Warning
Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.
Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.
Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.
Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Miskha
Elang pun melirik sang istri. Biasanya, Rindu yang selalu mengoleskan selai itu untuknya. Walau, ia tidak ingin dilayani sedemikian detail oleh sang istri, tapi Rindu tetap bersikeras melayaninya. Rindu menyiapkan segala keperluannya dari sarapan, pakaian kerja, hingga ke makan malam dan pakaian tidurnya. Padahal Rindu pun bekerja. Namun, ia bisa mengatur waktu antara rumah dan pekerjaan. Seharunya, Elang bersyukur.
“Nanti kamu pulang tengah malam lagi? dalam keadaan mabuk?” tanya Rindu yang kini menengadahkan kepalanya, lalu menatap mata Elang yang duduk berseberangan.
Elang pun membalas tatapan itu. “Apa semalam aku sangat mabuk?”
Rindu mengangguk.
“Apa semalam kita melakukannya?”
Rindu tersenyum tipis. “Jika tidak karena mabuk, mungkin kamu tidak menyentuhku. Entah mengapa begitu. Kamu seperti alergi padaku.”
Suara Rindu terdengar santai. Namun siapa yang tahu di dalam sana, hati Rindu begitu memburu. Dadanya sesak dan hatinya miris seperti teriris.
“Jangan berpikir macam-macam!” ujar Elang santai. “Aku tidak melakukan apa pun diluar sana. Aku hanya bekerja. Kamu tahu kan kalau aku begitu mencintai pekerjaanku?”
Elang menatap Rindu, berusaha meyakinkan sang istri bahwa yang ia lakukan diluar sana memang hanya bekerja. Tidak lebih.
“Bahkan melebihi dari cintamu untuk istrimu?” tanya Rindu membuat Elang menatapnya.
Rindu kembali menunduk dan memakan roti. Sementara, Elang tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Elang hanya bisa menarik nafasnya kasar.
Usai sarapan bersama, keduanya hendak berangkat kerja ke kantor masing-masing dengan kendaraan masing-masing seperti biasa. Namun, Elang menutup pintu mobil Rindu yang sudah ia buka.
Ayo berangkat bersama!”
“Tidak perlu.” Rindu menggeleng. “Biasanya juga begini.”
“Ayolah! Hari ini aku sedang tidak ada rapat pagi. Masih ada waktu untuk mengantarmu dulu.”
Mau tidak mau, Rindu setuju.
Walau tidak untuk pertama kali, tapi situasi ini cukup lama tidak terjadi. Mereka pun duduk bersebelahan di dalam mobil dalam diam. Keduanya tidak ada yang mau memulai percakapan terlebih dahulu, hingga Elang pun mengalah. Berulang kali ia menoleh ke wajah istrinya yang tidak jelek.
Walau Rindu terlahir sebagai anak yatim piatu dan tinggal serta besar di panti asuhan, tapi ia tahu cara berhias. Rindu juga cukup tahu brand-brand ternama. Meski tidak tampak glamor, tapi Rindu cukup terlihat elegan dengan riasan natural.
Oh ya. Nanti malam, Mama mengajak kita makan malam.”
Mendengar Elang bersuara, Rindu pun menoleh.
“Kamu pulang jam berapa?” tanya pria itu.
“Seperti biasa. Jam lima.”
“Kalau begitu, aku akan menjemputmu. Setelah itu, kita pulang ke rumah Mama. Oke!”
Rindu mengangguk dan kembali menatap lurus ke depan.
⸻
“Mama.” Rindu langsung menghampiri wanita paruh baya yang sudah seperti ibunya sendiri.
“Rindu.” Wanita paruh baya yang bernama Bella membentangkan kedua tangan untuk memeluk menantu kesayangan.
Seketika, tubuh Rindu membeku. Ia merasakan aroma parfum yang sama seperti yang tertinggal di beberapa kemeja suaminya malam itu.
“Mama sangat rindu kamu, Rin.”
Rindu tersenyum karena kecurigaannya tak beralasan. Rupanya, sang suami memang benar hampir setiap hari bertandang ke rumah sang ibu.
“Sama Ma, aku juga rindu Mama.” Rindu mengeratkan pelukan Bella.
“Seperti namamu,” ledek Bella pada Rindu yang memiliki nama unik.
Rindu pun tersenyum. Lalu, berkesempatan melayang sebuah pertanyaan saat pelukan dilonggarkan.
“Ma, parfum Mama enak.”
“Oh ini.” Bella langsung mencium parfum yang ia semprotkan ke bajunya. “Ini tuh parfum kesukaannya teman Mama, wanginya enak ya?”
