Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Setiap hari yang berlalu, keraguan di hati Miska semakin menumpuk Askar berubah total—pulang makin larut, ponsel selalu disembunyikan layarnya menghadap ke bawah, sering berbicara pelan di sudut ruangan dengan nada lembut yang tak pernah ia dengar saat berbicara dengannya. Aroma parfum yang bukan miliknya sering tertinggal di baju suaminya, harum yang manis dan memikat, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang hanya berbau sabun dan peluh KERINGAT. Sering kali Miska menatapnya lama, berharap Askar akan jujur, namun pria itu selalu memalingkan wajah dengan tatapan bersalah yang berubah menjadi tajam seketika.
Hari itu, saat Askar sudah berangkat kerja, Miska memberanikan diri menghadap Ibu Suryati. Meski tahu harapan itu tipis, ia ingin sekali mendengar kata-kata yang menenangkan, sekadar dibela sedikit saja.
"Ibu..." panggilnya pelan, berdiri di ambang pintu ruang tengah. "Saya mau bicara sebentar sama ibu."
Ibu Suryati sedang menonton televisi, menoleh malas. "Apa lagi? Kamu itu tiap hari saja ada saja yang mau dibicarakan. Cepatlah, saya sedang asyik menonton."
Miska menarik napas dalam, menelan rasa malu. "Saya... saya merasa Askar berubah, Bu. Dia pulang terlambat, ponselnya selalu dijaga, ada aroma parfum wanita lain di bajunya... Saya takut dia dekat dengan wanita lain. Apa Ibu nggak melihat perubahannya juga?"
Ibu Suryati tertawa sinis, mematikan suara televisi lalu menatap Miska dengan tatapan merendahkan.
"Halah, itu hanya perasaan kamu saja ? Kamu ini memang tidak punya pekerjaan lain selain memikirkan hal-hal yang tidak berguna ya?"
"Bukan begitu, Bu... Saya hanya khawatir. Kalau memang ada wanita lain, apa Ibu tidak keberatan? Askar itu suami saya, anak Ibu juga..."
"Terus kenapa kalau ada wanita lain?" potong Ibu Suryati dengan nada tajam, bersandar santai di sofa. "Kamu itu jangan terlalu berlebihan. laki-laki itu memang begitu, kalau istrinya tidak bisa memberi kenyamanan, wajar saja kalau dia mencari ke tempat lain. Lihat dirimu sendiri! Tiap hari hanya pakai daster lusuh, wajah kusam, tidak bisa bicara yang manis-manis. Lain dengan wanita yang pantas mendampingi anakku—pintar, cantik, berpenampilan rapi, tahu cara memanjakan suami."
Miska tertegun, matanya membelalak tak percaya. "kenapa ibu bilang begitu? Ibu malah mendukung kalau Askar dekat sama wanita lain?"
"Kenapa harus saya cegah?" Ibu Suryati mendengus kasar. "Sudah lama saya tidak suka kamu. Tidak punya apa-apa, latar belakang biasa saja, bahkan tidak bisa memberi keturunan sampai sekarang. Kalau saja Askar menemukan wanita yang lebih baik, justru itu keuntungan bagi keluarga kami. Kamu seharusnya sadar diri, jangan menahan dia terus. Kalau dia mau pergi, biarkan saja. Atau... kamu mau diusir baru mau pergi?"
Air mata Miska jatuh tanpa bisa ditahan. "Saya sudah berusaha sebaik mungkin, Bu... Saya mengurus rumah, melayani Askar, menghormati Ibu setiap hari. Kenapa Ibu tetap tidak pernah menganggap saya ada?"
"Karena kamu memang tidak pantas ada di sini!" bentak Ibu Suryati keras. "Pergilah! Jangan menampakkan wajahmu yang menyedihkan itu di depan saya. Kalau nanti Askar benar-benar punya wanita lain, itu semua salahmu sendiri—karena kamu tidak bisa menjaga suamimu dengan baik!"
Miska lari masuk ke kamar, menutup pintu dan bersandar di baliknya, tubuhnya gemetar hebat. Yang ia harapkan sekadar didengarkan, sekadar dihibur sedikit saja, namun yang ia dapat justru pisau yang ditusukkan tepat ke jantungnya. Bahkan ibunya sendiri mendukung perbuatan itu, seolah-olah kesetiaan Miska selama ini hanyalah sampah yang tak berharga.
Di kantor, suasana sangat berbeda. Ruangan itu penuh tawa dan obrolan hangat yang tak pernah lagi ditemukan Askar di rumahnya sendiri.
"Rara, laporan proyek yang tadi sudah selesai belum?" tanya Budi, rekan kerja yang duduk di meja depan.
"Selesai, pak Budi! Tadi sudah saya kirim ke email tim," jawab Rara dengan senyum cerah, wajahnya berseri-seri, rambutnya tertata rapi, baju kerjanya pas di badan menonjolkan kecantikannya yang alami.
"Wah, cepat sekali kerjamu," puji Askar yang baru keluar dari ruangannya, berdiri tepat di samping meja Rara. Matanya menatap wanita itu dengan tatapan kagum yang tak bisa disembunyikan. "Kamu memang selalu luar biasa, Ra."
Rara tersenyum malu, menunduk sebentar lalu menatap balik ke arah Askar. "Ah, pak Askar bisa saja. Ini kan tugas saya sebagai sekretaris. Lagipula, pak askar yang selalu membimbing saya, jadi pasti berusaha sebaik mungkin."
