Dion Nugroho adalah lelaki yang memiliki segalanya.
Wajah tampan, kehidupan mewah, popularitas, dan nama besar keluarga yang membuat siapa pun mengenalnya. Ia adalah putra tunggal pemilik Anggoro Group, perusahaan obat-obatan medis ternama yang bisnisnya telah menjangkau berbagai penjuru dunia.
Namun, di balik semua kemewahan itu, Dion tumbuh menjadi lelaki yang dingin, cuek, angkuh, dan sulit dikendalikan.
Baginya, perhatian dari perempuan hanyalah sesuatu yang mengganggu.
Berkali-kali wanita datang membawa perasaan tulus, tetapi Dion tak pernah menghargainya. Ia terlalu terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan hingga lupa bahwa hati manusia bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan kekayaan.
Sampai suatu hari...
Seorang mahasiswi baru datang ke kampusnya.
Namanya Alya Andini.
Gadis sederhana yang berasal dari sebuah kampung kecil. Penampilannya jauh berbeda dari mahasiswi lain. Rambutnya selalu dikuncir dua, mengenakan kacamata bulat hitam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Ayunda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 Rahasia Alya di ketahui Dion
Malam semakin sunyi.
Namun Alya masih berdiri di depan cermin.
Napasnya memburu.
Bayangan di dalam cermin itu perlahan mengangkat wajah.
Dan kini Alya bisa melihatnya dengan jelas.
Wajah itu...
adalah wajahnya sendiri.
Tetapi berbeda.
Lebih pucat.
Lebih cantik.
Dan matanya berwarna hitam pekat.
Alya mundur satu langkah.
"Tidak..."
Tangannya kembali menyentuh pipinya.
Tanda hitam yang selama ini ia sembunyikan dengan riasan perlahan terasa panas.
"Aku sudah menutupinya..."
Bayangan itu tersenyum.
"Justru itu masalahnya."
Alya menggeleng cepat.
"Pergi!"
Bayangan itu tidak menghilang.
Sebaliknya, bibirnya bergerak perlahan.
"Sudah waktunya seseorang mengetahui siapa dirimu."
Alya menutup kedua telinganya.
"Jangan!"
Namun suara itu justru terdengar semakin jelas.
"Jangan biarkan persembunyianmu merusak hubungan yang mulai tercipta."
Alya membuka matanya.
"Hubungan...?"
Bayangan itu menatapnya tajam.
"Dion."
Jantung Alya seakan berhenti berdetak.
"Jangan libatkan dia."
Bayangan itu tersenyum.
"Justru karena dia."
Tiba-tiba—
PRANG!
Cermin di hadapan Alya retak.
Alya menjerit kecil dan mundur.
Dalam hitungan detik, bayangan itu menghilang.
Kamar kembali sunyi.
Alya memegang dadanya.
Air matanya mulai jatuh.
"Kenapa harus sekarang...?"
---
Keesokan harinya.
Universitas Arunika kembali ramai.
Mahasiswa berjalan menuju kelas.
Suara tawa terdengar dari berbagai penjuru.
Namun Dion tidak memperhatikan semua itu.
Sejak pagi...
pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
Pesan misterius semalam.
"Jangan terlalu dekat dengan Alya."
Dion membaca kembali pesan itu.
Kemudian matanya berhenti pada satu kalimat.
"Tanda hitam di pipinya bukan sekadar tanda lahir."
Dion memasukkan ponselnya ke saku.
Ia sudah mengambil keputusan.
Hari ini...
ia akan mencari tahu sendiri.
---
Di depan ruang kelas—
Alya berjalan sendirian.
Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya.
Dan seperti biasa...
tanda hitam di pipinya sudah tertutup riasan.
Namun langkah Alya mendadak berhenti ketika seseorang berdiri di hadapannya.
Dion.
Alya langsung menunduk.
"Pagi, Kak."
Dion tidak menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada pipi Alya.
Alya mulai gelisah.
"Kenapa?"
Dion mendekat satu langkah.
"Alya."
"Iya?"
"Apa yang ada di balik riasan itu?"
Wajah Alya seketika berubah.
Dion melihat perubahan itu.
