Update setiap hari!
Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.
"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.
"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Bianca masih lemas, otot kakinya terasa kaku dan sulit di gerakkan.
"Bagaimana bisa, bahkan sekarang pria ini yang akan jadi boss ku. Apakah aku memang sesial ini, apakah aku harus ke dukun untuk menyantet dia? O tidak jangan, karena aku juga masih sayang. Atau kah aku harus lari. Tapi aku butuh pekerjaan” Ucap Bianca kepada dirinya sendiri bahkan merasakan dejavu. Otak benar-benar berisik sekarang ini.
“Sudah aku bilang bukan, percuma kamu lari Bianca” Ucap Arsenio sambil tersenyum evil.
Bianca pun terkejut, Kedua kakinya gemetar. Badannya kaku dan lemas sudah tak kuat menompang tubuhnya, hingga akhirnya ia ambruk di lantai.
"Bianca, kamu baik-baik saja?" ujar Renzo kepada Bianca, namun di balas gelengan kepala oleh gadis itu.
"Apa ini, apa aku benar-benar sudah gila? Bagaimana bisa itu Arsen? Bagaimana bisa?" ujar Bianca dalam hati.
Dirinya terus menunduk, ia bahkan tak berani untuk menatap wajah Arsenio. Arsen pun menghampirinya, Pria itu berjongkok tepay dihadapan Bianca, dan menggenggam dagunya lalu mendongakkan kepala gadis itu ke atas agar dapat menatapnya.
"Bianca, apa aku bilang,"
"Kamu itu, tidak akan pernah bisa lari dariku. Sayang" ucapan Arsen itu benar-benar terdengar ancaman bagi jiwa Bianca, bagaimana bisa ia mendengarkan kata sayang itu setelah mereka putus.
Bianca yang sadar pun merasa tengah terhipnotis, lalu Arsen yang melihat ekspresi Bianca pun sangat merasa gemas. Ingin sekali ia mencubit pipinya yang imut itu.
"Jangan di lihat terus. Nanti cinta lagi" ujar Arsen saat Bianca terus menatapnya.
Bianca pun lekas berdiri, ia menggelengkan kepalanya untuk kembali menjernihkan pikiran, dan setelahnya langsung berlari kencang hingga membuat semua staf bertanya-tanya. Ada apa dengan dirinya.
"Hahahaha, Oh gila. Dia bahkan masih bisa menatapku seperti itu" Arsen tertawa, ia bahkan sudah seperti orang buta cinta.
"Aku rasa, di sini hanya aku yang tak paham dengan kalian, Aish. Sebenarnya kalian ini apa? Baru kali ini aku melihat ada mantan yang seperti ini. Sangat tidak profesional." Batin Renzo sambil memalingkan muka dengan raut wajah yang terus menahan tawa.
Bianca berlari keluar dari ruangan presdir, dirinya dengan buru-buru lekas turun dengan menggunakan lift. Setelah beberapa saat lift itu akhirnya terbuka.
Tanpa pikir panjang, Bianca dengan perasaan kalutnya itu, kini pergi ke ruang HRD untuk pemutusan kontrak kerja.
"Mba, saya mau ketemu sama Bu Tia," ucap Bianca kepada salah satu staf yang berada di ruangan itu.
"Lurus saja mba, nanti kalau ada belokan, belok kanan, nah itu ruangan Bu Tia. Mbanya bisa langsung masuk!" Bianca yang mendengar itu pun berterima kasih kepada staf yang sudah baik menunjukkannya jalan.
"Makasih ya mba"
"Iya, sama-sama,"
Bianca dengan cepat pergi ke ruangan itu, benar saja. Bu Tia sedang ada di sana, dirinya tengah berada di depan sebuah laptop dan tengah bekerja.
"Ada apa ya mba?" ujar Bu Tia setelah ia sekilas melihat ada orang yang masuk ke ruangan.
Bianca tanpa pikir panjang langsung menghampiri wanita itu, ia kemudian menggebrakkan meja saking kalutnya.
BRAAAKKK!
Hal itu sontak membuat Bu Tia yang tengah mengetik, langsung menghentikan aktivitasnya.
"Jadi gini mba, saya mau mengajukan pemutusan kontrak kerja yang tadi" Ucap Bianca, terus terang.
Bu Tia syok seketika, saat mendengar hal itu. Pasalnya ia telah di perintahkan oleh Arsen untuk mencoba mempertahankan Bianca saat dia meminta putus kontrak, atau semacamnya.
"Jadi hal ini benar-benar terjadi?" Ucap Bu Tia dengan raut wajah yang tampak bingung.
"Maksud Bu Tia apa,?"
"Kenapa Bu Tia berucap seperti itu? Apa ini semua ada hubungannya dengan Arsen?"
Raut wajah Bu Tia benar-benar berubah, ia yang tadi seperti tampak kebingungan kini berubah menjadi senyum seketika. Namun Bianca tak bodoh, ia tahu bahwa pasti Bu Tia telah di suruh oleh Arsen untuk mengirimkannya pesan panggilan kerja.
"Dasar Arsen, jadi ini semua benar ulah kamu" ucap Binaca walau di sana ada Bu Tia. Bu Tia yang mendengar itu, bahkan kini di buat kebingungan sekejap olehnya.
