NovelToon NovelToon
Cuma Modal Cerita

Cuma Modal Cerita

Status: tamat
Genre:Teen / Solo Leveling / Menjadi NPC / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: jiejie_IYAYA'S

Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.

Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.

"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.

(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)

Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Geng Sombong, Tameng Disabilitas, dan Pensil Lucuku

Kali ini aku mau cerita tentang kenangan zaman TK. Jujur, memang cuma ada beberapa memori yang tersisa karena aku juga sudah banyak yang lupa. Tapi, ada satu kejadian yang paling berbekal sampai sekarang.

Waktu itu, ada satu geng anak cewek yang isinya tiga atau empat orang. Mereka ini sok banget berkuasa. Bayangkan, masih bocah TK tapi tingkahnya sudah mirip orang dewasa yang paling jagoan di lingkungan setempat. Mari kita sebut saja anggota geng ini Siti, Jainab, Munaroh, dan yang terakhir Lilis.

Mereka berempat terkenal banget sebagai tukang palak sekaligus tukang bully di sekolah.

Modus operandi mereka sebenarnya lumayan terstruktur untuk ukuran anak TK. Salah satu dari mereka bakal pura-pura kehilangan pulpen atau pensil.

Lalu, mereka akan mencari korban—biasanya anak yang sedang fokus menulis atau mewarnai. Tiba-tiba Siti akan menunjuk anak itu dan menuduh, "Nah! Itu kan pensil punya temanku!"

Aku ragu mereka memang benar-benar kehilangan barang atau ini cuma rencana yang disengaja. Lagipula, kalaupun benar kehilangan, masa iya setiap hari ada saja barang yang hilang? Rasanya tidak masuk akal.

Kasus Billy dan Perlindungan Guru

Di sisi lain, ada satu murid lagi bernama Billy. Dia ini anak dari salah satu guru di TK kami. Billy adalah anak berkebutuhan khusus (disabilitas).

Entah kenapa, Billy punya kebiasaan suka memukul murid-murid lain dan merusak barang-barang di kelas.

Setiap kali Billy berulah, ibunya yang merupakan guru kami selalu mengeluarkan kalimat andalannya:

"Maafin Billy ya, dia kan ada kekurangan..."

Sebagai sesama manusia, tentu kita harus maklum dan mengerti kondisi Billy. Masalahnya, kejadian ini berulang sepanjang hari.

Hari demi hari, Billy terus memukul orang dan merobek buku-buku tugas murid lain. Setiap kali ada buku tugas yang robek—padahal masih dipakai—ibunya cuma mengucapkan kalimat yang sama lagi:

"Maafin anak Ibu ya, Billy memang begitu."

Karena kami masih bocah yang polos, ya kami maafkan saja. Namun, masalah tidak berhenti di situ. Harusnya buku tugas yang dirusak itu diganti baru, kan? Ternyata tidak sama sekali. Buku yang robek itu cuma ditambal menggunakan lakban bening, lalu disuruh pakai lagi.

Memang ada kemungkinan orang tuanya mengganti di lain hari dan aku lupa, tapi seingatku bukunya cuma dilakban begitu saja.

Jadi 'Pemeran Figuran' yang Tak Dianggap

Geng cewek—Siti, Jainab, Munaroh, dan Lilis—mulai paham situasi ini. Mereka sadar kalau memanfaatkan atau berada di dekat Billy bisa membuat mereka terlindungi oleh kekuasaan sang guru.

Kalau ada apa-apa, Billy tinggal dijadikan alasan atau tameng.

Sementara itu, posisiku di kelas benar-benar seperti angin lalu. Aku tidak dianggap ada oleh geng tersebut, dan sejujurnya itu membuat hidupku lumayan damai serta tentram.

Meski begitu, aku sendiri sebenarnya cukup takut pada Billy. Suatu hari saat aku sedang asyik bermain perosotan di area bermain, Billy tiba-tiba muncul dan merusak bukuku tanpa alasan. Aku yang sedih langsung mengadu ke ibunya Billy (guruku sendiri).

