Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa Layung Koneng
Udara pegunungan menyambut Raya begitu bus turun di simpang desa, dilanjutkan naik ojek selama 15 menit menyusuri jalan berkelok yang diapit hamparan sawah dan kebun sayur. Kabut tipis masih menggantung meski matahari sudah cukup tinggi, dan aroma tanah basah bercampur pupuk kandang tercium khas setiap kali angin berhembus.
Bik Tati sudah menunggu di depan rumahnya yang sederhana, ia melambai-lambai begitu melihat ojek yang ditumpangi Raya mendekat.
"Raya! Ya Allah Neng, kamu teh sudah gede pisan sekarang mah!" seru Bik Tati, langsung memeluk Raya erat begitu gadis itu turun dari motor, "Terakhir Bibi liat kamu masih SMA kalau nggak salah."
"Iya Bik, sudah lama kita nggak ketemu, soalnya kemarin sibuk kuliah. Bik Tati apa kabar? Masih cantik aja kayak Manohara. " goda Raya sambil membalas pelukan itu.
" Akh bisa wae kamu mah "
Di belakang Bik Tati, seorang lelaki paruh baya berkulit gelap dengan otot lengan yang besar. Dia adalah Mang Hari, suami Bi Tati yang bekerja menggarap ladang setiap hari.
"Assalamualaikum, Mang. Terima kasih sudah mengizinkan aku tinggal sementara disini." ucap Raya sopan sambil mencium tangan Mang Hari.
"Waalaikumsalam. Anggap ini rumah sendiri, punten kalau rumahnya nggak semewah rumah Teh Yana. " jawab Mang Hari ramah, logat Sundanya kental namun hangat.
Dari dalam rumah, seorang gadis remaja keluar dengan rasa penasaran yang kentara di wajahnya, ia mengintip dari balik pintu sebelum akhirnya berani mendekat.
"Ini Tiana, anak Bibi yang bungsu. Masih kelas dua SMA," jelas Bik Tati.
" Ya Allah si Tia udah gede amat. Perasaan dulu masih kecil, cantik banget sih kamu."
"Hai, Teh Raya! Alhamdulillah akhirnya Teteh kesini, nanti aku ajakin nyeblak bareng. " sapa Tiana antusias.
"Tiana mah kalau ketemu orang baru langsung heboh," ucap Bik Tati sambil menggeleng, "udah, ayo masuk dulu, Neng. Istirahat, pasti capek perjalanan jauh."
" Iya Bik. "
🌾🌾🌾🌾
Rumah Bik Tati tidak terlalu besar, namun terasa lapang karena dikelilingi kebun cabe dan tomat yang luas milik Mang Hari di bagian belakang. Kamar yang disediakan untuk Raya sederhana, hanya berisi kasur lantai, lemari kayu dekat jendela kecil yang langsung menghadap ke hamparan hijau perbukitan.
Malam pertamanya di Layung Koneng terasa begitu berbeda. Tidak ada suara knalpot motor yang meraung, tidak ada gemerlap lampu kota yang biasa menerobos masuk lewat celah gorden. Yang ada hanya suara jangkrik bersahutan dan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, Raya tertidur tanpa mimpi buruk. Tidak ada sosok berwajah kosong, tidak ada rasa tertindih yang mencekik dadanya. Ia bangun keesokan paginya dengan tubuh yang jauh lebih segar, meski rasa lelah dari perjalanan panjang masih menyisakan pegal di sekujur badan.
"Neng udah bangun? Ayo sarapan dulu, abis itu bantuin Bibi metik cabe di kebun kalau nggak keberatan," ajak Bik Tati begitu melihat Raya keluar kamar.
"Boleh banget, Bik. Sekalian pengen olahraga dikit, biar badan nggak kaku. "
Sejak hari itu, rutinitas Raya berubah drastis. Pagi-pagi buta ia sudah ikut ke kebun bersama Bik Tati dan Mang Hari, memetik cabe merah yang menggantung lebat di batangnya, sesekali dibantu Tiana yang baru pulang sekolah di siang hari.
