Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.
Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—
*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*
Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.
Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**
Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:
*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*
Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**
Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.
Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**
Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**
Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:
*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*
Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.
——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Diam sebagai Hukuman
Pesan pertama Laras pagi itu dibaca tanpa balasan.
Eyang sudah selesai pemeriksaan darah. Dokter bilang hasilnya cukup stabil.
Dua centang biru muncul pukul delapan lewat tujuh. Sampai siang, Naren tidak menjawab.
Laras meletakkan ponsel di samping kotak makan, lalu membantu Eyang Sri duduk. Ia tidak punya ruang untuk menafsirkan diam seorang pria ketika jadwal operasi, obat pengencer darah, dan setumpuk formulir menuntut perhatian.
Malamnya ia mengirim foto surat penghapusan rekaman yang sudah ditandatangani Naren.
Sudah saya simpan. Terima kasih sudah menepati janji.
Jawaban datang dua jam kemudian.
Ya.
Keesokan harinya, saat Laras memberitahu jadwal konsultasi anestesi, Naren hanya menulis, Oke.
Pada hari ketiga, pola itu terasa terlalu jelas untuk disebut kebetulan. Laras membuka percakapan mereka berkali-kali, mencari kalimat yang mungkin menyinggungnya. Tidak ada. Pertemuan terakhir mereka berakhir di makam Ratna, ketika Naren menghapus semua salinan rekaman dan Laras memilih menunggu di mobil.
Ia seharusnya lega. Yang muncul justru kegelisahan bodoh.
“Kalau mau telepon orang, telepon saja,” kata Eyang Sri dari ranjang.
“Saya sedang cek jadwal.”
“Jadwal tidak bikin kamu mengernyit begitu.”
“Eyang tidur.”
“Kalau orangnya cuma bikin susah hati, jangan ditelepon.”
Laras menyelipkan selimut ke kaki Eyang. “Itu nasihat atau larangan?”
“Nasihat. Kamu sudah terlalu besar untuk dilarang.”
Menjelang tengah malam, Eyang tertidur. Laras sedang merapikan laporan di laptop ketika layar ponselnya menyala.
Naren: Turun.
Hanya satu kata.
Laras berdiri di depan lift hampir semenit. Ia bisa kembali ke kamar, mematikan ponsel, dan membiarkannya menunggu. Namun rasa lelah membuat kejujuran lebih mudah daripada permainan.
Di parkiran rumah sakit, mobil Naren menyala dalam gelap. Laras masuk dan memasang sabuk pengaman.
“Kenapa?” tanyanya.
“Masuk dulu.”
“Saya sudah masuk.”
Naren menjalankan mobil. Wajahnya kaku diterangi lampu jalan. Mereka tiba di rumah pribadi yang pernah dipakai untuk pertemuan-pertemuan tanpa nama. Setelah pintu tertutup, Laras tidak bergerak dari dekat rak sepatu.
“Kalau kamu mau marah, bilang sebabnya,” katanya.
“Saya tidak marah.”
“Tiga hari baca pesan tanpa jawaban itu apa?”
“Sibuk.”
“Lalu tengah malam menyuruh saya turun?”
Naren mendekat, tetapi Laras mengangkat telapak tangan di antara mereka.
“Jangan sentuh dulu.”
Ia berhenti. Rahangnya menegang.
“Saya datang karena memilih datang,” lanjut Laras. “Kalau kamu cuma ingin menghukum saya tanpa menjelaskan kesalahan saya, saya pulang.”
“Siapa bilang kamu salah?”
“Sikapmu.”
Untuk sesaat Naren seperti hendak menyebut satu nama. Kata itu tidak keluar.
“Kalau saya minta kamu tetap di sini?”
“Minta dengan benar.”
Kesunyian membentang. Kemudian Naren berkata pelan, “Tetap di sini malam ini.”
Laras menurunkan tangannya. “Saya bisa berhenti kapan saja.”
“Ya.”
“Dan besok kamu tidak boleh bersikap seolah saya barang yang bisa dipanggil lalu dibuang.”
Naren tidak menjanjikan hal yang kedua. Ia hanya bertanya, “Boleh saya sentuh?”
Laras mengangguk.
Ciuman pertama terasa dingin karena keduanya masih menyimpan pertanyaan. Naren menahan wajahnya seolah ingin memastikan Laras benar-benar ada, lalu melepaskan setiap kali napas perempuan itu berubah. Laras dapat merasakan amarah dalam geraknya, tetapi juga jeda-jeda yang memberinya kesempatan memilih. Ia menarik kerah Naren ketika pria itu hendak mundur.
“Jangan setengah-setengah,” bisiknya.