"Bu Tia, tolong cabut kontrak itu! Saya tidak ingin bekerja di sini."
"Maaf, namun tidak bisa semudah itu. Anda sudah teken kontrak untuk 3 tahun di sini, dan itu tidak bisa di ganggu gugat" Ucap Bu Tia tegas, memang benar. Bianca sudah menandatangani surat kontrak itu, dan itu artinya. Meskipun Bianca mengundurkan diri, ia masih ada ikatan kontrak yang harus tetap di jalankan. Kecuali jika perusahaan yang memecatnya.
Bianca yang mendengar itu pun pasrah, ia keluar dari pintu HRD itu dengan napas tersengal. Kepalanya pusing seakan telah melayang ke mana-mana.
"Haha, hahaha, aku pasti sudah gila sekarang" Bianca bahkan kini mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia tak bisa lari lagi, di satu sisi ia kesulitan menerima kenyataan dan fakta ini bahwa mantan pacarnya adalah bos barunya. Sedangkan di sisi lain, Bianca masih harus mencari uang untuk menyambung hidupnya. Mau tak mau ia harus menerima kenyataan ini, dan harus bisa menghadapi bosnya.
"Bagaimana ini, aku harus apa? Siapa pun tolong!" Gadis itu kini luruh di lantai, dramatis sekali seolah hidupnya benar-benar penuh drama. Setelah luruh di lantai, kini ia malah berdiri dan memeluk tembok di sampingnya seperti cicak yang berada pada dinding. Untung saja koridor itu sepi, jadi tidak ada yang melihat tingkahnya yang konyol itu. Dasar Bianca.
Renzo sedari tadi ternyata mencari Bianca, ia kini menemukan gadis itu tengah memeluk tembok seperti orang bodoh.
"HUAAAAAA, ini tidak adil. Ini tidak adil untukku. Tuhan, jika dia bukan jodohku, maka jauhkan lah kami. Jauhkan lah, yang jauh sampai ke mars pun tak apa," ucapan Bianca itu ternyata di dengar oleh Arsen. Ia sedari tadi rupanya berada di belakang Renzo.
"Astaga naga, Arsen, kau benar-benar membuatku terkejut saja" Arsen benar-benar tak menggubris ucapan sahabatnya. Ia sibuk menatap gadis cantiknya itu, ia bahkan mengikuti gerakan Bianca dan memeluk tembok di sampingnya.
Mata mereka kini saling menatap, Bianca seketika memanyunkan bibirnya tanda tak suka di ikuti oleh Arsen. Renzo yang melihat hal itu, seketika langsung tepuk jidat.
"Kau serius, kenapa kalian tidak jadian lagi saja. Kalian benar-benar mengujiku di sini" ucap Renzo yang sudah sangat frustrasi dengan kedua orang itu.
"Bianca" Renzo memanggil Bianca, dan gadis itu pun sadar. Ia membulatkan matanya tak percaya akan hal itu, dirinya bahkan langsung malu atas kelakuannya sendiri.
"Sial, ini benar-benar memalukan" Bianca baru sadar rupanya bahwa sedari tadi sudah ada Arsen dan Renzo yang sudah berada di sana. Bahkan kini Bianca sampai memalingkan mukanya, lantaran merasa malu atas kelakuannya yang konyol itu.
"Bianca....., di cari itu sama Pak Bos" ucap Renzo sambil mencolek pundak Bianca dan mendapat tamparan tangan oleh bosnya.
Dengan gayanya yang narsis, petantang petenteng abis. Arsen menghampiri Bianca dan menarik dagunya agar dapat menghadap wajahnya.
"Sudah jangan kabur, Renzo. Borgol tangan nya!"
"Siap bos"
Renzo pun mengambil borgol, entah dari mana dia mendapat kan itu. Arsenio pun mengulur kan tangan nya. Bianca yang syok pun, spontan berteriak, ia benar-benar membulatkan matanya saat tangannya di kaitkan dengan lengan tangan Arsen, yang kini di borgol oleh Renzo.
"TIDAK, OK AKU AKAN IKUT. AKU AKAN JADI ASISTEN MU, NAMUN LEPASKAN BORGOL INI."
Mendengar itu Arsen pun dengan senyumannya yang evil, mengambil kunci, dan melepaskan borgol tangannya dan Bianca.
"Ok, ayo kita pergi untuk tugas pertamamu Bianca" Arsen benar-benar bersemangat sekali. Ia bahkan menggenggam tangan Bianca meski gadis itu terus meronta dan menolak.
"Ok, kita akan kemana?" Tanya Bianca dan di jawab helaan napas oleh Renzo.
"Kita akan terbang ke Surabaya hari ini dan pulang jam 9 malam” Mendengar Jawaban Renzo, Bianca pun kembali syok bukan main.
"What?"
Arsen, menunjukkan jam nya. "Nona Asisten, kita bisa terlambat. Waktu itu adalah uang, kau paham kan!?"
Bianca pun terpaksa mengangguk, "terserahlah, sekarang terserah. Toh juga aku butuh uang" Setidaknya itu lah yang Bianca pikirkan sampai akhirnya.
BERSAMBUNG