NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3 - Without Words

Aku dan Javier kembali ke meja keluarga kami.

Padahal tadi aku sendiri yang mengusulkan agar kami menerima perjodohan ini. Tapi entah kenapa, sekarang justru aku yang merasa gugup. Tentang bagaimana cara mengatakannya… dan tentang kehidupan setelah ini.

Tanpa cinta.

Tanpa perasaan.

Tapi di sisi lain… aku juga sudah lelah. Lelah ditanya kapan menikah. Lelah didesak oleh orang-orang sekitar.

Aku berjalan di belakang Javier dengan jantung berdebar pelan.

Saat kami sampai di meja, mereka semua sudah mulai makan. Sepertinya kami terlalu lama mengobrol sampai mereka tidak menunggu lagi.

“Eh? Kalian udah selesai ngobrolnya? Ngobrolin apa sampai lama begitu?” tanya Pak Jamal.

“Ya tentang perjodohan kami, Pa.” jawab Javier santai.

Kami duduk kembali di tempat semula, berdampingan seperti tadi.

“Jadi apa hasil dari obrolan kalian?” lanjut Pak Jamal.

Aku dan Javier saling melirik sebentar. Lalu Javier menarik napas sebelum berbicara.

“Ehm… kami memutuskan… akan menerima perjodohan ini.”

“Alhamdulillah…” ucap mereka semua hampir bersamaan, wajah-wajah itu langsung terlihat lega.

Aku hanya bisa menghela napas pelan.

“Tapi…” lanjut Javier.

Semua mata kembali tertuju padanya.

“Saya dan Naya akan tinggal di rumah kami sendiri setelah menikah.”

“Di rumah kalian sendiri? Kalian mau beli rumah?” tanya Pak Jamal.

Javier mengangguk.

“Kalian punya uang?”

“Aku ada tabungan, Pa.”

Aku menoleh ke arah Javier.

Tidak menyangka… demi pernikahan yang bahkan belum kami jalani sepenuhnya, dia sudah memikirkan sampai sejauh itu.

“Anu… Nak Javier… lebih baik uangnya disimpan saja untuk kebutuhan setelah menikah nanti. Biaya lahiran, biaya anak sekolah itu mahal, lho. Kalian bisa tinggal di rumah kami saja. Lagian kalau Naya tidak tinggal bareng kami, rumah jadi sepi. Kami cuma berdua nanti,” ucap Ibu tiba-tiba.

Lahiran?

Anak?

Siapa yang mau punya anak?

“Saya mengerti kekhawatiran Ibu,” jawab Javier tenang. “Tapi saya maunya kami hidup mandiri, Bu. Kalau Ibu takut kesepian, nanti kami sering ke rumah. Iya, kan, Nay?”

“Hah? Oh… iya, Bu. Aku bakal sering ke rumah.” jawabku cepat.

“Tapi Ibu khawatir kalau ngelepas kamu sendirian, Nay.” lanjut Ibu.

Aku menghela napas.

“Kalau Ibu khawatir ngelepas aku, ya jangan suruh aku nikah dong.” ucapku.

“Naya!” tegur Tante Elisa. “Apa-apaan kamu?”

“Lho aku benar, kan, Tan? Kalau Ibu kayak gitu, mending nggak usah nyuruh aku nikah. Nyuruh aku nikah itu artinya melepas aku ke orang yang menikahi aku. Tanggung jawab Ibu dan Ayah pindah ke suami aku.” kataku, sedikit lebih tegas.

Tante Elisa terdiam.

“Naya benar, Bu,” ucap Pak Jamal kemudian. “Dan saya juga setuju mereka tinggal terpisah. Bukannya saya tidak sayang, tapi mereka memang harus mandiri. Mereka bukan anak-anak lagi.”

“Makasih, Pa, udah mau ngerti.” ujar Javier.

“Iya. Oh iya, kira-kira kapan ya acara pernikahannya? Kalau satu bulan lagi bagaimana?” ucap Pak Jamal.

Aku dan Javier saling pandang, sama-sama terkejut.

