NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Luka, Ada Cinta

“Mama.”Suara kecil Azzura membuat Serly menoleh.

“Morning, Sayang.”

Serly tersenyum hangat sambil mengusap rambut putrinya.

“Sini, duduk di sebelah Mama.”

Tanpa ragu, Azzura langsung mendekat dan duduk di samping Serly.

Sudah enam bulan sejak Serly kembali hadir dalam kehidupan mereka, dan selama itu pula Azzura semakin sering mencari keberadaan perempuan tersebut.

Dulu, Diandra adalah orang yang paling sering berada di sisi Azzura.

Sejak gadis kecil itu berusia lima tahun, Diandra yang menemaninya, merawatnya, mendengarkan ceritanya, bahkan menjadi tempat pertama Azzura mencari ketika membutuhkan sesuatu.

Namun sekarang semuanya terasa berbeda.

Azzura yang dahulu selalu merengek mencari Diandra kini justru lebih sering memanggil Serly.

“Mama, aku mau ini.”

“Mama, temani aku.”

“Mama, nanti kita main, ya?”

Setiap kali mendengar panggilan itu, Diandra hanya bisa tersenyum kecil.

Dia tidak pernah menyalahkan Azzura.

Anak kecil itu tidak tahu betapa dalam luka yang ditinggalkannya tanpa sengaja.

Diandra hanya berdiri dari kejauhan, menyaksikan Azzura begitu bahagia bersama Serly.

Dulu, dirinya adalah rumah bagi anak itu.

Sekarang, perlahan-lahan Diandra merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

Dan yang paling menyakitkan, tidak ada satu pun yang menyadari betapa hancurnya hati Diandra setiap kali melihatnya.

Tidak bisa dipungkiri, hati Diandra terasa begitu sakit.

Bahkan luka kali ini terasa jauh lebih dalam daripada saat Bastian mengabaikannya.

“Morning, Mommy.”

Suara Azzam membuat Diandra menoleh.

Untunglah masih ada Azzam.

Anak laki-laki itu tetap menjadi satu-satunya yang tidak berubah. Ia bahkan tidak terlalu dekat dengan Serly dan selalu memilih duduk di samping Diandra.

“Morning, Azzam.”

Tanpa diminta, Azzam langsung menarik kursi di sebelah Diandra.

Di sisi lain meja, Bastian duduk berseberangan dengan mereka. Serly dan Azzura berada di sisi yang berbeda.

“Mas, sini aku ambilkan.”

Serly mengambil nasi goreng yang baru saja dimasaknya, lalu menuangkannya ke piring Bastian.

“Aku sengaja masak nasi goreng telur kesukaanmu.”

“Terima kasih.”

Bastian menerima piring itu, tetapi pandangannya sempat beralih kepada Diandra.

Sejak tadi perempuan itu hanya diam.

Biasanya, Diandra akan menunjukkan rasa tidak sukanya setiap kali Serly berusaha mendekati Bastian. Bahkan makanan buatan Serly pun hampir selalu dia hindari.

Namun pagi ini berbeda.

Diandra justru mengambil nasi goreng tersebut dan mulai makan tanpa komentar.

Tidak ada sindiran.

Tidak ada kecemburuan.

Tidak ada usaha untuk merebut perhatian Bastian.

Anehnya, sikap tenang itu justru membuat Bastian merasa tidak nyaman.

“Mama, Azzura juga mau.”

“Iya, Sayang. Tunggu sebentar.”

Serly segera mengambilkan nasi goreng untuk Azzura.

“Ini.”

“Makasih, Mama.”

Serly tersenyum sambil mengusap rambut putrinya.

Kemudian dia menoleh kepada Azzam.

“Azzam, mau Mama ambilkan juga?”

Azzam langsung menggeleng.

Matanya justru tertuju kepada Diandra.

“Mommy.”

Tangan Diandra yang hendak menyuapkan makanan ke mulutnya berhenti.

“Azzam mau Mommy yang ambilkan.”

Anak itu meraih lengan Diandra.

“Mommy, ya?”

Dada Diandra terasa sesak.

Hanya dengan suara manja itu, pertahanannya hampir runtuh.

Selama enam bulan terakhir, ketika semua orang seolah perlahan menjauh darinya, Azzam tetap berada di sisinya.

Anak itulah yang membuat Diandra mampu bertahan.

Namun, sebentar lagi dia harus pergi.

Dan Azzam harus belajar menjalani hari-harinya tanpa dirinya.

Diandra mengusap rambut anak itu dengan lembut.

