Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pertanyaan Mama menggantung di udara bagai bom waktu yang tinggal tunggu detik meledak. Pandangannya bergantian menatap piring di meja dan dua wajah remaja di depannya yang mendadak pucat pasi.
Tenggorokan Kirei rasanya mengering seketika. Lidahnya kelu, kehabisan ide untuk menyusun alasan yang masuk akal. Mana mungkin ia jujur kalau porsi nasi goreng itu sebenarnya piring Arka yang baru saja ia singkirkan irisan daun bawangnya?
Di tengah kepanikan yang menyergap, Arka mendadak tertawa pelan. Santai dan renyah sekali—seolah beberapa detik lalu dadanya tak ikut berdegup kencang.
"Eh, Tante... maksud saya, Mama," panggil Arka dengan nada yang sengaja dilembutkan. Kontras sekali dari gaya bicaranya yang biasa tengil. Sambil berucap, sikunya menyenggol pelan bahu Kirei. "Ini... Kirei tadi ngambek, Ma. Katanya pengin disuapin gara-gara capek habis rapat OSIS. Makanya kita makan sepiring berdua."
Disuapin?!
Mata Kirei membelalak. Kepala Kirei menoleh patah-patah ke arah Arka, sementara otaknya menjerit histeris. Sejak kapan gue sudi minta disuapin cowok menyebalkan ini?!
Belum sempat mulutnya terbuka untuk protes, jemari Arka sudah lebih dulu menyelusup ke sela-sela jarinya, menggenggamnya erat. Cengkeraman itu kuat, menyalurkan ancaman terselubung yang sangat jelas: Ikuti alurnya kalau lo nggak mau rahasia ini terbongkar!
Ibu Kirei sempat tertegun sebelum akhirnya senyum mengembang lebar di wajah cantiknya. Sorot khawatir di matanya lantas berganti menjadi godaan hangat yang bikin pipi Kirei mendadak panas.
"Astaga, Kirei... Mama kira ada apa," kekeh ibunya sambil melangkah masuk dan memosisikan keranjang buah di meja dapur. "Kamu ini udah jadi istri, lho. Tapi manjanya masih aja dipelihara. Kasihan Arka-nya, baru pulang latihan basket malah kamu suruh nyuapin."
"N-nggak kok, Ma," sahut Kirei terbata. Usahanya menarik tangan dari genggaman Arka malah dibalas kuncian jari yang kian rapat. Senyum kaku terpaksa Kirei sunggingkan. "Arka-nya... emang sengaja pengin nyuapin Kirei."
"Nggak apa-apa kok, Ma," potong Arka cepat, melepas senyum paling manis yang sukses bikin perut Kirei mual. "Saya malah senang kalau Kirei mau manja gini. Biar makin kelihatan sayang."
Kirei menyipitkan mata, melempar tatapan membunuh. Awas lo ya, Arka! Habis ini gue cincang lo!
Ibu Kirei manggut-manggut puas seraya mengelus bahu Arka. "Mama lega banget ngeliat kalian akur gini. Jujur, awalnya Mama takut kalian bakal berantem terus mengingat sifat kalian di sekolah yang sama-sama keras kepala."
"Kami akur banget kok, Ma. Iya kan, Sayang?" bisik Arka tepat di samping telinga Kirei. Hembusan napas hangatnya menyapu leher, memicu sensasi aneh yang bikin bulu kuduk Kirei berdiri seketika.
"I-iya..." desis Kirei sembari meremas jemari Arka sekuat tenaga sampai cowok itu meringis tipis tanpa suara.
"Ya sudah kalau gitu, Mama nggak bisa lama-lama," ucap ibunya sambil melirik jam tangan emas di pergelangan tangan. "Ayah masih nunggu di mobil depan kompleks. Tapi sebelum pulang... Mama mau liat kamar kalian sebentar. Mau memastikan sprei sama AC-nya udah terpasang bener."
BAM!
Dunia Kirei rasanya runtuh saat itu juga.
Kamar? Kamar utama?!
Rumah dua lantai ini punya empat kamar, tapi cuma kamar utama di atas yang sudah dibersihkan ART dua hari lalu. Kamar lain masih penuh tumpukan kardus. Artinya, seluruh pakaian Arka dan Kirei... menumpuk di kamar yang sama!
