Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari Sekolah dan Misi Pengawasan Kelas
Pagi berikutnya, Lala sudah kembali ceria, berputar-putar di ruang tamu dengan seragam TK St. Starling Academy dan ransel pandanya. Tubuhnya sudah bugar sepenuhnya, berkat "ramuan ajaib" gabungan teknologi siber Chiko dan farmasi bawah tanah Mila.
Namun, keceriaan pagi itu sedikit terdistorsi saat Chiko membuka tas sekolah Lala dan menemukan amplop pastel merah muda berlogo sekolah.
"Papa, ada surat dari sekolah ya?" tanya Mila yang baru saja selesai menata bekal kue cubit berbentuk panda di meja makan.
Chiko membetulkan posisi kacamatanya yang melorot, membacanya dengan raut wajah karyawan biasa yang bingung. "E-eh... iya, Bunda. Surat undangan Open Class & Parent Observation Day untuk besok pagi. Orang tua diminta hadir mengamati kegiatan belajar dan interaksi anak di kelas."
Mila tersenyum manis seraya menuangkan teh manis hangat. "Wah, bagus dong! Kita bisa lihat Lala belajar melukis dan bermain bersama Arka."
Namun, di balik senyuman lembut itu, naluri pembunuh Ratu Viper dalam diri Mila langsung menyala waspada. ‘Hari observasi terbuka? Itu artinya gerbang sekolah akan dibuka untuk umum. Orang luar, wali murid asing, bahkan sisa-sisa eksekutor liar bisa menyusup berpura-pura menjadi wali murid!’ batin Mila dingin seraya mengiris buah apel dengan presisi mikron. ‘Aku harus menyiagakan divisi pengintai Black Crimson di sekitar area kelas.’
Sementara itu, Chiko menyeruput tehnya sambil berpura-pura menguap canggung. ‘Observasi kelas berarti akan ada puluhan sinyal perangkat asing yang masuk ke area sekolah,’ batin Chiko waspada di balik kacamata tebalnya. ‘Aku harus memasang pemindai bio-frekuensi tingkat tinggi di seluruh ruang kelas TK Panda Merah melalui jaringan peretas Pentagon, pastikan tidak ada penyusup berbahaya yang mendekati Lala.’
Lala, yang sedang mengunyah kue cubit pandanya, melirik Papa dan Bundanya bergantian. Sensor jam tangan Hello Panda milik Lala menangkap pancaran sinyal taktis yang baru saja dikirimkan Chiko dan Mila secara bersamaan dari bawah meja makan!
‘Duh... Papa mau pasang pemindai satelit di papan tulis kelas, Bunda mau sebar agen pengintai di balik tirai kelas...’ batin Lala tertawa geli sambil menepuk-nepuk pipinya yang mengembang. ‘Observasi sekolah biasa kok rasanya mau seperti operasi militer begini ya?’
Lala mendongak dengan senyuman imut paling polos. "Papa sama Bunda besok duduknya di belakang Lala ya? Biar kalau Lala mewarnai gambar panda, Papa sama Bunda bisa lihat!"
"Pasti, Sayang. Papa akan mengawasi... maksud Papa, melihat Lala dari dekat," jawab Chiko cepat dengan cengiran canggung.
"Bunda juga akan menjaga... eh, menemani Lala dari belakang," tambah Mila manis.
-----
Keesokan harinya, ruang kelas TK Panda Merah tampak semarak dengan hiasan gambar tangan dan balon warna-warni. Puluhan orang tua murid duduk di deretan kursi kecil di bagian belakang kelas.
Chiko mengenakan kemeja batik rapi dengan kacamata tebal yang membuatnya terlihat seperti bapak-bapak kantoran biasa, sementara Mila tampil anggun dengan gaun kasual berwarna pastel. Keduanya duduk berdampingan, memasang wajah ramah dan melambai manis setiap kali Lala menoleh dari meja belajarnya.
Namun, di balik keharmonisan itu, 'operasi rahasia' sedang berlangsung.
Chiko pura-pura sibuk memangku tasnya, padahal jarinya menari di atas layar mikro di dalam saku kemeja. Melalui Lensa Pintar-nya, ia memindai seluruh orang tua murid yang hadir.
[Pindaian Siber: 24 Wali Murid Terverifikasi. Terdeteksi 1 Sinyal Mencurigakan di Pojok Bacaan.]
Mata Chiko menyipit tipis dari balik lensa tebalnya. Di sudut ruang bacaan anak, berdiri seorang pria berjas abu-abu yang berpura-pura membaca buku cerita. Namun, postur tubuh dan kerlingan matanya secara konstan mengawasi pergerakan Lala.