Tangannya yang dulu hanya terbiasa memegang laptop dan berkas lamaran kerja kini mulai terbiasa dengan getah cabe yang pedas menyengat kalau tak sengaja tersentuh mata. Namun anehnya, ia menikmati setiap prosesnya. Ada semacam ketenangan tersendiri saat tangannya sibuk bekerja, pikirannya teralihkan dari segala teror yang selama ini menghantuinya.
🌾🌾🌾🌾
Sore itu, sekumpulan ibu-ibu tetangga berkumpul di teras rumah Bik Tati, mereka. membawa keranjang cabe dan tomat masing-masing untuk disortir bersama sebelum dijual ke pengepul esok pagi. Raya ikut duduk melingkar, mendengarkan obrolab ibu-ibu yang penuh gosip ringan dan tawa lepas.
"Eh Neng Raya, Teh Tati bilang kamu sarjana ya? Sarjana Akuntansi katanya?" tanya Bu Yayah, tetangga sebelah rumah yang dikenal paling cerewet di antara yang lain, sambil sibuk memilah cabe yang busuk dan yang masih bagus.
"Iya, Bu. Baru lulus bulan kemarin, saya mau istirahat dulu sebelum melamar kerja. " jawab Raya sopan.
"Wah pinter atuh! Tapi disini mah mau ngelamar kemana? Nggak ada pabrik atau perkantoran," celetuk Bu Yayah lagi, membuat beberapa ibu lain mengangguk setuju.
"Ada pabrik sepatu di Tonggoh, itu juga jauh Neng, naik angkot dua kali baru sampe." tambah Bu Ijah menimpali.
"Iya sih, Bu. Tapi saya kesini juga bukan buat nyari kerja kok, lagi butuh suasana baru aja." jelas Raya sambil tersenyum kecil, menghindari cerita lebih detail soal alasan sebenarnya.
"Ih tapi sayang atuh sarjana kok cuma metik cabe doang," celetuk Bu Yayah lagi tanpa maksud menyinggung, "coba kalau Neng Raya kenalan sama Kang Razka, itu lho anak dinas pertanian yang suka mampir ke sini buat penyuluhan. Sarjana pertanian dia mah, tapi PNS dan gajinya lumayan besar."
"Bu Yayah mah kalau udah nyambungin orang, nggak ada abisnya," sahut Bik Tati sambil tertawa, "Raya juga baru dateng, jangan disuruh macem-macem, Bu. "
"Ih Teh Tati mah, Ibu kan cuma ngasih tau aja. Itungan mah orangnya sopan, ganteng, rajin sholat di masjid pula. Cocok kalau sama Neng Raya," Bu Yayah masih ngotot membela pendapatnya, membuat ibu-ibu lain tertawa geli, sementara Raya hanya bisa tersenyum canggung sambil menunduk memilah tomat, wajahnya mulai memerah karena malu.
Boro-boro mau deket sama lelaki lain, sekarang Raya lagi tawuran sama demit kiriman Manda SPG.
Tiana yang duduk di sebelah Raya langsung menyenggol lengan sepupunya itu sambil terkikik.
"Kang Razka emang beneran ganteng loh, Teh. Aku aja yang masih SMA suka salting kalau ketemu dia," bisik Tiana pelan, membuat Raya semakin salah tingkah.
" Gantengan mana sama Brad Pitt? "
" Gantengan Kang Razka, soalnya Brad Pitt udah tua. "
Hahahahah!
" Bisa aja kamu Tia"
🌾🌾🌾🌾
Keesokan harinya saat Raya sedang sibuk menyiram tanaman cabe di bagian ujung kebun, sebuah motor trail berlumpur berhenti di pinggir jalan setapak. Seorang lelaki berkulit sawo matang, mengenakan rompi dinas pertanian berwarna hijau turun dari motornya sambil membawa map berisi berkas.
"Assalamualaikum, permisi. Mang Hari ada di rumah nggak, Teh?" tanya lelaki itu sopan, suaranya tegas namun ramah.
