GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.
Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.
Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.
Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Asisten Gotik, Kru Ajaib, dan Keberangkatan Perdana
"Yo! Udah dateng, Bos?"
Sapaan kelewat santai itu menyambut Arka begitu ia berdiri di depan pintu palka bersama Null.
Suara itu berasal dari sesosok robot bergaun Gothic Lolita yang sedang bersandar santai di sisi pintu palka. Tubuh mekaniknya dibalut gaun Gothic Lolita hitam dengan aksen ungu. Kabel optik menyerupai rambut kuncir dua bergoyang pelan saat ia meniup gelembung merah muda dari zat sintetis kenyal, lalu membiarkannya meletus.
Arka mengerjap pelan.
"Ya?"
Alih-alih menjawab dengan sopan layaknya asisten pada umumnya, robot bernama YUI itu tidak membalas. Ia hanya memberikan gestur mengedikkan kepala ke arah lorong dalam kapal, menyuruh Arka mengikutinya.
Arka menoleh ke arah Null. "Ini YUI kenapa ya? Apa sistemnya rusak kah?"
"Lagi puber kali," jawab Null datar tanpa beban.
Arka mendengus. "Mana ada robot puber!"
YUI menghentikan langkahnya di depan sebuah panel konsol di dekat pintu masuk. Ia menepuk layar kaca tersebut dengan malas.
"Nih, Bos. Taruh tanganmu di sini, biar otoritas kapal ngunci ke kamu," ucap YUI.
Arka menempelkan telapak tangannya di atas layar kaca itu. Sebuah garis cahaya biru memindai tangannya dari ujung jari hingga pergelangan.
BEEP.
Suara sistem kapal yang sangat jernih dan mekanis bergema di seluruh lorong.
"Otorisasi Kapten Terdeteksi. Mengalihkan seluruh hak administratif kapal. Seluruh senjata, mesin, AI, serta sistem keselamatan kini berada di bawah otoritas Kapten Arka Orion Saputra."
Mendengar pengumuman resmi itu, Arka langsung sadar akan beban luar biasa yang baru saja dijatuhkan ke pundaknya. Kapal raksasa ini, kargo di dalamnya, beserta nyawa seluruh krunya sekarang murni menjadi tanggung jawabnya.
"...Buset," gumam Arka pelan.
YUI meniup gelembung permen karetnya lagi hingga meletus, lalu menatap Arka dari atas ke bawah.
"Nah, sekarang aku resmi jadi milikmu," kata robot itu datar. "Tapi jangan nyuruh yang aneh-aneh. Kamu bukan tipeku."
Arka mendadak kehilangan kata-kata. Alis kanannya berkedut pelan saat menatap robot gotik di depannya.
Ia benar-benar kehabisan logika menghadapi rasa percaya diri ekstrem dari sebuah mesin.
Belum sempat Arka menemukan kata-kata balasan, YUI sudah memalingkan wajah mekaniknya ke arah Null.
"Vrh On Kael, Akth Orr na Vex thul."
YUI tiba-tiba berbicara menggunakan bahasa Voidwalker.
Komunikator di telinga Arka langsung menerjemahkan.
"Kamu kepala kargo, kan? Langsung aja ke kargo sana. Registrasi dulu bentar, terus kumpul di aula kapal. Ikutin aja lampu kuning itu, ngerti kan?"
Null hanya mengangguk pelan, lalu berbalik dan berjalan menyusuri lorong dengan langkah kakinya yang berat, mengikuti lampu indikator kuning di lantai.
Arka mengusap wajahnya dengan kasar. "Woi, ngomong pake bahasa biologis dong kalau lagi ada aku."
"Cerewet," sahut YUI santai. "Udah blom? Kalau udah, langsung kumpul sana di aula. Beri pidato. Tiga puluh menit lagi kita gas berangkat."
"Okeeey...?"
Arka menelan ludah. Mengabaikan tingkah YUI yang menguji kesabaran, kini jantungnya mulai berdebar kencang. Ini akan menjadi momen perdananya berpidato sebagai kapten di depan puluhan kru lintas ras.
Melihat ada beberapa kru kebersihan yang masih berjalan santai di ujung lorong, YUI tiba-tiba berkacak pinggang dan berteriak dengan volume speaker maksimal.
"Yang lain cepetan dikit!! Udah mo berangkat neeeh, lama sekali sih!" Mendengar bentakan preman dari asisten gotik itu, para kru yang masih beres-beres pun segera berlari panik masuk ke dalam pos masing-masing.
Waktu pun berlalu. Sepuluh menit sebelum jadwal keberangkatan, Arka sudah berdiri tegak di balik podium di Aula Utama kapal.
Di belakangnya, YUI berdiri bersandar pada dinding sambil membawa sebuah tablet transparan, posturnya benar-benar slengekan layaknya anak ABG yang bosan ikut upacara.
