NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Keterima di Nozer Holdings

Keesokan paginya, Lauren tiba di gedung Nozer Holdings International hampir tiga puluh menit lebih awal dari jadwal wawancaranya. Dengan map berisi berkas-berkas yang ia peluk erat di dada, ia berdiri beberapa saat di depan lobi megah perusahaan itu, berusaha menenangkan detak jantungnya yang sejak tadi berdentum tidak beraturan.

Setelah melapor di meja resepsionis, seorang staf mengantarnya menuju ruang wawancara di salah satu lantai perusahaan. Lauren menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

"Silakan masuk."

Di dalam ruangan telah menunggu seorang pria paruh baya berjas rapi yang memperkenalkan dirinya sebagai Richard, seorang manajer senior.

"Silakan duduk, Nona Lauren."

Lauren mengangguk sopan sebelum mengambil tempat di hadapan pria itu.

"Jadi," kata Richard sambil membolak-balik berkas di depannya tanpa benar-benar membacanya, "ceritakan sedikit tentang dirimu."

Lauren menjelaskan latar belakangnya dengan jujur, Lauren mengaku hanya lulusan SMK Administrasi Perkantoran, pengalaman kerja paruh waktu di kedai kopi, tanpa pernah menyembunyikan fakta bahwa kualifikasinya jauh dari standar biasa perusahaan sebesar ini.

Ia menunggu reaksi kecewa atau pertanyaan lanjutan yang menyudutkan, tetapi Richard hanya mengangguk-angguk dengan senyum kaku, seolah sudah mengetahui jawabannya bahkan sebelum Lauren selesai berbicara.

"Baik, sepertinya cukup," ujar Richard singkat sambil menutup map di depannya. "Kami akan menghubungi Anda dalam beberapa hari ke depan."

Wawancara keesokan hari itu berjalan lancar, terlalu lancar, sebenarnya, jika Lauren mau jujur pada dirinya sendiri.

Lauren keluar dari ruangan itu dengan perasaan aneh yang mengganjal di dadanya.

Wawancara macam apa yang berlangsung kurang dari lima belas menit, tanpa pertanyaan sulit, tanpa uji kompetensi, untuk posisi setingkat manajer junior?

Ia keluar dari gedung itu dengan perasaan campur aduk antara harapan dan kebingungan.

Ijazah SMK-nya bahkan tidak dilirik lebih dari beberapa detik oleh Richard, seolah dokumen itu hanya formalitas yang harus dipenuhi, bukan penentu keputusan sesungguhnya.

*****

Beberapa hari berikutnya terasa berjalan begitu lambat bagi Lauren. Selama menunggu kabar dari Nozer Holdings International, ia tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa.

Pagi hingga sore ia bekerja paruh waktu di kedai kopi, sementara malam harinya ia beberapa kali membuka kotak masuk emailnya dengan harapan menemukan pesan balasan dari perusahaan itu.

Namun setiap kali layar ponselnya menyala, yang muncul hanyalah email promosi dan pemberitahuan yang tidak ada hubungannya dengan lamaran kerjanya.

Meski berusaha meyakinkan diri agar tidak terlalu berharap, diam-diam ia tetap memikirkan hasil wawancara singkat yang terasa begitu aneh itu.

Hingga pada sore hari, sebuah notifikasi email baru akhirnya muncul di layar ponselnya.

Jantung Lauren seketika berdegup lebih cepat. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka pesan tersebut.

"Selamat, Anda diterima bekerja sebagai Staf Administrasi Umum di Nozer Holdings International."

Lauren membaca isi email itu berulang kali, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gaji yang tertera jauh melampaui ekspektasinya, cukup untuk akhirnya membuatnya bisa berhenti bekerja paruh waktu di kedai kopi yang selama ini menopang biaya hidupnya sejak menjadi yatim piatu.

Untuk pertama kalinya sejak kematian orang tuanya, ada secercah cahaya di ujung terowongan panjang yang selama ini terasa gelap tanpa arah.

Ia menangis malam itu, bukan karena sedih, melainkan karena lega, lega bahwa setelah bertahun-tahun berjuang sendirian, menghitung setiap pound demi bertahan hidup, akhirnya ada satu pintu yang terbuka lebar tanpa harus ia dobrak sendiri.