Guru itu cuma tersenyum maklum dan berkata, "Maafin Billy ya, Tia... Kan Billy sedang sakit."

Karena waktu itu aku masih anak-anak yang polos dan belum paham rumitnya dunia, aku langsung memaafkan begitu saja.

Aku berharap setelah kejadian itu semuanya selesai dan tidak ada masalah lagi.

Koleksi Pensil Lucu dan Momen Konfrontasi

Sayangnya, takdir berkata lain. Geng cewek ini makin hari makin menjadi-jadi, terutama Lilis. Lilis ini sudah masuk dalam daftar hitam orang-orang yang tidak cocok dijadikan teman bagiku kelak.

Nanti saat masuk SD, aku jadi tipe anak yang sangat memilah teman—bukan berdasarkan kaya atau miskin, melainkan berdasarkan perilaku baik atau jahatnya.

Zaman TK dulu, aku suka sekali mengoleksi pensil-pensil lucu yang ada gambar kartunnya.

Keputusan bodohku saat itu adalah membawa semua koleksi pensilku ke sekolah, padahal harusnya bawa satu saja sudah cukup.

Melihat koleksiku, Lilis langsung memutar otak dan berakting sok sedih. "Pensil aku hilang nih... Padahal baru beli tadi pagi," katanya dengan raut wajah yang dibuat-buat.

Siti yang berdiri di sebelahnya langsung menyahut dengan nada memprovokasi, "Eh, itu bukan pensil kamu yang lagi dipegang Tia? Kemarin kan aku lihat kamu beli yang kaya gitu!"

Mendengar hal itu, batin kecilku menjerit. Duh, makhluk hidup satu ini mulutnya rasanya pengin ditabok saja!

Lilis langsung memasang wajah galak seperti preman kampungan yang sok jago. "Iya, itu punya aku! Mana siniin, itu pensil aku!"

Aku tentu saja tidak terima. Kenapa enak sekali anak ini mau mengambil barang yang kubeli pakai uang jajanku sendiri?

"Ini punya aku! Aku beli baru! Dasar maling!" seruku tegas.

Mungkin kamu bingung kenapa anak sekecil itu sudah tahu kata 'maling'. Jawabannya sederhana: sore hari di rumah, keluargaku sering menonton tayangan sinetron Azab di TV, salah satu judulnya tentang "Azab Maling Ayam".

Dari sana aku menyimpulkan bahwa mengambil barang orang lain secara paksa

sama dengan maling.

Puncak Kejadian dan Pengancaman

Lilis tidak mau kalah. Karena dia tahu aku takut pada Billy, dia langsung mengeluarkan kartu asnya.

"Kasih gak?! Kalau gak dikasih, aku suruh Billy rusakin buku kamu lagi!" ancam Lilis sambil tersenyum puas.

Jantungku langsung berdegup kencang karena kaget. Ancaman itu benar-benar membuatku terdesak. Namun, karena saat itu aku masih berpikir logis dan tidak mau bukuku dirusak lagi, akhirnya aku mengalah dan menyerahkan pensil itu.

Tapi aku tidak menyerahkannya begitu saja dengan sopan. Karena sudah sangat kesal, aku lempar pensil lucu itu tepat ke arah wajah Lilis!

Tingkah laku geng tersebut terus bertahan sampai kami akhirnya lulus TK. Beruntung, setelah lulus kami berpisah sekolah dan tidak pernah bertemu lagi. Alhamdulillah...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pesan Moral

Jadilah orang yang baik dan jangan pernah menindas temanmu. Apalagi sampai memanfaatkan kondisi orang disabilitas sebagai tameng untuk berbuat jahat. Seharusnya kita saling merangkul dan berteman tanpa ada perbedaan satu sama lain.

1
Araara
seru abis
Araara
semangat ya kakak jangan pantang menyerahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!