“Sayang... Azzam minta Mama Serly saja, ya.”

Azzam terdiam.

Wajah kecilnya berubah sedih.

Tatapan kecewa itu membuat hati Diandra seperti diremas. Dia ingin menarik Azzam ke dalam pelukannya dan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah meninggalkannya.

Namun, Diandra tahu dirinya harus belajar melepaskan.

“Serly,” panggil Diandra pelan. “Tolong ambilkan nasi untuk Azzam.”

Senyum Serly langsung terukir di wajahnya.

“Tentu.”

Diandra menundukkan wajahnya, berpura-pura sibuk dengan sarapan agar tidak ada yang melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

Sementara Azzam terus menatapnya.

Seolah anak itu tahu bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan Mommy-nya.

Serly diam-diam merasa lega.

Akhirnya Diandra mau menyerahkan urusan Azzam kepadanya.

“Azzam, Sayang. Tunggu sebentar, ya. Mama ambilkan.”

Serly mengambil nasi goreng, menaruhnya di piring, lalu berjalan menghampiri Azzam.

“Nah, ini untuk Azzam. Makan yang banyak, ya.”

Serly tersenyum sambil mengusap rambut anak itu.

Namun, bukannya menerima, Azzam justru mendorong tangannya.

“Aku nggak mau!”

Prang!

Piring berisi nasi goreng itu dilempar ke lantai.

Pecahan piring berserakan. Salah satu serpihannya mengenai kaki Serly hingga membuat kulitnya terluka dan mengeluarkan darah.

“Ah!”

Serly meringis sambil memegang kakinya.

“Serly!”

Bastian langsung bangkit dan menghampirinya.

Azzura yang melihat darah mulai panik.

“Mama!”

“Tenang, Sayang.” Serly berusaha tersenyum meski wajahnya menahan sakit. “Mama nggak apa-apa.”

Bastian berjongkok dan memeriksa luka di kaki Serly.

“Kakinya berdarah.”

Azzura mulai menangis.

“Mama sakit...”

“Jangan menangis, Sayang. Mama baik-baik saja.”

Melihat putrinya menangis dan Serly terluka, wajah Bastian berubah keras.

Dia berdiri lalu berjalan menghampiri Azzam.

“Azzam!”

Suara Bastian membuat suasana meja makan seketika hening.

“Kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan?”

Azzam turun dari kursinya.

“Papa nggak pernah mengajarimu bersikap seperti ini. Lihat akibatnya! Mama kamu sampai terluka.”

Azzam menatap Bastian tanpa gentar.

“Aku nggak suka dia.”

Bastian mengerutkan kening.

“Apa?”

“Aku nggak suka perempuan itu!”

Azzam menunjuk ke arah Serly.

“Aku nggak mau dia ada di rumah ini!”

“Azzam!”

Bastian hendak memarahinya, tetapi Diandra segera berdiri.

“Mas, cukup.”

Bastian menoleh.

Diandra berjalan mendekati Azzam, lalu berjongkok di hadapan putranya.

“Azzam...”

Anak itu langsung menatap Diandra dengan mata berkaca-kaca.

“Azzam cuma mau Mommy.”

Hati Diandra terasa hancur mendengarnya.

Namun, sebelum sempat menjawab, Bastian kembali berkata dengan nada tegas.

“Kamu tetap harus minta maaf kepada Serly.”

Azzam menggeleng kuat-kuat.

“Aku nggak mau!”

Diandra menutup mata sejenak.

Pagi yang seharusnya sederhana berubah menjadi pertengkaran yang membuat hatinya semakin berat.

Kalimat Bastian terhenti ketika Diandra tiba-tiba berdiri di hadapannya.

Tubuhnya menjadi penghalang antara Bastian dan Azzam.

Tatapan Diandra tajam, tetapi di balik ketegasan itu ada luka yang begitu jelas terlihat. Matanya memerah dan berkaca-kaca, seolah dia sedang berusaha mati-matian menahan tangis.

“Diandra...” suara Bastian melemah.

“Jangan bentak Azzam seperti itu, Mas.”

“Aku nggak bermaksud membentaknya. Aku cuma—”

“Jangan.”

Satu kata itu membuat Bastian terdiam.

Diandra menarik napas panjang.

“Mas urus saja Serly. Biar aku yang antar Azzam ke sekolah.”

“Diandra, tunggu.”

Namun Diandra tidak menghiraukannya.

Dia menghampiri Azzam, lalu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya.

“Ayo, Sayang.”

