Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Tawa Rani mendadak memenuhi ruangan itu hingga membuat semua orang terkejut. Selama ini Rani nyaris tak pernah membantah. Jangankan tertawa keras seperti sekarang, berbicara dengan nada sedikit tinggi saja hampir tidak pernah ia lakukan. Wanita itu selalu menjadi istri dan ibu yang penurut.
"Apa yang Mama tertawakan?" tanya Arjun dengan kening berkerut.
Rani mengusap sudut matanya yang sampai berair karena tertawa. "Aku menertawakan tuduhan kalian."
Tatapannya beralih pada ketiga anak Roy. "Coba lihat kalian bertiga. Aksan umur dua puluh tahun, Arlan delapan belas tahun, dan Arjun enam belas tahun. Kalian lahir dengan jarak yang begitu dekat. Kalau dipikir-pikir, bukankah ibumu terus-menerus hamil dan melahirkan sampai akhirnya meninggal? Tapi sekarang justru aku yang dianggap perempuan paling jahat di rumah ini karena naik ke ranjang papamu."
"Rani!" bentak Roy.
Rani menoleh tanpa sedikit pun terlihat takut. "Aku salah bicara?"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.
"Jaga mulutmu, Rani!" bentak Roy dengan wajah memerah.
Sintia yang berdiri tak jauh dari sana buru-buru meraih lengan Rani seolah ingin menolongnya. Namun saat mendekat, wanita itu justru berbisik pelan di telinganya.
"Tamat riwayatmu, Kak."
Sorot mata Rani langsung berubah dingin. Ia mendorong tubuh Sintia menjauh darinya. Dorongan itu sebenarnya tidak kuat, tetapi Sintia justru memanfaatkannya dengan baik. Wanita itu menjatuhkan dirinya ke lantai hingga tubuhnya membentur sofa.
"Ah!"
"Sintia!"
"Tante!"
Roy dan ketiga anaknya langsung berhamburan menghampiri Sintia. Mereka sibuk memeriksa keadaan wanita itu tanpa satu pun menoleh ke arah Rani yang baru saja ditampar.
Melihat pemandangan itu, Rani hanya mendengus pelan. Kini ia mulai mengerti kenapa dirinya sampai memilih mengakhiri hidup. Keluarga yang telah ia bangun selama sepuluh tahun ternyata tidak memiliki seorang pun yang berdiri di sisinya. Bahkan setelah melihatnya ditampar, perhatian mereka tetap tertuju pada Sintia.
"Bagaimana aku bisa hidup selama sepuluh tahun bersama mereka?" gumamnya pelan. "Apa yang membuatmu bertahan selama ini, Ran? Apa kamu benar-benar sudah sebuta itu?"
Dadanya terasa sesak, tetapi ia memaksa dirinya tetap berdiri tegak. Jika saja ia tidak kehilangan ingatan, mungkin saat ini ia hanya mampu menangis menerima perlakuan seperti ini. Namun Rani yang sekarang adalah Rani berusia dua puluh sembilan tahun, Rani yang masih memiliki harga diri dan keberanian untuk mempertanyakan semua hal yang dianggap normal oleh orang-orang di rumah ini.
Setelah membantu Sintia berdiri, Roy dan ketiga anaknya berjalan mendekati Rani. Cara mereka menatap wanita itu seolah Rani baru saja melakukan kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan.
"Mama minta maaf pada Tante Sintia," ucap Aksan.
"Ran, kamu sudah melukai Sintia. Sekarang minta maaf atau aku tidak akan memaafkanmu," imbuh Roy dengan nada dingin.
Rani justru menarik sudut bibirnya. Minta maaf? Seolah kata itu akan mudah keluar dari mulutnya setelah semua yang terjadi. Seolah mereka bisa terus menginjak harga dirinya dan berharap ia menerimanya begitu saja.
"Minta maaf?" ulang Rani pelan. "Tidak akan."
Penolakan itu langsung membuat keempat lelaki tersebut tersulut emosi. Seperti kebiasaan yang tampaknya sudah sering terjadi selama ini, mereka berniat memaksa Rani untuk mengalah. Roy menjadi orang pertama yang bergerak. Sebuah tamparan kembali mendarat di wajah Rani, sementara ketiga anaknya membantu menahan tubuh wanita itu agar berlutut di hadapan Sintia.
Rani yang baru keluar dari rumah sakit tentu kewalahan menghadapi tenaga empat lelaki sekaligus. Tubuhnya masih lemah dan kepalanya masih terasa nyeri. Namun di tengah kepanikan itu, ia teringat sesuatu. Dulu, saat masih kuliah, ia pernah mengikuti latihan bela diri untuk mengisi waktu luang.
Mungkin gerakannya sudah tidak secepat dulu, tetapi ingatan tubuhnya masih ada.
Dengan susah payah, Rani menghentakkan siku ke arah Arlan, menginjak kaki Arjun, lalu mendorong Aksan hingga kehilangan keseimbangan. Ketiganya langsung terlepas dari tubuhnya dan terjatuh dengan posisi berantakan.
