NovelToon NovelToon
GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Isekai / Romansa Fantasi
Popularitas:441
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.

Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. IKAN BAKAR

Suara bising kendaraan kota melebur di bawah terik matahari sore ketika Leo Cristian Theodore melangkah menyusuri trotoar pusat perbelanjaan. Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, dunia luar adalah labirin asing penuh warna yang tak pernah ia pahami. Terutama ketika ia harus menggandeng seorang anak perempuan berusia lima tahun yang langkah kecilnya kerap tertinggal.

Langkah Leo terhenti ketika ia menyadari Vellora tidak lagi di sampingnya. Bocah itu berdiri terpaku di depan etalase sebuah toko mainan, matanya berbinar menatap sepasang boneka kelinci berbulu lembut.

"Ada apa?" tanya Leo datar, menghampiri gadis kecil itu.

Vellora buru-buru menggeleng, menyembunyikan hasrat hatinya di balik senyum terpaksa. "Emm, tidak apa-apa kok. Aku... aku tidak suka."

Leo bukan pria bodoh. Ia melihat dengan jelas bagaimana mata anak itu berbinar menginginkan benda tersebut. Tanpa banyak bicara, pembunuh bayaran muda itu mendorong pintu toko, mengambil dua buah boneka—termasuk kelinci yang tadi ditatap Vellora—lalu melemparkan beberapa lembar uang kertas kepada kasir tanpa memedulikan kembalian.

"Ini," ujar Leo menyodorkan bungkus besar kepada Vellora saat mereka keluar dari toko.

Vellora mengerjap tak percaya, dekapannya langsung erat memeluk boneka itu. Senyum tulus yang terukir di bibirnya berhasil membuat dinding es di dada Leo sedikit mencair, memunculkan sebuah senyuman tipis yang sangat langka.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju sebuah restoran ikan bakar tradisional yang cukup terkenal. Begitu tiba di dalam, mata Vellora membelalak lebar. "Wah... luas sekali!" gumamnya takjub.

Leo menarik kursi untuk anak itu. "Apa kamu belum pernah ke tempat seperti ini?"

Raut wajah Vellora mendadak redup. Bayangan masa lalu yang kelam melintas di benak kecilnya. "Dulu pernah... sebelum semua keluargaku meninggal." Suaranya bergetar, namun ia segera memaksakan seulas senyum canggung agar Leo tidak khawatir.

Deg.

Hati Leo seakan dihantam palu tak kasat mata. Pengakuan itu begitu identik dengan luka batinnya sendiri. Ia memesan menu ikan bakar terbaik, lalu duduk saling berhadapan dalam keheningan yang sarat makna.

Di tengah pesanan yang sedang disiapkan, pandangan Vellora teralih ke meja seberang. Di sana, seorang anak seusianya tampak tertawa ceria di antara pelukan ayah dan ibunya.

"Kak..." panggil Vellora pelan, menatap Leo dengan mata berbinar penuh harap. "Hanya sebuah pengandaian... apa aku bisa memiliki keluarga lagi? Dan... apa aku bisa sekolah seperti mereka?"

Pertanyaan itu menohok relung hati Leo yang paling dalam. Ironisnya, manusia berdarah dingin yang duduk di hadapan anak inilah yang telah merenggut keluarga bocah malang itu dari muka bumi. Sebuah rasa bersalah yang asing bergolak hebat di dalam dadanya.

Tanpa sadar, tangan besar Leo terulur, menyentuh lembut pipi gembil Vellora. "Tentu saja kamu bisa. Panggil saja aku ayah... mulai sekarang kamu anakku. Aku akan mendaftarkanmu ke sekolah."

Seketika itu juga, tawa Vellora pecah berderai. Anak itu tertawa terbahak-bahak hingga beberapa pengunjung lain menoleh ke arah mereka.

"Ada apa? Apa aku salah bicara?" tanya Leo bingung, menarik kembali tangannya.