"Nah, itu baru semangat!" timpal Sari, staf lain yang lewat. "Kalau Askar dan Rara sudah bekerja bersama, rasanya semua pekerjaan berat jadi ringan saja ya. Benar-benar kerja sama yang hebat."
"Tentu saja," kata Askar pelan, matanya tak lepas dari Rara. "Kita memang sangat cocok, bukan? Bekerja sama, berpikir sama, bahkan selera humor pun sama. Rasanya... seperti kita sudah saling kenal sejak lama sekali."
Rara tersipu, pipinya memerah. "pak Askar bikin malu saja, ada teman-teman yang mendengar."
"Biarkan mereka mendengar. Yang saya katakan itu benar," jawab Askar lembut, tangannya menyentuh bahu Rara sebentar, sebuah sentuhan yang lebih dari sekadar rekan kerja.
Siang itu mereka makan bersama di kantin kantor, duduk berhadapan, tertawa membicarakan masa lalu—tentang sekolah dulu, tentang perasaan yang sempat terpendam, tentang betapa takdirnya aneh bisa mempertemukan mereka kembali di tempat kerja. Semua karyawan yang lewat hanya tersenyum melihat keakraban mereka, sebagian bahkan berbisik bahwa mereka tampak seperti pasangan yang serasi, bukan atasan dan bawahan.
Malam mulai turun, langit berubah gelap pekat. Askar mengantar Rara pulang, mobil melaju pelan di jalan yang sepi. Sesampainya di depan rumah kost Rara, mesin mobil dimatikan, namun keduanya tidak segera turun. Hening menyelimuti kabin, hanya terdengar napas satu sama lain yang mulai berpacu.
"Sudah sampai, mas" bisik Rara, suaranya lembut dan berat.
"Ya... sudah sampai," jawab Askar pelan, matanya menatap wajah wanita itu dalam-dalam, seolah tak sanggup melepaskannya. "Rara... setiap kali bersamamu, rasanya waktu berjalan terlalu cepat. Dan saat harus berpisah, rasanya hati ini berat sekali."
Rara menatapnya balik, matanya berbinar dalam kegelapan. "Saya juga merasakannya, mas. Setiap hari saya menantikan saat bisa berbicara dengan mas. Rasanya... rumah ini terasa sepi sekali kalau tidak ada mas di dekat saya."
Askar tidak tahan lagi, ia mendekat, kedua tangannya merangkul pinggang ramping Rara, menarik tubuh wanita itu mendekat ke arahnya hingga dada mereka saling menempel. Rara memejamkan mata, membalas pelukan itu dengan erat, tangannya melingkar di leher Askar, jari-jemarinya menyentuh rambut di tengkuk pria itu.
"mas..." desis Rara pelan saat bibir mereka hampir bersentuhan.
"Jangan ditanya, Ra. Biarkan saja..." bisik Askar, lalu bibirnya menekan bibir Rara dengan lembut namun penuh hasrat. Ciuman itu bermula pelan, lalu semakin dalam dan hangat, seolah melepaskan segala rindu yang terpendam. Tangan Askar perlahan bergerak, menyentuh kulit lembut di balik kemeja, jari-jarinya menjelajahi pinggang dan punggung wanita itu, sentuhan yang hangat, menggoda, dan penuh keinginan. Rara mendesah pelan, membiarkan tangannya menyentuh dada bidang pria itu, merasakan detak jantung yang sama berpacu kencangnya dengan miliknya. Di dalam mobil yang remang itu, mereka lupa segalanya—lupa pada kewajiban, lupa pada janji suci, lupa bahwa di rumah yang lain ada hati yang sedang menunggu dan terluka. Hanya ada mereka berdua, dan api yang mulai menyala, semakin membesar hingga tak lagi bisa dibendung.
Saat akhirnya mereka melepaskan pelukan, napas keduanya terengah-engah, wajah mereka saling berhadapan jarak sangat dekat.
"Masuklah ke dalam, Ra. Sudah larut," ucap Askar pelan, meski hatinya ingin sekali menahannya lebih lama.
"mas Askar juga hati-hati dijalan," jawab Rara lembut, lalu membuka pintu mobil dan turun, melangkah masuk ke kostnya sambil menoleh sekali lagi, senyum tipis terukir di bibirnya yang masih merah dan basah karena ciuman tadi.
Askar menatap punggungnya hingga hilang di balik pintu, lalu menyalakan mesin mobil dan melaju pulang. Di perjalanan, ia menyadari betapa jauh ia sudah melanggar—tak bisa lagi kembali. Namun pikirannya tentang Miska perlahan memudar, digantikan oleh wajah Rara yang terus berputar di kepalanya.
Sesampainya di rumah, pintu dibuka pelan. Lampu ruang tamu masih menyala redup. Miska sedang duduk menunggu di sofa, menyambutnya dengan senyum lembut yang biasa, meski matanya tampak lelah dan merah.
"malam mas kamu Sudah makan? Saya siapkan..."
Askar hanya mendengus kasar, melempar kunci mobil ke meja dengan kasar tanpa menatap istrinya. "Sudah, tidak usah. Saya sudah makan di luar. Dan jangan menunggu saya terus, percuma saja."
Ia berjalan melewati Miska tanpa menyentuhnya sedikit pun, menuju kamar. Di tubuhnya masih tertinggal aroma Rara, aroma yang semakin menguatkan kecurigaan Miska—bahwa pria yang ia cintai itu, sudah benar-benar bukan miliknya lagi.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