Kalimat itu meruntuhkan sisa jarak. Mereka bergerak dari ruang depan ke kamar dalam diam yang penuh benturan emosi. Naren seperti sedang melawan bayangan yang tidak dapat dilihat Laras. Setiap kali sentuhannya terlalu keras, Laras menyebut namanya, dan ia langsung melambat. Tidak ada kata cinta. Tidak ada pembicaraan tentang Bayu, buku harian, atau rumah sakit. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama memilih bertahan di kamar itu meski tahu tubuh tidak bisa menyelesaikan apa yang mulut mereka sembunyikan.
Sesudahnya, Naren duduk di tepi ranjang dengan punggung menghadap Laras. Ia mengenakan kemeja tanpa menatapnya.
“Pulang saja. Biar Fahmi antar.”
Laras menutup kancing bajunya perlahan. “Jadi ini maksudmu minta dengan benar?”
Naren menoleh. Ada penyesalan singkat di matanya, lalu hilang.
“Eyang sendirian.”
“Jangan pakai Eyang sebagai alasan untuk mengusir saya.”
Laras mengambil tas. Di ambang pintu ia berhenti, berharap satu kalimat akan menahannya. Naren tetap diam.
Fahmi sudah menunggu di mobil. Sepanjang perjalanan kembali, ia tidak bertanya. Laras memandang kota lewat kaca dan merasa lebih jauh dari Naren dibanding sebelum dipanggil turun.
Pagi berikutnya, di kantor Grup Wibisana, Naren menandatangani formulir bantuan dengan wajah tanpa ekspresi.
“Rumah sakit bisa majukan jadwal ke Jumat,” kata Fahmi. “dr. Wibowo sudah menyetujui setelah melihat hasil pemeriksaan. Uang muka Rp50 juta bisa dibayarkan hari ini.”
“Bayar.”
“Atas nama pribadi?”
Naren memandang lambang lama di map biru. Yayasan Puspa didirikan Ratna untuk membantu anak perempuan yang ditelantarkan dan korban kekerasan. Bertahun-tahun yayasan itu berjalan melalui pengurus profesional, sementara ia nyaris tidak pernah mencampuri kasus individu.
“Pakai Yayasan Puspa. Bantuan sementara.”
“Mbak Laras bisa mengira ini ada hubungannya dengan Rumah Puspa.”
“Jangan cantumkan nama saya.”
Fahmi ragu. “Sisa biaya setelah uang muka?”
“Pastikan perawatan jalan. Audit penggunaan dan ikuti prosedur yayasan. Jangan membuat data palsu.”
“Baik.”
Naren menutup map. “Dan jangan laporkan ke saya setiap jam.”
Fahmi melihat tumpukan pesan Laras yang terbuka di layar ponselnya. “Tentu, Pak.”
Setelah Fahmi keluar, Naren membaca ulang pesan terakhir Laras tentang hasil pemeriksaan Eyang. Jempolnya sempat mengetik, Semoga lancar, lalu menghapusnya. Ia mengganti kalimat itu dengan Oke dan tidak jadi mengirim apa pun. Di dalam laci meja, kunci brankas rumah tergeletak seperti tuduhan kecil. Ia bisa membayar rumah sakit dalam satu menit, tetapi tidak mampu mengembalikan buku yang diambilnya atau mengakui alasan kecemburuannya.
Di RS Medika Utama, Laras datang ke bagian keuangan dengan map berisi dana pinjaman kantor, tabungan Nadia, dan hasil penjualan barang. Ia siap menyetor Rp50 juta ketika petugas menggeser kembali formulirnya.
“Uang muka sudah lunas, Mbak.”
“Siapa yang bayar?”
“Ada bantuan sementara dari yayasan.”
“Yayasan apa?”
Petugas mencetak tanda terima. “Yayasan Puspa.”
Laras menatap nama itu. “Puspa?”
“Benar. Pengajuannya sudah diverifikasi. Jadwal tindakan Eyang Sri juga dimajukan ke Jumat.”
“Saya tidak pernah mengajukan ke yayasan itu.”
“Bisa dari rujukan sosial rumah sakit atau rekomendasi donatur. Identitas penghubung tidak tercantum di sistem kami.”
Laras meminta penjelasan tertulis, memastikan bantuan itu bukan pinjaman berbunga, lalu membaca setiap baris. Di bawah tulisan Yayasan Puspa, tercetak bantuan sementara dan sebuah nomor kecil di sudut kanan.
Ia membalik tanda terima seolah nama pemberi akan muncul di belakangnya.
Tidak ada apa-apa.
Di depan loket keuangan, Laras berulang kali menelusuri tulisan Yayasan Puspa, bantuan sementara, dan nomor kecil yang nyaris tak terlihat itu, sementara satu nama yang tidak berani ia ucapkan terus mengetuk pikirannya.