Vellora menyeka sudut matanya yang berair karena tertawa. "Tentu saja salah! Masak kamu yang masih muda begini harus kupanggil ayah? Kamu jauh lebih pantas jadi kakakku saja!" tawanya kembali meledak.

Untuk kedua kalinya hari ini, sudut bibir Leo terangkat membentuk senyuman tipis. Suasana canggung di antara mereka melebur bersama datangnya kepulan asap harum dari hidangan ikan bakar yang disajikan pelayan.

"Ayo makan, katanya kamu ingin ikan bakar," kata Leo menyodorkan piring.

Vellora menatap ikan di piringnya dengan ragu, lalu mengerucutkan bibirnya lucu. "Emm... tapi aku takut ada tulangnya. Bisa suapin aku?" tanyanya dengan mata memelas penuh harap.

Leo mengembuskan napas panjang, memasang wajah pasrah. "Seperti tidak mau menyuapiku..." cicit Vellora pelan, sengaja melirik ke arah lain untuk mencari simpati.

"Baiklah, baiklah. Berikan piringnya, aku pisahkan daging dan tulangnya, lalu kamu makan sendiri," tukas Leo akhirnya, menyerah pada tatapan memohon itu. Ia menarik piring Vellora dan dengan telaten memisahkan setiap duri kecil dari daging ikan tersebut.

"Horeee! Kakak baik!" seru Vellora bersorak riang. "Emm... Kakak benar kan mau mengajakku sekolah nanti?"

"Iya, nanti aku bicarakan pada Kakek," jawab Leo lembut. "Nah, sudah bersih. Makanlah yang banyak biar cepat besar."

Waktu berlalu dalam kehangatan yang tak biasa. Usai makan, langkah kaki mereka menjadi lambat karena rasa mengantuk yang menyerang Vellora. Sepanjang perjalanan menuju mobil, gadis kecil itu berjalan terhuyung-huyung sambil memeluk boneka kelincinya, hingga akhirnya Leo menggendongnya dalam dekapannya hingga tertidur pulas.

Sesampainya di kediaman Theodore, Leo membawa Vellora langsung ke kamar dan membaringkannya dengan sangat hati-hati di atas futon yang hangat.

Di ambang pintu, Kakek Liam berdiri mengawasi semuanya dalam diam. Senyum hangat tersungging di bibir lelaki tua berambut putih itu melihat perubahan drastis pada cucunya yang kini memiliki secercah kehangatan di matanya.

Leo berbalik dan sedikit terperanjat mendapati kakeknya sudah berdiri di sana.

"Ternyata kamu bisa juga mengurus anak orang," ucap Liam pelan dengan nada menggoda. "Mulai sekarang, uruslah dia dengan baik. Jadikan dia adikmu, meski darah yang mengalir di tubuh kalian berbeda."

Leo memutar bola matanya malas, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menutupi rasa canggung. "Omong-omong... bisa Kakek mendaftarkannya ke sekolah? Dia bilang ingin sekolah, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengurus hal semacam itu. Kakek yang lebih tua, uruslah."

Liam terkekeh pelan. "Aku sudah mendaftarkannya di sekolah terbaik yang tidak jauh dari sini. Perlengkapan sekolah, tas, dan seragam barunya sudah Kakek siapkan di ruang tamu. Aku tahu cucuku yang ceroboh ini tidak akan mengerti urusan anak kecil."

Leo terdiam sejenak, lalu bergumam singkat, "Emm... ya sudah, terima kasih, Liam."

Ia bahkan tidak memanggil lelaki tua itu dengan sebutan 'Kakek', melainkan langsung menyebut namanya atau sesekali 'tua bangka'. Namun Liam tahu, jauh di lubuk hati pemuda itu, badai dendam dan kebekuan es dalam jiwa Leo perlahan mulai mencair, menemukan jalan pulang berkat kehadiran sang malaikat kecil bernama Vellora.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!