NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan tak terduga

Pagi itu matahari sudah meninggi ketika Jingga masih meringkuk di balik selimut. Biasanya ia sudah sibuk dengan berkas-berkas kantor, tapi hari ini berbeda. Kata-kata “perjodohan” dari semalam masih terus berputar di kepalanya.

Dengan malas, ia akhirnya bangun dan bersiap-siap. Berbeda dari biasanya, wajahnya tampak muram.

Di luar, Moza dan Grey hendak turun untuk sarapan. Melewati pintu kamar Jingga yang  terbuka. Mereka saling pandang, lalu memutuskan masuk.

“De, are you okay?” tanya Moza lembut.

“I’m fine, Kak,” jawab Jingga singkat, jelas sekali berbohong.

Grey ikut duduk di pinggir ranjang kakanya. “Aku tau kamu pasti kepikiran soal Levin. Tapi,kak… dia itu orangnya baik. Memang agak dingin, Tapi Setahuku, bahkan dia nggak pernah pacaran. Soalnnya Sibuk fokus kerja. Bagi dia wanita itu terkadang merepotkan.”

Jingga mendengus. “Tunggu, Levin itu… sahabat SMA kamu kan? Yang sering main ke rumah?”

“Iya, itu Levin kak,” jawab Grey sambil mengangguk. “Dulu dia sering banget nginep di sini.”

Moza ikut nimbrung, mencoba mengingat. “Dia yang pake kacamata tebal itu kan? Yang jarang ngomong itu?”

“Oh iya!” Jingga langsung menepuk dahi. “Ya ampun, yang cupu banget itu kan? Astaga, dosa apa aku sampai dijodohin sama bocah culun kayak gitu?”

Grey menghela napas panjang. “Huss… jangan gitu. Levin sekarang beda, kak. Dia udah dewasa, tampan, dan… ya, penampilannya engga culun lagi.”

Ucapan Grey membuat Rika, yang sedari tadi mendengarkan dari luar, akhirnya masuk. Ia mendekati Jingga lalu memeluk putrinya erat.

“Sayang, Papi sama Mami nggak mungkin asal pilih. Kami percaya Levin bisa bertanggung jawab penuh sama kamu nanti.”

Jingga terdiam. Lirih ia menjawab, “Iya, Mi… aku percaya pilihan Mami dan Papi pasti yang terbaik.”

Rika tersenyum lega. “Malam ini kita bertemu Levin lagi. Anggap saja perkenalan resmi, ya?”

“Iya, Mi,” sahut Jingga pelan.

---

Di kantor

“Muka lo kusut banget, Ji. Kayak jemuran baru diangkat,” goda Arin, sahabat sekaligus rekan kerjanya.

Jingga mendesah berat. “Rin, gue bingung. Papi sama Mami jodohin gue sama anak dari Thama Grup. Rasanya… dilema banget.”

“What? Thama Grup?” Arin langsung melotot kagum. “Ji, itu perusahaan raksasa. Gila, mereka udah sampai level Asia. Lo beruntung banget!”

“Beruntung apanya? Masalahnya… calon gue itu bocah culun, Rin. Masa iya suami gue dia?”

“ Ji, masa lu gak tau?” ucap Arin dengan wajah excited. “Dia itu terkenal banget di kalangan anak muda, followers IG nya aja udah tembus 10 juta! Belum lagi… dia kan pewaris tunggal Thama Grup.” Arin makin semangat menjelaskan.

“Lu gk tau Ji , tiap postingan dia tuh selalu rame banget. Semua orang ngefans, semua orang ngomongin. Dia udah kayak seleb beneran!”

Jingga memutar bola matanya. “Cih… ya iyalah, wajar banyak followers. Kaya raya, pewaris Thama Grup pula. Kalau bukan karena itu, emangnya orang-orang mau nge-follow bocah culun itu?”

Arin langsung ngakak keras. “Ji! Please deh… lo masih aja nyebut dia bocah culun. Padahal lihat sendiri kan sekarang dia udah level pangeran!”

Jingga mendengus, pura-pura sibuk dengan ponselnya. “Dasar lo kebanyakan nonton drama, Rin.”

Arin ngakak, menepuk pundak Jingga. “Astaga Ji… kalau gue jadi lo, udah deh langsung pasang hashtag lucky girl tiap hari.”

“Entahlah. Nanti malam gue ketemu dia. Gue bakal bikin dia ilfeel biar dia yang nolak gue,”

gumam Jingga, mengepalkan tangan seolah siap perang.

Arin hanya geleng-geleng kepala. “Ya terserah lo, deh. Semoga sukses dengan drama lo itu.”

Arin pun pergi meninggalkan ruangan Jingga,.

Jingga menghempaskan tubuhnya ke kursi, menatap ke arah tumpukan berkas yang belum sempat disentuh. Ya Tuhan… kenapa hidup gue harus serumit ini? pikirnya sambil menutup wajah dengan kedua tangan.

Detik berikutnya, ponselnya berdering. Nama “Mami ❤️” terpampang jelas di layar. Jingga menghela napas sebelum mengangkatnya.

“Halo, Mi…”

“Sayang, jangan lupa nanti malam siap-siap, ya. Levin dan keluarganya akan datang jam tujuh. Mami nggak mau kamu telat.” Suara Rika terdengar riang sekaligus tegas.

“Iya, Mi…” jawab Jingga lemas.

Setelah telepon berakhir, Jingga menatap bayangan dirinya di kaca. “Oke, Ji. Malam ini… lo bakal bikin dia kapok dan nolak perjodohan ini.” Ia meraih palet makeup dengan senyum penuh tekad.

