NovelToon NovelToon
Cinta Segalon

Cinta Segalon

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta yang akhirnya terungkap

Beberapa hari setelah acara makan malam yang canggung tersebut, Gilang datang kembali untuk mengantar galon sesuai jadwal rutin mingguan, namun kali ini dia mendapati Nindi yang menyambutnya dengan raut wajah yang tidak seceria biasanya. Kepekaan yang telah terbangun selama beberapa minggu terakhir membuat Gilang segera menyadari ada sesuatu yang mengganggu pikiran gadis tersebut.

"Mbak Nindi kelihatan capek. Ada masalah?" tanya Gilang setelah selesai memasang galon baru, memilih untuk langsung menanyakan kekhawatirannya alih-alih berbasa-basi seperti biasa.

Nindi terdiam sejenak, mempertimbangkan apakah dia harus membagikan beban yang selama ini dia pendam sendirian. "Sebenarnya iya, Mas. Tapi nggak enak juga kalau cerita, takutnya malah ngerepotin."

"Nggak apa-apa, Mbak. Kalau butuh cerita, saya bisa dengerin kok, meski cuma sekadar tukang galon," jawab Gilang dengan nada yang tulus, membuat Nindi akhirnya memutuskan untuk membuka sedikit tabir mengenai kehidupannya yang sesungguhnya.

"Keluarga aku lagi coba jodohin aku sama anak rekan bisnis Papa. Namanya Rafael. Kemarin ada acara makan malam khusus buat mempertemukan kita," ujar Nindi akhirnya, mengungkapkan sesuatu yang selama ini belum pernah dia ceritakan kepada siapa pun di luar Karin.

Mendengar hal tersebut, Gilang merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya, sebuah perasaan yang sulit dia definisikan namun terasa seperti kekecewaan yang tidak semestinya dia rasakan mengingat status mereka yang hanya sebatas penjual dan pembeli galon air minum. "Terus, gimana perasaan Mbak Nindi sendiri soal itu?"

"Jujur aja, aku nggak ngerasa nyaman, Mas. Semuanya kayak settingan, kayak ada agenda tersembunyi di baliknya. Om aku yang paling ngotot ngedorong hubungan ini, sementara Papa cuma nurut aja tanpa banyak tanya," jawab Nindi dengan nada yang menunjukkan keresahan mendalam.

Gilang mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian, meski di dalam hatinya sendiri muncul konflik batin mengenai perasaan yang mulai tumbuh terhadap gadis tersebut, sebuah perasaan yang terasa semakin rumit mengingat kenyataan bahwa Nindi kini tengah dihadapkan pada rencana perjodohan dengan seseorang dari kalangan yang sama dengannya.

"Kalau boleh saya kasih pendapat, Mbak, sebaiknya Mbak Nindi dengerin kata hati sendiri. Jangan sampai keputusan sebesar itu diambil cuma karena tekanan keluarga," ujar Gilang dengan hati-hati, berusaha memberikan dukungan tanpa terkesan mencampuri terlalu jauh urusan pribadi yang bukan wilayahnya.

"Makasih ya, Mas. Entah kenapa, ngobrol sama kamu selalu bikin aku ngerasa lebih jelas soal apa yang sebenarnya aku mau," jawab Nindi dengan senyum tipis, sebuah pengakuan yang membuat jantung Gilang berdebar lebih kencang dari biasanya.

Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati keheningan yang nyaman di antara mereka, sebelum akhirnya Nindi melanjutkan cerita yang selama ini juga belum pernah dia bagikan kepada siapa pun. "Mas, aku juga mau cerita soal Ibu aku. Beliau meninggal waktu aku SMP, karena kanker yang telat kediagnosis. Sejak itu, Papa jadi makin sibuk kerja, kayak berusaha lupain kesedihan dengan tenggelamin diri di pekerjaan."

"Turut berduka ya, Mbak. Pasti berat banget kehilangan sosok ibu di usia yang masih begitu muda," jawab Gilang dengan penuh empati, teringat kembali pada kehilangan yang juga pernah dia alami terhadap ayahnya sendiri.

"Iya, berat banget. Tapi anehnya, Mas Gilang justru yang bikin aku ngerasa nggak sendirian menghadapi semua ini, padahal kita baru kenal beberapa bulan," ujar Nindi dengan mata yang mulai berkaca-kaca, mengungkapkan kedalaman perasaan yang mulai tumbuh terhadap sosok sederhana di hadapannya tersebut.

Kata-kata tersebut membuat Gilang terdiam, menyadari bahwa hubungan yang mereka jalin selama ini telah berkembang jauh melampaui sekadar hubungan pelanggan dan penjual galon air minum biasa, menjadi sesuatu yang lebih dalam dan bermakna, meski keduanya belum berani menyebutnya dengan nama yang lebih pasti.

"Saya juga ngerasa gitu, Mbak. Entah kenapa, tiap kali ketemu Mbak Nindi, saya jadi lebih semangat jalanin hari-hari yang berat," jawab Gilang jujur, sebuah pengakuan yang menandai semakin dalamnya keterikatan emosional yang tumbuh di antara mereka berdua, meski berbagai rintangan besar sudah mulai mengintai di depan mata, siap menguji seberapa kuat perasaan yang baru saja mereka akui tersebut.

Hari mulai beranjak sore ketika Gilang akhirnya harus melanjutkan sisa rute pengantarannya, meninggalkan Nindi dengan perasaan hangat yang jarang sekali dia rasakan sejak kepergian ibunya bertahun-tahun lalu. Sebelum pergi, Gilang sempat berhenti sejenak di depan pagar, menoleh ke arah Nindi yang masih berdiri mengantar kepergiannya.

"Mbak Nindi, semoga apapun keputusan yang nanti diambil soal perjodohan itu, semuanya yang terbaik buat Mbak Nindi sendiri, bukan buat orang lain," ujar Gilang sebelum benar-benar melangkah pergi, sebuah kalimat sederhana yang terus terngiang dalam benak Nindi sepanjang sore itu.

Sepulang dari mengantar seluruh galon dalam daftarnya hari itu, Gilang mengendarai motornya menuju kampus dengan pikiran yang masih dipenuhi bayangan percakapan tersebut. Dia menyadari, perasaannya terhadap Nindi telah berkembang jauh melampaui batas yang seharusnya dia jaga sebagai seorang tukang galon biasa, sebuah kesadaran yang membuatnya merasa was-was sekaligus berbunga-bunga di saat yang bersamaan, mempertanyakan apakah perasaan tersebut akan berujung pada kebahagiaan, ataukah justru membawanya pada kekecewaan yang jauh lebih besar mengingat jurang perbedaan status sosial yang begitu nyata di antara mereka berdua.

1
Dewi Kasinji
ijin baca kaj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!