NovelToon NovelToon
Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Sudah hampir lima hari Tiyas terbaring tak berdaya di ruang ICU. Selama lima hari itu pula, Narendra hampir tidak pernah bergeser dari depan kaca jendela dingin tersebut, memantau setiap embusan napas calon istrinya yang dibantu mesin ventilator.

Sore itu, derap langkah ramah terdengar mendekat. Imelda dan Robby kembali datang berkunjung.

Kali ini mereka membawa beberapa kantong berisi makanan hangat dan pakaian ganti bersih untuk Narendra.

"Ren, ini ada nasi hangat sama baju ganti," ucap Imelda pelan sambil menyodorkan kantong kain pada Naren.

Kondisi Imelda sendiri sudah jauh lebih tenang meski raut cemas masih membayang di wajahnya.

"Papa Joni sama Ibu mana, Ren?" tanya Robby menimpali, menyapu pandangannya ke sekitar koridor yang sepi.

"Papa Joni dan Ibu sudah pulang di rumah Tiyas," jawab Narendra dengan suara parau.

Tatapannya masih tertuju pada Tiyas di dalam sana.

"Aku yang minta mereka tinggal di sana sementara waktu. Aku nggak mau mereka ikut sakit kalau harus terus-terusan menginap di rumah sakit yang dingin ini."

Narendra tahu betul betapa rapuhnya kondisi fisik dan mental kedua orang tua Tiyas saat ini.

Mengizinkan mereka beristirahat di rumah yang layak adalah satu-satunya cara agar kesehatan Papa Joni dan Ibu tidak merosot runtuh.

Robby menepuk bahu Naren tegas, lalu membukakan kotak makan untuk sahabatnya itu.

"Sekarang giliran kamu, Ren. Kamu juga harus jaga kesehatan. Kalau kamu tumbang, siapa yang bakal ada di samping Tiyas pas dia buka mata nanti?"

Naren menatap kotak makanan itu diam. Ia sadar ucapan Robby benar.

Dengan tangan gemetar, Narendra akhirnya mulai makan sedikit demi sedikit, memaksakan setiap suapan masuk ke dalam kerongkongannya yang terasa sempit, demi menyisakan tenaga untuk menyambut keajaiban Tiyas yang selalu ia doakan.

BEEEP... BEEEP... BEEEP...

Suara ritmik monitor jantung dari dalam ruang ICU mendadak berubah tempo, diiringi derap langkah terburu-buru beberapa dokter dan perawat yang berhamburan masuk ke bilik perawatan Tiyas.

Narendra langsung meletakkan kotak makannya di atas kursi tunggu, mengabaikan makanan yang baru tertelan separuh.

Jantungnya berdebar kencang saat ia melangkah cepat mengikis jarak ke arah kaca bening.

Di atas ranjang, kelopak mata Tiyas bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka secara perlahan.

Cahaya lampu ruangan yang terang membuat pandangannya kabur, hanya menangkap bayangan samar sebuah ruangan asing bernuansa putih dingin dengan berbagai selang yang mengikat tubuhnya.

Dokter segera membungkuk, menyinari pupil matanya dengan penlight untuk memeriksa refleks saraf secara hati-hati.

"Ibu Tiyas. Ibu bisa mendengar suara saya?" tanya dokter lembut namun jelas di dekat telinganya.

Tiyas mengedipkan matanya lemah, merespons suara itu.

Perlahan namun pasti, Tiyas menganggukkan kepalanya kecil.

Jemari Tiyas yang masih terikat kain penahan medis di sisi ranjang bergetar halus.

Ia memutar kepalanya sedikit ke arah samping, menembus kaca bening yang membatasi ruangannya dengan lorong luar.

Di sana, di balik kaca dingin itu, ia melihat tiga bayangan familiar yang berdiri terpaku—Narendra, Imelda, dan Robby.

Mata Imelda langsung membelalak lebar, air mata keharuan meleleh seketika di pipinya. Ia mencengkeram lengan kekasihnya erat-erat.

"Tiyas, Naren, lihat! Dia sadar!" bisik Imelda histeris dengan suara bergetar menahan tangis bahagia.

Narendra mematung, dadanya bergemuruh hebat hingga napasnya tertahan.