Di depan podium, berbaris rapi sekitar lima puluh orang kru kapal. Dari atas podium, Arka bisa melihat peta demografi krunya. Ada barisan koki untuk kantin yang memakai celemek anti-gravitasi, tim medis, teknisi, dan petugas kebersihan. Bagian paling sedikit adalah anak buah Pipi di divisi keamanan yang hanya berjumlah enam orang. Sementara barisan yang paling memakan tempat adalah divisi kargo pimpinan Null, puluhan makhluk berbadan besar yang memang disiapkan untuk pekerjaan kasar.
Di barisan paling depan para kepala divisi, Pipi tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan semangat. Melambai antusias ke arah Arka.
Melihat tingkah temannya itu, Arka tidak bisa menahan senyum. Ia membalas lambaian Pipi dengan dada-dada kecil yang tidak terlalu kentara agar wibawanya sebagai kapten tetap terjaga.
Tanpa Arka sadari, di barisan operasional logistik, berdiri seorang perempuan reptil bersisik hijau pucat. Rizer. Ia menatap ke depan dengan senyum simpul. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa pria manusia baik hati yang menyelamatkannya dari ancaman duel konyol di terminal tadi, ternyata adalah kapten kapalnya sendiri.
Arka berdeham, mengetuk pelan mikrofon di podium. Suasana aula yang tadinya riuh perlahan menghening saat ia menatap seluruh pasukannya.
"Selamat pagi, semuanya. Saya Arka Orion Saputra, kapten baru yang akan memimpin GPS-731 Andromeda untuk ekspedisi pengiriman kuartal ini," Arka membuka pidato dengan nada mantap.
Di barisan teknisi, Brakkor sang kepala mesin yang bertubuh raksasa merah tampak mengangguk-angguk serius, menghargai setiap kata kaptennya. Sementara di barisan pilot, Alien berlengan enam tampak sesekali mencuri pandang ke layar HP-nya. Di belakang Arka, YUI meniup poni kabelnya karena bosan.
"Saya tahu rute Andromeda bukan rute yang mudah. Ada sabuk asteroid, ancaman perompak luar angkasa, dan tenggat waktu perusahaan yang kadang tidak masuk akal," lanjut Arka, suaranya mulai meninggi, mencoba menyuntikkan semangat. "Tapi saya jamin, selama kita bekerja sama, mematuhi protokol keselamatan, dan saling melindungi... kita akan pulang ke rumah dengan selamat! Dan tentu saja, dengan bonus yang utuh!"
Pipi langsung bertepuk tangan paling keras, memancing kru lain untuk ikut bersorak.
Arka tersenyum puas melihat reaksi krunya. Ia mundur selangkah dari mikrofon.
"Udah?" tanya YUI tiba-tiba dari belakangnya.
Arka menoleh dan mengangguk pelan.
"Bagus," YUI langsung mengambil alih mikrofon. "Semua kru, pidato selesai! Harap segera menuju ke pos masing-masing untuk persiapan lepas landas sekarang juga!"
Begitu aula dibubarkan, Arka langsung berjalan menuju anjungan kokpit kapal yang berada di dek atas.
Ruangan kokpit Andromeda sangat luas dan bersih, dipenuhi panel-panel hologram biru dan dikelilingi kaca panorama raksasa yang menampilkan pemandangan luar angkasa. Di dalam ruangan itu, beberapa kru inti sudah duduk di kursi stasiun kerja masing-masing.
"Welcome aboard, Captain," sambut YUI. Robot gotik itu menepuk sandaran kursi kapten. "Kenalin dulu nih, awak kokpit utama kita. Yang pertama, pilot kita."
YUI menunjuk ke kursi kemudi utama.
Lyra akhirnya menoleh sekilas dari panel navigasi. Keenam tangannya tetap sibuk bekerja di atas konsol.
"Salam kenal, Kapten. Nama saya Lyra Vel Astra, Chief Flight Pilot."
Belum sampai sedetik setelah memperkenalkan diri, matanya kembali ke layar estimasi biaya operasional.
"Kalau konsumsi bahan bakar berhasil saya tekan di bawah target perusahaan..." katanya, "...bonus efisiensinya tetap turun ke pilot, kan?"
Arka berkedip beberapa kali. "Prioritasmu memang uang, ya?"
Lyra mengangkat bahu pelan.
"Yang bikin saya semangat kerja itu bukan pujian, Kapten."
Ia menekan sebuah tombol di panel navigasi.
"Gaji."
"Lanjut," ucap YUI sambil menunjuk ke arah panel reaktor.
Di sisi kanan kokpit berdiri sesosok alien merah bertubuh besar di depan panel reaktor.
Mendengar namanya dipanggil, ia menoleh.
"Salam kenal, Kapten. Saya Brakkor Magma Ruzgar. Chief Engineering Officer."
Ia mengangguk hormat, lalu kembali memeriksa panel mesin seolah pekerjaan itu jauh lebih penting daripada berbasa-basi.
