PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : GILA
BAB 3 — GILA
Sore itu, sebuah mobil sedan hitam berhenti di seberang Jalan Melati.
Mesinnya mati. Kaca filmnya gelap pekat. Dari dalam, sepasang mata biru tidak berkedip menatap ke arah trotoar yang mulai sepi.
Eiri.
Gadis itu sedang tersenyum kecil. Senyum lelah tapi tulus. Di hadapannya berdiri seorang pria berambut hitam pekat dengan mata ungu yang hangat. Tawa pelan terdengar dari jarak jauh. Pembicaraan berlangsung akrab. Terlalu akrab.
Pria itu bahkan menghabiskan seluruh isi keranjang dagangan. Memberikan uang, lalu mengacak rambut Eiri seperti adik kecil.
Di dalam mobil, genggaman di atas setir mengerat. Buku-buku jari memutih. Pembuluh di punggung tangan menonjol.
"Siapa pria itu?"
Suaranya rendah. Dingin. Menekan sampai ke tulang. Setiap kata seperti perintah.
Asisten 01 yang duduk di samping segera membuka tablet. Jarinya menari cepat. "Namanya Ergandawa Varjerya Akzan, Tuan."
Keheningan. Hanya suara AC yang berdengung.
"Putra tunggal dari Tuan Akzan. Dua hari lalu perusahaannya baru menandatangani kontrak kerja sama senilai 500 Miliar dengan M.A Corporation."
Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibir Mahendra. Tidak sampai ke matanya.
"Jadi... anak Akzan."
"Iya, Tuan."
"Bagaimana hubungan mereka?"
Jari menelusuri layar. "Menurut data, mereka teman masa kecil. Tinggal di kampung yang sama sejak lahir. Setelah Tuan Ergan pindah ke kota umur tiga belas tahun, komunikasi sempat terputus. Beberapa bulan lalu mereka bertemu kembali di pasar saat Nona Eiri sedang... berjualan."
Pandangan Mahendra tidak lepas dari sosok di luar sana. Dari cara Eiri tertawa. Dari cara Eiri menunduk malu saat diacak rambutnya.
"Teman masa kecil..."
Gumam itu pelan. Hampir tidak terdengar. Tapi ada rasa pahit yang menyebar di lidahnya.
Dadanya terasa sesak tanpa sebab. Sakit. Melihat senyum yang seharusnya miliknya diberikan kepada orang lain menimbulkan rasa tidak nyaman yang aneh. Rasa yang sudah lama dia kubur 10 tahun lalu.
Cemburu.
Kata itu terasa asing.
"Cukup."
Mata terpejam sebentar. Saat dibuka lagi, sudah sedingin es. "Lanjutkan pengawasan 24 jam. Laporkan setiap gerak-geriknya."
"Baik, Tuan."
Mobil perlahan meninggalkan tempat. Sebelum berbelok, kaca sempat terbuka sedikit. Sempat terlihat Eiri tertawa. Tawa kecil yang ringan. Tawa yang dulu pernah dia dengar di dapur kecil.
"...Masih sama."
Bisikan itu tenggelam bersama suara mesin yang meraung.
Keesokan paginya.
Eiri terbangun lebih awal dari biasanya. Jam 5 pagi. Semangat terasa berbeda hari ini. Dadanya ringan.
Permen yang dibuat kemarin habis dibeli. 200 ribu masuk ke dompet. Itu artinya masih ada harapan. Masih bisa bertahan satu minggu. Masih bisa beli obat Mama.
"Hari ini pasti lebih baik."
Bisiknya sambil mencuci muka. Air dingin membuat matanya melek.
Tangan mulai mengaduk gula di atas kompor. Api kecil. Pewarna merah muda dituang perlahan. Aromanya manis. Adonan panas dibentuk menjadi bulatan kecil dengan hati-hati.
Saat satu permen berbentuk bunga selesai, dada Eiri berdebar aneh. Hangat. Rasanya familiar. Seolah pernah membuat permen yang sama bersama seseorang, di dapur kecil, di atas meja kayu. Sambil tertawa. Sambil dikejar seseorang.
Tapi bayangan itu hilang begitu cepat. Hanya menyisakan sakit di kepala.
"Kenapa akhir-akhir ini sering merasa seperti itu..."
Kepala menggeleng. Pelipisnya dipijat. "Lupakan saja. Halu."
Pukul delapan pagi.
Begitu pintu kamar kos dibuka, empat pria berbaju hitam sudah berdiri di depan. Wajah datar. Di dada kiri mereka ada pin emas bertuliskan ASISTEN M.A.
Jantung Eiri langsung jatuh ke perut.
"Nona Eirina Karamyka Aldrick?"
"I-iya..."
Suara Eiri tercekat. Tangannya otomatis memegang pintu.
"Silakan ikut. Tuan Mahendra menunggu."
Ingin menolak. Ingin lari. Tapi ancaman beberapa hari lalu masih terngiang. `Pilihan kedua: menerima tantangan.` Tidak ada pilihan lain.
Dengan tangan gemetar, Eiri mengunci pintu. "Baik..."
Perjalanan 40 menit terasa seperti 4 jam. Mobil hitam melaju tanpa suara. Tidak ada yang bicara.