Roy menatapnya dengan wajah terkejut. Begitu pula ketiga anaknya. Dalam ingatan mereka selama ini Rani selalu diam. Ia tidak pernah melawan.
"Kamu ingin aku minta maaf?" tanya Rani sambil menatap Roy.
Meski terkejut dengan perubahan sikap istrinya, Roy tetap memasang wajah otoriternya.
"Tentu saja. Kamu harus minta maaf pada Sintia dan pada anak-anak."
Rani mendengus pelan sebelum melangkah ke arah Sintia.
Entah kenapa, Sintia langsung mundur selangkah. Jantungnya berdebar tidak nyaman. Padahal selama ini dialah yang selalu membully Rani. Namun wanita di hadapannya sekarang terasa berbeda. Tatapan itu tidak lagi penuh ketakutan atau kepasrahan.
Tatapan itu membuatnya merasa kecil, sangat kecil. Belum sempat Sintia menjauh lebih jauh, tangan Rani lebih dulu terangkat.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Tubuh Sintia langsung terpaku.
"Ka-Kamu berani menamparku?" ucap Sintia dengan suara bergetar sambil memegangi pipinya.
"Rani!" bentak Roy.
Namun Rani sama sekali tidak menggubrisnya. Ia justru mengangkat tangan sekali lagi.
Plak!
Tamparan kedua mendarat di pipi sebelah kiri. Kini kedua sisi wajah Sintia sama-sama memerah. Rani menatap wanita itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Tidak adil, kan?" ujarnya santai. "Kalau hanya aku yang dapat bekas tamparan di wajah, sementara kamu sejak tadi berdiri di belakang mereka sambil tersenyum penuh kelicikan."
Mendengar perkataan Rani, Sintia memegangi kedua pipinya yang memerah. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya. Namun berbeda dengan Rani yang sedang dikuasai emosi, Sintia justru tetap berusaha tenang dan berpikir cepat. Perubahan sikap Rani itu membuatnya merasa terancam.
"Mas..." panggil Sintia lirih.
Roy yang sejak tadi menahan amarah langsung menghampirinya.
"Sakit?" tanyanya.
Sintia menggeleng pelan. Air matanya jatuh satu per satu. "Aku tidak apa-apa."
Kalimat itu justru membuat Roy semakin marah.
"Apa maksudmu tidak apa-apa? Lihat wajahmu!"
Sintia menggigit bibir bawahnya lalu menatap Rani dengan mata yang seolah penuh ketakutan.
"Kak Rani memang selalu seperti ini. Aku sudah terbiasa."
Rani langsung mendengus. "Oh, jadi kita masuk ke babak sandiwara sekarang?"
"Kak..." suara Sintia bergetar. "Kalau memang Kakak membenciku, aku bisa pergi dari rumah ini."
"Bagus."
Jawaban cepat Rani membuat semua orang terpaku. Bahkan Sintia tidak menyangka wanita itu akan menjawab secepat itu.
"Pergi saja."
"Kak Rani!" seru Sintia dengan wajah terluka.
"Loh?" Rani mengangkat kedua alisnya. "Bukannya itu usulmu sendiri?"
Wajah Sintia langsung kaku sesaat sebelum kembali memasang ekspresi sedih.
"Mas, aku tidak ingin membuat keluarga kalian semakin hancur."
"Yang menghancurkan keluarga ini bukan kamu," potong Roy tegas.
Senyum tipis hampir lolos dari bibir Sintia. Untungnya ia berhasil menahannya tepat waktu. Namun sayangnya, senyum sepersekian detik itu tertangkap oleh Rani.
Rani merasa menemukan sesuatu. Wanita ini tidak sesederhana yang terlihat.
Sementara itu, Sintia kembali memainkan perannya dengan sempurna. Ia menundukkan kepala lalu berkata pelan, "Aku hanya tidak tega melihat Mas Roy terus disakiti. Selama ini Mas Roy sudah berusaha menjadi suami yang baik, tapi Kak Rani selalu curiga dan marah-marah."
Ketiga anak Roy langsung mengangguk.
"Iya, Tante benar," sahut Arjun.
"Papa selalu mengalah," tambah Arlan.
"Kalau bukan karena Tante Sintia, kami bahkan tidak tahu harus cerita ke siapa," imbuh Aksan.
Mata Rani perlahan menyipit. Jadi selama ini Sintia bukan hanya mendekati Roy. Wanita itu juga masuk ke hati ketiga anaknya. Bahkan mungkin jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.
Sintia kemudian menatap Roy dengan mata berkaca-kaca. "Mas, mungkin aku memang seharusnya pergi."
Roy langsung menggenggam bahunya. "Tidak. Kamu tidak akan pergi ke mana-mana."
Jawaban itu membuat suasana mendadak hening. Namun dimenit berikutnya Roy berkata, "Panggil satpam dan kurung dia!"
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