"Apa maksud Kak Dion?"
"Jangan bohong."
Suara Dion rendah.
"Aku tahu tentang tanda hitam di pipimu."
Alya membeku.
Tangannya refleks menutupi pipinya.
Dion semakin yakin.
"Aku juga tahu kamu sengaja menutupinya setiap hari."
Alya mundur.
Satu langkah.
Kemudian dua langkah.
"Kak Dion..."
"Apa itu?"
Alya menggeleng.
"Tidak ada apa-apa."
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu takut?"
Alya terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Dion menatapnya lebih lembut.
"Alya, aku bukan mau menyakitimu."
"Terus kenapa Kak Dion ingin tahu?"
"Karena seseorang mengirimiku pesan semalam."
Alya langsung pucat.
"Pesan?"
Dion mengeluarkan ponselnya.
"Dia bilang tanda hitam di pipimu bukan tanda lahir biasa."
Alya menatap layar.
Tubuhnya mulai gemetar.
Dion memperhatikan reaksinya.
"Jadi... benar?"
Alya tidak menjawab.
Dion mendekat.
"Alya."
Air mata Alya jatuh.
"Jangan..."
Dion berhenti.
"Jangan apa?"
"Jangan lihat."
Dion mengernyit.
"Kenapa?"
Alya menutup pipinya semakin kuat.
"Karena kalau Kak Dion melihatnya..."
Suaranya bergetar.
"...Kak Dion pasti akan menjauh dariku."
Dion terdiam.
"Aku tidak akan menjauh."
Alya menggeleng.
"Kak Dion tidak tahu."
"Aku ingin tahu."
Alya menatapnya.
Tatapan keduanya bertemu.
Dion berkata perlahan—
"Kalau selama ini kamu menutupi sesuatu karena takut orang lain meninggalkanmu..."
"...biarkan aku menjadi orang pertama yang tidak pergi."
Alya menangis.
Namun sebelum ia sempat menjawab—
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Jangan sentuh dia!"
Dion menoleh.
Seorang perempuan berdiri di ujung lorong.
Perempuan yang kemarin melihat Dion bersama Alya.
Tatapannya tajam.
Namun kali ini...
ada ketakutan tersembunyi di balik matanya.
Dion mengernyit.
"Kamu siapa?"
Perempuan itu tidak menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada Alya.
Kemudian ia berkata pelan—
"Kalau riasan itu sampai terhapus..."
"...bukan hanya rahasia Alya yang akan terbuka."
Dion menatapnya tajam.
"Terus?"
Perempuan itu tersenyum tipis.
"Rahasia keluarga Anggoro juga."
Dion membeku.
Sementara Alya menatap perempuan itu dengan wajah penuh ketakutan.
Karena Alya mengenalnya.
Dan satu hal yang paling ditakutkan Alya akhirnya terjadi.
Seseorang dari masa lalunya...
telah menemukan dirinya.
Perempuan itu kemudian berjalan pergi.
Namun sebelum menghilang di balik tangga, ia menoleh.
"Temui aku malam ini, Dion."
"Kalau kau benar-benar ingin tahu siapa Alya..."
"datanglah ke gedung tua."
Dion mengepalkan tangannya.
Sementara Alya hanya bisa berdiri gemetar.
Malam akhirnya tiba.
Gedung tua di belakang Universitas Arunika berdiri dalam keadaan gelap.
Sebagian besar lampunya sudah mati.
Cat dindingnya mengelupas.
Jendela-jendela tinggi dipenuhi debu.
Tidak ada mahasiswa yang berani datang ke tempat itu setelah matahari terbenam.
Namun malam itu...
Dion berdiri di depan pintu gedung tua tersebut.
Sendirian.
Tangannya masuk ke saku jaket.
Ponselnya masih menampilkan pesan terakhir.
DATANGLAH SENDIRIAN.
Dion mengangkat wajah.
"Kalau ini jebakan..."
Ia mendorong pintu.
KREEEKK...
Suara engsel tua terdengar panjang.
Dion masuk.
Lorong di dalam gelap.
Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela-jendela pecah.
Dion berjalan perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Tiba-tiba—
BRAK!
