NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SATU: Awal Mula (Bagian 2)

Oh ya, aku lupa belum memperkenalkan diri. Namaku Izang, Izang Rahadian Pangestu. Kedengarannya memang sedikit aneh di telinga, tapi setidaknya namaku bukan nama pasaran. Mungkin hanya perlu mengulang nama saat berkenalan karena dikira Rizal, Izal, Izam, atau nama lainnya yang mirip dan sejenis. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku perempuan, Senja Permata Rahadian namanya. Jangan bertanya kenapa marga Rahadian kami berbeda tempat. Orang tuaku sendiri tidak memiliki nama Rahadian. Ibuku saja hanya mengangkat bahu saat aku bertanya. "Tidak ada aturan yang mengatur nama marga di Indonesia kan?" jawab beliau dengan nada bercanda. Fine, aku tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi. Usiaku tidak terpaut jauh dengan kakakku, hanya lima tahun saja. Aku terlahir dengan sedikit berbeda. Kulitku putih. Padahal ayah, ibu, dan kakakku berkulit sawo matang. Aku baru sadar saat Indra mengolokku dan mengatakan jika aku anak pungut karena memiliki kulit yang terlalu berbeda. Meskipun aku tahu Indra hanya bergurau karena kalah taruhan, tapi gara-gara itu aku kepikiran berhari-hari dan kehilangan nafsu makan. Saat aku berani menanyakan hal itu pada ibuku, beliau mengatakan jika perbedaan yang kutakutkan itu adalah wajar. Mungkin aku membawa gen dari kakek-nenek atau bahkan buyutku. Orang tuaku juga meyakinkanku bahwa aku adalah anak kandung mereka. Mereka bersumpah demi itu. Meskipun ragu, akhirnya aku percaya saja. Toh, saat aku mulai ikut ekskul basket, kulitku mulai menggelap juga.

Keluargaku berkecukupan. Kami tidak kaya tapi juga tidak kekurangan. Ayahku bekerja sebagai sopir truk bahan bangunan, sedangkan ibuku bekerja sebagai guru bahasa Inggris di sebuah SMP terbaik di kota. Jadi, jangan kaget jika kamu mendapatiku berulang kali berbicara dengan bahasa Inggris. Itu karena ibuku. Jika dilihat dari tingkat kedekatan keluarga, aku lebih dekat dengan ayahku. Yah, karena beliau adalah satu-satunya yang bisa menemaniku bermain PS, nonton bola, dan mengajariku naik motor. Semenjak sekolah, aku selalu dikelilingi wanita. Entah magnet apa yang ada di dalam diriku sehingga mereka selalu saja ada di sekitarku. Banyak tetanggaku yang berkata bahwa seharusnya aku bisa menjadi artis. Well, karena aku tampan, katanya. Apalagi secara garis besar wajahku seperti artis K-Pop. Hidung mancung, rahang tegas, mata yang tajam, dan tubuh atletis. Tinggiku yang sudah mencapai 180 cm di usiaku yang masih 17 tahun ini juga sepertinya ikut menjadi faktor. Dari dulu aku juga tidak terlalu peduli dengan hubungan percintaan. Aku cenderung cuek dan sesuai kata Ara, dingin. Meskipun wajah tampanku ini sangat bisa menarik beberapa wanita sekaligus, tapi aku tidak pernah melakukannya. Aku hanya punya satu sahabat wanita, Intan. Dia berteman denganku semenjak TK. Jadi, wajar saja jika dia adalah wanita 'asing' kedua setelah Ara yang kubiarkan ada di zona nyamanku. Kenapa cuma punya satu? Karena sebagian besar kudelete sendiri. Mereka mengaku sahabat padaku tapi ternyata mereka suka padaku juga. Aku tidak suka hal itu. Benar-benar tidak suka. So, jika memang suka katakan suka dan jangan berkata sebaliknya hanya agar aku tetap berada di dekat kalian. Aku pernah iseng bertanya pada Intan tentang perasaannya padaku. Dan dia dengan ketus menjawab, "Aku nggak mungkin suka sama anak senarsis kamu, Zang! Lagian aku udah tahu semua kejelekanmu. Nggak deh, makasih!". Aku tertawa mendengarnya. Okay, she's definitely safe!

