"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 (Skenario akhir dan Hujan di bulan Juni)
Empat tahun yang melelahkan itu akhirnya mencapai titik akhir di sebuah ruangan sunyi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Tidak ada kamera media yang mengintai, tidak ada kilatan lampu jepretan yang biasanya memburu setiap gerak-gerik sang CEO Raharja Group. Semuanya telah dikondisikan dengan sangat rapi, sepi, dan dingin.
Di koridor pengadilan yang lengang, Mike Raharja berdiri tegak menatap dinding kaca yang menampilkan langit Jakarta yang mulai mendung. Setelan jas hitamnya tampak tanpa cela, sekeras ekspresi wajahnya yang sulit dibaca. Di sampingnya, Anita berdiri sembari merapikan beberapa lembar dokumen di dalam tas jinjingnya. Wanita itu mengembuskan napas panjang, lalu menatap Mike dengan senyuman tipis yang sarat akan rasa lega.
"Tok ketuk palu terakhir. Kita resmi bercerai, Mike," ucap Anita, suaranya terdengar santai tanpa beban emosional sedikit pun.
"Terima kasih untuk empat tahun ini, Anita. Kamu melakukan tugasmu dengan sangat luar biasa," balas Mike, suaranya berat dan berwibawa. Ia menoleh, menatap wanita yang selama empat tahun ini menjadi mitra sandiwara terbaiknya di hadapan publik dan Kakek Surya.
Anita terkekeh pelan. "Aku yang harus berterima kasih. Dana investasi untuk firma konsultan baruku sudah masuk ke rekening siang ini. Kerja sama denganmu adalah bisnis paling menguntungkan dalam hidupku. Tapi, Mike..." Anita melangkah mendekat, menurunkan nada suaranya menjadi bisikan tak terdengar. "Skenario yang kamu buat tentang alasan perceraian kita... apa kamu yakin? Itu taruhan yang sangat besar untuk harga dirimu sebagai seorang pria."
Mike menyunggingkan senyum sinis yang dingin. "Itu satu-satunya cara, Anita. Dengan begitu, Kakek tidak akan pernah menuntutku untuk menikah lagi dengan wanita pilihan korporatnya, dan tidak ada satu pun keluarga konglomerat yang akan menyodorkan putri mereka padaku. Jalanku sekarang sudah bersih."
Anita menggeleng-gelengkan kepalanya, kagum sekaligus ngeri dengan kelicikan taktik Mike. "Kamu benar-benar pria berdarah dingin jika itu menyangkut gadis kecilmu. Dia sudah dua puluh satu tahun sekarang, kan? Kuharap penantian empat tahunmu sepadan. Selamat tinggal, Pak Mantan Suami."
Dengan langkah anggun, Anita berbalik dan berjalan meninggalkan koridor. Mereka berpisah arah dengan damai, tanpa ada rasa cinta yang tertinggal, karena sejak awal hubungan mereka tak lebih dari selembar kertas kontrak.
Di belahan kota yang lain, suasana di sebuah rumah minimalis yang asri di pinggiran Jakarta terasa jauh lebih tegang. Di ruang tamu, Sarah duduk dengan cemas sembari menggenggam ponselnya yang menampilkan berita utama di media sosial. Di dekat jendela, seorang gadis muda dengan rambut hitam legam sebahu sedang sibuk menata beberapa buku kuliahnya.
Alisha. Di usianya yang kini menginjak dua puluh satu tahun, ia telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dengan sepasang mata jernih yang selalu memancarkan ketegasan. Namun, ketenangannya terusik ketika mendengar helaan napas ibunya yang berulang kali.
"Ibu kenapa? Sejak tadi sepertinya gelisah sekali," tanya Alisha, berjalan mendekati ibunya lalu duduk di sofa seberang.
"Alisha... kamu sudah buka berita hari ini?" Sarah menatap putrinya dengan pandangan ragu. "Pak Mike... dia sudah resmi bercerai dengan Ibu Anita. Keputusan pengadilan keluar hari ini."