---

Malam Pertemuan

Malam pun tiba. Rumah keluarga Alinka tampak ramai dan elegan. Meja makan sudah ditata cantik dengan lilin dan bunga segar, membuat suasana terasa seperti jamuan resmi.

Jingga masih di kamarnya, sibuk berdandan dengan make-up tebal dan gaun merah menyala yang membuatnya tampak mencolok.

Sementara itu Seisi rumah sudah sibuk menyiapkan jamuan sejak siang. Malam itu, keluarga Thama akhirnya tiba.

“Hallo Om, Tante. Apa kabar?” Levin menyalami dan mencium tangan calon mertuanya dengan sopan.

Rika langsung terpana. “Astaga, Levin… kamu tambah tampan sekali! Sudah lama kita tidak bertemu.”

Moza ikut nimbrung. “Ya ampun, Vin. Kamu masih inget aku kan? Kak Moza.”

“Iya, Kak. Mana mungkin aku lupa,” jawab Levin sambil tersenyum. Dalam hati ia teringat bagaimana Moza sering gemas mencubit pipinya dulu.

Grey yang berdiri di samping ikut digoda. “Wah, De… kamu kalah ganteng sama calon adik iparku ini,” celetuk Moza.

“Dih, mentang-mentang mau punya adik baru, yang lama dilupain,” balas Grey pura-pura manyun.

“Tapi itu kenyataan, Grey,” Levin menambahkan dengan nada menggoda.

Seketika ruang tamu penuh tawa. Aura hangat langsung terasa.

Levin malam itu tampak sangat menawan. Kemeja maroon yang dipadu dengan jas hitam membuatnya terlihat elegan, sementara kancing atas yang dibiarkan terbuka memberi kesan santai. Jauh sekali dari citra bocah culun berkacamata tebal dulu.

---

“Jingga mana, Li?” tanya Thama sambil mencari-cari.

“Oh iya. Kak, tolong panggilkan Jingga,” pinta Rika pada Moza.

“Iya, Mi,” jawab Moza sambil naik ke lantai atas.

Tok… tok… tok.

“De, Levin udah datang. Semua udah nungguin kamu,” kata Moza sembari membuka pintu kamar.

“Iya, Kak. Bentar,” jawab Jingga sambil merapikan make up-nya.

Moza membelalak. “Astaga, De! Kamu kenapa dandan kayak badut gitu?!”

“Biarin! Biar dia nolak aku,” jawab Jingga santai sambil menambahkan lipstik merah menyala.

“De, please. Kamu bakal nyesel.”

“Kalau dia culun, aku juga nggak perlu tampil cantik, kan?” balas Jingga keras kepala.

Akhirnya, Moza menyerah. “Ya sudah. Jangan salahin aku kalau kamu malu sendiri.”

Mereka pun turun. Semua mata langsung tertuju pada Jingga dengan dandanan super menor dan gaun merah menyala.

Begitu pandangan mereka bertemu, Jingga dan Levin sontak kompak menunjuk satu sama lain.

“Lo?!”

“Lo?!”

Ruang tamu mendadak hening ketika Jingga dan Levin bersuara bersamaan. Semua mata tertuju pada mereka berdua.

“Lo…?!” seru Levin dengan alis terangkat, antara kaget dan geli.

“Lo?!” sahut Jingga tak kalah kaget, sambil menatap tajam ke arah pria yang sekarang jelas-jelas bukan lagi bocah culun berkacamata.

Rika cepat-cepat menengahi.

“Ehem… Jingga, ayo sini, kenalan dulu dengan calonmu.”

Levin hanya tersenyum miring, pandangannya penuh kemenangan. “Jadi, ternyata kamu calon pengantinku, huh?” katanya santai, seolah sangat menikmati situasi.

Jingga tidak menjawab. Ia hanya menunduk, sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.

“Ternyata dia bocah culun itu… Mengapa bocah culun itu bisa jadi setampan ini? Oh, pantesan waktu kemarin sombong banget, ternyata memang benar… dia kan pewaris Thama Grup. Cih…” gumam Jingga dalam batinnya sambil menahan rasa kesal yang bercampur kagum. Tapi bagaimana mungkin bocah culun yang dulu selalu menempel pada Grey, yang kerap ia ejek karena kacamata tebalnya, kini berdiri di depannya dengan aura percaya diri seperti ini?

Rika melirik putrinya yang berdiri canggung di sisi meja, lalu berbisik pelan, “Ada apa dengan penampilanmu malam ini, Ji? Kamu… kok malah begini?”

Jingga menunduk, memainkan jari-jarinya gugup. “Maafin Ji, Mih…” bisiknya lirih.

Namun, sebelum suasana semakin canggung, Levin melangkah mendekat dengan senyum tipis di wajahnya. “Tante, nggak apa-apa kok. Menurut saya… dia terlihat menarik dengan caranya sendiri.”

Semua orang menoleh, kaget dengan ucapannya. Bahkan Jingga sendiri sampai menatap Levin dengan mulut setengah terbuka. Apa barusan dia bilang… menarik?

Levin menambahkan dengan nada menggoda,

“Walaupun… mungkin dia sedikit kebablasan di bagian lipstick.”

Seketika semua tertawa kecuali Jingga, yang mendengus dan membuang muka. “Dasar menyebalkan…” gumamnya pelan.

Rika hanya tersenyum lega. Mungkin anak ini benar-benar bisa menjaga Jingga.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!