NovelToon NovelToon
DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sasip

Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:

"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. Taman Para Dewa & Ramalan Sang Burung Erung

..."Setiap bunga memiliki musimnya. Setiap bintang memiliki lintasannya. Tetapi hanya takdir yang mampu membuat keduanya bertemu."...

Pagi di Banua Ginjang tidak pernah datang dengan tergesa. Ia lahir perlahan, seolah-olah cahaya sendiri sedang menenun selimut baru bagi alam semesta.

Di ufuk timur, hamparan awan bening berwarna keperakan mulai mengembang seperti helaian ulos yang dibentangkan oleh tangan-tangan tak kasatmata. Sinar keemasan tidak langsung memenuhi langit. Mula-mula ia hanya berupa butiran embun cahaya yang melayang dari pucuk Hariara Bolon, lalu jatuh perlahan ke udara dan berubah menjadi ribuan kunang-kunang keemasan.

Ketika kunang-kunang itu menyentuh dedaunan, daun-daun pun terbangun. Mereka tidak bergemerisik. Mereka bernyanyi.

Setiap helai daun mengeluarkan nada yang berbeda. Jika didengar dari kejauhan, seluruh Banua Ginjang terdengar seperti sebuah gondang yang dimainkan tanpa tangan manusia. Irama itu mengalun lembut, mengisi udara dengan ketenangan yang hanya dimiliki dunia para dewa.

Para penghuni Banua Ginjang percaya bahwa selama Hariara Bolon masih bernyanyi setiap pagi, keseimbangan tiga banua akan tetap terjaga.

Mereka menyebut keseimbangan itu Hasangapon ni Banua —kemuliaan semesta yang lahir ketika setiap makhluk menjalankan tugasnya tanpa kesombongan.

Di kemudian hari, ketika manusia mulai menghuni bumi, kebijaksanaan itu akan menjelma menjadi nilai hidup: bahwa kehormatan tidak datang dari kekuasaan, melainkan dari kesediaan menjaga keseimbangan dengan sesama, alam dan iman kepada Sang Pencipta.

...****************...

Tidak jauh dari akar Hariara Bolon terbentang sebuah taman yang sangat indah, bahkan cahaya pun melangkah dengan hormat ketika mendekatinya.

Namanya Taman Sihaporas.

Tidak ada bunga yang layu di sana, karena tidak ada ranting yang patah. Setiap pohon tumbuh sesuai kehendaknya sendiri, namun tak satu pun saling berebut cahaya. Pohon-pohon berbuah kristal biru, bunga-bunga memancarkan aroma yang berubah mengikuti musim langit dan kolam-kolam bening-nya memantulkan bukan hanya pantulan wajah, melainkan isi hati siapa pun yang menatapnya.

Di taman inilah para dewa berkumpul setiap awal putaran waktu. Mereka bukan penguasa yang duduk di singgasana sepanjang hari. Masing-masing memikul amanah.

Ada yang menjaga angin agar tak pernah lupa jalan pulang. Ada yang mengatur hujan cahaya agar turun pada saat yang tepat. Ada yang membangunkan bintang setiap malam dan ada pula yang bertugas menenangkan mimpi seluruh penghuni Banua Ginjang.

Tak ada tugas yang dianggap lebih mulia daripada yang lain. Karena di hadapan keseimbangan, semua memiliki arti.

...****************...

Pagi itu, taman dipenuhi wajah-wajah yang jarang berkumpul dalam satu waktu. Penjaga empat penjuru langit datang. Para penenun cahaya datang. Para pemahat awan datang. Bahkan roh-roh sungai langit meninggalkan aliran mereka untuk beberapa saat.

Mereka semua berdiri menghadap ke arah balai batu kristal di tengah taman. Di sanalah Mulajadi Nabolon telah menunggu. Di pangkuannya tertidur tenang seorang bayi perempuan. Si Boru Deak Parujar.

Usianya baru beberapa hari menurut hitungan Banua Ginjang, tetapi setiap makhluk yang memandangnya dapat merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Seolah-olah anak kecil itu membawa musim baru yang belum pernah dikenal alam semesta. Saat ia menarik napas, bunga-bunga bermekaran. Saat ia tersenyum dalam tidurnya, burung-burung seakan bernyanyi dengan lebih merdu. Dan saat ia membuka mata, warna langit menjadi sedikit lebih cerah daripada biasanya.

Tidak seorang pun berani mengucapkannya. Namun semua merasakan hal yang sama. Anak itu tidak sekadar hidup di Banua Ginjang. Banua Ginjang sendiri seolah ikut hidup bersamanya.

...****************...

"Sudah lama kita tidak menyaksikan pertanda sebesar ini." Suara itu berasal dari seorang tetua berjanggut putih yang rambutnya memanjang hingga menyentuh tanah cahaya.

Ia dikenal sebagai Parbaringin, penjaga Pohon Kehidupan. Konon, setiap urat pada rambutnya menyimpan satu kisah sejak awal penciptaan.

Mulajadi Nabolon mengangguk perlahan, lalu berkata: "Semesta telah memilihnya."

"Tetapi..." Parbaringin menatap bayi itu dengan sorot mata yang dipenuhi kekhawatiran. "Setiap pilihan selalu meminta harga."

Angin tiba-tiba berhenti. Para dewa saling berpandangan. Kalimat itu menggantung seperti kabut yang enggan menghilang.

Belum sempat percakapan dilanjutkan, langit bergetar pelan. Bukan karena badai. Bukan pula karena petir. Melainkan oleh suara kepakan sayap yang sangat besar.

Bayangan panjang melintas di atas taman. Semua kepala menengadah. Seekor burung raksasa melayang turun dari ketinggian yang bahkan belum pernah dijelajahi penghuni Banua Ginjang.