Pintu di belakangnya tertutup sendiri.
Dion langsung berbalik.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Dion menarik napas.
Kemudian sebuah suara terdengar dari lantai dua.
"Naiklah."
Dion mendongak.
Sosok perempuan itu berdiri di atas balkon.
Perempuan yang kemarin memperhatikan dirinya bersama Alya.
Dion menyipitkan mata.
"Kenapa kau tahu tentang Alya?"
Perempuan itu tersenyum.
"Karena aku mengenalnya jauh sebelum kau mengenalnya."
Dion menaiki tangga.
Namun ketika jaraknya tinggal beberapa langkah...
perempuan itu berkata—
"Kalau kau masih ingin dekat dengan Alya, sebaiknya kau tahu satu hal."
"Apa?"
"Dia tidak seperti manusia biasa."
Dion terdiam.
Perempuan itu mengeluarkan sebuah foto lama.
Ia menyerahkannya kepada Dion.
Dion melihat foto tersebut.
Seorang gadis kecil berdiri di depan sebuah rumah tua.
Wajahnya...
sangat mirip Alya.
Namun yang membuat Dion terkejut bukan wajahnya.
Melainkan pipi gadis itu.
Tidak ada tanda hitam.
Dion mengangkat wajah.
"Ini Alya?"
"Ya."
"Kenapa tidak ada tandanya?"
Perempuan itu tersenyum tipis.
"Karena tanda itu muncul setelah kejadian malam itu."
"Kejadian apa?"
Perempuan tersebut tidak langsung menjawab.
Ia menatap jendela.
"Delapan tahun lalu."
Dion semakin serius.
"Alya ditemukan sendirian di sebuah rumah yang terbakar."
Dion membeku.
"Terbakar?"
"Seluruh keluarganya dinyatakan meninggal."
Dion menggenggam foto itu.
"Tapi Alya selamat."
"Benar."
Perempuan itu menatap Dion.
"Dan sejak malam itu... wajah Alya berubah."
Dion mengerutkan kening.
"Berubah bagaimana?"
Perempuan itu menghela napas.
"Semakin dewasa, Alya semakin cantik."
"Tapi tanda hitam itu juga semakin melebar."
Dion terdiam.
Perempuan itu mendekat.
"Karena itu Alya selalu menutupinya dengan riasan."
Dion menatap foto tersebut.
"Lalu apa hubungannya dengan keluarga Anggoro?"
Perempuan itu tersenyum.
"Pertanyaan yang tepat."
Ia mengambil foto lain.
Kali ini...
seorang pria berdiri di depan rumah Alya.
Dion langsung mengenali pria tersebut.
Wajahnya berubah.
"Itu..."
"Ya."
Perempuan itu menatapnya.
"Itu ayahmu."
Dion membeku.
---
Di tempat lain...
Alya duduk di kamarnya.
Lampu kamar sengaja dimatikan.
Hanya lampu meja kecil yang menyala.
Tangannya gemetar ketika menghapus sebagian riasan di pipinya.
Ia menatap cermin.
Tanda hitam itu terlihat jelas.
Namun malam ini...
warnanya berbeda.
Lebih gelap.
Seolah-olah tinta menyebar perlahan di bawah kulit.
Alya memejamkan mata.
"Jangan sekarang..."
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Satu pesan masuk.
Alya membukanya.
DION SUDAH TAHU.
Alya membeku.
Pesan kedua masuk.
DIA TAHU TENTANG MALAM ITU.
Alya menjatuhkan ponselnya.
"Tidak..."
Air matanya langsung jatuh.
"Jangan..."
Ia berlari menuju cermin.
Namun saat melihat pantulan dirinya—
Alya menjerit.
Tanda hitam di pipinya mulai berubah bentuk.
Garis hitam menjalar hingga mendekati telinga.
Dan dari dalam cermin...
bayangan dirinya kembali muncul.
Kali ini tersenyum.
"Sudah kubilang."
Alya mundur.
"Diam..."
"Persembunyianmu sudah berakhir."
"Diam!"
"Karena Dion sudah membuka pintu masa lalu."
Alya menutup wajahnya.
"Aku tidak ingin dia tahu..."