Arka memperhatikan sosok raksasa itu beberapa detik.
Entah kenapa, meski wajah Brakkor terlihat garang, caranya bekerja justru memberi kesan tenang dan dapat diandalkan.
"Terus, yang di panel operasi itu namanya Eiden Sol Veyr."
Pemuda berkulit pucat itu refleks berdiri begitu namanya dipanggil.
"Salam kenal, Kapten."
Gerakannya terlalu cepat hingga lututnya nyaris membentur sisi konsol.
"Saya Eiden Sol Veyr. Operations Officer. Mohon bimbingannya."
Arka membalas anggukan hormatnya.
"Senang bekerja sama denganmu."
Di saat suasana mulai kembali tenang, YUI tiba-tiba berjalan mendekati Eiden.
Robot itu berhenti tepat di depannya, lalu memperhatikan seragam Eiden beberapa detik tanpa berkata apa-apa.
"Kerahmu miring."
"Hah?"
Belum sempat Eiden bereaksi, YUI sudah mengangkat tangan dan merapikan kerah bajunya dengan satu gerakan cepat.
"Nah."
Eiden membeku.
"Pakai seragam yang rapi. Kamu sekarang kerja di kapal, bukan lagi mahasiswa magang."
Wajah Eiden langsung memerah kebiruan.
"I-iya..."
YUI mendengus pelan sambil berbalik pergi.
"Cuma pegawai baru, udah berantakan."
Arka memperhatikan keduanya bergantian.
Entah kenapa, kalimat YUI terdengar seperti omelan. Namun gerakannya justru jauh lebih mirip seseorang yang sedang memperhatikan orang lain daripada sedang mengejeknya.
"Nah, terus yang tukang pukul di panel ujung itu adalah..." YUI beralih ke kursi keamanan.
"Nggak perlu dikenalin, dia temenku hehe," potong Pipi santai sambil memutar kursinya, tersenyum lebar.
Arka membalas senyum itu dengan lega.
"Oke, buat sisa kenalannya bisa dilanjutin nanti lagi," YUI menepuk tangannya sekali, membuyarkan obrolan. "Sekarang waktunya tancap gas!"
Atmosfer di dalam kokpit berubah seketika. Obrolan santai terputus, digantikan jemari yang cekatan menari di atas konsol. Semua awak berbalik menghadap stasiun kerja masing-masing dengan fokus penuh.
Arka berjalan perlahan menuju kursi kapten di tengah ruangan. Ia duduk, merasakan material kursinya. Tangannya bertumpu pada sandaran lengan.
"Laporan pra-penerbangan," perintah Arka tegas.
Brakkor menekan tombol berat di panelnya. "Reaktor warp stabil di angka seratus persen."
Keenam tangan Lyra menari di atas konsol kemudi dengan kecepatan tinggi yang nyaris tak terlihat mata. "Kontrol penerbangan siap. Rute navigasi terkunci di sistem utama."
Eiden menatap layar radar biru di depannya, suaranya sudah tidak lagi gugup. "Izin lepas landas diterima dari stasiun pusat. Jalur orbit di depan kita bersih."
YUI berdiri tegak di samping kursi Arka, memancarkan data di matanya. "Seluruh awak kapal sudah berada di pos masing-masing."
Pipi menekan panel hijau di ujung ruangannya. "Keamanan internal dan eksternal bersih. Tidak ada anomali."
Setelah laporan terakhir dari Pipi, suasana kokpit mendadak sunyi senyap.
Hanya terdengar dengungan halus dari mesin kapal yang siap membelah ruang hampa. Lyra, Brakkor, Eiden, Pipi, dan YUI... semuanya menoleh, menatap lurus ke arah Arka.
Ini dia. Keputusan operasional pertamanya sebagai kapten.
Arka menarik napas dalam-dalam. Ia menatap hamparan bintang di balik kaca panorama raksasa di depannya. Matanya menajam.
"GPS-731 Andromeda..." ucap Arka memecah keheningan. "...berangkat."
Seluruh awak kokpit menjawab serempak tanpa keraguan. "Siap!"
Getaran dahsyat mulai terasa di lantai kapal saat mesin pendorong utama menyala. Perlahan namun pasti, lambung raksasa kapal kargo itu bergerak keluar dari kaitan mekanis Dermaga 731, meluncur anggun meninggalkan Pelabuhan Orbital Bumi.
Setelah kapal berada di titik koordinat yang aman dari stasiun, YUI menekan panel holo-fisik di sampingnya.
"Mengaktifkan Warp Drive," lapor YUI.
Bintang-bintang di luar kaca mulai memanjang menjadi garis-garis cahaya yang menyilaukan mata.
"Tiga."
"Dua."
"Satu."
WHUZZZZ.
Dalam satu kedipan mata, kapal kargo raksasa itu melesat lenyap, meninggalkan jejak cahaya yang membelah ruang hampa menuju tujuan pertama mereka.