NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Bimbang

"Tidak mungkin?! Aku tidak mungkin salah mengenali orang! Dia itu benar-benar Luna. Dia tunanganku, tapi kenapa dia tidak mengenaliku? Dan aromanya....?"

Erlangga berkecamuk dalam pikiran yang kalut. Ia benar-benar tak tenang memikirkan wanita yang baru keluar dari dalam ruang kerjanya. Terpaksa ia lepaskan karena wanita itu meyakinkan dirinya bukan wanita yang dimaksud. Ia harus mendapatkan bukti-bukti yang kuat untuk mengetahui kebenarannya.

"Sofyan, kemarilah."

Erlangga langsung menghubungi asisten pribadinya. Ia butuh data dan butuh tahu banyak mengenai wanita bernama Ayuna. Ia memiliki feeling bahwa wanita itu bukan hanya sekedar pegawai di perusahaannya, tapi memiliki keterikatan yang kuat dengannya.

Tok... Tok... Tok....

"Permisi Tuan?"

Sofyan, saya butuh informasi mengenai karyawan bernama Ayuna. Saya ingin semua datanya ada di meja saya hari ini juga."

Pria berbadan kekar berdiri di depannya itu mengangguk. "Baik Tuan, akan saya urus secepatnya."

Di ruang kerjanya Ayuna nampak begitu murung. Dia sampai tak bisa konsentrasi mengerjakan desainnya. Mila berkali-kali menatapnya, menegur agar tidak berkelanjutan karena akan berdampak buruk pada dirinya sendiri.

"Ayuna! Sebenarnya apa sih yang tengah kamu pikirkan? Ayo cerita sama aku!"

Ayuna menoleh sekilas dengan menggeleng pelan. "Nggak ada apa-apa kok," bantahnya.

"Kalau nggak ada apa-apa kenapa ngelamun gitu? Nanti kalau manager datang dan hasil desainmu belum jadi kamu bisa dimarahi. Cepat selesaikan."

Ayuna mengangguk. "Hm.., iya."

Mila yakin Ayuna tengah memiliki masalah yang sengaja ditutupi. Semenjak keluar dari ruangan CEO dia terlihat murung dan gelisah.

"Ayuna, kalau ada masalah jangan sungkan buat cerita, ya barangkali aku bisa bantu."

Wanita itu kembali menoleh dengan mengulas senyum paksa. "Iya," jawabnya singkat namun penuh makna.

***

Jam istirahat telah tiba. Mila beranjak dan mengajak Ayuna untuk mengisi perutnya di kantin, namun Ayuna sepertinya tak ada niatan untuk beranjak dari tempat duduknya.

"Yuna, ayolah kita cari makan? Apa kau tidak lapar?"

Mila merengek dengan menarik tangannya, namun Ayuna menanggapinya begitu santai.

"Kamu bisa pergi ke kantin sendiri, Mila! Aku lagi nggak ingin makan," cicitnya.

"Nggak ingin makan katamu? Memangnya kau lagi puasa? Atau lagi nggak ada duwit," desisnya. "Tenang aja, aku yang traktir."

"Aku masih ada duwit kok, cuma aku lagi nggak nafsu makan. Kamu aja ya? Aku tunggu di sini."

Mila mengerutkan keningnya. "Ini Ayuna kenapa sih? Tidak  biasanya dia murung kayak gitu?" Sudah cukup lama mengenal Ayuna, tentu sudah sangat hafal dengan sikapnya. Hari itu Ayuna  benar-benar tidak seperti biasanya. Meskipun dulu sering bertengkar dengan orang tua angkatnya tapi dia tidak pernah menunjukkan wajah sedihnya, dan sekarang...., entah apa yang terjadi padanya.

"Sebenarnya masalah apa yang tengah dihadapinya? Udah nggak mau cerita, murung lagi. Apa mungkin dia tadi kena tegur pak Erlangga? Bukannya masalahnya cuma sepele? Kenapa musti diambil hati sih?"

Mila terpaksa meninggalkannya seorang diri. Sebenarnya ia tak tega, namun ia juga tak bisa menahan rasa lapar yang menyerangnya.

Dari kejauhan, diam-diam Erlangga mengamatinya. Ingin mendekat dan meminta maaf atas kelancangannya namun ia masih belum memiliki keberanian. Biarpun ia bisa menghadapi ribuan orang tapi untuk menghadapi satu wanita itu cukup membuatnya kesulitan.

"Em..., Tuan sedang apa di sini?" tanya Sofyan yang tak sengaja mendapatinya di balik pintu.

Erlangga refleks menoleh, dia agak terkejut dan gugup. "E—nggak ada apa-apa kok! Cuma lagi ngecek ruangan di sini, ternyata cukup luas."