Alisha tertegun sejenak. Jantungnya memberikan reaksi aneh—sebuah letupan kecil yang tak semestinya ada. Nama Mike Raharja memiliki tempat tersendiri di dalam hidup Alisha. Sepuluh tahun yang lalu, sebuah kecelakaan mobil tragis merenggut nyawa kedua orang tua Mike. Dalam kecelakaan yang sama, kakak laki-laki Alisha—yang saat itu bekerja sebagai ajudan pribadi sekaligus tangan kanan orang tua Mike—gugur dalam tugas karena mencoba melindungi atasannya. Sejak tragedi berdarah itu, Mike yang kehilangan keluarga bersumpah untuk menanggung seluruh kehidupan Sarah dan Alisha. Mike membiayai sekolah Alisha, memastikan rumah mereka aman, dan bertindak sebagai sosok pelindung yang berjarak.
"Bercerai?" Alisha bergumam, mencoba mencerna informasi itu. Di matanya, Mike dan Anita adalah pasangan yang sangat serasi di layar televisi. "Kenapa bisa, Bu? Bukankah mereka selalu terlihat baik-baik saja?"
Sarah mendekatkan duduknya, lalu berbisik dengan wajah penuh rasa iba. "Ibu baru saja menelepon mantan rekan kerja kakakmu di kantor Raharja Group. Desas-desusnya sudah menyebar di kalangan internal, Alisha. Katanya... pernikahan mereka hancur karena Pak Mike... tidak bisa memberikan keturunan. Keluarga Raharja sangat menuntut adanya ahli waris, dan kabarnya Pak Mike mandul. Karena itulah Ibu Anita memilih pergi."
Mendengar kata 'mandul', Alisha seketika membeku. Dada bidang Mike, tatapan matanya yang selalu tegas, dan pembawaannya yang berwibawa seketika melintas di benak Alisha. *Pria seangkuh dan se-sempurna Pak Mike... menanggung rumor memalukan seperti ini?* Ada rasa kasihan dan simpati yang mendalam yang mendadak menyeruak di hati Alisha. Ia tahu betul bagaimana rasanya kehilangan segalanya, dan kini Mike harus kehilangan harga dirinya di mata publik. Alisha sama sekali tidak menyadari bahwa desas-desus mengerikan itu justru adalah umpan matang yang sengaja disebarkan oleh Mike sendiri untuk mengunci pergerakan Kakek Surya.
Dua hari setelah sidang putusan cerai, hujan lebat mengguyur area kampus Alisha. Gadis itu berdiri di lobi gedung fakultasnya, menatap rintik air yang deras dengan pasrah karena ia lupa membawa payung. Teman-temannya sudah pulang berbondong-bondong, menyisakan dirinya sendiri yang terjebak di tengah dinginnya angin sore.
Di tengah lamunannya tentang tumpukan revisi skripsi dan rumor tentang Mike, sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat familier membelah genangan air dan berhenti tepat di depan tangga lobi kampus.
Pintu kemudi terbuka. Seorang pria dengan payung hitam besar melangkah keluar. Pria itu tidak mengenakan setelan jas formalnya yang kaku seperti biasa, melainkan hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan kesan kasual namun tetap berbahaya.
Mike Raharja.
Alisha menahan napas saat Mike berjalan menaiki tangga lobi, lalu menutup payungnya dengan sentakan pelan. Tatapan mata elang Mike langsung mengunci sosok Alisha yang berdiri mematung di sudut.
"Pak Mike?" Alisha menyapa dengan nada sangsi, buru-buru membungkuk hormat. "Kenapa... kenapa Anda bisa ada di sini?"
Mike tidak langsung menjawab. Ia berdiri dalam jarak dua langkah dari Alisha, membiarkan keheningan malam dan suara hujan mengisi jarak di antara mereka. Matanya menyapu wajah Alisha, meneliti setiap jengkal pertumbuhan gadis yang selama empat tahun ini sengaja ia batasi untuk ditemui.