Deg
Keadaan hatinya yang sudah tenang ternyata kembali terusik. “Teman Mama?”
“Iya.” Bella mengangguk.
“Bella.”
Tiba-tiba suara seorang wanita memanggil nama ibu mertua Rindu.
Rindu dan Bella pun menoleh. Sementara, Elang sibuk menerima telepon dan berdiri di taman luar yang cukup terlihat dari dalam ruang makan.
“Nah ini dia Rindu. Dia yang memberikan Mommy parfum itu?” Bella memperkenalkan seorang wanita yang hanya berselisih sedikit usia dengannya. Namun, terlihat masih cantik dan bugar.
Seketika Rindu terkejut, pasalnya ia ingat betul nama itu. Nama yang suaminya teriakkan saat pelepasan semalam.
“Hai, Rindu.” Wanita dengan penampilan berkelas dan tampak glamor itu pun mengulurkan tangan.
Rindu masih terpaku. Namun, ia tetap mengangkat tangannya untuk membalas uluran tangan itu. “Hai, Tante Miskha.”
Tante.” Elang langsung mendekati wanita yang baru saja mengulurkan tangannya pada istrinya.
“Hai, Lang.”
“Kenapa baru datang?” tanya Elang yang ternyata sedari tadi menunggu kedatangan rekan kerja yang telah membantunya memenangkan tender besar ini.
“Maaf, tadi macet banget,” suara Tante Miskha terdengar sensual dan menggoda.
“Ya, dari tadi kami menunggumu. Makan malam ini permintaan Elang, katanya dalam rangka merayakan kemenangan tendernya. Dan ini semua juga berkat kamu,” sambung Bella memuji Miskha karena sudah membantu perusahaannya kembali berjaya.
Tiga tahun yang lalu, perusahaan keluarga milik Elang hampir bangkrut. Paska kepergian ayah Elang, Elang masih meraba dan belum mampu memegang penuh kepemimpinan itu, hingga ia sempat mengambil keputusan yang salah dan berimbas pada kerugian perusahaan yang besar. Namun, Tante Miskha hadir sebagai mitra dan membangkitkan lagi usahanya.
“Bukan cuma karena aku, Bel. Putramu juga cerdas dan berbakat.”
Tante Miskha dan Elang saling melontar pujian di depan Rindu. Di antara mereka, tidak ada yang mempedulikan bagaimana perasaan Rindu. Bahkan, Bella lupa jika di sana masih ada menantunya.
Rindu menatap wajah Elang yang tersenyum riang. Ia juga melihat tatapan memuja Elang pada Tante Miskha yang tak pernah ia dapatkan.
Rindu menunduk sambil memainkan kakinya, menatap ke arah sepatu berwarna peach yang sengaja ia padukan dengan gaun batik bercorak dan ada warna peach dalam motifnya corak batik itu.
Sejujurnya hati Rindu nyeri melihat pemandangan ini. Terlebih, ia mengetahui fakta bahwa racauan suaminya saat mabuk malam itu dan mengatakan ‘kamu hebat’ serta diakhir memanggil sayang untuk wanita yang dianggapnya telah berjasa memenangkan tender ini.
“Rindu, kamu diam saja. Ayo gabung sini!” Bella menyentakkan Rindu yang menunduk sambil memainkan kakinya.
Rindu pun mendongak dan tersenyum ke arah Bella serta Elang dan Tante Miskha yang kini juga menatapnya.
“Hm. Rindu keluar sebentar ya, Ma. Tadi teman kantor sepertinya menelepon.”
“Ayolah, Rin! Ini sudah malam, massa masih saja ngurusin kerjaan.”
“Sebentar, Ma. Sebentar ya!” Rindu tetap pamit dan memilih menepi dari suasana yang menyesakkan itu.
Wanita itu beralasan agar bisa keluar dari zona yang tak nyaman ini. Rindu ingin keluar dan menghirup udara segar untuk menangkan hatinya yang tak karuan. Ketika sakit hati, ia lebih memilih sendiri.
“Lang, aku keluar sebentar ya,” pamit Rindu pada sang suami. Lalu, ia juga tetap pamit pada Tante Miskha untuk menghormati. “Permisi, Tante.”
Wanita yang kerap dipanggil Tante Miskha itu pun tersenyum dan mengangguk. Matanya menatap punggung Rindu yang kian menjauh.
“Lang, istrimu cantik,” ujarnya yang langsung disahuti Bella.
“Iya, dong. Kalau ngga cantik, Elang mana mau langsung setuju dijodohkan. Iya kan, Lang?” Bella menyenggol siku putranya.
Sedangkan, Elang hanya tersenyum. Sejak…