Azzam langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Diandra.

Tas sekolahnya diambil, kemudian Diandra melangkah meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi.

Azzam menyandarkan kepalanya di bahu sang Mommy.

“Mommy marah?”

Diandra menggigit bibir.

“Enggak, Sayang.”

Padahal suara Diandra mulai bergetar.

Begitu sampai di lorong, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.

Diandra segera mengusapnya agar Azzam tidak melihat.

Namun, Azzam justru mengangkat wajah kecilnya.

“Mommy nangis?”

Diandra tersenyum paksa.

“Cuma kelilipan.”

Azzam memeluk lehernya lebih erat.

Diandra mencium pipi putranya berkali-kali, seolah pelukan kecil itu adalah satu-satunya hal yang mampu membuatnya tetap kuat.

Dia kemudian mempercepat langkah menuju mobil.

Diandra tidak ingin menangis di depan siapa pun.

Tidak di depan Bastian.

Tidak di depan Serly.

Hanya Azzam yang boleh tahu bahwa di balik senyum Mommy-nya, ada hati yang sedang hancur.

Bastian bergegas menyusul sampai ke halaman depan.

Namun, semuanya sudah terlambat.

Mobil yang membawa Diandra dan Azzam telah meninggalkan halaman.

Bastian berhenti di tempatnya. Tangannya mengepal erat.

“Mas Bastian.”

Suara Serly terdengar dari belakang.

Bastian tidak langsung menjawab.

Dadanya terasa sesak oleh berbagai emosi yang bercampur menjadi satu. Marah, kecewa, bersalah, khawatir—semuanya datang bersamaan sampai dia sendiri tidak tahu harus melakukan apa.

Sementara itu, Diandra mengemudikan mobil dengan kedua tangan menggenggam kemudi erat.

Dia menarik napas dalam-dalam.

Tidak boleh menangis.

Tidak sekarang.

Dia harus berkonsentrasi. Kesedihan tidak boleh membuatnya kehilangan fokus saat membawa Azzam.

“Sayang.”

“Iya, Mommy?”

“Azzam jangan marah sama Daddy karena tadi Daddy membentak, ya.”

Azzam terdiam.

“Daddy cuma sedang emosi. Mungkin tadi Daddy terlalu marah sampai nggak bisa mengendalikan perasaannya.”

“Tapi Azzam tetap marah sama Daddy.”

Diandra melirik putranya sekilas melalui kaca spion.

“Wajar kalau Azzam kesal. Tapi jangan membencinya, ya?”

Azzam mengangguk kecil.

“Azzam lebih marah sama Mommy.”

Diandra tertegun.

“Kenapa?”

“Tadi Mommy nggak mau ambilin nasi goreng buat Azzam.”

Dada Diandra terasa nyeri.

“Mommy bukan nggak mau.”

“Terus kenapa?”

Diandra tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kesedihan di balik suaranya.

“Mommy cuma ingin Azzam belajar meminta bantuan kepada orang lain juga.”

“Tapi Azzam maunya Mommy.”

Kalimat sederhana itu membuat mata Diandra kembali berkaca-kaca.

Dia cepat-cepat mengedipkan mata.

“Mommy tahu.”

Azzam mengulurkan tangan kecilnya dan menggenggam tangan Diandra yang sedang berada di dekat tuas persneling.

“Jangan tinggalin Azzam, ya, Mommy.”

Diandra terdiam beberapa detik.

Lalu dia tersenyum lembut.

“Mommy nggak akan pernah berhenti menyayangi Azzam.”

Hanya itu yang sanggup dia janjikan.

“Kan sudah ada Mama Serly.”

“Azzam nggak suka perempuan itu.”

“Jangan bicara begitu, Sayang.”

Diandra mengusap rambut putranya. Namun, saat dia hendak menarik tangannya, Azzam justru menggenggamnya erat dan meletakkan tangan itu di pangkuannya.

“Azzam sayang sama Mommy,” ucapnya lirih. “Buat Azzam, cuma Mommy yang jadi ibu.”

Hati Diandra langsung terasa sesak.

“Tapi Mommy bukan ibu kandung Azzam, Sayang.”

“Terus kenapa?”

Azzam menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Kenapa kalau Mommy bukan ibu kandung Azzam? Berarti Mommy nggak mau sayang sama Azzam lagi?”

“Nggak, Sayang. Bukan begitu.”

“Mommy mau pergi?”

Diandra terdiam.

Azzam menundukkan kepalanya. Beberapa detik kemudian, Diandra merasakan punggung tangannya basah.