Sofyan tersenyum. "Tentu Tuan, ruangan ini cukup luas. Saya juga sudah menyurvei semua ruangan dan ternyata cukup nyaman," cicitnya.

"Oh ya? Bagaimana yang tadi? Apa kamu sudah mendapatkan informasi mengenai Ayuna?"

Sofyan mengangguk. "Sudah Tuan, baru saja saya hendak ke ruangan Tuan."

"Hm... yaudah, kalau gitu ayo ke ruangan saya sekarang!"

Dua pria beda kasta itu berjalan menuju ruang CEO. Sofyan sudah cukup lama bekerja dengan Erlangga, jadi diantara mereka sudah sangat akrab bahkan sudah seperti saudara sendiri.

"Ini data-data yang saya dapat Tuan, mohon diperiksa!"

Erlangga mengambil data-data lengkap yang dibawa oleh Sofyan dan mengeceknya dengan teliti. Di situ tertera nama Ayuna, lulusan D3, tidak ada hal lain yang didapat, bahkan tidak ada nama keluarganya.

"Ini benar biodatanya?" tanya Erlangga.

"Iya Tuan, ini yang saya dapatkan. Memangnya kenapa Tuan? Anda mencurigai wanita itu?"

Erlangga menarik nafasnya. "Kau ingat dengan gadis yang bernama Luna Wijaya?"

Sofyan mengerutkan keningnya. "Maksudnya tunangan Tuan yang hilang itu?"

"Hm..., iya. Dia sangat mirip dengan Luna. Dulu waktu hilang umurnya masih sekitar sepuluh tahunan, kami dijodohkan sejak kecil, bahkan kami begitu akrab. Dan saya yakin kalau Ayuna itu Luna, tapi kenapa dia tidak mengenali saya!"

"Jadi Tuan curiga kalau Ayuna itu Nona Luna?"

"Iya, saya curiga dia Luna, tapi kenapa dia tidak bisa mengingat saya?"

Masih juga tak habis pikir kenapa wanita itu tidak bisa mengenalinya. Bahkan dulu diantaranya saling berjanji untuk menjaga satu sama lain hingga maut memisahkan.

"Tuan, saya rasa ada hal yang membuat nona Luna tidak mengenali anda, tapi saya sendiri juga bingung, kalau misalnya dia nona Luna yang anda cari, seharusnya dia mengenali anda, tentunya dia akan senang bisa bertemu kembali dengan anda, tapi yang saya lihat di sini~~

"Itulah yang tengah saya pikirkan. Menurutmu dia itu Luna yang saya cari atau orang yang kebetulan memiliki kemiripan dengannya."

Sofyan terdiam dengan pikiran melayang. Sebagai asisten yang dipercaya, ia tidak akan tinggal diam. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh majikannya.

"Tuan tenang saja. Saya akan usahakan untuk mencaritahu identitasnya dengan lengkap."

Erlangga menepuk bahunya. "Ya sudah, lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan."

"Kalau begitu saya permisi Tuan."

Sofyan membalikkan badan hendak meninggalkan ruangan CEO, namun belum sampai melangkah ke pintu Erlangga kembali memanggilnya.

"Sofyan tunggu!"

Pria itu kembali membalikkan badannya. "Iya Tuan?"

"Belikan makanan yang bergizi untuknya. Saya lihat dia tidak keluar untuk makan siang."

Pria itu mengangguk. "Baik Tuan."

Tidak selang waktu lama Sofyan menemui Ayuna di ruang kerjanya. Dia melihat wanita itu masih fokus dengan pekerjaannya meskipun yang lain tengah istirahat makan siang.

Ekhem,,

Deheman Sofyan sontak membuat Ayuna terkejut dan refleks menoleh.

"Eh..." Ayuna terlihat begitu gugup dan canggung.

"Maaf nona..."

"Panggil saja Ayuna pak," sahutnya dengan mengangguk sopan. Ayuna mengerutkan keningnya. Dia masih belum mengenal pria yang kini berdiri di sampingnya itu. "Maaf Pak? Ada yang bisa saya bantu?"

"Oh... tidak, maaf sudah mengganggu waktu anda nona," cicitnya. "Kedatangan saya ke sini ingin mengantarkan makanan buat anda."

Ayuna mematung dengan mulut terbuka. "Makanan?" Ia hanya merasa aneh, semenjak bergabung dengan perusahaan itu bahkan tak sekalipun ada makanan gratis untuknya, dan kini ada seorang pria datang dan memberikan makanan untuknya. Kira-kira apa maksud dari pria itu?

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!