Matanya bertaut langsung dengan pandangan sayu Tiyas yang menatapnya dari balik kaca.

Air mata Narendra menetes tanpa bisa ditahan lagi—sebuah tangisan lega dari berhari-hari keputusasaan yang akhirnya terbayar oleh keajaiban.

Narendra langsung menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela, matanya mengunci erat tatapan sayu Tiyas.

Di balik masker oksigen dan selang yang melilit, Tiyas mencoba menyunggingkan senyum tipis—sangat tipis dan lemah, namun cukup untuk meruntuhkan seluruh beban batu yang menghimpit dada Naren selama lima hari terakhir.

Dokter di dalam ruangan memeriksa refleks pupil dan tekanan darah Tiyas sekali lagi sebelum mengangguk lega ke arah perawat.

Setelah memastikan kondisi vitalnya stabil, dokter melangkah keluar menghampiri mereka.

"Kondisinya menunjukkan kemajuan yang sangat pesat," ucap dokter dengan senyum tipis di wajahnya.

"Masa kritisnya sudah lewat. Kesadarannya penuh, dan refleks motoriknya merespons dengan baik. Kami akan memindahkan Mbak Tiyas ke ruang perawatan biasa setelah melepas alat bantu napasnya secara bertahap."

Imelda langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis terisak dalam pelukan Robby.

"Terima kasih, Ya Tuhan. Makasih..."

"Dok, apa saya boleh masuk sebentar?" suara Naren terdengar parau, sarat akan kerinduan yang membuncah.

Dokter mengangguk. "Boleh, tapi sebentar saja ya. Pasien masih sangat lemas dan butuh banyak istirahat."

Setelah mengenakan baju steril khusus, Naren mendorong pintu ICU pelan-pelan.

Suara beep monitor yang tadinya terdengar menakutkan, kini terdengar bagai irama kehidupan yang menyelamatkan jiwanya.

Naren melangkah mendekat ke sisi ranjang. Ia berlutut di samping Tiyas, mengambil tangan wanita itu yang perlahan mulai dilepas ikatan talinya oleh perawat.

Naren mencium jemari Tiyas dengan lembut dan lama, membiarkan air matanya menetes di kulit dingin Tiyas.

"Sayang," bisik Naren liris, suaranya bergetar hebat.

"Kamu kembali. Terima kasih sudah berjuang buat aku."

Tiyas menatap Naren dengan mata terikat haru. Suaranya sangat pelan, hampir tak terdengar di balik masker oksigen, namun terasa begitu dalam merasuk ke dada Naren.

"Na... ren," bisik Tiyas patah-patah.

"Jangan... menangis."

Naren menggeleng cepat sambil tersenyum di tengah tangisnya.

Ia mengusap lembut sisa perban di kepala Tiyas dengan penuh kasih sayang.

"Aku nggak menangis karena sedih, Tiyas. Aku bahagia banget. Papa sama Ibu sehat, penjahatnya sudah ditangkap polisi. Sekarang fokus kamu cuma satu, sembuh untuk aku, ya?"

Tiyas mengedipkan matanya perlahan, mengiyakan janji itu dalam heningnya ruang ICU yang kini tak lagi mencekam, melainkan penuh dengan kehangatan dan harapan baru.

Narendra melangkah keluar dari ruang ICU, membiarkan tim medis bekerja secara maksimal.

Di dalam ruangan, para perawat secara bertahap melepas mesin-mesin besar dan alat bantu napas yang selama lima hari ini menopang hidup Tiyas, menyisakan selang infus di punggung tangannya.

Tak lama kemudian, Tiyas dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang jauh lebih nyaman dan tenang.

Narendra setia mendampingi setiap langkahnya. Pria itu duduk di kursi tepat di samping ranjang, menatap Tiyas dengan pandangan yang tak pernah redup oleh rasa kasih.

Tiyas meraba bagian atas kepalanya yang dibalut perban tipis, menyadari rambut panjang favoritnya kini telah tiada.

"Aku gundul, Naren." bisik Tiyas lirih, menundukkan pandangannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasa percaya dirinya runtuh seketika.

Narendra membeku sejenak, lalu mendadak bangkit dari duduknya.

Pria itu memutar tubuh, mengalihkan pandangannya ke arah Imelda yang berdiri di dekat pintu.

