Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Pagi-pagi sekali, ketika kabut tebal masih menyelimuti halaman luas Kediaman Valerius, atmosfer di dalam bangunan megah bergaya gotik itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Bukan karena musim gugur yang mulai merayap masuk melalui celah-celah jendela kaca patri, melainkan karena keheningan yang menyelimuti setiap koridor marmernya.
Keheningan yang tidak wajar.
Bagi para pelayan dan pengawal setia yang telah mengabdi bertahun-tahun di kediaman sang Jenderal Agung, hari-hari tanpa suara teriakan nyaring atau pecahan vas kristal dari sayap barat kastil adalah sebuah anomali besar. Biasanya, matahari bahkan belum sepenuhnya meninggi ketika Nona Besar Aurelia mulai menebar teror kecil: memaki pelayan karena gaunnya kusut, melemparkan piring sarapan karena suhunya tidak pas, atau mengirim surat ancaman bernada histeris ke pusat kota.
Namun, sejak malam mengerikan di mana wanita itu bersujud di lantai dengan tubuh bergetar hebat, sayap barat kastil mendadak berubah menjadi makam yang sunyi.
Di lantai dua koridor utama yang menghubungkan sayap utara dan kediaman pribadi, Damian Valerius melangkah dengan tenang. Jubah militer hitamnya tersampir sempurna di bahu bidangnya, dan derap sepatu larsnya menghasilkan gema yang teratur di atas lantai batu marmer yang mengilap. Di sisi belakangnya, Kapten Julian—ajudan militer setianya yang juga merangkap sebagai pengawas operasional kediaman—berjalan mengikuti langkah sang Jenderal dengan map kulit berisi laporan harian di tangannya.
Damian tiba-tiba menghentikan langkahnya di dekat pilar batu besar yang menghadap langsung ke arah jendela lengkung besar. Matanya yang abu-abu tajam menatap ke bawah, ke arah taman labirin di halaman tengah.
Dari kejauhan, sesosok bayangan ramping terlihat sedang berjalan perlahan di sepanjang jalan setapak taman. Aurelia.
Wanita itu tidak lagi mengenakan gaun sutra berlapis korset ketat yang diimpor langsung dari ibu kota, atau hiasan kepala bertatahkan permata mencolok yang biasa ia pamerkan. Hari ini, Aurelia mengenakan jubah wol sederhana berwarna abu-abu gelap dengan tudung kepala yang ditarik rendah, menutupi sebagian besar wajahnya. Ia berjalan dengan langkah lambat, memeluk tubuhnya sendiri seolah-olah sedang menahan hawa dingin yang menusuk tulang, kepalanya menunduk dalam-dalam menghadap tanah.
Biasanya, pada jam-jam seperti ini, ketika Damian melintas di koridor yang sama, Aurelia akan sengaja menghadang jalannya. Wanita itu akan berdiri di tengah jalan dengan dagu terangkat sombong, menuntut perhatian, meminta dibelikan perhiasan berlian terbaru, atau melontarkan caci maki karena Damian mengabaikannya demi urusan militer.
Namun, beberapa hari belakangan ini, interaksi mereka di koridor berubah secara drastis menjadi pemandangan yang membuat bulu kuduk merinding karena keanehannya.
Dua hari lalu, saat tak sengaja berpapasan di galeri lukisan lantai dua, Aurelia tidak berani mendongak sedikit pun. Wanita itu seketika menempelkan punggungnya ke dinding batu, memejamkan mata rapat-rapat, dan merosot jongkok dalam posisi melindungi diri hingga Damian melewati jarak sepuluh meter darinya. Tidak ada suara protes. Tidak ada tatapan penuh kebencian. Yang tertinggal hanya napas memburu dan gemetar ketakutan yang kentara.
Manik mata abu-abu Damian menyipit tajam. Ia mengamati sosok berkerudung itu hingga menghilang di balik pintu kayu sayap barat. Alis tebalnya bertaut dalam, menciptakan garis tegas di antara kedua matanya.
"Kapten Julian," suara berat Damian memecah keheningan koridor tanpa menoleh ke belakang.
"Siap, Jenderal!" Julian segera merapatkan dirinya, berdiri tegap di samping sang atasan.
"Apa laporan dari pengawas sayap barat selama tiga hari terakhir?" tanya Damian dingin, nada suaranya menyiratkan kecurigaan yang mendalam.
Julian mengerjap sejenak, membuka map kulit di tangannya, lalu melaporkan dengan nada hati-hati. "Laporan dari pelayan pribadi, Nona Aurelia... baginda benar-benar mengurung diri di dalam kamar. Beliau tidak pernah keluar kecuali untuk berjalan-jalan singkat di taman saat matahari hampir terbenam. Dan... ada hal yang lebih ganjil lagi, Jenderal."
Damian melirik sekilas lewat sudut matanya. "Katakan."
"Para pelayan melaporkan bahwa Nona Aurelia tidak lagi menyentuh gaun-gaun mewahnya. Seluruh koleksi perhiasan emas dan permata yang dikirim dari Kekaisaran bulan lalu dikembalikan ke dalam kotak tanpa dibuka segelnya. Beliau bahkan tidak membiarkan siapa pun menyentuh meja riasnya. Kosmetik impor, parfum mahal, semuanya dibiarkan berdebu," jelas Julian, nada suaranya sendiri menyiratkan kebingungan yang nyata. "Bahkan... untuk urusan makanan, beliau hanya meminta roti gandum sederhana dan air putih. Tidak ada lagi permintaan jamuan mewah."