Bulu-bulunya hitam kebiruan, tetapi setiap ujung sayap memancarkan cahaya keperakan seperti gugusan bintang. Paruhnya melengkung anggun. Matanya keemasan. Tatapannya tajam, namun tidak menakutkan.

Dialah Burung Erung.

Dalam kepercayaan para penghuni Banua Ginjang, Erung bukan sekadar burung. Ia adalah pembawa pertanda. Ia tidak pernah datang untuk memberi kabar baik ataupun buruk. Ia hanya menyampaikan apa yang telah ditulis oleh sang empunya waktu.

Selama ribuan putaran langit, Burung Erung hanya muncul sembilan kali. Dan setiap kemunculannya selalu mengubah sejarah semesta.

...****************...

Burung itu tidak hinggap di tanah. Ia melayang tepat di atas kepala Mulajadi Nabolon. Kemudian mengepakkan sayapnya sekali.

Seluruh bunga di taman menunduk. Kolam-kolam cahaya bergetar. Hariara Bolon menggugurkan tujuh helai daun emas. Lalu, Burung Erung mengeluarkan suara.

Bukan kicau. Bukan pekikan. Melainkan nada panjang yang terdengar seperti ribuan gondang dipukul bersamaan dari kejauhan.

Semua makhluk memejamkan mata. Karena mereka tahu, ramalan hanya dapat didengar oleh hati yang tenang.

Suara Burung Erung perlahan berubah menjadi kata-kata:

..."Anak cahaya akan berjalan menuju air. Air akan menjadi tanah. Tanah akan menjadi kehidupan. Kehidupan akan melahirkan manusia. Namun sebelum itu..."...

Burung Erung terdiam. Matanya yang keemasan menatap jauh melewati Banua Ginjang, seolah mampu melihat hingga ke dasar Banua Toru. Suasana menjadi sunyi.

Lalu ia melanjutkan dengan suara yang lebih berat:

..."Ia harus kehilangan langit... agar dunia memiliki rumah."...

Kalimat itu mengguncang hati setiap penghuni taman. Beberapa dewa menundukkan kepalanya merenung. Sebagian lain menatap bayi yang masih tertidur damai dengan raut khawatir.

Hanya Mulajadi Nabolon yang tetap tenang. Seakan-akan ramalan itu bukanlah kejutan baginya. Melainkan sesuatu yang telah lama ia ketahui.

Burung Erung kembali mengepakkan sayap.

Namun sebelum terbang meninggalkan taman, ia menjatuhkan sehelai bulu berwarna perak. Bulu itu melayang perlahan dan berhenti tepat di dada Deak Parujar.

Ajaibnya, bulu itu tidak jatuh lagi ke bawah. Ia melebur menjadi cahaya, lalu menghilang ke dalam tubuh sang bayi.

Tak seorang pun mengerti maknanya.

Tetapi Parbaringin berbisik lirih, "Mulai hari ini... takdir telah mengenali namanya."

Dan jauh di dasar Banua Toru, tempat cahaya tak pernah menyentuh dasar samudra purba, sepasang mata berwarna hijau tua kembali terbuka.

Naga Padoha tidak bergerak.

Namun untuk pertama kalinya sejak zaman tanpa waktu, ia mengangkat kepalanya, seolah mendengar gema ramalan yang baru saja diucapkan di langit.

Takdir mulai bergerak.

Dan bahkan para dewa belum mengetahui ke mana ia akan membawa putri kecil yang sedang tertidur damai di pangkuan Sang Pencipta.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke bab 3. Putri yang Berbicara kepada Angin.

1
MayAyunda
mampir kak ..cerita bagus ..lanjut
B042
unyu² sekali siula yak.. 😍
sasip
mohon maaf kalau terasa aneh, namanya jg imajinasi penulis.. semoga suka ya walau aga aneh.. 🙏🏻
Zed Analytical Number Nine
warna kelopak nya indah
sasip: terima kasih.. seindah dukungan kakak loh.. 😍
total 1 replies
Tio Buki
Moga lancar ya thor🙏🙏🙏
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Siapakah dia, siapa namanya?????
Tio Buki: Kisah Sumatra ya. Tapa nuli, atau Toraja nih.
total 2 replies
Tio Buki
Iya, seperti itu
Tio Buki
Oh, begitu ya
Tio Buki: Oke dek. Semangat ya🙏
total 2 replies
Tio Buki
Aneh
Tio Buki
Kok begitu
Tio Buki: Oh begitu ya dek
total 2 replies
MayAyunda
lanjut kak keren
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
B042
cakep² ish gambarnya.. 😍
B042
ternyata bukan manusia yg mempunyai perasaan, tapi perasaanlah yg mempunyai pemilik.. seperti kesunyian atau kesendirian, apakah bisa dimiliki bersama² yak? secara kalo bareng² memilikinya, enggak sendiri dunks ya itu artinya..
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
B042
bagus banged ya kalau manusia bisa berkomunikasi dg alam.. jadi keinget sama mba rara neh.. wkwkwkwkwk..
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/
B042
wow banyak mahluk² ajaibnya.. 😍🥰😘
B042
KEREN..
B042
Ulos adalah kain tenun tradisional Batak (Sumatra Utara) yang melambangkan kehangatan, perlindungan, dan kasih sayang. Dikenal sebagai "pengikat kasih sayang," kain ini sakral dalam budaya Batak karena mendampingi setiap fase kehidupan manusia—mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. (mbah google) 😉
B042
part ini mengingatkan pada sekolah alam yg sempet hapapening beberapa waktu yg lalu itu ya.. 😆😋😏
B042
"air menyimpan kenangan dan ia akan selalu mengingat", jadi kebayang film Frozen 2 yak? macam dengar kata² Olaf gitu deh.. 😋😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!