Perjalanan berakhir di depan sebuah gerbang besi hitam yang tinggi 3 meter. Begitu terbuka dengan suara `Kriing`, pemandangan di dalam membuat napas Eiri tercekat.
Taman luas dengan air mancur di tengah berbentuk malaikat. Bunga-bunga mawar putih dan merah tertata rapi. Bangunan utama menjulang seperti istana dengan pilar marmer.
"Rumah siapa ini..."
Gumam Eiri pelan. Lututnya lemas.
"Silakan masuk, Nona."
Pintu mobil dibuka.
Langkah Eiri masuk ke dalam rumah. Langit-langit tinggi 5 meter. Lampu kristal menggantung seperti air terjun. Lantai marmer putih memantulkan bayangan dan membuat langkahnya terdengar `tak... tak... tak...`
"Indah sekali..."
Bisiknya tanpa sadar. Tapi indah ini terasa mencekik.
_BRAK!_
Pintu utama tertutup dengan sendirinya oleh pelayan. Suaranya menggema.
Refleks Eiri menoleh ke belakang. Dadanya sesak.
"Sedang mencari jalan keluar?"
Suara berat itu membuat seluruh bulu kuduk Eiri berdiri.
Beberapa langkah di belakang, Mahendra berdiri. Jas hitam rapi tanpa lipatan. Rambut maroon disisir ke belakang. Sorot mata biru sedingin es seperti pertemuan terakhir di gudang tua.
"Tu-Tuan Mahendra..."
Kepala Eiri menunduk cepat. Jantungnya berdegup `drr drr drr`
Langkah mendekat terdengar jelas. _Tok. Tok._ Berhenti tepat di depan. Jaraknya terlalu dekat. Sampai Eiri bisa mencium wangi cologne mahal dan dingin dari tubuhnya.
"Kenapa? Takut?"
Nada mengejek.
"Aku... bukan begitu..."
Bohong.
"Lalu?"
Dagu Eiri terangkat perlahan oleh dua jari Mahendra. Kulitnya dingin. Tidak ada pilihan selain menatap balik.
Begitu kedua mata bertemu, dada Eiri terasa bergetar. Tatapan itu... masih sama. Tajam. Menusuk. Tapi kini kosong. Tidak ada pengenalan di dalamnya. Tidak ada kehangatan anak laki-laki 10 tahun lalu.
Jantung Eiri sakit.
Jari segera dilepas. Mahendra berjalan ke sofa kulit putih dan duduk dengan anggun.
"Duduk."
Dengan ragu, tubuh Eiri duduk di ujung sofa. Jarak 2 meter. Ruangan kembali sunyi. Hanya ada suara jam dinding `tik... tok... tik... tok...` yang menyiksa.
Sebuah map putih diambil dari meja kaca dan didorong ke depan dengan satu jari.
"Lihat."
Tangan Eiri menerima dengan bingung. Ujung jarinya dingin. Saat dibuka, mata langsung membesar. Napasnya tertahan.
_SURAT PERSETUJUAN PERNIKAHAN KONTRAK_
Nama sendiri tertulis di sana. `Eirina Karamyka Aldrick`.
Nama Mahendra Axlarta di sebelahnya.
Durasi: 2 Tahun.
Pasal: Melunasi seluruh hutang keluarga senilai 2 Miliar.
Tangan Eiri mulai gemetar. Kertasnya berisik. Dibaca ulang. Tidak salah.
"T-Tuan... ini apa?"
Suara Eiri pecah.
"Inilah tantangannya."
Mahendra bersandar. Kedua tangannya membentuk segitiga di depan dada. "Menikah denganku."
Suasana membeku. Udara di ruangan terasa berat. Seperti ada batu yang menindih dada Eiri.
"Jika pernikahan ini terjadi dan berjalan 2 tahun, seluruh hutang keluarga akan lunas. Termasuk biaya rumah sakit ibumu."
"Ini tidak masuk akal. Kenapa harus menikah?"
Air mata sudah menggenang.
"Itu bukan urusanmu."
Senyum tipis muncul di bibir Mahendra. Senyum yang tidak punya kehangatan. "Aku hanya butuh istri. Kamu butuh uang. Simpel."
Pikiran Eiri kacau. Berantakan.
Menikah dengan orang yang hampir tidak dikenal. Orang yang 3 hari lalu melempar pisau ke kepalanya. Demi melunasi hutang ratusan miliar.
Benar atau salah?
Bertahan dikejar penagih dan rentenir seumur hidup, atau menyerahkan diri ke dalam kontrak gila ini?
Air mata akhirnya jatuh. Satu. Panas. Tangan mengepal di atas pangkuan sampai sakit.
"Ayah... Ibu... apa yang harus dilakukan sekarang...?"
Isaknya tertahan.
Mahendra melihatnya. Rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang berkedip di mata birunya. Tapi cepat hilang.
"Berikan jawaban lusa. Sebelum jam 12 malam."
Dia berdiri. "Kamu boleh pulang."
Eiri berdiri dengan kaki gemetar. Map itu masih di genggamannya. Berat.
Saat berjalan ke pintu, suara Mahendra kembali terdengar. Pelan.
"Dan Eiri..."
Eiri berhenti. Tidak berani menoleh.
"Jangan dekat-dekat dengan Ergandawa lagi."
Pintu tertutup.