“Pa, apa itu nggak terlalu cepat? Aku dan Naya baru ketemu hari ini. Kami juga harus daftarin pernikahan ke KUA, aku belum beli rumahnya juga. Minimal tiga bulan lagi lah, Pa.” ucap Javier.

“Tiga bulan? Lama banget. Dua bulan saja.” balas Pak Jamal santai.

Javier tampak tidak setuju. Aku pun sama—dua bulan terasa terlalu cepat.

Pak Jamal menoleh ke arah orang tua kami, Tante Elisa, dan Om Roni. “Bagaimana?”

Mereka semua mengangguk setuju.

Aku hanya bisa menghela napas pelan.

Di sampingku, Javier terlihat jelas tidak puas.

“Javi, dua bulan kamu harus urus semuanya.” ucap Pak Jamal tegas.

“Iya, Pa…” jawab Javier lirih.

“Untuk acara pernikahannya bagaimana?” lanjut Pak Jamal, lalu menatapku. “Naya, kamu mau maharnya apa?”

Mahar?

Aku harus jawab apa?

Semua ini terlalu mendadak.

“Terserah saja, Pak… karena sejujurnya saya tidak tahu.” ucapku jujur.

“Jangan seperti itu. Sebagai wanita, kamu boleh meminta mahar apa saja.” ujar Pak Jamal.

Aku menggeleng pelan. “Saya benar-benar tidak tahu, Pak. Lagi pula… mahar yang terbaik adalah yang tidak memberatkan pihak laki-laki, kan?”

Pak Jamal tertawa kecil. “Kamu benar. Dan Om suka itu.”

Aku menarik napas sebentar sebelum melanjutkan.

“Lalu… untuk acara pernikahannya, saya maunya sederhana saja.”

“Nggak bisa gitu dong, Nay,” potong Tante Elisa. “Ini kan hajatan pertama di keluarga kalian. Masa sederhana saja?”

“Aku capek kalau harus ketemu banyak orang, Tante,” jawabku jujur. “Lagian kalau acaranya sederhana, biayanya juga nggak banyak. Tadi Ibu bilang biaya lahiran dan sekolah anak mahal, kan? Daripada buat acara yang cuma sehari, mending uangnya dipakai setelah menikah.”

“Ya ampun…” Pak Jamal tersenyum lebar. “Om jadi makin yakin kalau nggak salah pilih menantu. Naya, Om suka pola pikir kamu.”

“Iya, benar,” timpal Bu Soraya. “Biasanya anak sekarang maunya pernikahan mewah, prewed di tempat yang estetik. Kamu beda, Nay.”

Aku hanya tersenyum tipis.

“Berarti pernikahannya dua bulan lagi dan sederhana. Setuju semuanya?” ucap Pak Jamal.

Semua orang mengangguk.

“Baik. Kalau begitu ayo kita lanjutkan makan kita. Nay, kamu makan juga. Makanannya enak-enak, lho.” ucapnya lagi.

Aku mengangguk pelan.

“Maaf… saya tidak bisa menemani kalian. Saya harus ke dapur.” ujar Javier.

Semua orang kembali mengangguk.

Javier berdiri, lalu pergi meninggalkan kami.

Aku mulai makan, mencoba mengabaikan pikiranku yang masih berantakan.

“Kak, aku seneng deh akhirnya Kakak mau nikah sama Kak Javi,” ucap Janessa tiba-tiba, matanya berbinar. “Aku bakal punya kakak perempuan yang sefrekuensi sama aku. Nanti ajari aku bahasa Korea ya, Kak?”

Aku tersenyum kecil, lalu mengangguk.

“Jane, Naya jangan diajak ngobrol dulu. Biar dia makan.” ucap Bu Soraya.

“Tidak apa-apa kok, Bu. Saya senang bisa ngobrol sama Jane. Rasanya seperti punya adik. Soalnya saya anak tunggal, di rumah nggak punya teman selain Ayah dan Ibu.” ucapku.

“Tuh kan, Ma. Kak Naya aja nggak apa-apa.” balas Janessa dengan senyum lebar.

Bu Soraya hanya menggeleng pelan.