Raya sedikit terkejut, refleks menoleh dan mendapati sosok yang cukup membuatnya terdiam sesaat. Wajahnya bersih dengan rahang tegas khas lelaki Sunda, senyumnya ramah, dan sorot matanya memancarkan vibes yang berbeda.
"Waalaikumsalam. Mang Hari lagi ke sawah sebelah, Kang. Sebentar lagi kayaknya pulang," jawab Raya, mencoba terlihat biasa saja meski jantungnya entah kenapa berdebar sedikit lebih cepat.
"Oh gitu. Neng ini keponakan Bu Tati, ya? "tanya lelaki itu lagi, membuat Raya mengernyit heran.
"Kok tau, Kang?"
"Ini desa kecil, Neng. Berita apa aja cepet nyebar," jawabnya sambil tertawa kecil, "oh iya, kenalin, saya Razka. Kerja di dinas pertanian, sering mampir ke sini buat ngecek perkembangan lahan cabe sama tomat punya Mang Hari dan warga lainnya."
"Saya Raya, Kang. " jawab gadis itu singkat sambil tersenyum tipis, meletakkan gembor yang sejak tadi dipegangnya.
Obrolan singkat itu berlanjut hingga Mang Hari akhirnya pulang dari sawah. Mereka membicarakan soal bantuan bibit unggul dari pemerintah yang katanya akan segera disalurkan ke petani-petani di desa. Raya hanya mendengarkan sambil sesekali diam-diam memperhatikan cara Razka berbicara, begitu tenang dan penuh perhatian setiap kali menjelaskan sesuatu, jauh berbeda dari kesan lelaki yang selama ini pernah singgah dalam hidupnya.
Sebelum pamit, Razka sempat melirik ke arah Raya sekali lagi.
"Kalau Neng butuh temen keliling desa, saya bisa nemenin kok. Kebetulan saya emang sering muter-muter ngecek lahan petani lain juga " tawarnya ramah, meski ada semburat canggung yang tersirat dari nada bicaranya.
"Makasih tawarannya, Kang. " jawab Raya sopan.
🌾🌾🌾🌾
Malam harinya setelah menunaikan sholat isya dan membaca amalan yang diberikan Ustad Ahmad seperti biasa, Raya duduk di teras depan rumah. Ia merasa jauh lebih tenang di sini, jauh dari segala teror dan luka yang selama ini menghimpit dadanya.
Namun di tengah ketenangan itu, matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang mengganjal di sudut kebun cabe, tepat di bawah pohon jambu tua yang menjulang di pojok lahan Mang Hari. Sebuah gundukan tanah kecil yang terlihat baru saja digali dan ditutup kembali, berbeda dari tanah sekitarnya yang tampak lebih padat dan lama tak tersentuh.
Rasa penasaran membuatnya bangkit, mendekat perlahan dengan membawa senter kecil dari kamarnya. Namun baru beberapa langkah mendekat, suara Bik Tati dari dalam rumah memanggilnya.
"Neng Raya, ayo masuk kedalam! Pamali anak gadis duduk menghadap kebun malam-malam! " ucap Bik Tati tiba-tiba muncul di ambang pintu, nada suaranya terdengar sedikit lebih serius dari biasanya.
"Kenapa emang, Bik?" tanya Raya penasaran, langkahnya terhenti.
Bik Tati terdiam sejenak, seolah memikirkan jawaban yang tepat.
"Nggak ada apa-apa, cuma dulu leluhur Mang Hari katanya nyimpen sesuatu di situ buat jagain kadang, seperti pusaka keluarga gitu. Neng Raya kan baru disini, takutnya penghuni sini iseng dan gangguin. " jelas Bik Tati singkat, namun matanya sempat melirik sekilas ke arah gundukan tanah itu dengan raut yang sulit diartikan.
Raya hanya mengangguk, meski rasa penasarannya belum sepenuhnya reda. Ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh malam itu, mengingat rasa lelah yang mulai menjalari tubuhnya. Namun jauh di dalam hati, entah kenapa ada firasat samar yang menggelitik, seolah desa kecil yang tampak begitu damai ini menyimpan rahasianya sendiri yang belum sepenuhnya terungkap.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target