Dia menoleh.

Air mata Azzam telah jatuh.

“Jangan tinggalin Azzam, Mommy.”

Suara kecil itu membuat hati Diandra hancur.

“Azzam sayang banget sama Mommy.”

Diandra tak sanggup menjawab.

Dia segera menepikan mobil di tempat yang aman, kemudian melepaskan sabuk pengaman dan menarik Azzam ke dalam pelukannya.

“Mommy juga sayang banget sama Azzam.”

Air mata Diandra akhirnya jatuh.

Dia memeluk putranya erat, tetapi berusaha menahan suara tangisnya.

“Azzam cuma mau Mommy tetap sama Azzam.”

Diandra memejamkan mata.

“Bilang Mommy nggak akan pergi.”

Diandra membeku.

Dia ingin mengucapkan kalimat itu.

Sangat ingin.

Namun, dia tahu perceraian dengan Bastian sudah menjadi keputusan yang hampir tidak mungkin dibatalkan.

Dia tidak mau memberikan janji yang mungkin tidak sanggup dia tepati.

“Mommy...” isak Azzam. “Tolong jangan pergi. Azzam nggak mau kehilangan Mommy.”

Tangis keduanya pecah di dalam mobil.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang mampu mengatakan apa pun.

Mereka hanya saling berpelukan, membiarkan air mata mengalir sampai perlahan rasa sesak di dada sedikit mereda.

Diandra mengusap pipi Azzam.

“Sudah, Sayang. Jangan menangis terus. Lihat, mata Azzam sampai bengkak.”

Azzam mengusap pipi Diandra yang basah.

“Mommy juga jangan menangis.”

Diandra tersenyum tipis.

“Kenapa?”

“Kalau Mommy sedih, Azzam ikut sedih.”

Diandra kembali memeluknya.

Dalam hati, dia hanya bisa berdoa agar suatu hari nanti Azzam mengerti.

Bahwa meninggalkannya bukan berarti Diandra berhenti menyayanginya.

Justru karena terlalu menyayanginya, perpisahan ini terasa begitu menyakitkan.

“Anak Mommy memang paling manis.”

Diandra tersenyum, lalu mengecup pipi Azzam dengan penuh sayang.

Setelah memastikan putranya sudah lebih tenang, Diandra kembali menyalakan mobil dan melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba.

Diandra memarkirkan mobil di area sekolah. Baru saja dia dan Azzam turun, sebuah mobil berhenti tidak jauh di belakang mereka.

Diandra langsung mengenali mobil itu.

Bastian.

Pria itu turun bersama Serly dan Azzura.

Diandra menghela napas pelan.

Dia tidak ingin pagi yang sudah cukup berat menjadi semakin rumit.

Azzam berdiri di sampingnya ketika Azzura menghampiri mereka.

“Azzam, kenapa ninggalin Azzura?”

Gadis kecil itu memasang wajah kesal kepada saudara kembarnya.

“Azzura sendirian.”

Kemudian matanya beralih kepada Diandra.

“Gara-gara Azzura juga kaki Mama Serly sampai terluka.”

Azzura mengangkat salah satu kakinya, lalu menunjuk plester yang menempel di sana.

“Lihat, Mommy. Mama Serly harus pakai plester.”

Diandra hanya mengangguk.

“Iya, Mommy lihat.”

Azzura masih menatap Azzam dengan wajah cemberut.

“Makanya jangan bikin Mama Serly sedih lagi.”

Azzam langsung merapat ke sisi Diandra.

“Azzam nggak suka Mama Serly.”

“Azzam,” tegur Bastian dengan suara rendah.

Diandra segera menatap putranya.

“Sudah, Sayang. Jangan bertengkar sama Azzura.”

Azzam mengangguk, tetapi tangannya tetap menggenggam tangan Diandra erat.

Bastian memperhatikan hal itu dalam diam.

Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Diandra yang biasanya mudah tersulut emosi kini justru terlihat tenang.

Namun, ketenangan itu anehnya membuat Bastian semakin gelisah.

Seolah-olah perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya perlahan mulai melepaskan dirinya.

Azzam sempat memperhatikan kaki Serly yang masih tertutup plester.

Tanpa berkata apa-apa, dia melepas tas sekolahnya dan membuka salah satu kantong kecil di dalamnya.

“Azzam, nggak perlu repot-repot, Sayang. Kaki Mama sudah diberi plester.”

Serly tersenyum haru melihat perhatian anak itu.

