Xiao Lin seorang pemuda murid pelayan di sebuah sekte di bagian timur kekaisaran Angin Surgawi. terkenal sebagai sampah dan selalu di bully oleh murid lain.
Hingga suatu hari saat ia melihat teman nya hampir terbunuh. tiba tiba ia kalap mata dan membunuh murid luar tersebut. namun ia tak menyadari hal apa yang sudah terjadi.
nasib apakah yang di tanggung Xiao Lin di sekte setelah pembunuhan terjadi? mampu kah ia keluar dari masalah itu?
saksikan perjalan hidup Xiao Lin untuk menjadi kuat. membantai setiap musuh yang menghalangi jalan kultivasi nya. hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Kebangkitan Sang Iblis
Udara di lapangan sektor pelayan seolah membeku. Hembusan angin kencang yang entah dari mana datangnya menerpa jubah abu-abu kasar milik Xiao Lin, membuatnya berkibar dengan suara mendesing yang tajam. Suasana sunyi senyap, bahkan suara isak tangis Ah Gou terhenti seketika karena tekanan tak kasatmata yang tiba-tiba menindas dadanya hingga sulit bernapas.
Wang Hu menelan ludah dengan susah payah. Setetes keringat dingin mengalir dari pelipisnya.
"K-kau... apa yang kau lakukan, sampah?!"
Bentak Wang Hu, mencoba menutupi rasa takut yang tiba-tiba merayapi hatinya. Namun, suaranya yang sedikit bergetar mengkhianati kepanikannya sendiri.
"Xiao Lin" tidak menjawab. Dia hanya menatap tangannya yang bengkak dan terluka dengan pandangan dingin, seolah-olah sedang melihat sesuatu yang asing dan menjijikkan.
"Tubuh yang sangat lemah dan rapuh,"
Gumam "Xiao Lin". Suaranya masih suara pemuda tujuh belas tahun, namun nada bicaranya sangat berat, datar, dan dipenuhi keangkuhan yang melampaui batas langit.
"Bahkan tulang spiritualnya tersumbat oleh kotoran fana. Sungguh menyedihkan."
"Hei! Kau bicara omong kosong apa?!" teriak salah satu teman Wang Hu dari belakang, mencoba mencari muka.
"Wang Hu, hajar saja dia lagi! Dia pasti sudah gila karena kepalanya terbentur pilar tadi!"
Mendengar itu, Wang Hu mencoba menguatkan nyalinya. Dia mengepalkan tangan kanannya, memusatkan seluruh sisa energi Qi tingkat 2 miliknya. Cahaya kuning redup kembali menyelimuti tinjunya saat dia menerjang maju dengan kecepatan penuh.
"Mati kau, sampah!"
Pukulan keras Wang Hu mengarah tepat ke pelipis "Xiao Lin". Serangan itu sangat cepat untuk ukuran murid luar. Namun, di mata sosok yang kini mengendalikan tubuh Xiao Lin, gerakan itu tidak berbeda dengan siput yang merangkak lambat.
WUSH!
Tanpa ada gerakan yang berarti, "Xiao Lin" hanya memiringkan kepalanya beberapa sentimeter ke samping. Pukulan Wang Hu melewati udara kosong dengan suara mendesing.
"Apa?!"
Wang Hu terbelalak. Dia tidak sempat menarik kembali tangannya ketika tiba-tiba sebuah cengkeraman sedingin es mengunci pergelangan tangannya.
Cengkeraman itu sangat kuat, seperti jepitan besi kuno. Wang Hu mencoba menarik tangannya, tetapi tubuh "Xiao Lin" tidak bergeming satu milimeter pun.
"Menggunakan energi sekotor ini untuk menyerangku? Benar-benar serangga yang tidak tahu diri," bisik "Xiao Lin" pelan, tepat di depan wajah Wang Hu.
KREK!
"AAAKKKHHH!"
Jeritan melengking yang memilukan memecah kesunyian lapangan. Dengan satu puntiran santai, "Xiao Lin" mematahkan pergelangan tangan kanan Wang Hu hingga tulangnya menembus kulit. Darah segar menyembur keluar, membasahi debu di bawah kaki mereka.
Dua teman Wang Hu yang tadinya menonton dengan tawa mengejek kini wajahnya memucat seketika. Lutut mereka gemetar hebat melihat pemandangan mengerikan itu. Bagaimana mungkin seorang pelayan tak berbakat bisa mematahkan tangan seorang kultivator Qi Gathering tingkat 2 hanya dengan satu tangan kosong?
"Lepas... lepaskan aku! Tanganku! Ahhh!"
Wang Hu menangis histeris, tubuhnya merosot ke tanah sambil memegangi tangannya yang hancur.
"Melepaskanmu?"
"Xiao Lin" menatap Wang Hu dari atas dengan mata hitam pekatnya yang tanpa emosi. "Di duniaku yang dulu, serangga yang berani menatapku dengan niat membunuh akan dibakar jiwanya selama sepuluh ribu tahun hingga menjadi abu fana. Mematahkan tanganmu... itu adalah belas kasihan yang luar biasa."
Tanpa membuang waktu, "Xiao Lin" mengangkat kaki kanannya dan menginjak lutut kanan Wang Hu dengan sangat kejam.
PRAK!
"AAAARGH!!!"