"Aku ada urusan di daerah sekitar sini, lalu kebetulan melihatmu terjebak hujan," jawab Mike, suaranya bariton, terdengar datar namun ada getaran dingin yang tertahan. Kebohongan yang sangat rapi; Mike sebenarnya sengaja berkendara ke kampus Alisha begitu mengetahui hujan turun deras.
"Ah... begitu," Alisha meremas tali tas kainnya dengan gugup. Mengingat rumor perceraian dan masalah 'mandul' yang didengarnya, Alisha merasa atmosfer di sekitar Mike sore ini terasa jauh lebih pekat dan sensitif. "Saya... saya turut prihatin atas berita perceraian Anda, Pak Mike. Saya dan Ibu berdoa semoga Anda selalu diberikan ketabahan."
Mike menaikkan sebelah alisnya, menatap Alisha dengan pandangan menyelidik yang intens. "Ketabahan untuk apa, Alisha?"
"Untuk... masalah yang sedang Anda hadapi. Publik terkadang sangat kejam dengan rumor-rumor yang mereka buat," ucap Alisha tulus, matanya yang jernih menatap Mike dengan binar simpati yang dalam.
Mike hampir saja mendengus geli, namun ia berhasil menahan ekspresi wajahnya tetap dingin. Gadis di depannya ini benar-benar polos. Alisha mengasihaninya karena mengira dirinya sedang menderita. Mike melangkah satu langkah ke depan, membuat Alisha terpaksa sedikit mendongak untuk menatapnya.
"Kamu mengkhawatirkanku, Alisha?" tanya Mike, suaranya merendah, memberikan tekanan psikologis yang membuat jantung Alisha berdegup tidak karuan.
"Tentu saja. Anda sudah banyak membantu keluarga saya. Anda sudah seperti... kakak bagi saya," jawab Alisha defensif, mencoba menegaskan batasan posisi mereka yang selama ini ada.
Mendengar kata 'kakak', kilat tidak suka melintas cepat di mata Mike. Rahangnya mengeras sesaat. "Kakak? Sejak kapan aku memintamu menganggapku sebagai kakak?"
Alisha tersentak, merasa salah bicara. "M-maksud saya—"
"Aku datang kemari bukan untuk mendengar ucapan belasungkawa darimu, Alisha," potong Mike dingin, namun matanya menatap bibir Alisha sekilas sebelum kembali ke matanya. Pria itu mengulurkan payung hitamnya ke tangan Alisha. "Masuk ke mobil. Aku akan mengantarmu pulang. Hujan tidak akan reda dalam waktu dekat."
"Tidak perlu, Pak. Saya bisa memesan taksi daring—"
"Ini perintah, Alisha. Bukan tawaran," Mike membalikkan tubuhnya, berjalan terlebih dahulu menerobos rintik hujan menuju mobil tanpa menoleh lagi, tahu betul bahwa Alisha tidak akan punya pilihan selain mengikutinya.
Alisha menggigit bibir bawahnya dengan kesal sekaligus bingung. Sikap Mike sore ini terasa sangat dominan dan berbeda dari biasanya. Pria itu tampak seperti singa yang baru saja lepas dari sangkar, berbahaya namun entah mengapa membuat Alisha tidak bisa berpaling.
Dengan langkah ragu, Alisha membuka payung tersebut dan berjalan cepat menyusul Mike masuk ke dalam mobil. Di dalam kabin mobil yang hangat dan kedap suara, ketegangan baru justru dimulai. Alisha melirik Mike dari sudut matanya, menyadari bahwa pria yang mengemudikan mobil di sampingnya ini bukan lagi sekadar 'wali' yang kaku. Ada misteri besar yang mulai terurai, dan Alisha merasa dirinya sedang berjalan masuk ke dalam jebakan tak kasat mata yang telah disiapkan Mike selama empat tahun terakhir.