"Imelda, tolong jaga dia sebentar," ucap Naren singkat.

"Kamu mau ke mana, Ren?" tanya Imelda heran.

Tanpa menjawab pertanyaan Imelda, Narendra melangkah cepat keluar dan berlalu meninggalkan ruang perawatan VVIP tersebut begitu saja.

Tiyas menatap pintu yang tertutup rapat dengan perasaan mencelos. Hatinya terasa begitu sakit dan tersayat.

"Apa dia malu punya calon istri kayak aku sekarang, Mel?" tanya Tiyas parau, air matanya menetes di atas bantal.

Imelda langsung mendekat dan duduk di tepi ranjang, menggenggam erat tangan sahabatnya itu.

"Nggak, Tiyas! Kamu ngomong apa, sih? Naren itu sayang banget sama kamu. Dia hampir gila pas kamu di ICU kemarin. Dia pasti ada urusan sebentar, jangan mikir yang enggak-enggak ya."

Imelda terus mengusap lembut bahu Tiyas, berusaha memberikan ketenangan meski di dalam hatinya sendiri ia bertanya-tanya ke mana sebenarnya Narendra pergi di saat Tiyas membutuhkan penguatan darinya.

1
Noey Aprilia
srius end kk...
tp mksh crtanya...d tnggu crtamu yg lain y....smnggtt....😘😘😘
Noey Aprilia: Sama2....😁😁😁
total 2 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, happy end 😄🙏
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Noey Aprilia
Kjdian yg bkln trs d ingt s'umr hdp y naren.....🤣🤣🤣...
Ariany Sudjana
congrats yah Narendra dan Tyas, welcome to the world the new baby boy
Ariany Sudjana
harusnya Tyas jangan banyak makan es krim waktu hamil, ya jelas bayinya besar
Noey Aprilia
Antara tegang sm pgn ktwa guling2...
yg mau lhirn msih bengong,tp suaminya udh ngibrit dluan....
jd,spa yg mau lhirn sbnrnya????🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Sneng bgt krna msing2 udh brdmai dgn msa lalu..
Ariany Sudjana
puji Tuhan, hubungan Tyas, Narendra, Ferdy dan Mia sudah membaik
Noey Aprilia
Nah loohhh....
ondel2 kna mntal....ngaku2 jd pcr rhsia sm istri sah....🙄🙄🙄
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan, ngaku-ngaku pacar rahasia Narendra... kamu ini hanya cari masalah, dan harus dibunuh
Noey Aprilia
D omelin sih ga pa2....tp kthuan pke cd yg ada belalainya.....🙈🙈🙈
Noey Aprilia
Tnggu kjutan slnjutnya y naren....
enth istrimu ngidam apa lg besok dn strusnya...🤣🤣🤣....
mnimal,mia bnrn tobat....spa tau mreka bnrn jth cnta krna trbiasa....
Noey Aprilia
spiderman n belalai gjah woooyyyy....🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
masak orang hamil kok ngidam makan sate? bukannya orang hamil harus menghindari makan sate, dan aneka macam menu yang dibakar? karena tingkat kematangan meragukan
Noey Aprilia
Mnimal ada yg lbih parah dr km y naren....kl mukanya yg d ttup,brsa jd maling....🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Udh d blangin msti siap2 plus stik sbar yg bnyak......nmanya ngidam tu ga cma mslh mkanan,tp jg yg lain...
tuh buktinya....k kntor pke sarung....🤣🤣🤣....
mngkn nnti d sruh pke baju sm celana pink smua.....
Noey Aprilia
Brhrap aja smga tyas ga ngidam aneh2,atw mlah mual liat muka suaminya.....🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Waahhh....
slmt y buat klian brdua....akhrnya stlh skian lma,bntr lg bkln nmbah anggota kluarga yg baru....
naren stok sbr yg bnyak,krna ibu hmil pst bnyak maunya...siap2 jg kl ngidam....😁😁😁
Ariany Sudjana
Tyas hamil ini
Noey Aprilia
Mngkn dgn brjlnnya wktu,bs bkin mreka yg awalnya cnggung jd trbiasa...mlupakn sseorng yg d cntai emng ga mdah,tp hdp hrs ttp brjlan kn???apa lg ada bayi yg btuh ksih syng orngtuanya.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!