mengangguk, kemudian mempercepat gerakannya. Sesekali melirik ke arah Icha, memastikan bayinya yang tidur di kasur yang sama dengan mereka tidak terganggu.
Hanis yang merasakan milik suaminya membesar di dalam sana segera mendorong dada bidang itu. “Cabut, Mas!”
Kali ini Rino menurut. Ia menarik diri tepat sebelum terlambat. Menumpahkan segalanya di atas kulit perut Hanis.
“Makasih ya, Han,” ucap Rino di sela-sela napasnya. Dadanya masih bergerak naik-turun dengan cepat.
Melihat cairan yang membasahi perutnya, Hanis menghembuskan napas lega. Setidaknya ada pencegahan dari suaminya.
...****************...