Setelah itu, kami kembali fokus makan. Sesekali aku tetap mengobrol dengan Janessa, membahas aktor dan drama Korea, topik yang membuat suasana terasa lebih ringan di tengah pikiranku yang masih kacau.

Tak terasa, makanan kami habis.

Kami pun berdiri dan berjalan ke arah depan. Tapi Javier tidak terlihat. Sepertinya dia masih di dapur.

Pak Jamal lalu meminta salah satu pegawai untuk memanggilnya.

Tak lama, Javier muncul.

“Javi, kamu pulang dulu ya.” ucap Pak Jamal.

“Iya, Pa.” Lalu Javier menoleh ke arahku dan keluargaku. “Bapak, Ibu, bagaimana makanannya?”

“Enak.” jawab kami hampir bersamaan.

“Syukurlah.” ucap Javier.

“Nak Javier, kamu mengelola rumah makan ini dengan baik.” ujar Ibu.

“Terima kasih, Bu.”

“Javi, Naya, ayo tukeran nomor. Biar kalian bisa ngobrol dan lebih dekat.” ucap Pak Jamal.

“HP-ku ada di ruanganku, Pa.” jawab Javier.

“Naya, Om pinjam HP kamu, boleh?”

Aku terdiam sejenak, lalu menyerahkan ponselku.

“Nih, tulis nomor kamu.” kata Pak Jamal sambil menyerahkan ponselku ke Javier.

Javier menerimanya.

“Ini sandinya apa?” tanyanya.

Aku mendekat, mengambil ponselku sejenak, lalu memasukkan sandi—tahun lahir Lee Jun-ha.

“Ini.” kataku, menyerahkan kembali.

Javier mengetikkan nomornya, lalu mengembalikan ponsel itu padaku.

Dia hanya menuliskan nomor tanpa menyimpannya. Aku pun langsung menyimpannya—dengan namanya… tapi dalam hangul.

“Itu tulisan apa?” tanya Javier.

“Nama kamu.” jawabku santai.

“Tulisan apa itu? Kenapa pakai itu?”

“Hangul. Aksara Korea. Semua kontakku pakai ini.”

“Serius, Kak? Wah, daebak!” seru Janessa antusias.

“Naya, kamu bisa baca-tulis aksara Korea juga? Kamu memang beda, ya…” ucap Pak Jamal kagum.

“Soalnya saya orangnya penasaran, Pak.” jawabku.

Pak Jamal mengangguk pelan, seolah semakin yakin.

 “Ya sudah, Javi. Kami pulang dulu.” ucap Pak Jamal.

“Iya, Pa. Hati-hati.” jawab Javier.

Pak Jamal, Bu Soraya, dan Janessa keluar lebih dulu.

Aku masih berdiri di samping Javier, menunggu yang lain keluar. Tiba-tiba Ayah mendekat dan menepuk pundak Javier.

“Senang bertemu dengan kamu, Nak Javier." ucap Ayah.

“Saya juga, Pak.” jawab Javier sopan.

“Terima kasih ya… mau menikah dengan Naya. Bapak pikir dia nggak akan menikah seumur hidupnya. Soalnya terlalu suka Korea.” lanjut Ayah santai.

“Ayah…” desisku, langsung menarik lengannya. “Apa-apaan sih…”

Aku menoleh ke Javier.

“Mas, kita pulang dulu.”

“Ah… iya.” jawab Javier, terlihat terkejut.

Kami melangkah keluar dari rumah makan itu bersama yang lain.

Udara sore terasa hangat, tapi entah kenapa dadaku justru terasa penuh.

Tadi aku datang ke sini hanya untuk makan siang biasa.

Tapi sekarang…

Aku pulang sebagai seseorang yang akan menikah.

Dengan pria yang bahkan baru kukenal hari ini.

Aku menoleh sejenak ke arah rumah makan itu, seolah semuanya berubah sejak aku masuk ke dalamnya tadi.

Aneh.

Semuanya terasa terlalu cepat.

Terlalu tiba-tiba.

Dan… terlalu nyata.

1
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!