Namun, Azzam justru membawa sesuatu di tangannya dan berjalan melewati Serly.

Dia kemudian berjongkok tepat di depan Diandra.

Diandra yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya langsung membungkuk.

“Kenapa, Sayang?”

Azzam menunjuk kaki Diandra.

“Kaki Mommy juga luka.”

Diandra terdiam.

Dia baru sadar ada luka kecil di kakinya yang terkena serpihan piring saat kejadian tadi pagi.

“Nggak apa-apa, kok.”

“Tapi luka.”

Azzam membuka bungkus plester yang dibawanya.

“Mommy duduk. Azzam obatin.”

Hati Diandra langsung menghangat.

Di tengah semua hal yang membuatnya merasa kehilangan tempat di rumah itu, masih ada satu anak kecil yang selalu memperhatikannya.

Diandra tersenyum, lalu mengusap rambut Azzam.

“Iya, Sayang.”

Bastian yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya diam memperhatikan.

Tatapannya berpindah dari Azzam kepada Diandra.

Entah kenapa, pemandangan sederhana itu membuat dadanya terasa sesak.

Azzam mungkin tidak menyadarinya, tetapi dari caranya memperhatikan Diandra, Bastian bisa melihat satu hal dengan jelas.

Bagi anak itu, Diandra bukan sekadar perempuan yang selama ini tinggal bersamanya.

Diandra adalah rumah.

Diandra menatap luka kecil di dekat mata kakinya.

Kalau bukan karena Azzam mengingatkannya, mungkin dia bahkan tidak menyadari bahwa kulitnya terluka.

“Nggak apa-apa, Sayang. Sini, Mommy saja.”

“Azzam aja, Mommy.”

Azzam tetap bersikeras.

Dengan wajah serius, dia menempelkan plester pada luka kecil itu. Setelah selesai, bocah itu berdiri dan tersenyum puas.

Diandra langsung tersenyum haru.

“Terima kasih, Sayang.”

Tangannya mengacak rambut Azzam dengan gemas.

Di sisi lain, Serly hanya memutar mata.

Dia masih tidak mengerti bagaimana hubungan Azzam dan Diandra bisa sedekat itu.

Berulang kali Serly berusaha membuat Azzam menjaga jarak dari Diandra, tetapi semua usahanya tidak pernah berhasil.

Berbeda dengan Azzura yang jauh lebih mudah dipengaruhi.

“Sudah, sana masuk kelas.”

“Iya, Mommy.”

Azzam mencium tangan Diandra, lalu hendak berlari menuju halaman sekolah.

Bastian memperhatikannya dengan wajah sedikit kecewa.

Sejak tadi Azzam bahkan tidak menghampirinya.

“Padahal biasanya—”

Bastian belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika Diandra lebih dulu memanggil.

“Azzam, tunggu.”

Azzam berhenti dan berbalik.

“Kenapa, Mommy?”

“Kamu belum salam sama Daddy dan Mama Serly.”

Diandra menunjuk Bastian dan Serly.

“Dan jangan lupa, kamu punya adik. Jangan sampai Azzura merasa ditinggalkan.”

Azzura yang berdiri di samping Serly langsung menatap Diandra.

Ada sedikit keterkejutan di wajahnya.

Dia tidak menyangka Diandra masih memikirkan dirinya setelah semua yang terjadi.

“Ayo, sini.”

Azzam berjalan kembali dengan langkah malas.

“Salim dulu sama Daddy dan Mama Serly.”

Azzam akhirnya mencium punggung tangan Bastian, kemudian tangan Serly.

Setelah itu, bukannya langsung pergi, Azzam malah berbalik dan memeluk Diandra erat.

Diandra tertawa kecil sambil mengusap punggungnya.

“Lho, kok malah peluk Mommy?”

“Azzam sayang Mommy.”

Hati Diandra kembali terasa hangat.

“Iya, Mommy juga sayang Azzam.”

Dia melepaskan pelukan itu perlahan.

“Sekarang masuk kelas, nanti belnya bunyi.”

Azzam mengangguk, lalu berlari menuju gerbang sekolah.

Diandra memperhatikannya sampai anak itu menghilang di balik kerumunan murid.

Sementara Bastian masih berdiri diam.

Tatapannya mengikuti punggung Azzam, lalu beralih kepada Diandra.

Untuk pertama kalinya, dia mulai menyadari bahwa ikatan antara Diandra dan Azzam mungkin jauh lebih dalam daripada yang selama ini dia pahami.

1
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!