And who is Ara actually? Dia ternyata anak perempuan teman orang tuaku, setahun lebih muda dariku. Aku baru tahu setelah beberapa minggu mengenalnya sebagai 'adik'. Kebetulan dia juga murid les kesayangan ibuku. Dia juga dua bersaudara sepertiku. Namun kebalikannya, kakaknya berjenis kelamin laki-laki dan usia mereka terpaut cukup jauh, 12 tahun. Kakaknya bernama Aris Agustian dan aku lumayan dekat dengannya karena kami sama-sama suka otomotif. Tak ada hari tanpa membongkar dan merakit motor bagi kami berdua. Ara saja sampai geleng-geleng kepala tiap melihatku bertandang ke rumahnya hanya untuk bertanya pada mas Aris spare part mana yang cocok untuk motor modifikasi yang kubuat. Keluarga Ara sendiri cukup terpandang di daerahku. Karena meskipun mereka pendatang, mereka cukup supel dan ramah pada setiap orang di sekitarnya. Pantas saja jika Ara mewarisi kesupelan keluarganya. Tapi ngomong-ngomong soal Ara, aku merasa ada yang aneh denganku saat berdekatan dengannya. Hal ini baru benar-benar kurasakan sejak beberapa minggu yang lalu. Saat Ara mulai lebih banyak meluangkan waktu denganku daripada dengan keempat temanku yang lain. Selain karena mereka memang mulai sibuk dengan pacar masing-masing, Ara juga hanya sering berkepentingan denganku. Dan karena secara kebetulan rumahku dan Ara hanya berbeda perumahan, jadilah aku yang selalu dititipi nyonya Wibowo untuk menjaga anak bungsunya itu.

Awalnya aku melihat dia hanya sebagai adik. Nothing more and nothing less. Tapi lama-kelamaan aku mulai memperhatikannya. Dia agak tomboi. Rambutnya yang hitam legam itu jarang sekali diurai, paling sering dia hanya mengikat tinggi-tinggi rambutnya itu. Kulitnya sawo matang. Kalau dalam kamus bule, dia itu eksotis. Dia pintar dan rajin, terlihat dari tas ranselnya yang selalu berat setiap hari. Isinya buku paket, buku tulis, soal-soal latihan dari guru, soal-soal lomba, dan lain-lain. Untungnya dia masih bisa tinggi secara maksimal. Ya, untuk ukuran anak kelas 1 SMA, 165 cm sudah bisa dikatakan tinggi kan? Tubuhnya juga ideal, meskipun menurutku dia masih terlalu kurus untuk gadis yang masih dalam masa pertumbuhan.

Dan yang tidak pernah ketinggalan dari cerita Ara adalah Joan. Benar, J O A N. Joan adalah teman TK-ku selain Intan. Kami berteman cukup baik. Jadi, aku tahu sedikit banyak tentang laki-laki itu. Seperti yang sudah pernah kusinggung sebelumnya, he is Ara's prince charming. Ara selalu punya hal bagus yang dibangga-banggakan dari seorang Joan. Entah baiknya, perhatiannya, pintarnya, aaarrgghh!!! Dan itu semua menggangguku. Aku bukan iri, nope. Aku hanya kasihan saja pada Ara. She can get the best man in this world. But, does it have to be Joan? Dia laki-laki kedua yang tidak peka setelah batu Malin Kundang. Bahkan jika aku yang menjadi Joan, mungkin aku sudah pacaran dengan Ara sejak kelas 2 SMP. Yup, bayangkan saja bagaimana rasanya memendam perasaan selama 3 tahun. Mungkin ada yang lebih lama dari Ara untuk soal memendam perasaan, tapi untukku pengorbanan Ara sudah terlalu banyak. Jadi, sejak itu aku berusaha sebisa mungkin menggantikan Joan. Misalnya saja jika Ara tidak bisa bertemu Joan karena sakit atau tidak masuk sekolah, aku akan menjenguknya dan membawakan beberapa makanan. Menghiburnya sebentar meskipun aku awalnya hanya beralasan mampir. Jika dia tidak bisa mengerjakan soal karena Joan lupa atau tidak mengajarinya, aku yang membantunya mengerjakan dan menungguinya belajar sepulang sekolah. Aku juga berusaha menemaninya ke mana pun, meskipun dia tidak meminta. Begitu setiap hari. Yang membuatku heran, aku sering tiba-tiba marah jika Ara tanpa sengaja menyinggung Joan di depanku. Aku tahu Ara tidak berniat membandingkanku dengan Joan, tapi aku tetap saja gusar, kupingku panas mendengar nama Joan keluar dari mulut Ara. Ara, yang merasa sikapku tidak seperti biasanya, jadi ikut jengah juga. Hingga pada suatu hari dia dengan enteng berkata, "Are you jealous? Jangan khawatir, Mas! Kamu tetep kakakku yang paling ganteng kok". Dan perkataan itu akhirnya membuat pikiranku mulai membentuk suatu praduga dasar. Jangan-jangan aku memang mulai menyayangi Ara lebih dari sekadar 'adik'? Aku merasa jika sikapku sendiri sudah bukan sikap dari seorang 'kakak' kepada 'adik'nya. It's more than that. Menurutmu bagaimana? Is she really my type?

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!