Garis rahang Damian mengeras. Otaknya yang terbiasa merancang strategi perang langsung bekerja cepat, menganalisis setiap potongan informasi kecil itu melalui saringan kecurigaan militer.
Bagi Damian, perubahan drastis seperti ini tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa alasan. Manusia tidak bisa berubah seratus delapan puluh derajat dalam kurun waktu satu malam—dari seorang wanita manja yang haus perhatian dan kekuasaan, menjadi sosok pendiam yang ketakutan setengah mati hingga mengurung diri.
Apa yang sedang direncanakan oleh keluarga Chrishtopher melalui wanita ini? batin Damian curiga.
Ia tahu betul latar belakang Aurelia. Wanita itu adalah putri kandung dari Adipati Christopher, salah satu faksi politik paling licik di Senat Kekaisaran yang sering kali berseberangan dengan kebijakan militer Damian. Selama ini, pernikahan mereka digunakan oleh sang Adipati sebagai mata-mata untuk memantau pergerakan rahasia sang Jenderal Agung.
Bisa jadi, sikap tunduk, ketakutan histeris, dan isolasi diri yang ditunjukkan Aurelia saat ini hanyalah sebuah taktik manipulasi baru. Sebuah sandiwara tingkat tinggi untuk melumpuhkan kewaspadaannya, membuat dirinya merasa bersalah, lalu menjebaknya dalam perangkap politik kekaisaran yang lebih besar. Atau mungkin... racun psikologis baru yang dirancang untuk merusak stabilitas mentalnya dari dalam rumah tangga sendiri.
"Jenderal?" Julian memanggil dengan ragu ketika melihat atasannya terdiam cukup lama dalam lamunan yang dingin. "Apakah Anda mencurigai adanya upaya sabotase atau sandiwara politik baru dari faksi Adipati Christopher?"
Damian mengalihkan pandangannya dari jendela, kembali menatap koridor panjang di hadapannya. Kilat berbahaya melintas di dalam manik mata abu-abunya.
"Orang licik tidak akan pernah mengubah tabiat aslinya dalam semalam, Julian," jawab Damian dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Kecuali jika mereka sedang menyembunyikan skema yang jauh lebih besar dari yang bisa kita bayangkan. Tetap pasang mata dan telinga di sayap barat. Jangan biarkan siapa pun mendekati kamarnya tanpa izin langsung dariku."
"Siap laksanakan, Jenderal!" Julian memberi hormat militer dengan tegas.
Malam pun tiba dengan cepat, membawa serta angin dingin yang menderu-deru di luar dinding batu tebal Kediaman Valerius. Jam dinding antik di ruang kerja pribadi Damian berdenting sebelas kali, menandakan larut malam telah sepenuhnya menguasai istana kecil tersebut.
Ruangan itu dipenuhi oleh tumpukan dokumen militer, peta strategi perbatasan utara, serta laporan keuangan benteng pertahanan yang harus diselesaikan sebelum fajar menyingsing. Lilin-lilin besar di atas meja kerja mulai mencair, menyisakan nyala api yang berkedip-kedip lemah di tengah ruangan yang hanya diterangi cahaya temaram.
Damian duduk di balik meja kerjanya yang luas. Lengan bajunya disingkap hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Ia baru saja membubuhkan tanda tangan penolakan pada sebuah petisi Senat ketika tiba-tiba, fokusnya teralihkan oleh sesuatu yang lolos melalui keheningan malam.
Suara itu sangat tipis, nyaris tersapu oleh deru angin malam di luar jendela, namun telinga tajam seorang jenderal perang yang terlatih menangkapnya dengan jelas.
Dari arah sayap barat kastil—arah menuju kamar tidur utama tempat Aurelia diisolasi—terdengar sayup-sayup suara isak tangis.
Suara itu tertahan, disembunyikan di balik bantal atau selimut, namun getaran kepedihan dan ketakutan yang mendalam terpancar jelas dari setiap detik isakan tersebut. Suara isak tangis yang terdengar begitu rapuh, begitu kesepian, seolah-olah seseorang sedang menangisi takdir kematiannya sendiri di dalam kegelapan mutlak tanpa ada satu pun orang yang sudi mendengarkan.
Damian menghentikan gerakan tangannya.
Ia terdiam kaku di kursi kerjanya. Matanya menatap lurus ke depan, menerawang menembus dinding-dinding tebal batu kastil yang memisahkan ruang kerjanya dengan kamar sang istri. Tidak ada kesan sandiwara dari isakan tangis itu. Tidak ada amarah, tidak ada tuntutan, tidak ada kelicikan politik yang bersembunyi di baliknya. Yang terdengar hanyalah keputusasaan murni dari jiwa yang hancur berkeping-keping.
Dengan dahi yang berkerut dalam dan tatapan mata yang dipenuhi sejuta tanda tanya besar, Damian perlahan meletakkan pena bulu di atas meja kerjanya.
mampir diceritaku juga ya😊