Bayangan itu mendekat ke permukaan cermin.
"Kenapa?"
"Karena aku takut..."
Alya menangis.
"...dia akan melihatku seperti semua orang melihatku."
Bayangan itu terdiam.
Kemudian berkata pelan—
"Dia berbeda."
Alya mengangkat wajah.
"Apa?"
"Dia tidak takut pada tanda itu."
Bayangan itu tersenyum.
"Justru tanda itu yang akan membawanya kepadamu."
---
Kembali ke gedung tua.
Dion masih memegang foto ayahnya.
"Kenapa ayahku ada di rumah Alya?"
Perempuan itu menatapnya.
"Karena keluargamu adalah alasan Alya kehilangan keluarganya."
Dion langsung menatap tajam.
"Jangan asal bicara."
"Aku tidak asal bicara."
Perempuan itu mengambil sebuah amplop tua.
"Ini buktinya."
Dion meraihnya.
Tangannya mulai gemetar ketika melihat tulisan di bagian depan.
UNTUK KELUARGA ANGGOORO.
Dion membuka amplop itu.
Di dalamnya ada satu lembar surat.
Namun baru membaca kalimat pertama...
wajah Dion berubah.
Jika suatu hari Alya kembali dan tanda di pipinya muncul...
jangan biarkan siapa pun mengetahui wajah aslinya.
Dion menelan ludah.
Di bagian bawah surat terdapat tanda tangan.
Nama ayahnya.
Dion mengangkat wajah.
"Kenapa ayahku menulis ini?"
Perempuan itu tidak menjawab.
Dion kembali membaca.
Dan kalimat berikutnya membuat seluruh tubuhnya menegang.
Karena kecantikan Alya bukan anugerah.
Itu adalah warisan yang selama delapan tahun kami coba sembunyikan.
Dion terdiam.
Untuk pertama kalinya...
ia mulai memahami mengapa Alya selalu menutupi wajahnya.
Namun sebelum Dion sempat bertanya lebih jauh—
PRAAAANG!
Sebuah kaca jendela pecah.
Perempuan itu langsung menoleh.
Dion berdiri.
"Siapa?!"
Dari luar gedung...
terdengar langkah kaki.
Banyak.
Dion menatap perempuan itu.
"Kita tidak sendirian."
Perempuan itu tersenyum tipis.
"Bukan kita yang mereka cari."
Dion mengerutkan kening.
"Lalu?"
Perempuan itu menatap pintu masuk.
"Mereka mencari Alya."
Dion langsung teringat gadis itu.
Tanpa berpikir panjang...
ia berlari keluar gedung.
---
Sementara itu...
Alya masih berdiri di depan cermin.
Air matanya belum berhenti.
Tiba-tiba—
TOK...
TOK...
TOK...
Suara ketukan terdengar dari pintu rumah.
Alya membeku.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Ketukan terdengar lagi.
TOK...
TOK...
Kemudian suara seorang pria terdengar dari luar.
"Alya Maharani."
Wajah Alya langsung pucat.
Ia mengenal suara itu.
Suara yang selama delapan tahun selalu ia takuti.
"Aku tahu kau ada di dalam."
Alya mundur perlahan.
Pria itu kembali berkata—
"Kau tidak bisa bersembunyi selamanya."
Alya menggenggam pipinya.
Dan untuk pertama kalinya...
tanda hitam itu mulai bersinar samar.
Sementara di kejauhan...
Dion berlari menuju rumah Alya.
Karena sekarang ia tahu satu hal.
Alya bukan sedang menyembunyikan kecantikannya.
Alya sedang menyembunyikan sesuatu...
yang sejak delapan tahun lalu diburu oleh banyak orang.
Dan Dion tidak tahu...
bahwa malam ini...
dirinya akan menjadi orang pertama yang melihat wajah asli Alya tanpa riasan.
Karena ia tahu...
malam ini bukan hanya rahasianya yang akan terbongkar.
Tetapi alasan mengapa ia selama ini menyembunyikan kecantikannya...
juga akan diketahui Dion.
Dan ketika Dion mengetahui semuanya...
Alya tidak yakin lelaki itu masih akan memandangnya dengan tatapan yang sama.