Di saat bersamaan, Mila yang sedang mengipas diri dengan kipas tangan anggun, menangkap detail berbahaya pada pria berjas abu-abu itu.
‘Cara berdirinya bertumpu pada tumit belakang... Ada tonjolan kaku di balik pinggang jasnya. Itu sarung pistol taktis tipe P226,’ batin Mila dingin seraya memoles senyum ramahnya. ‘Berani-beraninya dia membawa senjata ke kelas anakku.’
Pria berjas abu-abu itu perlahan melangkah mendekati meja tempat Lala dan Arka sedang mewarnai. Ia merogoh saku dalam jasnya, berniat menarik sebuah alat pelumpuh sinyal untuk mengisolasi Lala.
Namun, sebelum penyusup itu sempat melangkah lebih jauh...
KLIK.
Chiko secara "tidak sengaja" menyenggol tiang penyangga papan pajangan gambar di dekatnya. Papan kayu tebal berisi puluhan lukisan anak-anak itu mendadak roboh dan meluncur deras tepat menimpa kaki pria berjas abu-abu tersebut!
BAM!
"Aarghh!" pria itu menahan jeritan kesakitan saat jemari kakinya tertimpa papan kayu berat.
Belum sempat ia membetulkan posisinya, Mila yang berpura-pura kaget dan "panik" saat melihat papan jatuh, melangkah cepat seolah ingin membantu. Dalam gerakan refleks yang terlihat canggung namun berkecepatan kilat, ujung tumit sepatu high heels milik Mila menancap tepat di atas punggung tangan pria itu yang sedang memegang saku dalam jasnya!
KREK!
"A-aduuh!" Pria itu makin meringis, seluruh persendian tangannya terkunci kaku akibat tekanan titik saraf yang dilepaskan Mila secara tersembunyi.
"Astaga! Maafkan saya, Pak! Saya kaget sekali ada papan jatuh!" seru Mila dengan suara ibu rumah tangga yang panik dan merasa bersalah, seraya menarik kakinya kembali dengan wajah sangat polos.
Chiko buru-buru menghampiri, memegang bahu pria itu sambil tersenyum canggung. "Aduh, Pak, mari saya bantu berdiri. Bapak kelihatan pucat sekali, seperti butuh udara segar di luar."
Saat memegang bahu pria itu, jemari Chiko menyentuhkan cip pelumpuh saraf mikro dari jam tangannya langsung ke leher pria tersebut.
Bzzzt.
Tubuh penyusup itu langsung lemas dan mati rasa, membuatnya tak bisa melancarkan aksi apa pun. Chiko dengan sangat ramah merangkul pria yang lemas itu, membimbingnya keluar kelas seolah-olah sedang menolong veli murid yang mendadak sakit kepala.
"Aduh, kasihan ya Bapak itu mendadak lemas," ujar ibu-ibu wali murid di sebelah Mila.
"Iya ya, Bu... Mungkin belum sarapan," balas Mila ramah dan manis.
------
Di meja mewarnai, Lala menatap proses "pelumpuhan harmonis" yang baru saja dilakukan Papa dan Bundanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Arka yang duduk di sebelah Lala polos bertanya, "Lala, itu Papa dan Bunda kamu kenapa kok heboh sekali?"
Lala menyunggingkan senyuman paling manis, membetulkan bando pandanya yang berayun. "Papa sama Bunda Lala cuma lagi bantu Paman itu keluar kelas, Arka! Soalnya Paman itu salah masuk kelas, dia mau masuk kelas dewasa!"
Lala lalu mengambil krayon warna hitam dan mewarnai lingkaran mata panda di kertas gambarnya dengan sangat rapi.
Beberapa menit kemudian, Chiko kembali masuk ke dalam kelas sambil tersenyum polos, duduk kembali di samping Mila dan menggenggam jemari istrinya yang hangat.
"Bapak tadi sudah Papa antar ke klinik depan, Bunda. Katanya cuma pusing biasa," bisik Chiko lembut.
"Baguslah kalau begitu, Papa. Bunda sempat khawatir tadi," balas Mila manis sambil menyandarkan kepalanya di bahu Chiko.
Di depan kelas, Ibu Guru mengumumkan akhir dari sesi melukis. Lala berdiri bangga menunjukkan kertas gambarnya yang berisikan gambar tiga ekor panda—panda besar berkacamata, panda anggun bergaun merah, dan panda kecil yang menggendong ransel.
"Ini gambar Keluarga Panda Lala!" seru Lala riang disambut tepuk tangan riuh dari seluruh wali murid.
Chiko dan Mila bertepuk tangan paling keras, menatap putri kecil mereka dengan binar kasih sayang dan kebanggaan yang tak terukur.
Bersambung..