Masalah utamanya bukan cuma itu. Di dalam kamar ada dua tempat tidur yang disatukan secara paksa, ditambah seragam sekolah Arka yang bertebaran asal di atas karpet!
"Ma! Nggak usah!" potong Kirei panik, refleks berdiri menutupi akses tangga. "K-kamar kita agak berantakan, Ma! Kirei belum sempat beres-beres!"
Alis ibunya bertaut. "Lho, berantakan kenapa? Kan cuma tinggal berdua. Biar Mama bantu rapikan sedikit."
"Nggak usah, Ma!" Kirei makin kelabakan, menyikut rusuk Arka agar cowok itu ikut memutar otak.
Arka sigap menyambut sinyal bahaya. Ia berdeham, lantas merangkul bahu Kirei santai, menarik tubuh cewek itu makin mepet ke sisinya. "Bener kata Kirei, Ma. Tadi... kami agak buru-buru pas ganti baju. Kamarnya beneran berantakan banget. Malu kalau Mama lihat sekarang."
Sorot mata Ibu Kirei mendadak berubah. Ia melirik rangkulan tangan Arka di bahu Kirei, lalu terkekeh pelan penuh pemakluman.
"Ah... begitu ya," godanya. "Aduh, Mama paham kok. Pengentin baru memang butuh privasi. Ya sudah, Mama percaya. Tapi ingat ya, besok pagi kamarnya tetap harus dirapikan!"
"Siap, Ma," sahut Arka mantap.
Usai merampungkan rentetan nasihat panjang soal kesehatan dan doa agar pernikahan mereka awet, Ibu Kirei akhirnya benar-benar melangkah keluar.
Begitu deru mesin mobil di luar berangsur menjauh dan menghilang di ujung kompleks, rangkulan Arka di bahu Kirei langsung terlepas. Kirei pun buru-buru mundur dua langkah, menjauh seolah Arka adalah sumber penyakit.
Atmosfer hangat yang tadinya dibuat-buat langsung mencair, berganti hawa dingin dalam hitungan detik.
"Gila lo ya?!" semprot Kirei dengan napas memburu. "Disuapin?! Manja?! Muka lo mau ditaruh di mana kalau sampai Mama tahu kita tiap hari kerjaannya cuma cakar-cakaran?!"
Arka mendengkus sinis, mengacak rambutnya yang agak berantakan. Ia berjalan menuju sofa, menyambar jaketnya. "Harusnya lo terima kasih sama gue, Kirei. Kalau bukan gara-gara ide jenius gue tadi, Mama lo pasti udah curiga kenapa piring cuma ada satu dan kenapa suasana rumah dingin kayak kuburan."
"Tapi nggak usah pakai sebut kata 'Sayang' segala, kan?!" amuk Kirei. Wajahnya merona merah—perpaduan antara malu dan emosi yang memuncak.
Arka menghentikan langkah tepat di anak tangga pertama. Ia menoleh, menatap Kirei dari atas ke bawah dengan seringai miring khasnya.
"Kenapa? Lo baper?" bisik Arka, nada suaranya sarat ejekan. "Cuma dipanggil 'sayang' doang jantung lo udah mau melompat keluar gitu?"
"Nggak sudi!" sembur Kirei cepat. "Dalam mimpi pun gue nggak bakal baper sama cowok biang kerok kayak lo!"
"Bagus kalau gitu," balas Arka dingin. Seringainya perlahan memudar, berganti raut serius. "Soalnya malam ini, gara-gara kepanikan lo tadi... kita terpaksa harus tidur di kamar yang sama."
Kirei membeku. "Maksud lo apa?!"
Arka mengarahkan dagunya ke lorong lantai dua. "Lo dengar sendiri kan kata Mama lo tadi? Besok pagi dia bisa aja mampir lagi buat ngecek kamar. Kalau dia lihat salah satu dari kita tidur di sofa lantai bawah, sandiwara ini selesai."
Tanpa memedulikan Kirei yang berdiri terpaku di ruang tengah dengan degup jantung tak beraturan, Arka menaiki tangga. Malam ini, di bawah atap yang sama, musuh bebuyutannya itu baru saja mendeklarasikan bahwa mereka harus berbagi kamar yang sama.