Tempurung lutut Wang Hu hancur total, menyisakan kaki yang bengkok ke arah yang tidak wajar. Wang Hu berguling-guling di tanah sebelum akhirnya pingsan karena rasa sakit yang teramat sangat.
"Wang Hu!"
Teriak kedua temannya dengan ketakutan setengah mati. Mereka tidak lagi berniat membalas dendam. Dengan panik, mereka berdua berbalik dan mencoba melarikan diri sekencang-kencangnya menuju gerbang sektor luar.
"Di hadapan penguasa ini, tidak ada yang diizinkan pergi tanpa izin," desis "Xiao Lin" dingin.
Dia membungkuk, mengambil sebatang kayu bakar yang patah di tanah. Hanya dengan jentikan jari yang santai, kayu tersebut melesat seperti anak panah yang ditembakkan dari busur raksasa.
JLEB! JLEB!
"Aakh!"
"Ugh!"
Kayu patah itu menembus betis kedua murid luar tersebut dengan presisi yang mengerikan, membuat mereka berdua tersungkur ke tanah sambil berteriak kesakitan. Mereka merangkak dengan panik, meninggalkan jejak darah panjang di tanah.
Ah Gou yang menyaksikan semua kejadian itu dari tanah hanya bisa tertegun dengan mulut terbuka. Rasa sakit di dadanya seolah terlupakan oleh rasa syok yang luar biasa. Dia menatap pemuda yang berdiri tegak di tengah lapangan itu dengan rasa asing dan ketakutan yang mendalam.
"X-Xiao... Lin? Apakah itu benar-benar kau?" tanya Ah Gou dengan suara gemetar.
Mendengar suara itu, "Xiao Lin" perlahan memutar tubuhnya. Mata hitam pekat yang mengerikan itu menatap ke arah Ah Gou. Untuk sesaat, aura membunuh yang dingin sempat mengunci tubuh kurus Ah Gou, membuatnya merasa seolah-olah lehernya sedang dicekik oleh malaikat maut.
Namun, saat mata hitam itu menatap luka memar dan darah yang mengalir dari mulut Ah Gou, getaran aneh kembali terjadi di dalam dantian dan kesadaran jiwa terdalam Xiao Lin.
"Ugh..."
"Xiao Lin" tiba-tiba memegang kepalanya dengan tangan kiri. Sepasang matanya yang hitam pekat mulai berkedip, perlahan-lahan warna putih matanya kembali muncul, bertarung dengan kegelapan yang mendominasi jiwanya.
"Sialan... batas waktu tubuh fana ini terlalu singkat... jiwanya yang polos mulai terbangun kembali..." gumam suara dingin di dalam kepalanya dengan nada kesal.
"Xiao Lin" terhuyung-huyung be
berapa langkah ke belakang. Tekanan tak kasatmata yang menindas lapangan tiba-tiba lenyap begitu saja seperti embun pagi yang tersapu matahari. Aura hitam pekat yang menyelimuti tubuhnya kembali terserap masuk ke dalam dadanya, terkunci rapat di balik segel kuno yang kini kembali tenang.
Ketika Xiao Lin membuka matanya sepenuhnya, matanya telah kembali jernih, polos, dan penuh kebingungan.
"A-Ah Gou..." Xiao Lin menatap tangannya yang berlumuran darah segar, lalu melihat tubuh Wang Hu yang terkapar tak berdaya dengan tangan dan kaki patah tidak jauh darinya. Rasa ngeri langsung melanda hatinya.
"Apa... apa yang terjadi? Siapa yang melakukan semua ini?"
Xiao Lin tidak ingat apa pun sejak dadanya dihantam oleh pukulan Wang Hu. Yang dia rasakan hanyalah rasa sakit yang luar biasa, diikuti oleh kegelapan total, dan sekarang... lapangan ini telah berubah menjadi medan pembantaian kecil.
"Xiao Lin... kau... kau tadi..."
Ah Gou menunjuk sahabatnya dengan jari gemetar, tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kengerian yang baru saja dia saksikan.
Namun, sebelum Ah Gou sempat menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar dari arah gerbang masuk. Kali ini, tidak hanya satu atau dua orang.
"SIAPA YANG BEEANI MEMBUAT KEKACUAN DI SEKTOR PELAYAN?!"
Tebuah teriakan penuh wibawa bergaung kencang.
Seorang pria paruh baya mengenakan jubah biru tua khas tetua penegak disiplin halaman luar berjalan masuk, diikuti oleh belasan murid penegak hukum bersenjata pedang. Saat melihat tubuh Wang Hu yang hancur dan dua murid luar lainnya yang bersimbah darah, wajah tetua tersebut langsung berubah menjadi sangat murka.
"Berani sekali! Siapa yang melakukan perbuatan keji ini?!"
Bentak sang Tetua, tatapan matanya yang tajam seperti pedang langsung mengunci Xiao Lin yang berdiri kaku di tengah lapangan dengan tangan berdarah.
bossss
🐉🐉🐉🐉💪💪💪💪
wuss
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
👻👻👻👻👻👻
jedug
🐉🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉
fgjkitrcv
🐉
🐉🐉
🐉🐉🐉
uh
kejam
kejam
7
🐉🐉🐉
pitu
bantai
🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
wolu
🐉👻🐉👻🐉
10
🐉
11
hukum Konoha
👻👻🐉🐉
9
🐉👻
8
🐉
12
🐉