*****

Di lantai tiga puluh delapan, jauh di balik dinding kaca yang menghadap panorama kota London, Alex berdiri di depan jendela ruang kerjanya.

Langit sore yang mulai diselimuti semburat jingga memantulkan cahaya lembut ke dalam ruangan luas bernuansa hitam dan abu-abu, menciptakan suasana tenang yang berbanding terbalik dengan isi pikirannya.

Sebuah notifikasi masuk di laptopnya.

Laporan konfirmasi penerimaan kerja Lauren.

Alex membuka berkas digital itu dengan tenang. Tatapannya menyusuri setiap baris laporan hingga berhenti pada satu kalimat yang paling ia tunggu.

Status: Diterima.

Sudut bibirnya terangkat tipis sebelum kembali datar. Tanpa tergesa, ia menutup laptop lalu menyandarkan tubuh ke kursi kerjanya.

Akhirnya, Lauren akan berada di gedung yang sama dengannya.

Ia membayangkan gadis itu berjalan menyusuri lorong-lorong perusahaan, duduk di meja kerjanya, berbicara dengan rekan-rekan baru, dan menghabiskan hari-harinya hanya beberapa lantai di bawah ruangannya.

Jauh lebih dekat.

Jauh lebih mudah untuk memastikan gadis itu tetap aman.

Namun jauh di dalam dirinya, Alex menyadari bahwa keinginannya sudah tidak lagi sekadar ingin melindungi. Ia ingin tahu dengan siapa Lauren berbicara, siapa yang mendekatinya, siapa yang membuatnya tersenyum, bahkan siapa saja yang berani terlalu akrab dengannya.

Pikiran itu terdengar berlebihan, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak berusaha mengingkarinya.

Lauren bukan siapa-siapanya. Mereka bahkan nyaris tidak saling mengenal.

Meski begitu, Alex tidak mampu menghilangkan dorongan untuk selalu memastikan bahwa Lauren berada dalam keadaan baik.

Ia meraih ponselnya lalu mengetik sebuah pesan kepada Damian.

"Pastikan lantai dua puluh dua diberi pengamanan tambahan. Aku ingin laporan siapa saja yang berinteraksi dengannya setiap hari."

Tak lama kemudian balasan masuk.

"Baik, Pak Alex. Akan diatur mulai hari pertamanya bekerja."

Alex membaca balasan itu beberapa saat. Ia sadar sepenuhnya bahwa apa yang sedang dilakukannya sudah jauh melampaui batas kewajaran seorang atasan terhadap karyawan baru. Tidak ada alasan profesional yang dapat membenarkan pengawasan sedetail itu.

Namun, alih-alih membatalkan perintah tersebut, ia justru mengunci layar ponselnya dan meletakkannya kembali di atas meja.

Keputusan itu sudah dibuat. Dan Alex bukan tipe pria yang akan menarik kembali keputusannya.

Di luar ruangannya, aktivitas Nozer Holdings International tetap berjalan seperti biasa. Para karyawan berlalu-lalang, rapat berlangsung tanpa henti, dan tak seorang pun menyadari bahwa kedatangan seorang staf administrasi baru telah menjadi perhatian terbesar CEO mereka.

Namun tidak semua orang menyambut kabar itu dengan perasaan yang sama.

Alex kembali mengalihkan pandangannya ke jendela, menatap gemerlap lampu kota yang mulai menyala satu per satu.

Keheningan memenuhi ruang kerjanya.

Untuk sesaat, ia memejamkan mata, lalu mengembuskan napas pelan.

"Aku ingin memilikimu, Lauren."

Kalimat itu keluar begitu lirih hingga nyaris tak terdengar, seolah hanya ditujukan untuk dirinya sendiri.

Ia terdiam beberapa detik, lalu terkekeh hambar.

"Dan itu mungkin keputusan paling egois yang pernah kuinginkan."

Namun anehnya, ia sama sekali tidak berniat mengubur keinginan itu.

ia adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya.

Dan kali ini yang ia inginkan adalah Lauren.

"Kalau memang harus menjadi pria paling egois agar aku bisa memilikinya..."

Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis tanpa kehangatan.

"...aku akan melakukannya."

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!